
"Kalian berdua perlu duduk ngomongin masalah ini dengan serius. Bagaimana kedepannya hubungan kalian." Ardi memberi saran.
"Akhiri saja hubungan kalian sebelum semakin menyakitkan."
"Kamu benar, mas." Ella menjawab pasrah.
"Yaudah kita makan dulu aja sekarang. Nih udah mateng semua, ayo makan mumpung masih anget." Ardi mengambil daging dan berbagai macam makanan yang telah matang ke atas piring saji. Permainan sumpit yang menakjubkan dan piawai dipertunjukkan oleh Ardi seperti layaknya koki profesional. Asli keren banget ini orang.
Ella menurut saja mengambil makanan ke piringnya dan menyantapnya. "Enak, beneran enak banget." Ella kegirangan mengunyah makanannya. Mencocol daging, sayuran dan berbagai makanan panggangnya pada berbagai macam saos yang tersedia di atas meja.
"Ya enak lah kan aku yang masakin khusus buat kamu hehe." Ardi sedikit menyombongkan diri, ikut menyantap hasil masakannya sendiri. Dan beneran enak banget rasanya.
"Ya ya kan masakan mas Ardi rasa cinta..." Ella menambahkan komentarnya sambil cekikikan geli.
Jawaban yang mampu membuat Ardi mesem semakin lebar, kelihatan banget kalau kegirangan. Kemudian mereka berdua tenggelam dalam kesibukan mengunyah dan memamah biak mengisi perut mereka masing-masing. Menghabiskan sajian all you can eat yang hampir memenuhi satu meja.
"Tapi kayaknya aku gak percaya Sari bisa berselingkuh dengan Roni. Sari itu gadis yang baik, aku sudah mengenal dia sejak kecil." Ardi mengatakan keheranannya saat prosesi makan malam mereka selesai dan dia meletakkan sumpit di atas piring kosongnya.
"Sebenarnya aku juga gak percaya. Roni juga selama ini selalu setia padaku. Bahkan walau jelas cintanya bertepuk sebelah tangan. Walau hubungan kami tanpa status dan tanpa kejelasan." Ella juga mengatakan keraguannya.
"Lagi pula Sari kan masih bertunangan dengan Jun?' Ella menambahkan.
"Iya memang sudah hampir setahun ini Sari bertunangan dengan Jun. Dan selama ini juga gak pernah ada kabar miring soal hubungan mereka. Hanya saja rasanya sudah waktunya mereka berdua menikah tapi malah Sari seakan menghindar kalau ditanyai tentang pernikahan. Sepertinya hubungannya dengan Jun sedang ada masalah." Ardi menjelaskan sesuai dengan apa yang diketahuinya sebagi sepupu Sari.
"Apa kamu ingin aku menyelidiki mereka?" Lanjutnya menawarkan solusi. Bukan hal sulit bagi Ardi untuk menyewa seseorang menyelidiki apa yang sedang terjadi diantara Roni, Sari bahkan juga Jun.
"Gak usah deh, biar aku nanya langsung sama Roni aja." Ella menolak. Tak ingin melanggar privasi Roni dan Sari bahkan mungkin melibatkan Jun juga. Mereka yang notabene teman-temannya.
"Yasudah intinya hubungan kamu sama Roni itu harus cepat diakhiri saja. Hubungan kalian sudah tidak sehat." Ardi kembali menegaskan agar Ella segera membuat keputusan.
"Bagaimana jika ternyata tak ada apa-apa diantara mereka?" Ella kembali ragu. "Bagaimana kalau mereka tidak berselingkuh?"
"Terus kenapa kalau mereka cuma teman biasa? Nyatanya mereka keluar berduaan dan tidak memberi tahukan pada kamu. Kan sama saja dengan definisi perselingkuhan seperti yang dikatakan go*gle." Ardi bersikeras.
"Kalau begitu tetap saja sulit untuk memutuskan dia...Gak ada alasan yang jelas."
"El, bisa gak si kamu mikirin diri kamu sendiri dulu sebelum mikirin orang lain?...Kamunya cinta gak sama dia? Kamunya nyaman gak sama dia. Cukup itu saja yang perlu kamu pikirkan. Just think about yourself first."
"Setelah itu kamu utarakan. Gak usah mikirin dan ngomongin yang lainnya. Kalau kamu saja gak nyaman menjalin hubungan dengannya, ngapain dipertahankan lagi?" Dengan nada sangat sabar Ardi mencoba menjelaskan.
Aslinya gemes juga sama Ella, kenapa si gadis ini terlalu baik jadi orang? Kenapa selalu mikirin perasaan orang lain? Kenapa selalu sungkan atau tidak enak dengan orang lain? Harusnya kan yang penting dirinya sendiri duluan baru mikir orang lain.
"Apa boleh kayak gitu mas? Bukannya itu terlalu egois?" Ella balik bertanya tak berdaya.
"Iya untuk masalah hati kamu memang harus egois. Karena rasa tak bisa dipaksakan. Rasa tidak pernah bohong. Dan kalau terus dipaksakan malah akan menyakiti kedua belah pihak. Sakit kan? Sesak kan rasanya? Kalian sendiri pasti yang merasakan." Ardi kembali berusaha meyakinkan Ella.
"Iya memang rasanya semakin menyesakkan..."
Mereka berdua terdiam selama beberapa saat dan hanya saling berpandangan merenungi pembicaraan mereka.
__ADS_1
Keheningan diantara mereka dibuyarkan oleh ponsel Ella yang tiba-tiba berdering dan nama Roni lah yang muncul di layar telpon itu. Ella menatap Ardi dengan sedikit ragu, menunjukkan layar ponselnya, seakan meminta persetujuan untuk mengangkatnya.
"Terima saja," Ardi tidak keberatan sama sekali.
"Ya, halo Ron?" Ella menerima panggilan telponnya.
"Halo El, sorry ya baru sampai ini jadi baru bisa ngabarin kamu." Roni menyapa Ella juga dengan nada merasa bersalah.
"Baru sampai? Jam segini? Kamu ke malang lewat mana? Muter ke Banyu Harum dulu?" Ella melirik jam tangannya, sudah jam delapan malam lebih. Padahal tadi Ella melihat Roni berangkat dengan Sari jam dua siangan dari RS. Hartanto Medika.
"Maaf ya El, tadi aku bohong sama kamu...Aku, aku sebenarnya gak ke Malang. Aku ke kota lain yang lebih jauh lagi." Roni meminta maaf akan kebohongannya dan mencoba menjelaskan lokasinya berada saat ini pada Ella.
"Kamu dimana sekarang? Ngapain? Sama siapa?" Ella memberondong pertanyaan. Menginginkan jawaban dan penjelasan jujur dari Roni.
"Aku ke Jogja. Aku gak pergi sendirian. Aku pergi sama Sari. Maaf sekali lagi, tadi aku gak bisa bilang sama kamu. Aku takut kamu marah dan tidak mengijinkan aku pergi kalau tahu...Aku nganterin Sari ke Jogja. Tapi untuk detail alasannya maaf aku belum bisa cerita. Bahkan aku gak berhak cerita sama kamu." Roni menjelaskan dengan jujur kali ini.
"Aku marah? Yah aku benar-benar marah dan kecewa banget sama kamu, Ron." Ella kembali mengutarakan kekecewaannya.
"Sorry...Tunggu aku pulang nanti aku akan jelasin semuanya." Roni sedikit memohon. "Kasih aku kesempatan buat jelasinnya, El."
"Iya, sepertinya kita butuh bicara serius berdua." Ella menyetujui. Mungkin benar sudah saatnya memutuskan mau dibawa kemana hubungan mereka berdua.
"Wait for me, Ok?" suara Roni terdengar memelas.
(*tungguin aku ya?)
(Kamu sebaiknya punya penjelasan yang baik)
"Ok, See you later..." Roni menutup sambungan telponnya di sisi sana.
(*Ok, sampai ketemu nanti...)
Ella meletakkan ponselnya di meja dengan perasaan kacau-balau. Bingung tak tahu harus bereaksi bagaimana. Mau marah sedih atau apa.
"Roni mengaku kalau dirinya sedang pergi bersama Sari, ke Jogja." Ella memberi tahukan pada Ardi.
"Jogja? Berarti bener mau nemuin Jun kesana. Jun kan sedang kuliah di Jogja. Mungkin Roni mau membantu menyelesaikan masalah mereka berdua disana." Ardi menebak tujuan kepergian Roni dan Sari jauh-jauh ke Jogja.
"Sepertinya begitu..." Ella menyetujui. Kemudian Ella teridiam sejenak mencoba menata hatinya.
Ardi ikutan terdiam juga memberi waktu pada Ella untuk berpikir. Yah memang dirinya juga mengakui kalau Roni termasuk pria yang baik. Bahkan Ardi juga sudah melakukan penyelidikan tentang pria itu, sama sekali tak ada catatan buruk tentangnya. Mungkin karena hal itu jugalah Ardi dulu sempat berpikir untuk menyerahkan saja Ella pada Roni. Dengan catatan Ella harus berbahagia dengannya.
Ardi juga menyadari Roni telah banyak berjasa dan membantu Ella selama tiga tahun ini. Tiga tahun saat dirinya tidak bisa menemani gadis itu. Selama itu pula Roni yang setia menemani Ella.
"El? Udahan yuk disininya." Ardi mengajak Ella pergi dari restoran ini. Beranjak dari kursinya, dan membayar tagihan mereka ke kasir. Ella menurut saja mengikuti Ardi di belakangnya, meninggalkan restoran itu. Meneruskan berjalan beriringan sepanjang koridor pertokohan mall.
"Udah deh jangan manyun mulu. Jelek banget wajahmu dilihatnya." Ardi memperotes Ella yang terlihat murung dari tadi.
Belum sempat Ella menjawab, Ardi sudah menggenggam erat lengan Ella. Ditariknya lengan Ella untuk setengah berlari menuju ke suatu tempat.
__ADS_1
"Eh? Mau kemana kita?" Ella bertanya kebingungan.
"Udah ikut aja. I have something special for you."
(*Aku punya sesuatu yang spesial buatmu).
"Apa lagi? Bukannya janjinya kita cuma mau makan malam?" Ella makin bingung saja.
"Udah ikut aja. Be a good girl!" Ardi mengedip nakal pada Ella dan terus menarik lengan gadis itu, membawanya ke bagian deretan butik-butik dan toko pakaian. Mereka memasuki sebuah butik yang terlihat mewah serta memajang pakaian-pakaian mahal di displaynya. Butik Iwan Gunadi.
(*jadilah gadis yang baik)
Ardi langsung menghampiri dan berbicara dengan seorang pelayan butik menanyakan tentang sesuatu yang tidak Ella pahami. Dan sang pelayan mengangguk tanda mengerti. Kemudian pelayan itu mempersilahkan mereka berdua masuk ke ruangan dalam yang terlihat lebih private dan VIP.
"Mas Ardi mau pesen baju lagi?" Ella bertanya sedikit kebingungan. Bukannya baru beberapa hari yang lalu pria itu membeli setelan jasnya di Any Avanie di Tunjungin Plaza? Kok mau beli lagi? Kebanyakan duit banget ya? Dasar sultan!
"Iya. Tapi bukan buat aku. Buat kamu." jawab Ardi enteng seakan tanpa beban.
"Haaah? Buat aku?" Ella semakin tak habis pikir.
"Kita cari baju buat acara penyumpahan kamu."
"Lho bukannya udah dibooking-kan dari MUA langganan Laras?"
"Aku gak mau kamu makai baju yang pernah dipakai orang lain. Bekasnya orang lain. Iya kalau orang itu gak punya penyakit. Kalau ada gimana? Kalau nanti kamu ketularan gimana?"
"Ya gak mungkin lah mas! Pastinya baju sewaan sudah bersih dan dilaundry secara khusus." Ella keheranan dengan pikiran paranoid Ardi.
"Pokoknya aku gak suka kamu pakai baju bekas orang lain. Kamu spesial, El. Kamu istimewa."
Ella sudah hendak memprotes Ardi lagi saat seorang pria berbadan tinggi besar dengan gerakan gemulai yang kemayu menghampiri mereka berdua. Sepertinya seorang desainer sekaligus owner butik ini.
"OMG tuan muda Pradana, lama tak jumpa kok makin ganteng aja." Sapa pria itu pada Ardi sambil tersenyum sumringah. Wah pelanggan VIP ini.
"Owh jadi ini calon nyonya nya?" lanjutnya mengedip nakal pada Ardi. Sambil memandang Ella dari atas ke bawah, seakan menilai penampilan gadis itu.
"Pesananku udah siap belum, Wan?" tanya Ardi tanpa basa basi. Males menanggapi tingkah keganjenan pria nyentrik dihadapannya itu.
"Awww so cool seperti biasanya. Bikin hatiku semakin terbakar cinta." si desainer semakin keasikan menggoda Ardi.
"Kalau yang mesen cowo ganteng begindang mah rela ngebut akika." Pria itu lanjut menepuk tangannya beberapa kali dan tak lama kemudian beberapa pelayannya datang membawakan beberapa kebaya dengan berbagai macam model. Kemudian berdiri berjajar di hadapan Ella, Ardi dan Iwan dengan memamerkan koleksi baju kebaya dibtangan mereka kanan dan kiri.
"El coba kamu liat dan pilih baju kebaynya, kamu suka yang mana. Atau gampangnya cobain aja semua bajunya satu-satu." Ardi memutuskan dengan entengnya. Tak mau ambil pusing untuk memilih. Pasti semua baju itu akan cocok untuk Ella.
"Whaaat? semua?"
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼
__ADS_1