Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
147. S2 - Pertaruhan


__ADS_3

You're a work of art


Not everyone will understand you


But...


The one who do


Will never forget you


(*Kamu adalah bagian dari sebuah seni


Tidak semua orang dapat mengerti dirimu


Akan tetapi...


Seseorang yang dapat mengerti


Tidak akan pernah dapat melupakanmu).


___________________________________


"Kasih aku ciuman kalau menang gimana?" Linggar menyunggingkan senyuman liciknya.


"Haaaah?"


"Gimana mau gak?" Linggar sedikit mendesak.


"Kamu gila ya!" Ditha bersungut marah.


"Yaudah kalau gak mau. Main santai aja ntar tandingnya. Toh gak dapet apa-apa juga."


"Lho...lho...Nggar! Gak bisa gitu donk!" Ditha memprotes Linggar.


"Makanya kasih penyemangatnya donk!"


Ditha diam, mikir sejenak sebelum akhirnya mengalah. "Ok deh. Awas kalau kamu kalah!"


"Hahaha sip deh, jadi makin semangat!" Linggar kegirangan dapat memenangkan perdebatan dengan Ditha. Yah meski belum tentu menang juga race-nya. Yang penting ada peluang dapet kiss-nya.


Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Linggar mengajak Ditha ke bagian pendaftaran race. Mendaftarkan keikut-sertaannya pada race jam 3 nanti sekaligus menyewa sebuah motocross untuk dipakai latihannya serta mengajari Ditha main. Tak lupa mentransfer uang taruhan mereka juga sebesar 10 juta rupiah.


"Disini ada tiga macam sirkuit. Ada yang 500 meter untuk pemula dan latihan. Sirkuit yang kita tuju sekarang. Ada yang 2 kilo meter medium, itu yang sebelah kanan kita. Dan yang terkahir biasanya dipakai race yang 8 kilo meter. Di depan itu sirkuitnya yang gede banget." Linggar menjelaskan.


"Oh jadi nanti kamu tanding yang 8 kilo?" Ditha memastikan sambil mengamati medan sirkuit yang sepertinya agak sulit.


"Iya. Standart race biasanya pakai yang itu."


"Hati-hati lho, Nggar. Kok kayaknya medannya agak ngeri gitu ya. Terjal banget itu rintangannya." Ditha sedikit ngeri melihat gundukan-gundukan pasir yang telah ditata sebagai halang rintang di sirkuit.


"Ngeri si nggak, cuma ya harus waspada juga emang kalau olah raga ekstrim gini." Linggar tersenyum kegirangan melihat Ditha khawatir pada keselamatannya. Duh bisa manis juga ini cewek.

__ADS_1


Keduanya menghampiri sebuah motor yang sudah disewa Linggar utuk latihan Ditha. Linggar segera menaikinya dengan Ditha memperhatikan baik-baik.


"Nah pertama naik kayak naik motor biasa. Atur dan posisikan stangnya senyaman mungkin sama tubuh kamu." Linggar menunjukkan cara pengaturannya.


"Genggaman pada stang yang penting untuk diperhatikan. Ada teknik tersendiri untuk hal tersebut. Kayak gini ni," Linggar memberikan contoh. "Genggamlah bagian stang secara kuat-kuat di mana jari diposisikan dengan benar."


"Setiap jari memiliki letak yang perlu diperhatikan agar tidak salah. Pastikan ibu jari, jari manis, dan jari kelingking menggenggam stang, sementara itu telunjuk dan jari tengah yang berperan sebagai penarik rem beserta tuas koplingnya." Dengan lebih detail Linggar menjelaskan tentang cara meletakkan jari jemarinya di kemudi motor.


Ditha memperhatikan dengan seksama, mengingat arahan Linggar sambil sesekali mempraktekkan dan membayangkan dengan jemarinya sendiri.


"Hampir sama kayak naik motor biasa si intinya. Cuma kalau belum terbiasa dengan gaya genggaman stang seperti ini awalnya agak kaku, lama-lama terbiasa...Yuk sini cobain." Linggar beranjak turun dari motocrossnya dan membantu Ditha menaikinya motor itu.


"Coba aku liat gimana genggamannya?"


"Hmmmm kayak gini?..." Ditha menunjukkan cara menggenggam yang tadi diajarkan Linggar.


"Iya bener kayak gitu. Cuma ini kurang kuat genggamannya. Pegang yang kuat biar gak terpental kamunya pas lewat tanjakan atau tikungan tajam." Linggar menyentuh kedua jemari Ditha yang menggenggam stang. Entah kenapa ada suatu desiran aneh di dadanya saat kulit mereka bersentuhan.


Cepat-cepat Linggar menarik tangannya dan menjauhkan tubuhnya dari gadis itu. Tapi saat mata mereka bertemu desiran itu kembali ada, desiran dan getaran yang terasa menyenangkan di dada.


"Nyalain mesinnya, terus jalankan pelan-pelan dulu di jalanan yang aman. Kalau udah biasa nanti baru ngebut dan nyobain beberapa halangan..." Linggar memberikan instruksi terakhirnya.


Ditha menurut saja menjalankan motornya pelan-pelan. Masih sangat kaku. Beberapa kali putaran sirkuit dia lakukan sampai merasa terbiasa dengan motocross tunggangannya.


"Wohooo...Asik banget, Nggar! Asli seru!" Ditha berseru kegirangan beberapa menit kemudian setelah terbiasa mengendalikan motornya. Bahkan cewek itu sudah menambah laju kecepatannya dan mencoba melewati beberapa halangan berupa gundukan pasir atau tikungan tajam.


"Iya, iya...tapi nyetirnya yang bener. Liat depan. Konsentrasi!" Linggar ikut tersenyum melihat reaksi Ditha yang kegirangan. Ketar-ketir juga sebenarnya ngeliat cewek itu nge-cross kayak gitu. Tapi kalau Ditha kayaknya aman-aman aja si.


Linggar menemani Ditha bermain-main untuk beberapa menit kemudian. Sebelum ganti dirinya yang menaiki motor itu untuk sekedar pemanasan. Melemaskan tubuhnya dan membiasakan lagi untuk memegang kendali motor biar tidak kaku.


Tepat jam tiga panitia race meminta kelima racer untuk segera berkumpul untuk melakukan breafing singkat tentang aturan permainan. Linggar dan keempat lawannya berkumpul bersama dan mengambil undian penentuan motor yang dipakai serta posisi startnya.


Untuk urusan akomodasi perlengkapan motor sudah ditangani oleh panitia sirkuit. Sementara perlengkapan savety peserta juga dibagikan untuk segera dikenakan sebelum pertandingan dimulai.


Linggar dan Ditha pun segera menghampiri motor berwarna merah metalik yang akan ditunggangi Linggar nantinya. Linggar memeriksa keadaan motornya mulai dari roda, rem, stang sampai detail kecil lainnya. Tak ingin ada kesalahan kecil yang bisa mengganggu atau membahayakan dirinya dalam pertandingan nanti.


Kemudian Linggar memasang semua peralatan savety-nya. Mulai dari pelindung lutut, siku, sarung tangan, pelindung dada, sepatu, sampai kacamata dan helm. Benar-benar siap tempur kelihatannya.


"Uhm...Kok kayaknya ngeri ya, Nggar," Ditha sedikit takut juga melihat persiapan race ini. Kayaknya benar-benar ini permainan yang beresiko dan bisa berakibat fatal serta membahayakan juga.


"Kenapa? Aman kok kalau udah pakai beginian. Don't worry. I'll be Ok." Linggar berusaha menenangkan.


"Yaudah kamu hati-hati. Jangan ngebut yang penting selamet aja deh."


"Hahahaha kalau kayak gitu bukan race donk namanya. Katanya harus menang?" Linggar tertawa melihat Ditha yang mengkhawatirkan dirinya. Seneng juga si sebenernya diperhatikan begitu.


"Gak menang juga gak pa-pa deh. Yang penting kamu selamet." Ditha sudah melupakan keinginan menangnya. Kalah sama rasa khawatirnya.


"Tenang aja, Dith. Aku pasti menang...Biar dapat ciuman dari kamu." Linggar menepuk-nepuk puncak kepala Ditha ringan.


"Janji ya kamu bakal selamet. Gak usah terlalu memaksakan diri lho." Ditha masih khawatir saja. Gak bisa membayangkan kalau terjadi sesuatu pada Linggar, pada tuan muda Pradana grup karena dirinya. Duh bisa heboh seluruh dunia persilatan.

__ADS_1


"Iya...Iya...Kamu kasih semangat dan doain dari pinggir sirkuit aja ya." Linggar memerintahkan Ditha ke pinggiran sirkuit karena pertandingan akan segera dimulai.


Dengan masih cemas Ditha berjalan ke pinggiran sirkuit. Mengambil posisi duduk di atas podium yang bisa melihat keseluruhan sirkuit. Entah mengapa pandangannya tak bisa lepas dari cowok itu. Dari Linggar yang sudah bersiap mengambil posisi diatas motornya bersama keempat lawannya.


"Duh sang putri khawatir banget niye sama sang pangeran." Tanpa disadari Ditha, Lisa dan beberapa teman wanitanya sudah berada di sebelah posisi tempat duduknya.


Ditha diam saja tidak menjawab, masih malas meladeni Lisa. Cewek model beginian kok bisa-bisanya jadi mantannya Linggar? Gak ada yang lebih baik dikit apa? batinnya kesal.


"Yah wajar si, kalau tuan putri Sampoerna belum pernah merasakan serunya racing motocross. Baru kenal dan baru belajar ya? Apa sengaja pura-pura gak bisa biar diajarin sama Linggar?" Lisa kembali nyerocos gak jelas. Kelihatan sekali kalau Lisa ini cemburu.


Cemburu dengan kedekatan serta kemesraan Linggar dan Ditha yang mereka perlihatkan dari tadi. Bahkan Linggar yang biasanya cuek pada dirinya dulu meski mereka berstatus pacar. Pada cewek lain pun sama saja. Palingan cuma main-main sama cewek-cewek cantik doank. Kenapa sekarang Linggar sampai rela mengajari Ditha naik motocross tadi begitu? Sudah sejauh apa hubungan mereka?


"Whatever..." Ditha malas menanggapi Lisa.


"Kamu gimana bisa kenal sama Linggar? Perjodohan? Pertunangan politik? Perkawinan dua kerajaan bisnis?...Huh tipikal permainan para sultan."


"Perlu kamu tahu ya, ceweknya Linggar itu banyak dan cantik-cantik sebelumnya. Kamu pikir kamu bisa dapetin cintanya dengan wajah tomboy pas-pasan gitu? Jangan mimpi!"


"Meski nanti kalian bertunangan karena permainan politik kelas atas kalian, Linggar tak akan pernah tertarik dengan wanita yang tidak cantik seperti kamu hehehe," Lisa mengakhiri celotehannya dengan tawa mengerikan seperti iblis.


"Shut up your fvcking mouth!" Ditha beneran emosi sekarang. Bisa-bisanya ada cewek berwajah cantik tapi punya mulut berbisa seperti Lisa. Sungguh sangat ironi, berwajah cantik tapi berhati busuk.


"Pertandingannya udah mulai!" Salah satu teman Lisa memberi tahukan untuk menghentikan perdebatan dua orang sultanwati itu.


Ditha memperhatikan dengan seksama pertandingan yang sedang berlangsung. Pandangannya tak bisa lepas dari Linggar dengan motocross merahnya. Cemas akan keselamantan cowok itu. Tapi sepertinya Linggar sudah sangat mahir mengendarai kendaraan itu, mungkin benar tak ada yang perlu dicemaskan.


Tak sampai setengah putaran Linggar sudah dapat memimpin pertandingan, meninggalkan lawan-lawannya di belakangnya. Namun saat melewati gundukan pasir yang lumayan besar, sepertinya motor Linggar sedikit selip saat mendarat. Membuatnya sedikit oleng nyaris jatuh.


Ditha langsung berdiri dari kursinya saking khawatirnya. Rasanya jantung Ditha Berhenti berdetak sesaat demi melihatnya. Kamu gak pa-pa kan, Nggar?


Lawan Linggar segera menyusul posisi terdepan. Linggar segera memperbaiki posisinya dan kembali melajukan motocross-nya dengan semakin kencang. Dan tepat beberapa meter sebelum finish akhirnya Linggar dapat menyalip lawan-lawannya. Menyentuh garis finish pada posisi pertama.


Ditha langsung melompat-lompat kegirangan demi melihat kemenangan Linggar. Kemudian dia berlari ke arah sirkuit. Menghampiri pria itu yang sedang menerima ucapan selamat dari lawan-lawannya serta para crew sirkuit yang mengawasi pertandingan.


Entah bagaimana Ditha langsung berlari menghambur dan memeluk tubuh Linggar dengan sangat erat. Lega, sangat lega karena Linggar berhasil selamat dari pertandingan ini. Bahkan lebih jauh lagi pria itu memenangkan pertandingan sesuai janjinya.


Perbuatan yang bisa menyulut api kecemburuan Lisa dan teman-temannya demi melihatnya keduanya yang terlihat sangat mesra.


"Uuught..." Linggar merintih kesakitan. Entah mengapa dadanya terasa sakit sekali saat tertekan oleh pelukan Ditha tadi. Kenapa ya? Apa ada yang memar karena benturan di dadanya dengan stang motor pas selip tadi?


"Nggar? Kamu kenapa?" Ditha buru-buru melepaskan pelukannya yang membuat Linggar sampai merintih kesakitan. Bingung juga dibuatnya. Apa Linggar terluka?


"Kayaknya dadaku memar dikit akibat benturan dengan stang tadi..."


"Waktu di gundukan tadi ya?...Ada yang lain? Ada luka lainnya?" Ditha semakin khawatir dibuatnya.


"Gak ada. Itu aja kok. I'm Ok..." Linggar mencoba menenangkan Ditha..."Tapi kamu masih punya utang dua janji sama aku lho," Lanjutnya dengan cengiran penuh kemenangan. Mengingatkan akan janji Ditha.


"Beneran gak pa-pa? Sorry banget ya gara-gara aku kamu jadi maksain diri untuk bisa menang." Ditha semakin merasa bersalah.


"I'm Fine, Ditha... Santai aja. Yuk kita ambil hadiahnya." Linggar menggandeng tangan Ditha untuk ke panitia race. Mengurus administrasi, reward, pajak, dan uang traktiran untuk semua yang hadir menonton pertandingan mereka.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Gak pernah bosen ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🤭🌼


__ADS_2