Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
36. Broken Heart


__ADS_3

Entah sudah berapa lama dan seberapa jauh Ella berjalan. Berjalan tak tentu arah meninggalkan kediaman utama keluarga Pradana. Melintasi kebun dan tamannya yang luas. Kemudian keluar dari pintu gerbangnya yang besar dan berjalan tak tentu arah mengikuti trotoar kota yang tak dikenalnya itu, kota Banyu Harum.


Pandangan Ella serasa kabur karena derasnya air matanya yang tak terbendung, bagaikan hujan deras dengan petir yang menggelegar menyambar-nyambar di hatinya. Menorehkan rasa sakit yang amat sangat disana. Tapi gadis itu terus saja berjalan dengan langkah gontai dan pandangan kosong. Berjalan dan terus berjalan.


Beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengan Ella melihat gadis itu dengan berbagai macam pandangan. Ada yang memberikan pandangan iba, ada yang memberikan pandangan ketakutan ada pula yang menertawakannya.


Yah bagaimana pun memang penampilan Ella seperti tidak pada tempatnya. Dengan outfit serba merahnya yang mencolok dan terlihat terlalu mewah untuk berjalan kaki di sepanjang trotoar jalan. Mungkin dirinya terlihat seperti gadis gila yang baru kabur dari rumahnya. Tetapi Ella sama sekali tak memperdulikan mereka, dia terus melangkah dan berjalan tanpa tujuan.


Ella merasa dirinya menjadi bodoh seketika, segala yang ada di otaknya tiba-tiba menjadi blank. Kosong dan membuatnya sama sekali tak dapat berpikir. Otaknya menjadi kacau demi melihat Ardi disuapi dengan mesranya untuk memakan kue oleh Sari. Dan otaknya semakin error lagi saat melihat dengan mata kepalanya sendiri Ardi mencium kening Sari. Di hadapannya, dihadapan ratusan pasang mata yang hadir di pesta itu.


Sakit, perih dah kecewa rasanya bergabung menjadi satu. Mengalahkan segala pikiran rasional Ella yang seharusnya tetap bisa memegang ucapan Ardi. Mempercayai Ardi yang mengatakan bahwa dia menyayanginya. Tapi nyatanya Ella tak sekuat wonder woman, hatinya tak terbuat dari baja, hatinya juga bisa hancur dan remuk berkeping-keping.


Ella menghentikan langkahnya saat dia melewati sebuah taman kota yang cukup asri dan indah dengan pencahayaan yang remang-remang. Ella mengambil duduk di salah satu kursi taman yang terbuat dari beton. Dia mengatur napasnya disana, mengatur emosinya, mencoba menata kembali hati dan perasaannya.


Setelah perasaannya sedikit tenang Ella dapat merasakan sensasi rasa sakit yang menusuk. Sensasi rasa sakit yang lebih nyata. Yang pasti sekarang Ella merasakan rasa sakit di bagian atas kedua tumit kakinya. Mungkin karena high heels yang dipakainya masih baru. Mungkin karena dia berjalan terlalu jauh, atau mungkin juga karena dia tadi sempat berlarian waktu kabur dari kediaman utama keluarga Pradana.


"Uuuughh," Ella merintih tertahan saat melepas kedua high heelsnya. Dapat dilihatnya luka lecet pada kedua kakinya. Luka yang sangat perih bahkan mengalirkan darah segar disana. Sepertinya aku sudah tak sanggup berjalan lebih jauh lagi, pikir Ella.


Akhirnya gadis itu memutuskan untuk tetap duduk disana. Ella berharap dinginnya udara malam mampu mendinginkan pikirannya yang kalut dan dadanya yang terasa panas membara. Berharap lelehan air matanya yang terus saja mengalir mau berhenti atau mengering dengan sendirinya.


Wis kebacut ambyar, remuk sing neng ati


Apa ngene iki sing jenenge korban janji


Wis ambyar, aku kudu kepiye


Metu ngendi supaya ketemu kowe


Sayup-sayup terdengar suara wanita yang mendayu-dayu menyanyikan lagu di salah satu lesehan di sudut taman. Bukan sebuah suara live melainkan suara rekaman kaset DVD yang sedang diputar. Lagu berjudul ambyar yang kali ini entah mengapa terasa sangat cocok dengan suasana hati Ella.


Wis kebacut ambyar, ambyar koyo ngene


Manise janjimu jebule mung ono lambe

__ADS_1


Wis kebacut ambyar, ambyar koyo ngene


Ning opo kowe tego nyekso aku koyo ngene


Sopo sing ra gelo


Yen digawe kuciwo


Ambyar


Seiring dengan berakhirnya lagu, semakin ambyar pula pertahanan Ella untuk menghentikan air matanya. Air matanya malah semakin deras mengalir, membasahi pipi dan seluruh wajahnya. Dengan kedua telapak tangannya Ella berusaha keras menyeka air matanya itu berkali-kali.


Kemudian gadis itu ingat darinya membawa tisue ditasnya, segera diambilnya hand bag merahnya. Dirogohnya dengan buru-buru untuk mengambil tisuenya, sampai-sampai ponselnya jatuh terlempar dari tas nya, jatuh ke tanah. Diambilnya ponsel itu dan diamatinya layar disana. Pukul 23.17 sekarang, sudah malam ternyata saat ini. Dan berarti sudah cukup lama juga dirinya kabur, pergi dari rumah Ardi tadi.


Setelah puas menyeka air mata dan ingusnya dengan tisue, Ella kembali memusatkan perhatian pada ponselnya. Ponselnya yang terlupakan dan tak dihiraukannya dari tadi. Di layar ponselnya terdapat notifikasi pesan yang sangat banyak dari Sari, Linggar dan tentu saja Ardi yang menanyakan keberadaanya. Menanyakan dirinya sedang ada dimana. Puluhan Missed call dari Ardi juga ada disana, sepertinya Ardi sedang kebingungan mencarinya saat ini.


Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering, panggilan masuk dari Ardi. Rupanya Ardi menyadari Ella baru saja memegang dan membuka ponselnya. Mungkin dia melihat tanda di pesan yang dikirimnya sudah berubah menjadi centang biru. Dengan perasaan campur aduk Ella menerima panggilan itu.


"Hallo!! Ella kamu dimana? Posisi kamu sekarang dimana, sayang?" Ardi langsung memberondong dengan pertanyaan begitu panggilan tersambung. Nada bicara pria itu terdengar sangat tidak sabaran saking cemas dan khawatirnya akan keselamatan Ella.


"Aku...Aku tak tahu," jawab Ella lirih. Ella sendiri sampai kaget mendengar suaranya sendiri yang terdengar sangat lirih dan lemah.


"El? Kamu kenapa?!" Ardi semakin panik demi mendengar suara lemah Ella. "Kamu dimana? Kasih tahu aku, aku akan kesana!" lanjutnya dengan nada semakin mendesak.


"Taman...aku di taman."


"Taman mana? Ada banyak taman disini!...coba kamu kirim lokasi. Share location!" Ardi terdengar semakin kalap.


Ella mengirimkan lokasi tempatnya berada melalui aplikasi chatting nya.


"Ok I got it. Stay there. Kamu jangan kemana-mana! Tunggu aku disana" Terdengar suara Ardi mengerem dan membelokkan mobilnya. Rupanya pria itu dari tadi masih berkeliling kota mencari keberadaan Ella.


Udara malam semakin dingin. Ella menyilangkan kedua lengannya di didepan dada. Meniup-niup telapak tangannya untuk sedikit memberikan kehangatan. Gaun pestanya yang berlengan pendek sama sekali tak bisa menahan dinginnya angin malam di tengah taman kota ini.

__ADS_1


Ardi memarkirkan mobilnya dengan buru-buru di tepi taman. Segera dia keluar dari mobilnya, diedarkannya pandangan keseluruhan bagian taman. Mencari sosok Ella yang berbaju merah, warna yang untungnya sangat mencolok dan mudah dilihat walau pencahayaan taman remang-remang.


Ardi segera berlari begitu dilihatnya sorang wanita berbaju merah dan berambut panjang tengah terduduk di salah satu kursi taman. Dihampirinya wanita itu, tubuh wanita itu terlihat bergetar kedinginan dengan kedua tangan tersilang di dada. Mata wanita itu terlihat sembab karena air mata dan wajahnya sangat pucat. Wajah cantik itu terlihat begitu menyedihkan. Begitu rapuh, lemah, membuat hati Ardi ikut sakit hanya dengan melihatnya.


Ardi segera melepas jas hitam yang dipakainya. Segera dipakaikannya ke tubuh Ella yang gemetaran. Gadis itu diam saja, sama sekali tak bereaksi meresponnya. Tatapan Ella terlihat kosong, seolah tak melihat dirinya hadir disana.


Ardi mendekati gadis itu, duduk di sebelah gadis itu. Dipeluknya erat-erat tubuh Ella sampai menempel ke tubuhnya, begitu dingin. Ardi berusaha menyalurkan sebagian panas tubuhnya kepada gadis itu. Dia juga menambahkan dengan mengusap dengan lembut punggung gadis itu. "Ella sayang, ini aku. Aku datang... Maaf ya...Maafkan aku..." ujarnya memberi tahukan kedatangannya.


"Mas Ardi?" Ujar Ella lemah. Tanpa dapat dibendungnya air matanya kembali meleleh membasahi pipinya.


Ardi melepaskan pelukannya begitu menyadari Ella menangis sesenggukan. Diusapnya dengan lembut air mata di wajah Ella dengan telapak tangannya. "Ayo pulang ke hotel. Kamu kedinginan. Badanmu sudah sedingin es" Ajaknya pada gadis itu.


"Uuuggh," rintih Ella saat Ardi membantunya berdiri. Dengan panik Ardi mencari-cari dari mana asal kesakitan Ella. Ardi merasa hatinya semakin tersayat begitu didapatinya kaki Ella yang lecet dan berdarah di bagian atas tumitnya. Perasaan bersalah semakin besar menyelimutinya. Ella terluka, karena dirinya.


"Bentar aku dekatkan mobilku kesini" pamitnya mengambil mobil mercedesnya dan memarkirnya di sebelah trotoar terdekat dengan kursi Ella. Kemudian dengan cekatan diangkatnya tubuh gadis itu dan dibantunya naik ke mobilnya. Ardi segera melajukan mobilnya ke arah hotel Santika, tak lupa dia menyalakan AC dalam mode penghangat ruangan, mengatasi dinginnya udara malam. Mode yang cuma ada di mobil-mobil keluaran luar negri yang memiliki musim salju.


Begitu sampai di hotel, Ardi segera membawa Ella ke kamarnya. Membantunya duduk di kasurnya dan segera menyelimutinya dengan bed cover tebal untuk menghangatkan tubuh gadis itu yang menggigil kedinginan.


Diambilnya kotak P3K yang disediakan di kamar hotel dan segera dirawatnya luka di kaki Ella. Dibersihkannya luka itu dari debu dan darah kemudian ditempelkan plester pada kedua luka itu.


Ardi mengambil duduk disebelah ranjang Ella. Diamatinya gadis itu dengan perasaan pilu, rasa bersalah yang amat sangat menghantuinya. Dia sudah gagal melindungi Ella. Dia sudah membuat gadis yang dicintainya menangis dan terluka separah ini. Dia sudah membuat Ella menderita seperti ini. Digenggamnya sebelah tangan Ella dan dielusnya lembut wajah gadis itu "Maafkan aku... maafkan aku" ujarnya lirih.


"Apa aku masih bisa memegang ucapan mas Ardi kemarin?" tanya Ella lirih.


"Tentu saja, sayang. Apapun yang terjadi kamulah satu-satunya yang aku cintai." jawab Ardi lembut. "Kamu istirahat dulu ya"


"Jangan pergi...Jangan tinggalkan aku"


"Aku akan tetap disini nemenin kamu. Udah kamu istirahat dulu" Ardi membelai lembut wajah Ella. Berusaha memberikan kenyamanan dan kehangatan pada gadis itu. Dibantunya Ella merebahkan diri di ranjang. Diselimuti tubuh gadis itu yang masih menggigil.


Ditemaninya gadis itu sampai menutup mata dan tertidur. Sudahlah biar begini saja dulu, Ella sedang tidak dalam keadaan yang bisa diajak bicara, pikir Ardi. Biarkan gadis itu istirahat dulu dan akan mereka bicarakan lagi semuanya saat Ella sudah tenang nantinya.


~∆∆∆~

__ADS_1


So...masih bisakah cinta Ella dan Ardi untuk bersatu dengan ditentangnya hubungan mereka??


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2