
Bambang memasuki ruangan Ardi siang itu. Tepat sebelum jam istirahat siang berlangsung. "Ini ada beberapa dokumen yang perlu ditanda tangani, Pak." Disodorkannya beberapa map dokumen ke hadapan Ardi.
Ardi menerima dokumen-dokumen itu dan menandatanganinya tanpa banyak berkomentar. "Abis ini aku ada jadwal apa lagi?" tanyanya memastikan jadwalnya.
"Tidak ada, Pak. Oiya di luar ada Pak Mahes ingin nemuin bapak."
"Lho kok gak langsung masuk aja?" Ardi sedikit heran dengan tindakan Mahes. Biasanya kan dia langsung nyelonong masuk aja ke kantornya kalau datang. Apa dia masih sungkan ya karena kejadian kemarin?
"Bapak ingin makan siang diluar atau perlu saya pesankan untuk dimakan disini?" Bambang memastikan makan siang bosnya sebelum pamit undur diri tak lama kemudian.
"Aku lagi males keluar nih. Beliin aja deh nasi padang kayak biasanya. Dua sekalian buat Mahes juga ya." Ardi memutuskan menu makan siangnya. Sesibuk dan sepadat apapun kegiatannya, Ardi yang sekarang tak pernah lupa untuk menjaga kesehatannya, no skipping meals. Mengingat benar nasehat Ella yang terkahir kali untuknya. Seolah ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria yang bisa memegang janjinya dan bertanggung jawab akan kesehatan sendiri.
Mahes memasuki ke ruangan Ardi bersamaan dengan Bambang keluar dari ruangan. "Yo, Met siang. Sibuk banget ini kayaknya pak direktur?" sapa Mahes memasuki ruangan.
"Nggak juga. Tumben gak langsung masuk?"
"Takut ganggu kesibukan bos besar."
"Halah biasanya juga langsung nyelonong."
"Itu kan waktu di perusahaan minimu Pradana Construction di Genting. Kalau perusahaan utama Pradana Group kayak gini mana aku berani. Iya kalau kamu gak pas lagi ada client penting. Kan gak sopan banget."
"Duduk dah. Mau minum apaan?" Ardi mempersilahkan Mahes duduk di sofa dan menghampiri kulkasnya. Ardi tak menanggapi jawaban Mahes. Tapi mau tak mau jadi merasa sedikit tidak nyaman juga mengetahui posisinya saat ini bisa membuat orang lain sungkan untuk sekedar menemuinya saja. Bahkan Mahes yang termasuk salah seorang terdekatnya saja merasa begitu, bagaimana kalau orang lain?
"Yang seger-seger ada? Cocktail? Mocktail?"
"Dikira ini bar apa." Ardi mengambil beberapa botol minuman ringan dari kulkasnya.
"Kamu butuh duit banyak?" Mahes tiba-tiba mulai bertanya pada Ardi.
"Iya lumayan. Emang kenapa kamu bisa bantu pinjemin?" Ardi menanggapi ucapan Mahes, mengambil duduk di hadapan sepupunya itu.
"Bisa. Kamu butuh brapa banyak? Dan buat apa?" Mahes mau tidak mau ikut penasaran untuk apa kira-kira Ardi butuh banyak uang. Gak mungkin kan untuk keperluan pribadinya, pastinya berhubungan dengan perusahaan.
"Aku ada kerjasama dengan Irza Wismail, dia mau kerjasama bikin perluasan perusahaan Wismail di Jawa Timur. Sekalian aku juga ingin mindahin beberapa perusahaanku ke Surabaya. Kantornya aja sih, produksi tetep di sini aja. Bikin sekomplek gitu atau satu gedung banyak perusahaan maksudku." Ardi menjelaskan rencananya.
"Bukannya Wismail Group itu perusahaan besar? Kenapa masih butuh investor lain? Gak sekalian ajuin ke mereka aja?" Mahes ingat benar latar belakang keluarga Wismail yang merupakan Triliuner dengan perusahaan raksasanya yang meliputi berbagai bidang pasti gak bakal kekurangan modal.
__ADS_1
"Kan belakangan ini mereka juga sempet colaps juga sampai masuk tv gitu karena masalah internal. Apalagi mereka sekarang juga dalam masa peralihan kepemimpinan, masalah yang hampir sama kayak Pradana Group. Jadi Irza cuma bisa membantu sejumlah uang sesuai kontrak yang dibutuhkan anak cabang mereka di Jawa Timur aja. Rencana si aku mau bikin di Surabaya pinggiran, lahan udah clear tinggal pembangunannya. Duit abis hahaha."
"Kenapa di Surabaya? Disana Mahal semua properties dan tenaga kerjanya juga."
"Iya memang. Tapi kita agak susah untuk bisa berkembang kalau terus disini. Posisi kita terlalu ujung mau ke Surabaya Jauh, mau ke Denpasar juga jauh. Kita kalah di pengiriman, karena selama ini kita cuma fokus dengan pengiriman laut dari pelabuhan, selain itu berat di ongkos kirimnya. Mau gak mau harus ada satu perusahaan yang deket sama bandara kalau mau makin maju. Sehingga pengiriman bisa lebih cepat dan lancar."
"Aku bisa join. Aku ambil satu komplek buat perusahaan Hartanto Farmacy. Ntar kamu bikinin aja proposalnya dan dana yang dibutuhkan berapa. Sekalian kamu butuh bantuan berapa besar juga bikin proposal pengajuannya." Mahes ikut tertarik dengan gagasan Ardi untuk untuk membuka cabang perusahaan di Surabaya.
"Ok, gak sampai seminggu ntar aku kirim ke kamu. Email dulu aja ya, pelajarin dulu draftnya. Kalau udah clear baru kita proses kontraknya." Ardi kegirangan menemukan satu investor yang sangat bisa dipercaya.
Mahes sepertinya sudah mulai membawai beberapa perusahaan Farmasi keluarganya selain menjadi direktur rumah sakit yang didirikannya sendiri. Hartanto Group rupanya juga sudah mulai bersiap untuk pergantian pemegang tahta kekuasaan rupanya. Dan tentu saja Mahes sebagai putra pertama keluarga itulah yang akan menerima tahta.
"Eh tapi aku manggil kamu kesini bukan buat ngomongin duit dan bisnis. Ada hal penting lain yang harus kita bicarain." Ardi kembali mengingatkan tujuan utamanya memanggil Mahes kesini hari ini.
"Iya aku tahu, masalah Laras kan?" Mahes juga dapat menebak arah pembicaraan Ardi.
"Sudah sejauh apa?"
"Suka, sayang, cinta, ingin memiliki." Mahes bingung mendeskripsikan perasaannya pada Laras. Perasaanya terasa begitu complicated.
"What? Sejak kapan?" Ardi keheranan kali ini. Kayaknya dia tak pernah sekalipun melihat Mahes yang mencoba untuk mendekati Laras sebelumnya. Tak pernah juga Ardi memergoki Mahes curi-curi pandang atau memberikan perhatian berlebih selain sebagai adik atau saudara sepupu pada Laras.
"Haaaa? Sari suka sama aku?" Kali ini Ardi yang terkaget-kaget mendengar perkataan Mahes. Sejak kapan Sari menyukainya? Kok dirinya sama sekali gak sadar?
"Yaelah kamu tu jadi orang emang cueknya kebangetan, Di. Kayaknya cuman Ella doank yang bisa bikin kamu perhatian ya, dasar." Mahes mendengus kesal. Sedikit kesal juga si karena cinta adiknya tak terbalas ke Ardi. Tapi ya mau bagaimana lagi yang namanya perasaan tak bisa dipaksakan. Lagian sekarang Ardi juga yang kena batunya dengan kandasnya hubungannya dengan Ella. Sementara dilain pihak Sari sudah bahagia dengan Jun pacarnya.
"Jadi mama jodohin aku ke Sari waktu itu bukan asal? Karena memang Sari suka sama aku?" Ardi semakin merasa tidak enak mengetahui kenyataan mengejutkan ini.
"Yah mungkin budhe Kartika juga bisa melihat dan merasakan gelagat Sari ke kamu. Cuma kamunya aja yang mati rasa, Di. Parah emang." Mahes mendengus kesal. "Tapi waktu itu Sari udah pacaran sama Jun kok. Jadi dia menolak perjodohan kalian juga bukan hanya untuk kamu dan Ella, tapi juga untuk dirinya sendiri dan Jun," tambahnya.
"Syukur deh kalau gitu..." Ardi sedikit lega.
"Jadi intinya sejak Sari sudah menyerah soal perasaannya sama kamu. Dan kamunya juga sudah nemuin Ella untuk mengisi hatimu, aku juga mulai coba untuk mendekati Laras." Mahes mengakui kapan saat-saat awal dirinya melakukan pendekatan pada Laras.
"Gila! Udah selama itu dan aku gak tahu apa-apa." Ardi mengerutkan dahinya dalam-dalam, semakin keheranan sendiri.
"Kamu sih yang dipikirin Ella mulu," Mahes tertawa geli menyadari kecuekan dan ketidak pekahan Ardi soal urusan asmara. "Tapi karena aku juga jarang pulang kampung, hubungan kami berjalan dengan sangat lambat. Hanya bisa LDR saja, aku bahkan belum sempat menyatakan cinta padanya."
__ADS_1
"Kamu serius kan sama Laras? Awas saja kalau kamu mau memepermainkan adikku." Ardi mengancam Mahes.
"Di, aku serius sama Laras. Aku mau nembak dia, berkomitmen sama dia. Kamu percaya sama aku kan? Aku pasti bisa menjaga dan melindungi Laras. Aku gak akan nyakitin dia." Mahes menjawab dengan serius
"Yah aku tahu kamu kayak gimana sih orangnya. Kamu salah satu orang paling lurus yang kukenal. Jujur aku lega kalau akhirnya Laras sama kamu. Tapi semua kembali ke Larasnya. Aku gak bisa maksain perasaannya. Kalau dia mau nerima kamu ya silahkan saja lanjutkan, aku gak keberatan. Kamu cuma perlu ngadep ke mama dan papa buat jelasin hubungan kalian. Pastinya mereka juga tak akan keberatan," jawab Ardi.
"Satu lagi, Di. Aku mau ijin sama kamu. Boleh gak kalau sekiranya Laras ngelangkahin kamu? Aku mau lamar dia, aku mau nikahin dia." Mahes kembali bertanya serius.
"Wow, gerak cepet ni," Ardi sebenarnya tidak kaget mendengarnya. Mahes memang sudah terkenal tak suka basa basi. Tapi gak nyangka juga dia bisa setegas itu dalam memutuskan akan menikah. Mau tidak mau ada sedikit rasa iri juga dengan hubungan Mahes dan Laras, andai saja hubungannya dengan Ella tidak terbentur restu. Pasti Ardi juga tak akan ragu untuk melamar dan menikahi gadis itu.
"Hehe, niat baik harus disegerakan. Aku gak mau nunda-nunda lagi. Aku sudah mantap memilih Laras."
"Boleh saja. Aku tak keberatan sama sekali."
"Thanx a lot, ya. Kamu memang saudara dan sahabat paling baik."
"Eit, abis ini kamu harus manggil aku 'Mas' lho ya hahahaha."
"Asyem, Iya iya Mas Ardi Pradana yang ganteng dan keren tapi sayang jomblo hahahha." Mahes keasikan menggoda Ardi.
"Heh, Brengsek! Belum jadi adik ipar aja udah ngelunjak!" Ardi pura-pura marah dan tak lama kemudian tawa kedua pria itu pun meledak memenuhi seisi ruangan.
"Makasih ya, mungkin dengan kalian menikah duluan dan ngasih cucu yang lucu mama gak akan maksain lagi aku buat cepet-cepet nikah." Ardi ikut senang juga dengan ide pernikahan mereka secepatnya.
"Emang kamu masih niat nungguin Ella? Tiga tahun lagi?" Mahes penasaran dengan rencana Ardi soal hubungan asmaranya.
"Dua tahunan lah, kan udah lewat satu tahun." Ardi meralat hitungan Mahes.
"Gimana kalau Ella udah punya pria lain? Atau mungkin sudah menikah?"
"Gak mungkin. Dia pasti masih menungguku."
"Duh kepedean banget kamu jadi orang!"
"Hahaha iya donk. Daripada minder dan rendah diri." Ardi membela dirinya. Memang ada sedikit keraguan dan ketakutan bahwa Ella akan memilih dan bersanding dengan pria lainnya. Karena itulah Ardi masih menyewa orang untuk memata-matai Ella. Sebenarnya bukan untuk apa-apa hanya sebagai pengingat kalau Ella akhirnya memilih yang lainnya. Pengingat baginya bahwa waktunya untuk terus berharap telah habis dan saatnya untuk mengikhlaskan gadis itu pergi jika akhirnya gadis itu memilih untuk menikah dengan pria lain.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼