Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
201. S2 - Kakak Ipar


__ADS_3

Ketukan pintu diluar menyadarkan Linggar dari kesibukannya berkutat dengan data-data yang sejak tadi diamatinya di layar komputer. Siapa ya? Kalau Bambang atau Cindy, yang bertugas mentornya saat ini pasti langsung masuk setelah mengetuk pintu.


"Ya? Silahkan masuk?" Linggar mempersilahkan.


Ternyata seorang wanita dengan dandanan sekretaris, cantik dengan rambut pendeknya yang segar memasuki ruangan. Siapa ya?


"Selamat siang pak Linggar, saya Yasmine sekretarisnya pak Tyo Sampoerna." Sapa gadis itu.


"Oh iya, kenapa mbak?" Linggar jadi kepikiran juga melihat sekretaris cantik Tyo. Bisa ni cari sekeretaris pribadi yang cantik juga nanti untuk dirinya sendiri. Mas Ardi juga dulu kan sekretarisnya mbak Cindy yang mantab cantiknya.


"Bu Ditha meminta anda untuk datang ke kantornya untuk penanda-tanganan MOU. Apa MOU dari pihak bapak sudah selesai disiapkan? Kalau sudah tidak ada masalah nanti jam 3 kami menunggu kedatangan bapak dan saksi dari pihak bapak."


Bujubuset dah si Ditha! Beneran niat banget kayaknya bikin MOU. Seolah layaknya bikin kontrak kerja milyaran rupiah saja rasanya.


"Ok. Nanti aku akan kesana," Linggar menjawab.


"Sekalian pesan dari pak Tyo, nanti sebelum bertemu dengan bu Ditha, tolong mampir dulu ke ruangan pak Tyo sebentar." Ujar Yasmine pun pamit beranjak pergi.


Linggar mengerutkan dahi kebingungan. Waduh kakak laki-lakinya minta dihadapi dulu. Calon kakak ipar. Kira-kira ngapain ya? Apa mau interogasi? Mau tak mau sedikit ngeri juga jadinya. Apalagi Ditha punya tiga kakak laki-laki, gak tanggung-tanggung.


Linggar buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan beranjak menemui Ardi di ruangannya. Ingin sedikit meminta saran pada kakaknya itu, sekalian mau minta temenin nanti untuk ketemuan sama Ditha.


"Mas...Mas Ardi..." Linggar menyapa Ardi yang tidak memperdulikan dirinya setelah masuk ke ruangan.


"Apaan?" tanya Ardi tetap memperhatikan tab-nya dengan wajah sangat serius.


"Lagi sibuk banget ya?" Linggar merasa bersalah juga kalau sampai mengganggu pekerjaan Ardi. Mengganggu hanya untuk urusan pribadinya yang tidak penting dan remeh begini.


"Iya..." Ardi menjawab singkat. Mata dan konsentrasinya tetap tertuju pada layar tab.


Linggar semakin kepo saja jadinya, urusan apa coba yang sampai membuat Ardi seserius itu memandangi layar tab-nya. Linggar berjalan mendekati Ardi dan berdiri di dekatnya sampai bisa melihat apa yang dilihat Ardi di layar tab-nya.


"Asyeem! Sibuk apanya! Pakek masang muka serius lagi, kirain lagi baca kontrak kerja penting!" Umpat Linggar kesal saat didapatinya Ardi sedang melihat berbagai model cincin berlian di layar itu.


"Lho ini juga serius. Buat mengikat kontrak yang lebih penting lagi malah. Kontrak seumur hidup sebagai suami istri." Ardi menjawab santai.


"Terserah mas Ardi saja deh..."


"Itu yang model lekukan simple banget. Cocok buat kalian. Lekukannya bisa disatukan itu sebagai simbol penyatuan pasangan. Kan manis banget," Linggar menunjuk salah satu pasangan cincin.


"Yang ini? Diamond-nya kecil-kecil gitu gak pa-pa? Gak kurang mewah rasanya?" Ardi bertanya sedikit ragu. Memang simple dan bagus si model pilihan Linggar, bahkan Ardi juga menyukai model cincin untuk prianya. Simple banget yang cocok untuk dikenakannya sendiri sehari-hari. Tapi Ardi takut cincin Ella kurang wah untuk lamaran.


"Kamu mau ngasih ke siapa? Mbak Rena? Kalau dia sih emang cari yang mewah. Dia cocoknya sama yang diamond-nya besar dan mencolok." tanya Linggar seenak udelnya.


"Kok Bisa buat Rena si? Ella donk! Calon kakak iparmu itu Ella! Bukan Rena!" jawab Ardi sewot.


"Kalau mbak Ella kayaknya lebih cocok sama yang simple. Manis banget kayak orangnya hehe."


"Bener juga si." Ardi menimbang-nimbang dan menyetujui ucapan Linggar. Tersenyum sendiri membayangkan cincin itu melingkar di jari manis tangan kiri Ella, pasti cocok banget.


"Yang namanya berlian itu meskipun kecil tetap aja berlian, mas. Tuh harganya juga gak kalah kan sama yang menonjol dan mencolok lainnya. Pasti kalau digabungin jadi gede juga itu berliannya." Linggar meyakinkan Ardi bak salesman marketing toko perhiasan, menunjuk banderol angka yang bahkan mencapai angka puluhan juta.


Ardi mengangguk setuju akhirnya dengan saran dari Linggar. Langsung memasukkan ke keranjang pesanan dan membuat catatan untuk nama dirinya dan Ella yang akan diukir disana. Ardi juga menyertakan ukuran masing-masing cincin sebelum akhirnya membayarnya dengan m-banking nya.

__ADS_1


"Lho kok gak pke kredit card?" tanya Linggar heran.


"Masa mau ngelamar cewek pake modal hutang? Sok miskin banget sih!" Ardi menjawab santai.


"Saya terima lamarannya, dibayar kredit huahaaha." Goda Linggar pada kakaknya itu.


"Najis!"


"Kan aku udah bantuin mas Ardi, sekarang gantian bantuin aku donk." Linggar meminta pamrih.


"Ngapain dulu?" Ardi bertanya curiga.


"Temenin aku untuk ketemu Tyo Sampoerna. Dia kan temenmu. Gimana-gimana pasti agak sungkan ama kamu kalau mau marahin aku kan? hehe."


"Ngapain kamu mau ketemu Tyo? Orangnya baik kok. Apalagi kamu cowok, aman ketemu dia." Ardi malah membahas soal ketidak tertarikan Tyo pada cowok, kalau cewek cantik beda lagi.


"Yaelah mas, masa lupa? Aku kan mau jadi tunangannya adiknya. Pasti nanti aku bakal diinterogasi sama Tyo dan dua kakak Ditha lainnya." Linggar mengutarakan kecemasannya pada Ardi.


Sebelumnya Linggar memang tidak pernah seserius ini dalam menjalin hubungan dengan wanita manapun. Biasanya dia cuma berhubungan dengan wanita untuk bersenang-senang saja. Dan Linggar sama sekali tidak mau melibatkan keluarga dalam hubungan sebelumnya. Selalu menolak untuk dikenalkan pada keluarga wanita. Kenapa? Ya karena dirinya belum serius.


"Oh... Selamat menikmati deh."


"Mas....Temenin ya..." Linggar mencoba merengek.


"Ogah. Ntar kalau ada aku gak bisa all out mereka ngomongin kamunya. Sudah menjadi tugas kakak laki-laki yang baik untuk memastikan bahwa adik perempuannya memilih pria yang tepat. Memastikan kebahagiaan adik perempuannya itu." Ardi mengingatkan Linggar tentang tugas dan kewajiban saudara laki-laki terhadap saudari perempuannya.


"Emang mas Ardi dulu begitu sama mas Mahes?" Linggar bertanya penasaran.


"Iyalah. Mahes gak pernah cerita?"


"Karena aku udah kenal dan tahu bagaimana Mahes jadi gak usah nanyain apa-apa lagi soal sifat dan pandangan hidupnya. Aku cuma tinggal memastikan saja keseriusannya sama Laras waktu itu." Ardi menjelaskan kejadian dua tahu yang lalu.


"Terus mas Mahes jawab apa?"


"Kayak gak tahu Mahes aja kamu. Dia mah smooth banget jawabnya. Serius dan meyakinkan banget, dia bilang mau langsung nikahin Laras. Mana bisa nolak coba? Bisa kuwalat kalau nolak cowok selurus Mahes, nyari dimana lagi yang kayak gitu coba buat Laras? Yang bisa kuat ngadepin Laras?"


"Hahahaha bener juga si." Linggar membenarkan ucapan Ardi. "Terus ya misal mas Ardi jadi kakaknya Ditha, kira-kira mau nerima aku jadi adik ipar gak?"


"Nggak." Ardi menjawab jujur.


"Haaaaa? Jahat bener sama adik sendiri," protes Linggar gak terima dengan penolakan Ardi.


"Lha katanya skenarionya aku kakaknya Ditha, gimana sih?" Ardi balik nanya.


"Oiya ya," Linggar pasrah. "Terus kenapa ditolak?"


"Ya karena kamu kayak gitu. Kalau mau nikahin adik cewekku ya aku gak setuju."


"Waduh mampus deh." Linggar makin frustasi


"Kalau nikah lho ya... Tapi sekarang ini kan kalian cuma mau tunangan saja? sepertinya gak masalah si seharusnya. Kan kamu juga masih muda, bisa berubah juga menjadi yang lebih baik." Ardi sedikit menghibur adiknya yang mulai terlihat stress.


"Beneran mas?" Linggar sedikit lega juga mendengarnya. Masih ada harapan sepertinya.

__ADS_1


"Iya tenang aja. Kamu serius gak si sama Ditha? Dia beneran gak bisa kamu mainin lho ya. Bisa runyam urusannya nanti. Keluarga Sampoerna itu memang baik tapi mereka juga terkenal tegas." Ardi memperingatkan Linggar akan keadaanya.


"Serius donk," jawab Linggar mantap.


"Yaudah nanti biar Bambang aja yang nemenin kamu." Ardi akhirnya memutuskan untuk meminjamkan Bambang pada Linggar.


Dipencetnya interkom untuk menghubungi Bambang dan menyuruhnya memasuki ruangan. Serta diperintahkan asistennya itu untuk menemani Linggar ke Perusahaan Sampoerna. Untuk menemui Tyo dan mungkin juga Budi dan Wira sekaligus.


Bambang tentu saja tidak bisa menolak tugas yang diberikan Ardi padanya ini. Menurut saja menemani Linggar berjalan dari ruangan Ardi turun naik lift ke lantai dasar dan berjalan menuju gedung kedua di sayap kanan bisnis park tempat perusahaan Sampoerna beroprasi. Sedikit senang juga si sebenarnya untuk ikut kesana, kali aja bisa ketemu mbak Mimin si sekretaris cantik hehe.


Linggar dan Bambang langsung naik ke kantor direktur utama Sampoerna begitu tiba di gedung itu. Ke ruangan pribadi milik Tyo Sampoerna menjabat. Yasmin menyambut kedatangan mereka berdua dan mempersilahkan saja langsung memasuki ruangan. Dan benar saja di dalam ruangan sudah menunggu mereka Tyo, Budi dan Wira sekaligus.


"Selamat siang," Bambang mewakili Linggar menyapa mereka. Linggar yang sepertinya sedang sangat gugup dan nervous mau disidang oleh ketiga kakak laki-laki dari Ditha, calon tunangannya ini. Calon kakak ipar.


"Selamat siang, mari masuk." Budi mempersilahkan Bambang dan Linggar untuk masuk dan duduk di salah satu sofa di living room. Sementara Wira dan Tyo yang sedang berkutat di working room sambil menghadap dengan serius ke layar komputernya.


Linggar hanya mampu terduduk pasrah menantikan persidangan yang akan dihadapinya. Rasanya sudah deg-degan dan keringat dingin mengalir deras dari tengkuknya demi memikirkan apa yang akan dikatakan para tuan muda Sampoerna ini padanya.


"Mau minum apa? Panas, dingin?" Wira yang berinisiatif menawarkan suguhan pada tamunya.


"Dingin saja," Bambang lagi-lagi mewakili menjawab.


Tak lama kemudian Wira menghampiri mereka beberapa sambil membawa lima kaleng minuman dingin. Meletakkan saja di meja tapi tidak mempersilahkan tamunya untuk meminumnya.


Tyo juga ikutan menghampiri setelah menyelesaikan urusannya dengan personal computernya. Ketiga tuan muda Sampoerna itu mengambil duduk berhadapan 3 vs 2 dengan Linggar dan Bambang.


Duh mati aku! Bambang hanya bisa membatin, ini yang mau tunangan sapa coba? Kenapa dirinya harus ikut terjebak dalam situasi gak enak begini coba? Yasudahlah yang penting Bambang sudah menjalankan tugasnya kan untuk menemani Linggar. Bambang memutuskan duduk manis, senyam senyum, dan memasang wajah tak berdosanya.


Ketiga mata tuan muda Sampoena itu tidak melepaskan pandangannya dari Linggar sedikitpun, setajam laser aja rasanya. Bahkan Bambang yang duduk di sebelah Linggar, mau tak mau juga seakan merasakan dampak dari tembakan laser mereka.


Suasana terasa dingin dan mencekam untuk beberapa saat. Hanya ada adu pandangan seakan saling menilai sifat dan kepribadian masing-masing. Membuat Linggar sudah beneran salah tingkah, kikuk dan semakin deras saja aliran keringat dingin dari tengkuknya.


"Begini Linggar, kami bertiga memang sengaja memanggil kamu untuk sedikit ngobrol sebelum kamu nemuin Ditha." Budi yang memulai pembicaraan mereka.


Budi ini sepertinya paling dewasa dan bijaksana meskipun putra kedua. Yaiyalah lahwongan putra pertamanya kayak Tyo. Mungkin sebagai CEO kemampuan Tyo dalam mengelola perusahaan tidak diragukan lagi. Tapi sebagai seorang pria, Tyo dengan segala reputasi dan gelar bad boy-nya rasanya gak cocok untuk melakukan pembicaraan serius sebagai seorang kakak yang baik.


"I, iya mas..." Linggar menjawab gugup.


"Coba ceritain tentang kamu. Pendidikan dan lain sebagainya. Intinya promosiin tentang diri kamu." Budi melanjutkan pembicaraannya.


"Na, namaku Linggarjati Pradana. Putra ketiga dari keluarga Pradana. Aku baru lulus kuliah di UNER, jurusan Managemen. Sekarang posisiku masih magang di bisnis park ini sebagai bawahan mas Ardi." Linggar mencoba menjelaskan.


"Kami sudah melakukan beberapa penyelidikan tentang kamu. Kok kayaknya track record kamu gak begitu bagus ya?" Wira yang kali ini menambahkan, langsung menyinggung soal reputasi Linggar sebagai bad boy. Sepertinya Wira ini yang paling tegas. Sementara Tyo yang merupakan makhluk sejenis Linggar hanya mesam mesem.


"Iya...Seperti yang mas Mahes bilang kemarin saya memang sedikit nakal." Linggar mengakui.


"Clubbing, partying, hura-hura semalaman dengan teman, taruhan, balapan liar, gonta ganti cewek, play boy kelas kakap...Keren banget ya kayaknya?" Wira menyebutkan semua keburukan Linggar.


Linggar hanya bisa meringis tak berdaya menanggapi ucapan Wira, tanpa sanggup membantah. Dan si Tyo nyengir makin lebar. Asem!


"Ditha itu adik perempuan kami satu-satunya. Adik kesayangan kami yang sudah kami jaga dan kami sayangi sampai bisa seperti sekarang." Budi berhenti sejenak mengambil napas.


"Yang ingin kami tanyakan ke kamu, kira-kira kamu sebagai tunangannya nanti bisa gak bahagiain Ditha?" lanjut Budi.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼


__ADS_2