
Relationships are like bird
If you hold too tightly, they die
If you hold too loosely, they fly
But if you hold them with care,
They will remain beside you
Forever
(*Hubungan itu seperti burung
Jika kau pegang terlalu erat, akan mati
Jika kau pegang terlalu longgar, akan terbang
Tetapi jika kau memegangnya dengan perhatian,
Maka akan tetap berada di sampingmu
Selama-lamanya)
________________________________
Minggu pagi yang cerah, Ella dan keluarganya sudah bersiap untuk menyambut tamu mereka dari Malang. Kakak dan kaka ipar Roni beserta kedua putri mereka. Tak ada persiapan khusus si sebenarnya karena memang tujuan kedatangan mereka hanya untuk bersilaturahmi. Ditambah lagi kue-kue sisa penyumpahan kemarin masih banyak dan bisa digunakan sebagai suguhkan.
Sekitar jam sepuluh pagi sebuah mobil mitsubishi xpander berhenti dan parkir di depan rumah Ella. Dan tak lama kemudian bel rumah Ella pun berbunyi, menandakan tamu mereka telah tiba.
Ella segera berlari dari kamarnya untuk membukakan pintu untuk para tamunya. Didapatinya Roni, Zahreni, Wildan, dan kedua ponakan comel disana.
"Selamat datang, mari silahkan masuk." Ella mempersilahkan para tamunya untuk masuk.
Reni menyerahkan sebuah parcel buah berukuran besar pada Ella dan mereka berdua saling bercupika cupiki sebagai sapaan hangat. Sementara Wildan hanya mengangguk sopan pada Ella sebagai sapaan. Roni juga cengengesan senyum senyum gak jelas memasuki rumah. Sementara duo comel malu-malu sembunyi di belakang om Oni-nya.
"Mari silahkan duduk dulu, saya panggilkan mama dan papa sebentar." Ella mempersilahkan sebelum masuk kembali ke dalam rumah untuk memanggil kedua orang tuanya. Kemudian Ella beranjak ke dapur untuk mempersiapkan suguhan untuk para tamunya.
Ella menyiapkan minuman dingin manis dan beberapa slices cheese cake dan chocolate cake dalam sebuah nampan, lalu mengantarkannya ke ruang tamu. Menyuguhkannya di meja untuk para tamunya itu. Kemudian Ella ikut bergabung, mengambil duduk di salah satu sofa.
Ella mengamati suasana ruang tamu, sepertinya sesi perkenalan diri masing-masing sudah selesai. Baik Reni ataupun Wildan sedang bercakap-cakap membahas topik ringan saja dengan kedua orang tuanya. Topik yang umum dibicarakan sehari-hari. Sementara Roni hanya senyam-senyum sambil sesekali menimpali pembicaraan mereka.
"Ayo silahkan hidangannya disambi, jangan dilihatin saja." Lilik mempersilahkan kepada tamunya.
"Eh Aish, Nisa udah salim belum sama tante Ella dan kakek nenek? Ayo salim dulu." Wildan memerintahkan pada kedua putrinya. Sengaja tidak memaksa putrinya terlalu awal untuk menyapa. Menunggu mereka beradaptasi dulu.
Kedua gadis kecil itu dengan malu-malu mendekat ke arah papa dan mama Ella. Mencium tangan papa dan mama Ella bergantian dengan malu-malu. Kemudian mereka juga menghampiri Ella untuk mencium tangannya, lalu lanjut memeluk tubuh Ella, mencium pipi Ella juga dengan sayang.
"Tante Ella, Aish kangen!" ujar Aisha setelah melepaskan pelukannya dari Ella.
"Nisa juga kangen!" Nisa gak mau kalah.
__ADS_1
"Tante Ella juga kangen sama kalian." Ella menciumi pipi kedua gadis kecil di hadapannya dengan gemas. Melepas rasa kangennya pada mereka.
"Eh tadi katanya mau ngasih kado buat tante Ella?" Reni yang kali ini menanyai putri-putrinya.
"Oiyaaa..." Kedua gadis kecil itu berlarian kembali ke sisi mamanya. Mengambil sesuatu dari sana. Kemudian mereka kembali ke hadapan Ella sambil menyodorkan hadiah-hadiah di tangan.
Aisha menyodorkan sebuah buket bunga mawar segar berukuran sedang dengan sebuah tulisan selamat dan sukses dr. Ella. Sementara Anisa juga ikut menyodorkan sebuah boneka beruang yang mengenakan snelli (jas dokter) berlengan panjang yang menandakan sebagai dokter spesialis. Boneka itu juga memakai selempang di tubuhnya dengan tulisan nama dan gelar lengkap Ella.
"Makasih, makasih banget ya sayang hadiahnya." Ella menerima hadiah-hadiah itu dengan terharu.
Kedua gadis kecil tadi tertawa kegirangan sebagai tanggapannya lalu mengambil duduk di dekat Ella. Tidak mau kembali ke tempat orang tuanya.
"Duh lucunya, cantik dan pinter banget lagi." Lilik ikutan gemas melihat tingkah kedua gadis kecil keponakan Roni ini.
"Begini, pak, bu..." Wildan memulai pembicaraan. "Maksud kedatangan kami kali ini hanya murni sebagai upaya silaturahmi dan menyambung persaudaraan saja kok."
"Kapan hari kan dik Ella sempat main juga ke rumah kami, kediaman Suherman untuk bersilaturahmi. Kami senang sekali dengan kunjungan dik Ella. Kami juga sudah menganggapnya sebagai bagian dari anggota keluarga kami sendiri. Oleh karena itu kami juga ingin main kesini untuk berkenalan juga dengan keluarga di Ella di Surabaya," lanjut Wildan.
"Wah saya sangat senang sekali dengan maksud kalian. Senang juga karena dapat menambah saudara." Bowo menyambut gembira perkataan Wildan.
"Kalau kalian kebetulan singgah atau ada keperluan di Surabaya, monggo silahkan mampir kesini." Bowo menawarkan diri.
"Asik, asik! Kapan-kapan kita main ke rumah tante Ella lagi ya ma kalau kangen." Nisa menanggapi ucapan Bowo dengan kegirangan.
"Aish juga mau ikut!" Aishah menimpali.
"Ssshhtt...Nisa, Aish, kalau papa sama kakek sedang berbicara kalian tidak boleh ikut menyela. Diam dulu dan jadilah anak baik." Reni menegur kedua putrinya, merasa tidak enak dengan kelancangan mereka yang suka menyela pembicaraan orang tua.
"Gak pa-pa kok kan mereka berdua masih anak-anak. Jangan terlalu keras pada mereka." Lilik tidak keberatan dengan tingkah kedua gadis kecil itu, malah semakin gemas saja. Sementara Bowo mengangguk menyetujui ucapan istrinya.
"Iya pak. Terima kasih banyak atas tawarannya." Wildan kembali meneruskan pembicaraan mereka.
"Tapi kami sangat berharap nantinya kalau kami berkesempatan untuk bersilaturahmi kesini lagi bisa dengan personil keluarga yang lebih lengkap. Wildan melanjutkan.
Sepertinya sengaja menggunakan bahasa yang sedikit berteka-teki dan mengandung kode tersembunyi di balik ucapannya. Mau ngapain coba mereka ingin bersilaturahmi dengan keluarga lengkap? Pasti untuk lamaran kan? Untuk melamar Ella sebagai menantu mereka tentunya.
Baik Bowo, Lilik dan Ella hanya bisa terdiam mendengar ucapan Wildan. Mereka mengerti dan tahu benar akan maksud dari ucapan itu. Bingung harus menjawab bagaimana coba?
Tidak mungkin untuk menyanggupi bukan? Tidak mungkin untuk mengijinkan mereka datang melamar Ella kan? Apalagi dengan Ella yang terang-terangan lebih memilih Ardi daripada Roni. Ditambah lagi dengan Ardi yang juga telah terang-terangan mengutarakan itikadnya untuk melamar Ella.
Tetapi untuk langsung menolak mentah-mentah juga tidak memungkinkan. Terlalu kasar dan tidak sopan rasanya jika sampai dilakukan.
"Roni dan Ella ini sudah terlalu lama kenal dan sering bersama-sama juga sejak dulu. Mereka bahkan luntang-luntung berduaan kemana-mana. Rasanya terlalu berbahaya dan tidak pantas untuk bersikap seperti itu bagi seorang pria dan wanita yang bukan muhrimnya." Wildan kembali berkata dengan nada yang lebih mendesak.
Tetapi alasan yang dikemukakan olehnya memang benar dan sangat masuk akal. Bowo sebagai seorang ayah yang baik tentunya juga sangat menyetujui ucapan Wildan.
" Saya setuju sekali dengan perkataan nak Wildan kali ini. Dan saya juga sebenarnya pernah mengutarakan hal ini juga kepada nak Roni. Benar kan nak Roni?" Bowo menanyakan kepastian kepada Roni. Dan Roni langsung cepat-cepat mengangguk membenarkan ucapan Bowo tersebut.
"Tetapi sebagai orang tua, tetap saja saya tidak bisa memaksakan segala sesuatunya baik kepada Ella ataupun Roni. Saya tidak bisa membuat keputusan yang akan sangat berpengaruh kepada kehidupan mereka kedepannya."
"Saya lebih suka membiarkan mereka sendiri yang mengambil keputusan. Karena mereka berdua sudah sama-sama dewasa dan dapat mempertanggung jawabkan keputusan mereka. Karena bagaimanapun mereka berdua juga lah yang akan menjalani hasil dari keputusan mereka itu. Akan kemana hubungan mereka selanjutnya." Bowo menekankan pilihannya untuk memberikan kebebasan sepenuhnya kepada Ella dan Roni.
__ADS_1
"Benar sekali pak Wibowo. Saya juga sangat setuju. Tak boleh ada unsur keterpaksaan dalam hubungan dua orang. Harus ada keikhlasan dan penerimaan dari kedua belah pihak barulah niat baik akan hubungan yang lebih serius dapat terlaksana." Wildan menghargai keputusan Bowo.
"Sekarang aku tanya sama kamu, Ron. Gimana? Kamu sudah benar-benar siap untuk melangkah lebih jauh ke hubungan selanjutnya?" Wildan memastikan kesanggupan dan kesiapan Roni.
"Kalau saya sih siap saja. Tinggal menunggu keputusan dari Ella." Roni menjawab. Kalau dirinya jelas siap saja dari dulu. Tapi Ella-nya bagaimana? Ella selalu saja dipenuhi kegaluan dan keraguan dalam hubungan mereka berdua selama ini.
Wildan tersenyum dan mengangguk puas mendengar jawaban Roni. Kemudian pandangan Wildan beralih kepada Ella dan menanyai gadis itu. "Terus untuk dek Ella sendiri bagaimana?"
Ella terdiam untuk beberapa saat, berpikir bagaimana sebaiknya untuk mengutarakan segala isi hatinya dengan jujur tapi juga tidak terlalu menyakiti bagi Roni dan keluarganya untuk mendengarnya. Ella memaksakan otaknya untuk loading lebih cepat dalam berpikir dan merangkai kata-kata yang sekiranya enak didengar.
"Maaf...Saya, saya masih belum siap." Ella akhirnya menjawab sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Saya minta sedikit waktu. Saya merasa masih banyak yang harus saya bahas dan saya bicarakan dengan Roni secara pribadi." Ella menambahkan sambil terus menunduk. Tak berani untuk mengangkat pandangannya. Tak berani untuk melihat ekspresi wajah Roni dan kakak-kakaknya yang pastinya sangat kecewa mendengar jawaban darinya.
Baik Roni, Reni maupun Wildan hanya bisa terdiam dan tak bereaksi mendengar jawaban Ella. Ada apa ini? Ada apa dengan Ella? Kenapa seolah gadis ini kembali ragu kan hubungannya dengan Roni? Cukup lama mereka terdiam sambil memikirkan ucapan Ella di dalam kepalanya masing-masing.
"Kalau begitu sebaiknya kita turuti saja untuk memberikan sedikit waktu lagi bagi mereka berdua. Sepertinya masih ada sesuatu yang mengganjal dan harus mereka bicarakan berdua secar baik-baik." Bowo akhirnya menanggapi, memecahkan kesunyian yang tiba-tiba terjadi.
"Yah sepertinya memang tidak ada jalan lain. Kita hanya bisa menunggu saja sampai keduanya menemukan kesepakatan. Dan semoga saja keputusan mereka nanti adalah yang terbaik bagi keduanya." Wildan mau tak mau ikut menyetujui.
Tapi dalam hatinya Wildan merasa tidak tenang juga dengan keputusan ini. Entah mengapa Wildan merasa bahwa kali ini Ella bukannya ingin menunda dan meminta waktu seperti terakhir kali mereka bertemu. Kali ini jawaban Ella lebih terasa seperti penolakan yang diperhalus bahasanya.
"Suatu hubungan itu tidak bisa dipaksakan. Tak bisa dipegang terlalu erat, tapi juga tak bisa pula terlalu longgar. Suatu hubungan haruslah dilandasi dengan kepercayaan dan perasaan saling mencintai agar dapat berlangsung langgeng dan selamanya." Bowo mengemukakan wejangan dan petuah bijaknya.
Dan semua yang hadir di ruang tamu itu kompak mengangguk, menyetujui kebenaran ucapan itu. Mereka pun terdiam membisu, berusaha untuk memahami dan meresapi maksud dari perkataan Bowo yang terasa sangat mengena dihati.
"Nisa, Aish, kalian berdua sudah lapar belum? Tadi nenek masakin banyak makanan enak lho buat kalian." Lilik yang memecahkan keheningan kali ini. Berusaha mencairkan suasana.
"Kita makan siang dulu, yuk!" Lanjutnya mengajak kedua gadis kecil itu.
"Emangnya nenek masak apa?" Nisa bertanya penasaran.
"Banyak macam-macam. Ada sop bakso, ada ayam krispi, ada tongseng cumi, ada banyak lagi deh macam-macam. Pasti dijamin enak." Lilik mempromosikan hasil masakannya.
"Wah Bakso....Mau...Nisa mau makan! Boleh ya ma?" Nisa terlihat kegirangan dan kelaparan sekaligus. Tapi gadis kecil itu tak lupa untuk meminta ijin kepada mamanya, takut membuat mamanya marah.
"Aish juga mau ya ma, Aku mau ayam krispi." Aish juga ikutan merengek pada mamanya.
Reni tersenyum lebar dan mengangguk kali ini sebagai jawaban untuk kedua putrinya. Tidak keberatan dengan permintaan mereka.
"Yuk mari silahkan semuanya. Kita pindah ke ruang makan saja. Biar semuanya tahu bagaimana enaknya rasa masakan tante Ella hehe." Bowo ikut mempersilahkan para tamu untuk menghadiri jamuan makan siang. Mengakhiri sesi percakapan semi formal mereka menjadi sesi ramah tamah.
"Memangnya masakan tante Ella yang mana?" Roni bertanya penasaran. Perasaan Ella ini bukan tipe cewek yang hobi di dapur dan pinter masak.
"Itu tempe gorengnya." Lilik menjawab santai. Dan semua yang mendengar langsung tertawa ngakak mendengarnya. Membuat Ella manyun dijadikan bahan candaan.
"Yeee tapi kan aku juga bantuin masak semuanya. Cuma mama yang bagian bumbuhin hehe." Ella mencoba membela diri.
"Kalau begitu aman deh bisa dimakan." Roni menyeletuk dan semuanya kembali tertawa lepas.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼