Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
224. S2 - Harga Diri


__ADS_3

Ardi menyeruak diantara kerumunan orang yang berkumpul di poolside. Betapa kagetnya dia saat dapat dilihatnya sosok Ella, Kika dan dua orang pria disana. Kika sedang berdiri ketakutan dengan seorang pria yang menghadang tubuhnya, Ridley.


Sementara Ella, Ardi dapat melihat gadisnya itu berdiri dekat sekali dengan tepian kolam. Gadisnya itu seperti sedang berhadapan dengan seorang pria juga, Gengen.


Ella yang berjalan mundur dengan panik dan ketakutan. Nampak berusaha menghindar dari pria di depannya. Ella melangkah mundur tanpa melihat arah. Gengen yang terus maju ke arah gadis itu, terlihat sangat bernafsu dengan memonyongkan bibirnya seolah ingin mencium Ella. Menjijikkan.


Ardi menyerahkan kedua gelas yang dibawanya kepada seseorang pramusaji yang kebetulan lewat didekatnya. Meletakkan di atas bakinya begitu saja. Kemudian Ardi meneruskan langkahnya dengan lebih leluasa untuk berjalan semakin mendekat ke arah tempat kejadian di tepian kolam renang.


Seketika rasanya gunung Merapi yang tertidur di dalam tubuh Ardi meledak, amarah. Dengan sangat geram Ardi menggeretakkan geliginya, mengepalkan jemarinya dan menerobos barisan orang yang menghalangi jalannya. Sementara tatapan mata Ardi nyalang tak bisa lepas dari melihat keadaan Ella.


"Ella! Hati-hati!" Ardi berteriak panik saat melihat tubuh Ella sudah semakin dekat dengan bibir kolam.


Tapi sepertinya Ella tidak mendengar ucapannya. Terlambat. Seakan dalam gerakan slow motion Ardi dapat melihat tubuh Ella melayang selama sepersekian detik di atas kolam sebelum akhirnya Ella jatuh tercebur ke kolam dengan suara keras.


"BYUUUUURR!"


Segala yang ada di otak Ardi rasanya kosong, blank seketika. Tak dapat berpikir lagi karena dikuasai oleh kemarahan. Sekujur tubuhnya serasa panas terbakar oleh api amarah yang sangat panas membara. Harga diri Ardi sebagai seorang pria rasanya terinjak-injak demi melihat wanita-nya, wanita yang sangat dicintainya diperlakukan seperti itu oleh seorang pria di hadapan umum. Perlakuan biadab yang sungguh tidak manusiawi.


"DA*MN YOU GENGEN!"


Pada Akhirnya Ardi tak sadar lagi dengan apa yang dilakukannya, seakan tubuhnya bergerak sendiri. Menerjang dan mencengkeram krah kemeja Gengen dengan tangan kirinya, penuh emosi. Sementara tangan kanan Ardi yang bebas menonjok wajah Gengen dengan kepalan tinjunya keras-keras. Tepat di sebelah pipi pria itu.


Beberapa kali Ardi menonjok pipi Gengen kanan dan kiri bergantian, sebelum akhirnya melepaskan cengkeramannya. Membuat pria itu sampai terhuyung-huyung mundur beberapa langkah untuk memperbaiki posisinya.


Seakan masih belum puas, Ardi mengakhiri pukulannya dengan memberikan final blow berupa tonjokan telak di bagian perut Gengen. Sangat keras sampai tubuh pria itu terpental dan jatuh tercebur ke dalam kolam juga dengan suara lebih keras lagi.


"BYUUUUUUUUUUURR"


Ardi sudah tak perduli lagi dengan pekikan kaget, heran dan ngeri para penonton yang melihat dan menyaksikan tindakan kekerasan fisik yang telah dilakukannya. Komentar-komentar pedas, nyinyir, bahkan menyalahkan tindankannya yang sangat kasar dan brutal kepada Gengen. Ardi sudah tak perduli lagi dengan image atau kehormatan yang harus dijaganya. Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah Ella dan Ella saja.


Ardi mengedarkan pandangannya mencari-cari sosok Ella yang masih tercebur di dalam kolam. Makin panik karena gadis itu terlihat kesusahan untuk bergerak di dalam air, Ella yang tak kunjung bergerak ke tepian. Bukannya setahu Ardi, Ella itu pandai berenang?


Jangan bilang kalau gadisnya itu kenapa-napa? Apa kakinya kram karena masuk air kolam yang dingin secara mendadak begitu? Apa high heels yang dipakainya membuat Ella susah bergerak di dalam air? Kamu gak pa-pa kan, El?


Tanpa banyak berpikir lagi Ardi buru-buru meloncat juga ke dalam kolam renang. Untuk menyelamatkan Ella, calon istrinya.


Ardi mencari dan mendatangi gadis itu, menarik tubuh Ella yang sudah hampir setengah tenggelam. Membawa tubuh gadisnya itu, menggendongnya keluar kolam renang dan mendudukkannya di lantai di tepian kolam. Membiarkan gadis itu terbatuk-batuk untuk mengeluarkan sebagian air kolam yang tak sengaja tertelan olehnya.


"Uhuuuk...uhuuuk..." Ella terbatuk-batuk dan berusaha menata napasnya yang memburu.


Melihat Ella seperti itu, membuat Ardi reflek menghampiri dan mendekat kepadanya. Menepuk halus dan mengusap-usap punggung calon istrinya itu untuk membantu melegakan pernapasannya.

__ADS_1


"Ella... Ella, are you okay, honey?" Ardi bertanya saat Ella sudah sedikit tenang dan tidak terbatuk-batuk lagi. Ardi memegang kedua pipi Ella dengan kedua jemarinya. Memandangi wajah Ella yang terlihat pucat. Memastikan gadis itu baik-baik saja.


Ella hanya sanggup mengangguk lemah sebagai jawaban dari pertanyaan Ardi. Tubuh gadis itu gemetaran hebat, entah karena kedinginan, atau karena perasaan dan emosinya yang campur aduk. Hatinya terasa hancur berkeping-keping demi memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya. Malu, terhina, panik, kalut, kaget dan marah. Segala rasa tidak menyenangkan bergabung menjadi satu dan berkecamuk di dalam dadanya. Seolah harga diri-nya telah terinjak-injak begitu saja.


"Syukurlah...syukurlah kamu baik-baik saja." Ardi membuang napas lega menyadari Ella masih cukup baik keadaannya. Saking leganya Ardi memberikan pelukan ringannya untuk Ella, mengelus dan menepuk-nepuk punggung gadis itu untuk memberinya kekuatan. Sebelum akhirnya dipegang dan digenggamnya jemari tangan Ella untuk sedikit menyalurkan kehangatan dari tubuhnya sendiri.


Ridley berlari mendekat ke tepian kolam mengamati Gengen yang tercebur ke dalam kolam dengan pandangan ngeri. Sudah terlalu lama Gengen tercebur tapi kok gak naik-naik ke permukaan. Apa saking mabuknya sampai sepupunya itu gak bisa berenang? Ridley berteriak-teriak panik memanggil petugas kemanan yang berjaga di pinggiran ruangan. Meminta bantuan mereka untuk membawa keluar Gengen dari kolam.


'Gawat jadi runyam urusannya. Harusnya kuhentikan Gengen sebelum jadi kayak gini. Karena mereka semestinya menghindari masalah dengan pria seperti Ardi Pradana. Dengan grup raksasa Pradana, meskipun sektor bisnis mereka tidak saling berhubungan. Terlalu sembrono dan berbahaya!'


Betapa kagetnya Ridley saat seseorang menendang bagian belakang tubuhnya dengan sangat keras. Membuat dirinya yang memang sudah berdiri di tepian kolam untuk melihat Gengen, melayang seperkian detik di udara. Sebelum akhirnya tubuhnya ikut tercebur juga ke dalam kolam renang.


"FVCK!" Ridley mengumpat keras saat tubuhnya sudah tercebur sepenuhnya ke dalam kolam. Merasakan dinginnya air kolam di malam hari yang menyengat di kulit. Ridley mengedarkan pandangannya ke tempat tadi dirinya berdiri. Dan didapatinya Irza Wismail berdiri disana memandang sinis dengan mengacungkan jari tengahnya. Jelas sekali Irza yang menendangnya.


'Shiiit! Bisa jadi makin runyam ni kalau harus berhadapan dengan grup sekelas Pradana dan Wismail sekaligus.'


Ridley memutuskan untuk tidak memperkeruh suasana. Tak perlu menanggapi tingkah Irza yang memprovokasinya. Akhirnya pria itu mendatangi tubuh Gengen yang mengambang di permukaan air kolam dengan pandangan kosong menatap langit malam. Sepertinya sedang merenung. Ridley menyeret tubuh sepupunya itu keluar kolam.


"Brengsek lu, malah enak-enakan ngelamun setelah bikin masalah kayak gini." Ridley memaki Gengen.


Sementara itu Mahes kaget sekali saat mendengar ada keributan yang terjadi di area kolam renang. Entah mengapa rasanya tidak tenang. Cepat-cepat diajaknya Laras untuk beranjak dari posisi mereka, melihat apa yang sebenarnya telah terjadi di sana.


Pesta kalangan high society ini memang dilengkapi dengan banyak security guard yang stand by diluar dan didalam ruangan. Hanya saja untuk di dalam ruangan mereka berjaga bagaikan bayangan tak terlihat saja di pojokan yang mepet dengan tembok. Agar tidak mengganggu jalannya pesta serta privasi dari para tamu jetset yang hadir.


Yah memang tak bisa dipungkiri ada sebagian dari para sultan muda yang merupakan pembuat onar di setiap pesta. Sultan muda arogan dengan segala kekayaan melimpahnya. Menjadikan mereka suka bersikap seenaknya tanpa memperdulikan orang lain. Membuat mereka jarang diundang pesta karena tidak disukai bahkan oleh kalangan mereka sendiri.


Betapa Kagetnya Mahes saat mendapati Ardi dan Ella yang duduk dengan saling menggenggam erat tangan masing-masing. Kakak iparnya dan calon istrinya itu tampak basah kuyup dan kedinginan. Apa yang telah terjadi pada mereka? Bagaimana bisa pakaian keduanya sebasah itu? Seperti habis kecebur kolam renang.


Buru-buru Mahes melepaskan jas tuxedonya. Menyeruak di antara kerumunan, mendahului Laras untuk lebih cepat melangkah. Menghampiri kedua kerabatnya yang sedang kedinginan. Mahes menyampirkan jasnya ke tubuh Ella yang terlihat gemetaran dan menggigil.


"Apa yang terjadi?" Mahes bertanya pada Ardi.


"Ella jatuh ke kolam renang." Jawab Ardi sambil membantu memakaikan jas Mahes ke tubuh Ella.


"Bawa dia ke kamar, nanti aku panggilkan bantuan buat nyariin kalian baju ganti. Yang disini biar aku yang urus." Mahes memberikan sarannya pada Ardi.


"Ok..." Ardi menurut. Pikirannya terlalu kalut untuk dapat memutuskan sesuatu.


"Pegangan yang erat, honey." Ardi menautkan kedua lengan Ella ke lehernya. Kemudian mengangkat tubuh Ella dan menggendongnya didepan dadanya selayaknya bridal style.


Ella mengangguk lemah menjawabnya, menurut saja memegang leher Ardi erat-erat, membenamkan wajahnya di dada bidang calon suaminya. Mencari perlindungan dan kehangatan disana. Aroma greens parfum Ardi yang khas langsung menyerbu indera penciumannya, membuat dirinya terlena dan jauh lebih tenang rasanya.

__ADS_1


Ardi berjalan melewati kerumunan orang yang sejak tadi melihat dan memperhatikan mereka. Tak memperdulikan celetukan-celetukan, komentar, pujian, bahkan sindiran para penonton itu. Tak memperdulikan beberapa dari tamu yang melihatnya menyempatkan untuk memotret, mengabadikan saat-saat dirinya menggendong tubuh Ella di ponsel mereka masing-masing. Tidak penting...


Ardi berjalan cepat membawa Ella ke loby untuk memesan sebuah kamar di bagian resepsionis hotel. Sekali lagi Ardi tak memperdulikan ribuan Blitz kamera yang menyerangnya saat melangkah ke arah loby hotel. Para wartawan yang sudah stand by disana, keheranan melihatnya muncul dengan keadaan basah kuyup begitu. Apalagi sambil menggendong tubuh Ella yang sama basahnya.


Para awak media kegirangan karena sepertinya mereka akan mendapatkan berita menarik. Mereka menyerbu mendekat, tapi untung saja segera dihentikan oleh beberapa petugas security hotel. Tahu benar bahwa Ardi adalah tamu VVIP mereka. Akhirnya para wartawan itu hanya bisa memotret pewaris Pradana Group itu dari kejauhan saja.


Sang petugas resepsionis langsung memberikan sehelai kartu pada Ardi setelah dirinya menyebutkan resevasinya. Kemudian dengan segera Ardi meneruskan perjalanannya membawa Ella menaiki lift ke lantai paling atas hotel. Penthouse suite class.


Penthouse suite class yang dipesan Ardi merupakan kamar khusus sebesar satu lantai penuh di hotel ini. Kamar spesial yang cuma tersedia empat buah di Balamb Garden Hotel di setiap hotel dan cabangnya di berbagai kota lain. Berada di empat lantai teratas hotel, satu kamar khusus menempati tiap lantainya.


Meskipun disebut sebagai kamar hotel, tetapi room dengan kelas penthouse suite ini hampir mirip seperti sebuah apartemen. Dengan empat buah kamar tidur, dengan segala fasilitas furniture seperti rumah mewah. Ruang tamu, dapur, ruang makan, dan ruang tengah yang luas lengkap dengan mini bar dan segala kemewahan lainnya.


Kamar seperti ini tentu tak sembarangan yang bisa menyewanya. Biasanya kamar tipe ini hanya disewakan untuk pejabat, tamu negara atau superstar terkenal. Dan satu lagi golongan Milioner kebanyakan duit seperti Ardi tentunya.


Setelah tiba di lantai yang dituju, Ardi segera memasukkan kartu yang berperan sebagai lock key ke mesin yang ada di pintu kamar. Pintu kamar pun terbuka dan Ardi segera membawa Ella masuk. Menurunkan gadis itu dari gendongannya di salah satu sofa di ruang tamu.


Ardi berjongkok dan membantu Ella melepaskan high heels di kaki gadis itu. Tak tega rasanya melihat pergelangan kaki Ella yang memerah karena kakinya yang terkilir. Pasti sakit sekali rasanya, pantesan saja Ella tak bisa berenang tadi jadinya.


"Kamu mandi dulu ya, angetin badanmu pakai air hangat. Lalu ganti baju biar gak masuk angin." Ardi memberi saran pada Ella.


Sekali lagi Ella hanya mengangguk menjawabnya. Ardi membantu memapah Ella memasuki salah satu kamar dan terus membantunya sampai memasuki kamar mandi.


"Kamu bisa mandi sendiri?" Ardi sedikit khawatir Ella akan kenapa-napa dengan kakinya yang seperti itu.


"Bisa..." Ella menjawab dengan muka merah. Apaan coba? Masa mas Ardi mau bantu mandiin?


"Yaudah hati-hati ya, handuk dan bath robenya disini." Ardi menunjukkan pada Ella sebelum menutup pintu kamar mandi.


Karena dirinya juga merasa kedinginan, Ardi pun segera masuk ke salah satu kamar yang lain. Melepas seluruh pakaiannya yang basah kuyup. Mandi air hangat dari shower dan berganti pakaian dengan bath robe yang sudah tersedia.


Kemudian Ardi menghampiri minibar untuk membuat dua gelas minuman hangat sambil menunggu Ella menyelesaikan proses mandinya.


Cukup lama Ardi menunggu sambil menikmati secangkir kopinya, menghubungi Bambang yang ternyata sudah dihubungin Mahes terlebih dahulu. Syukurlah berarti Bambang sudah dalam perjalanan kesini sekarang. Untung saja ponsel Ardi adalah Wiphone keluaran terbaru yang tahan air sehingga tidak mati meski tercebur kolam seperti tadi.


"KYAAAAAAAAAA"


Ardi langsung terlonjak kaget begitu mendengar teriakkan Ella dari kamarnya.


"Ella? Kamu kenapa honey?" Dengan kepanikan tingkat dewa Ardi langsung berlari ke kamar Ella. Takut gadisnya itu kenapa-napa.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan KOMEN yaaaa 🌼


__ADS_2