Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
136. S2 - Batas Kesabaran


__ADS_3

Roni membawa Ella berjalan cepat-cepat meninggalkan private room di Imperial restoran itu. Mereka berjalan beriringan ke arah parkiran dengan langkah cepat. Ella sampai harus bersusah payah untuk mengimbangi langkah Roni yang lebih panjang daripada langkahnya sendiri. Untuk mengimbangi dan mensejajari langkah pria itu.


Roni mengajak Ella ke arah parkiran mobil di halaman depan restoran. Mempersilahkan gadis itu untuk memasuki mobil honda CRV-nya yang telah terparkir disana. Roni segera melajukan mobilnya itu meninggalkan parkiran restoran Imperial. Melaju membelah jalanan beraspal yang masih panas di sore hari di kota Pahlawan ini.


Roni melajukan mobilnya dalam diam di sepanjang perjalanan, melancarkan aksi diam seribu bahasa. Masih terlalu emosi untuk sekedar berkata-kata. Takut kalau dirinya nanti akan berkata kasar pada Ella karena emosinya yang masih belum reda. Takut kalau dirinya akan menyakiti gadis itu karena perbutan kasar yang mungkin saja bisa dilakukan dirinya yang dikuasi amarah.


Akhirnya Roni memutuskan untuk diam saja sambil berusaha menata hati dan perasaanya. Meredakan gemuruh amarah dan emosi membara yang masih berkecamuk di dadanya. Roni hanya dapat melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi untuk membuat dirinya sedikit melepaskan emosi, stress dan meredakan kemarahannya itu.


"Ron...maaf..." Ella mencoba untuk meminta maaf atas semua kesalahannya hari ini.


Roni tetap saja terdiam tak mau menjawab permintaan Ella. Memilih untuk tetap diam membisu sambil terus mengemudikan mobil dengan kecepatan yang semakin tinggi.


Roni memarkirkan mobilnya di sebuah taman kota yang cukup rindang, sejuk dan tertata apik di tengah teriknya sore hari kota Surabaya. Kemudian tanpa sepatah katapun Roni keluar dari mobilnya. Berjalan perlahan ke arah taman dan mengambil duduk di salah satu bangku panjang disana.


Roni duduk dan merenung disana, berusaha mendinginkan kepalanya dan menata emosinya yang masih kacau. Mengambil napas panjang beberapa kali. Mengatur napasnya untuk memasukkan oksigen banyak-banyak kedalam otaknya agar bisa berpikir sehat.


Untuk beberapa lama Ella tetap menunggu di dalam mobil sambil memperhatikan apa yang Roni lakukan dari sana. Sampai kemudian Ella juga ikut keluar dari mobil, menghampiri dan mengambil duduk di bangku panjang yang diduduki Roni, mengambil tempat tepat di sebelah Roni.


Lagi-lagi Ella hanya diam tak berani bersuara atau membuka mulutnya. Memberi waktu dan kesempatan untuk Roni sedikit mendinginkan kepalanya. Menunggu Roni untuk berbicara dan membuka percakapan duluan.


"Fvck them all!" Roni tiba-tiba mengumpat beberapa lama kemudian setelah mendengus dan membuang napas keras-keras


Ella tetap diam, tak tahu harus bereaksi bagaimana menanggapi umpatan Roni.


"Aku kesel banget, asli..."


"I know..." Ella menjawab singkat kali ini. Yah at lease ingin menunjukkan dirinya memperhatikan ucapan Roni.


"Apa karena mereka kaya jadi mereka bisa seenaknya? Apa karena mereka sultan jadi bisa mendapatkan segalanya? Sungguh arogan!" Roni memulai pembicaraannya dengan keluhan. Mengeluhkan tentang para kelakuan sultan.


"Aku muak dengan orang-orang yang cuma bisa memanfaatkan status dan jabatan mereka! Untuk pamer kekayaan, kekuasaan bahkan bertindak semau mereka sendiri."


"Ron, tidak semua sultan kayak gitu..."


"Yah memang tidak semuanya. Tapi mereka si brengsek Pradana bersaudara itu jelas terlihat seperti itu."

__ADS_1


"Bukan begitu..."


"Bukan begitu gimana? Kamu selalu saja belain mereka!" Roni langsung menyela ucapan Ella dengan nada bicara Roni kembali mengeras. Duh kayaknya sudah mulai emosi lagi ini orang.


"Jujur ya, kamu tadi itu sudah keterlaluan...Kamu gak seharusnya marah sampai sebegitu-nya juga. Omongan kamu tadi terlalu kasar dan tidak sopan sama sekali..." Ella mencoba untuk menjelaskan pada Roni. Mencoba senetral mungkin tidak memihak pada pihak manapun.


"Sopan? Kenapa kita harus bersikap sopan di hadapan mereka? Karena mereka kaya?"


"Bukan masalah kaya miskin disini. Tapi masalah tata krama dan kesopanan dalam pergaulan. Aku merasa omonganmu tidak sopan tadi."


"Hah? Omonganku gak sopan? Kamu gak denger omongan mereka? Sama saja kasarnya! Apalagi si bocah tengil Linggar, dia sama saja kasarnya denganku!" Roni tidak terima dirinya dikatai kasar, sementara Linggar nggak. Linggar yang juga sama saja kasarnya dengan dirinya dalam berkata-kata.


"Linggar itu masih muda, Ron...Jauh lebih muda daripada kita. Cukup wajar kalau dia belum terlalu pintar mengontrol emosinya." Ella mencoba menjelaskan dengan sehalus mungkin.


"Tapi si brengsek Ardi itu bahkan lebih tua dari kita!"


"Justru karena dia lebih tua dari kita, kan harusnya kamu lebih sopan saat ngomong sama dia."


"Huaaah? Sopan sama si brengsek itu? Jangan harap!" Roni langsung memprotes.


Karena Ella tahu Ardi juga tipe yang keras kepala dan tidak mau kalah. Dia pasti akan habis-habisan kalau sudah menginginkan sesuatu hal. Melihat dia seadem dan setenang tadi saja sudah membuktikan dirinya yang banyak bersabar dan mengalah.


"Linggar jadi brutal begitu juga sebagai respons dari ucapan-ucapan kasar kamu... Kurasa kamunya yang kelewatan tadi..." Ella sedikit hati-hati mengutarakan pendapatnya tentang Ardi dan Linggar, sehalus mungkin agar Roni tidak marah.


"Aku yang kelewatan?" Naik satu tingkat lagi nada bicara Roni pada Ella. Gawat pasti naik satu tingkat pula ini kadar kemarahan Roni.


"Ron kamu jangan lupa siapa mereka. Terutama mas Ardi, inget posisi dia Ron. Dia itu pimpinan tertinggi Pradana Grup yang sangat besar. Kamu bisa bayangkan kalau membuat dia marah? Dia itu seakan bisa memutar balikkan dunia dengan telapak tangannya sendiri. Ngeri Ron..." Ella kembali mengingatkan Roni akan status kesultanan Ardi.


"Halah bilang saja kamu memang belain dia! Kamu masih cinta kan sama dia?!" Mungkin karena saking marahnya pertanyaan tabu itu keluar begitu saja dari mulut Roni. Pertanyaan yang sudah tak perlu dijawab sebenarnya, dan Roni pun tahu jawabannya.


"Kamu kok ngomong kayak gitu sih?" Ella mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Yah tak bisa dipungkiri dirinya memang masih menyimpan rasa untuk Ardi. Dan pertemuannya dengan Ardi tadi, semakin memperparah gejolak di dadanya.


Segala rasa yang telah coba dikuburnya rapat-rapat seolah langsung bersemi kembali memenuhi dadanya. Rasa yang tak pernah bisa bohong, rasa yang tak bisa disembunyikan walau sudah dikubur rapat-rapat. Dan rasa itu bernama cinta.


"Aku gak buta, El! Aku bisa melihat tadi dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kamu dan dia berduaan dan bertatapan tadi." Ujar Roni mendesis dengan mata berkilat-kilat marah.

__ADS_1


Ella terdiam tak bisa menjawab perkataan Roni. Jadi beneran ketara banget tadi kalau dirinya masih menyukai mas Ardi? Apa mas Ardi juga bisa menyadarinya tadi? Menyadari perasaannya yang bertepuk sebelah tangan? Aduuuuh sungguh memalukan sekali rasanya...


Padahal Ella sudah berusaha sebisanya bersikap sewajar mungkin saat berhadapan dengan mas Ardi tadi. Berusaha tidak terlihat terlalu berharap pada Ardi. Berusaha mengubur kembali perasaanya dalam-dalam. Serta berusaha melupakan pria itu.


"Kenapa kamu masih saja mau menemuinya, El?" Roni mengalihkan pandangannya yang sebelumnya menatap keindahan taman. Berganti menghadap ke arah Ella. Menatap gadis itu dengan sangat tajam.


"Aku...aku cuma mau menemui Linggar...Aku gak ada maksud sama sekali menemui mas Ardi..." Ella kebingungan juga mencari alasan. Memang tadi niatnya hanya temu kangen dengan Linggar sebelum akhirnya terjebak tipu muslihat bocah itu.


Ella menundukkan wajahnya dalam-dalam. Tak tahan menghadapi tatapan tajam roni padanya. Tatapan yang seolah dapat langsung menembus kepalanya dan membacanya isi yang ada disana bagaikan membaca buku cerita.


"Kamu masih inget kan posisi kamu sekarang? Kamu sekarang pacarku, El! Kamu anggap apa aku ini? Kenapa kamu bisa dengan mudahnya menemui pria lain di belakangku?!" Roni menumpahkan segala keluhan, kekesalan dan kekecewaannya pada Ella.


Ella kembali terdiam. Mau jawab apa coba? Alasan apapun tak akan ada yang bisa membenarkan tindakannya kali ini. Memang murni dirinya yang bersalah kali ini. Dirinya yang telah bertemu pria lain di belakang Roni. Tindakan yang bisa dianggap sebagai perselingkuhan dan penghianatan dalam hubungan mereka yang berstatus pacar.


Roni mengulurkan telapak tangannya ke arah wajah Ella. Roni mengangkat dan mendongakkan wajah Ella yang menunduk. Dihadapkan wajah Ella ke wajahnya sendiri. Sehingga kedua mata mereka bertemu saling beradu berpandangan. Tangan Roni tetap disana memegangi waja Ella agar tidak berpindah atau berganti posisi.


"Harus bagaimana lagi aku bersikap El? Melihatmu begitu kau pikir aku gak sedih, marah dan cemburu?"


"Aku bukan malaikat El, Aku cuma manusia biasa yang punya batas kesabaran." Roni melanjutkan ucapannya dengan penuh penekanan.


Ella tak sanggup bereaksi, hanya bisa memandang wajah Roni yang kini begitu dekat dengan wajahnya. Menatap mata pria itu yang juga sedang menatap dirinya dengan sangat tajam tanpa berkedip. Ella beberapa kali menelan air ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering dan keluh. Membuatnya tak sanggup bicara.


Ella terus memandang lurus kepada kedua mata Roni. Berusaha menyelami ke dalam pikiran pria itu lewat ekspresi dan pandangan matanya. Dengan jelas Ella dapat melihat adanya kekecewaan, kemarahan, kesedihan dan kecemburuan disana. Terlihat jelas pula bahwa hati pria itu sedang terluka, mungkin jika diibaratkan seperti luka sayatan yang masih mengangah dan mengalirkan darah segar.


Cukup lama mereka berdua berpandangan satu sama lainnya. Mencoba menyelami perasaan masing-masing. Mencoba mengerti apa yang sedang dirasakan oleh satu sama lainnya.


"Kamu perlu ingat bahwa kamu masih pacarku, El! Kamu masih milikku!" Roni menekannya kalimat terakhirnya ini. Ingin mengingatkan dan menegaskan Ella tentang posisinya. Sebagai kekasihnya.


Entah karena masih marah, kecewa dan putus asa. Entah karena gairah yang timbul karena melihat wajah cantik Ella yang telalu dekat. Atau entah karena dorongan setan yang menabuh-nabuh jantungnya untuk berdetak kencang...Roni seakan tak dapat menguasai dirinya sendiri.


Dan begitu disadarinya Roni sudah mendekatkan wajahnya sendiri ke arah wajah Ella. Memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Dekat dan semakin dekat sampai akhirnya kedua wajah mereka tak berjarak. Roni akhirnya mendaratkan bibirnya tepat di bibir ranum Ella hingga kedua bibir mereka bertemu. Roni mencium gadis itu tanpa aba-aba.


~∆∆∆~


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🤭🌼

__ADS_1


__ADS_2