
"Yang ingin kami tanyakan ke kamu, kira-kira kamu sebagai tunangannya nanti bisa gak bahagiain Ditha?" lanjut Budi ingin memastikan keseriusan Linggar akan hubungannya dengan Ditha.
Pertanyaan Budi rasanya langsung menusuk ke dalam hati Linggar. Kemudian berkelebat dan menari-nari di dalam kepalanya. Mau jawab apa coba? Jawab 'bisa' dengan pe-de-nya? Mana mungkin ketiga pria itu akan percaya begitu saja dengan omongannya. Setelah mereka bahkan menyelidiki latar belakang dan masa lalunya.
Mau tak mau Linggar jadi menyesali kenakalan, segala tingkah dan ulahnya yang seenaknya, egois serta arogan. Tuan muda yang sudah bertingkah seperti spoiler brat. Tak mengira bahwa rekam jejak masa lalunya bisa menjadi penghalangnya. Untuk mendapatkan gadis yang akhirnya benar-benar diinginkannya, setelah banyak petualangan cinta dengan bermacam gadis lainnya.
Duh kenapa si Ditha harus punya tiga kakak cowok kayak gini? Gak seperti Ella saja yang anak tunggal? Mau tak mau Linggar jadi iri pada Ardi yang tak perlu menghadapi teror dari yang namanya kakak ipar begini. Padahal Linggar tak tahu bagaimana rasa grogi yang melanda Ardi untuk menghadapi papa Ella yang jauh lebih seram lagi.
"Bisa..." Linggar menjawab dengan kecanggungan yang nyata terlihat.
"Bisa? Bisa apa? Bisa selingkuhin Ditha? Bisa main-main sama cewek lain? Bisa bikin Ditha nangis?" Wira tidak puas dengan jawaban Linggar.
"Bukan...Bukan begitu..." Linggar buru-buru menjawab. Haduh kenapa rasanya otaknya jadi bodoh begini? Gak bisa diajak mikir dan untuk sekedar merangkai kata-kata. Linggar kembali membisu tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Sejujurnya kami masih belum bisa percaya sepenuhnya sama kamu. Yah walau pun beberapa waktu ini sudah tidak pernah terdengar lagi gosip miring soal kamu." Budi memperhalus ucapan Wira.
"Eh Nggar, jawab yang tegas donk. Jangan malu-maluin nama besar bad boy sejati hehehe." Tyo yang kali ini bersuara karena Linggar terlihat sangat grogi dan kebingungan. Ingin sedikit mencairkan suasana yang terlalu tegang juga.
Tyo merasa kasian juga si melihat Linggar yang seperti sedang dikeroyok tiga lawan satu begini. Membuat Tyo ingin sedikit membantunya. Karena entah bagaimana rasanya Linggar ini sangat mirip dengan dirinya sendiri.
"Kalau aku pribadi si gak masalah dengan semua track recordmu. Semua orang punya masa lalu dan semua orang juga bisa berubah menjadi lebih baik." Tyo melanjutkan pembelaannya pada Linggar.
Ucapan Tyo membuat Budi dan Wira sekaligus memasang wajah tidak suka seketika. Dasar mas Tyo ini ngapain si? masa mau membela si bocah belagu ini? Masa mas Tyo rela Ditha tunangan sama bocah brengsek model beginian? Jangan bilang dia mau melakukan emansipasi sesama bad boy?
Linggar seperti mendapatkan sedikit angin segar mendengar ucapan Tyo. Sedikit lega dan sebagian beban terasa sedikit terangkat. Paling tidak dirinya sudah dapat dukungan dari salah satu calon kakak iparnya. Linggar jadi teringat ucapan Ardi bahwa Tyo ini sebenarnya baik meski reputasinya seperti itu.
Hal yang paling menarik dari Tyo adalah dia berpikiran begitu terbuka dan mau menerima sesuatu yang sering dianggap tidak baik atau tabu oleh orang lain begitu saja. Bukti nyatanya? Tyo bahkan mau menjalin hubungan serius dengan model internasional seperti Renata. Wanita yang jelas-jelas sering memamerkan tubuhnya untuk konsumsi publik.
"Tentu, tentu saja. Aku pasti bisa membuat Ditha bahagia nantinya." Linggar berusaha menjawab semantap dan semeyakinkan mungkin. "Paling tidak, tolong ijinkan aku untuk membuktikannya pada kalian bahwa aku bisa melakukannya."
"Nah gitu kan lebih jelas." Tyo tersenyum puas mendengar ucapan tegas Linggar. Tetapi kedua adiknya terlihat masih belum cukup senang dengan jawaban Linggar. Masih belum yakin sepertinya.
"Aku akui aku memang bukan pria yang baik. Bahkan mungkin aku jauh dari sosok pria ideal untuk Ditha. Tapi aku masih bisa berubah seiring berjalannya waktu dan proses pendewasaan diriku. Aku akan berusaha menjadi pria yang lebih baik. Pria yang pantas untuk bersanding dengan adik kalian." Linggar menambahkan penjelasannya. Berusaha untuk meyakinkan para calon kakak iparnya itu.
"Awas saja kalau kamu masih seperti yang dulu! Awas saja kalau kamu sampai bikin Ditha sedih atau nangis." Wira memperingatkan terang-terangan.
"Benar, kalau kamu bikin Ditha sengsara kamu akan langsung berhadapan sama kami." Budi ikutan menegaskan peringatannya pada Linggar.
"Haduh dasar kalian ini. Kasih dia kesempatan lah. Kalian juga gak bisa seenaknya maksain kemauan kalian pada hubungan mereka. Dan jangan lupa kalau Ditha sendiri yang memilih dia." Tyo sekali lagi membela Linggar. Ikut gemes juga si lama-lama melihat tingkah kedua adiknya itu. Mereka terlalu sayang pada Ditha, terlalu manjain Ditha.
Suasana kembali sunyi untuk beberapa saat. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Memikirkan ucapan Tyo yang memang merupakan kenyataan tak terbantahkan. Memang Ditha jelas telah menerima Linggar bahkan hubungan mereka pun telah diresmikan dengan konferensi pers yang telah disiarkan oleh media TV dan koran. Mau diapakan lagi coba? Sudah terlanjur basah.
"Memang kami tidak bisa memaksakan pilihan Ditha. Dan nyatanya dia memang sudah memilih kamu." Budi yang akhirnya mengalahi untuk berbicara duluan memecahkan kesunyian.
"Jadi sebagai kakak kami cuma bisa mendoakan kebahagiaan adik kami. Kami cuma bisa mengawasi dari jauh keadaan adik kami. Oleh karena itu kami cuma minta satu hal sama kamu...tolong kamu jaga adik kami baik-baik." Budi melanjutkan ucapannya.
Linggar yang kali ini ternganga mendengar ucapan Budi. Jadi akhirnya Budi pun tidak keberatan untuk menerima hubungannya dengan Ditha? Terpaksa si sepertinya, tapi gak pa-palah daripada nggak kan?
"Aku juga bukannya keberatan. Cuma perlu kamu ingat ada kami bertiga yang selalu mengawasi kalian. Dan aku yang akan menjadi orang pertama yang mendatangimu kalau sampai kamu bikin Ditha bersedih." Wira mengatakan keputusannya juga.
__ADS_1
Linggar membuang napas lega saat akhirnya seluruh kakak Ditha memberikan restunya. Tapi sedikit ngeri juga si dengan ancaman Wira. Kayaknya ini mereka bertiga agak-agak sister kompleks deh. Tak rela ada pria lain yang menjalin hubungan dengan adik mereka. Hampir-hampir seperti ulah Laras padanya dan Ardi dulu.
"Ditha itu adik kesayangan mereka berdua. Bukannya aku gak sayang si, tapi selisih umurku sama Ditha terlalu jauh. Jadi kami tak begitu dekat. Tapi si Budi dan Wira hanya selisih tiga dan dua tahun dengan Ditha, makanya mereka sangat dekat dengan Ditha. Si Wira bahkan rela sampai ikutan kuliah lagi ambil S2 di Ausie demi jagain Ditha di negeri orang." Tyo menjelaskan tentang kedua adik laki-lakinya yang sedikit menderita sister kompleks seperti dugaan Linggar sebelumnya.
Pantesan saja si Ditha ini udah jauh-jauh kuliah sampai Ausie masih lugu dan manis banget gitu anaknya. Gak pernah ciuman lagi. Lhawong herdernya ngikut kemana aja kayak gitu hehe.
"Tenang saja. Ditha juga sudah dewasa, dia bukan lagi adik kecil kalian yang tidak bisa apa-apa. Dia itu wanita yang tangguh dan bisa menjaga dirinya sendiri. Dan aku...aku berjanji pada kalian untuk menjaga Ditha juga. Berusaha membahagiakan gadis itu dan tidak membuatnya bersedih." Linggar mengutarakan pendapatnya agar ketiga kakak laki-laki Ditha ini tidak terlalu khawatir lagi.
Semua yang hadir mengangguk-angguk membenarkan ucapan Linggar. Akhirnya baik Linggar dan ketiga kakak laki-laki Ditha menemukan sebuah kesepakatan. Kesepakatan akan mencoba mempercayai kedua pasangan muda itu untuk memulai suatu hubungan mereka.
"Ehm...Karena suasana sudah enakan, boleh saya minum?" Bambang tiba-tiba menyeletuk gokil. Asli haus banget dari tadi diem dan tegang melulu.
"Yaampun sampai lupa nawarin minum. Boleh-boleh silahkan diminum saja hahahaha." Tyo tertawa ngakak menyadari pertemuan mereka yang terlalu menegangkan bahkan sampai lupa minum.
"Iya pembicaraan yang terlalu berat hehe." Budi menyetujui sambil mengawali mengambil salah satu minuman kalengan di meja. Dan kelima pria itupun mengikuti membuka kaleng dan menyeruput minumannya sambil tertawa riang bersama.
Setelah menyelesaikan urusannya di ruangan Tyo bersama ketiga calon kakak iparnya. Linggar dengan ditemani Bambang selanjutnya menghampiri Ditha di ruangan pribadinya. Ditha yang telah menunggunya dengan ditemani oleh Yasmin.
"Selamat siang," Bambang menyapa dengan wajah sumringah demi melihat ada Yasmin yang ikut hadir disana menemani Ditha.
"Selamat siang, silahkan duduk." Ditha mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa. Sementara Yasmin mengambilkan minuman dan cemilan untuk tamunya dari kulkas, menyuguhkan di atas meja di hadapan mereka.
"Apa kabar Ditha?" Linggar mencoba menyapa Ditha, tapi entah kenapa rasanya garing banget. Jadi merasa bodoh dan ingin mengutuk diri sendiri saja.
"Kabar? Baik donk. Aku gak sabar ketemu kamu." Ditha menjawab tanpa maksud apa-apa, ingin cepet ketemu buat bahas MOU maksudnya. Tapi Linggar entah mengapa menjadi kegirangan mendengar jawaban Ditha yang gak sabar ketemu dirinya.
"Syukur deh..." jawab Linggar, dan Ditha hanya tertawa ringan menanggapinya. Duh manisnya...
"Silahkan saja." Linggar mempersilahkan.
"Pertama kamu tidak boleh berhubungan asmara dengan wanita lain selain aku. Kedua kamu tidak boleh bersikap terlalu dekat dan intim dengan wanita lain. Ketiga tidak boleh clubbing dan ke diskotik. Keempat tidak boleh party gila-gilaan dan mabuk-mabukan. Kelima tidak boleh ikut taruhan race atau balapan liar yang membahayakan..."
Linggar mendengarkan saja dengan seksama permintaan-permintaan Ditha. Permintaan sederhana si sebenarnya dan kebanyakan berhubungan dengan perbaikan sifatnya biar gak jadi bad boy lagi. Makin gemes aja jadinya membayangkan Ditha yang sampai memikirkan sejauh itu untuk dirinya.
Tapi lama-lama syaratnya makin banyak dan makin lucu-lucu juga kedengarannya. Membuat Linggar sesekali mengerutkan dahinya juga.
"Dua puluh lima, minimal seminggu sekali kencan. Dua puluh enam, semua biaya kencan ditanggung oleh pihak pria..."
"Berapa banyak lagi?" Linggar sudah tak tahan untuk tidak menyela pembacaan MOU ini.
"Selusin lagi," jawab Ditha santai tak punya dosa.
Mata Linggar sudah terbelalak kaget mendengarnya. Sedangkan Bambang dan Yasmin kompak menutup mulut mereka dengan tangan rapat-rapat untuk mencegah tawa mereka. Duh apa-apaan coba? Niat banget kan sampai bikin tiga puluh tujuh poin MOU begini si Ditha.
"Tiga puluh enam, jika salah satu merasa tidak cocok atau sudah tidak nyaman dengan satu sama lainnya maka boleh mengajukan pembatalan pertunangan sesuai dengan aturan sebagaimana mestinya. Tiga puluh tujuh, pihak yang membatalkan wajib membereskan semua kerusuhan yang terjadi sampai tuntas sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak." Ditha akhirnya menyelesaikan pembacaan MOU-nya dan menyerahkan kertas tadi pada Linggar.
"Coba kamu baca lagi secara teliti, mungkin ada yang kamu keberatan atau tidak setuju?" lanjutnya.
"Dua poin terakhir...Jadi kita bisa membatalkan hubungan ini?" Linggar memastikan.
__ADS_1
"Lho kan kemarin perjanjiannya gitu. Kan ada under a certain condition untuk batalinnya. Udah dijalanin aja dulu, lagian kita juga belum menggelar pesta pertunangan resmi kita. Yah meskipun setelah konferensi pers kemarin bisa dianggap kita resmi berhubungan..."
"Hubungan apa?" tanya Linggar penasaran dengan pendapat Ditha tentang status hubungan mereka.
"Donno...just in relationship..."
"Pacaran?"
"Enak aja. Aku kan gak cinta sama kamu!"
"Belum..." ralat Linggar. "Liat aja, aku akan bikin kamu jatuh cinta sama aku," lanjutnya menantang.
"Wah jadi gak sabar dan penasaran apa yang akan kamu lakukan." Ditha menanggapi tanpa gentar.
"Baiklah untuk pembacaan MOU dari pihak bu Ditha sudah selesai jika tak ada keberatan lainnya." Yasmin menengahi untuk melanjutkan pembicaraan.
"Silahkan kamu bacakan MOU dari pihak kamu." Ditha meminta Linggar untuk membacakan persyaratan dan permintaannya pada Ditha.
"Gak ada." Jawab Linggar dengan mantab.
"Haaaaah?" Ditha dan Yasmin kompak memekik kaget. Sementara Bambang sudah cekikikan melihat reaksi mereka dan Linggar yang sok cool. Padahal aslinya Linggar gak sempet bikin.
"Aku terima kamu apa adanya." jawab Linggar dengan mantab. Jawaban yang semakin membuat kedua gadis itu ternganga tak percaya.
Spend your times on those
That love you unconditionally
Don't wasted it on those
That only love you when
The conditions are right for them
(*Habiskan waktumu untuk seseorang
Yang mencintaimu tanpa syarat
Jangan sia-siakan waktumu untuk
Seseorang yang hanya mencintaimu saat
Suatu kondisinya tepat untuk mereka)
"Baiklah demikian pernyataan MOU dari kami. Silahkan dipersiapkan dimana kami harus menandatanganii kesepakan kita siang ini?" Bambang mengakhiri pembicaraan mereka setelah keadaan sunyi beberapa saat.
Kemudian Ditha, Yasmin, Linggar dan Bambang menandatangani kertas MOU yang dibuat oleh Ditha diatas sebuah materai.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼