Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
Extra ~ The End Of Honeymoon


__ADS_3

...-\=Kamar VVIP Kandara Internasional Hospital\=-...


Hari sudah melewati senja saat keadaan Ardi akhirnya dinyatakan stabil, dapat dipindahkan ke kamar VVIP.


Ella duduk di kursi samping ranjang Ardi. Menggenggam erat sebelah jemari tangan kanan Ardi sementara tangan kirinya terbelit selang infus. Ella mengamati lekat-lekat wajah suaminya. Ardi yang masih belum sadarkan diri. Masih terlihat pucat dan lemah kondisinya.


'Untung kamu sudah gak pa-pa, mas. Aku takut banget tadi. Aku takut kehilangan kamu...'


Setelah dari hotel tadi Ardi langsung dilarikan ke UGD, menjalani observasi karena keadaan Ardi yang sempet nge-drop lagi. Tensi darah Ardi kembali turun drastis setelah efek obat mulai habis. Mungkin karena dia belum makan, habis berengang lama, eh malah langsung minum jus kelengkeng begitu.


Benar-benar membuat takut dan khawatir saja, kritis. Nyaris saja, seolah malaikat maut sudah siap mencabut nyawa Ardi tadi.


Setelah cukup lama, Ardi mulai menggerakkan jemarinya dan perlahan membuka matanya.


"Hubby? Syukurlah...akhirnya kamu sadar juga." Ella meletakkan jemari tangan Ardi di pipinya, membelainya lembut dan menangis terharu. Lega rasanya setelah melihat Ardi sadar dari pingsannya, berarti sudah stabil.


Ardi hanya tersenyum lemah menanggapi ucapan Ella. Mungkin sekujur tubuhnya masih kesakitan. Dan Ella sebagai dokter reflek meraih arteri radialis di lengan Ardi, memeriksa denyut nadi dan tensi suaminya itu. Takut kalau nge-drop lagi.


'Sudah lumayan naik dan teratur meski masih lemah.'


Ella mengusap lembut kepala Ardi dengan sebelah tangannya setelah memastikan denyut nadinya. Sementara sebelah tangan Ella yang lainnya masih setia menggenggam jemari Ardi yang masih terasa dingin. Berusaha memberikan sedikit kehangatan dari tubuhnya sendiri.


"Istirahat dulu ya mas, tiduran biar cepet sembuh." Ella memberikan kecupan ringan di kening Ardi sebagai bekal untuk menemani tidurnya. Ella melanjutkan kegiatannya membelai kepala Ardi dan menggenggam jemarinya sampai akhirnya suaminya tertidur lelap.


Ella yang sudah tegang dan panik sejak tadi siang mau tak mau juga merasa kelelahan. Mungkin karena sudah lega akan keadaan Ardi yang mulai stabil. Segala kelelahannya yang dari tadi tak dihiraukannya seakan datang tiba-tiba dan berkali-kali lipat. Akhirnya Ella juga merebahkan kepalanya ke ranjang Ardi dan ketiduran dengan posisi masih duduk di kursinya.


Sebuah tepukan halus di kepala Ella membuatnya reflek terbangun dari tidurnya. Begitu membuka matanya, Ella mendapati suasana di sekitar, sudah malam hari. Ternyata cukup lama dirinya ketiduran.


Ella mendapati wajah Ardi yang tersenyum simpul kepadanya. Sudah tak sepucat tadi meski masih terlihat lemah.


"Hubby...Gimana keadaanmu? Udah enakan?" Ella buru-buru bangkit dari tidurnya, menegakkan punggungnya. Dengan sigap dan siaga mengamati keadaan Ardi dari ujung kepala sampai kaki.


Ardi hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.


"Bodoh! Kamu kok bisa-bisanya minum jusnya sampai abis begitu? Bukannya ketahuan ada rasa kelengkengnya? Kenapa malah dihabisin? Lagian harusnya kan tanya dulu jus apa itu. Udah tahu gak bisa makan kelengkeng malah ceroboh begini." Tanpa bisa dicegah Ella malah nyerocos mengomeli Ardi saking kesal dan khawatirnya menjadi satu.


Ardi yang masih lemas hanya bisa tersenyum pasrah sebagai jawaban. Seneng juga si melihat Ella yang sepertinya sangat mengkhawatirkan dirinya.


Ardi memang tak tahu apa saja yang telah terjadi padanya tadi, yang pasti seluruh tubuhnya terasa lemah dan sakit semua saat ini. Apa mungkin alerginya terhadap kelengkeng sudah semakin parah? Beneran bisa mati hanya gara-gara buah kelengkeng?


'Cara mati yang gak keren sama sekali.'


"Aku takut banget tadi, mas. Kamu ampir saja tewas kalau telat sedikit saja pertolongan emergency. Aku takut...aku takut kamu kenapa-napa, mas. Aku takut kehilangan kamu." Ella menjelaskan ketakutan terbesar yang menghantuinya sejak tadi. Tanpa bisa dicegah, air mata Ella kembali mengalir di kedua sudut matanya.


"Sorry..." jawab Ardi pelan. Merasa menyesal juga telah membuat istrinya sekhawatir dan sesedih itu.


"Aku takut kehilangan kamu..." Ella berhenti sejenak, berusaha menyeka air matanya.


"I'm Ok..." Ardi sedikit tersenyum mencoba mencoba menenangkan Ella.


"Aku gak mau jadi janda tau. Masa belum seminggu menikah udah jadi janda. Udah gitu janda ditinggal mati, matinya karena kelengkeng lagi. Gak ada yang lebih aneh lagi apa?" Ella Kembali nyerocos panjang karena saking kesalnya.


"Hehehe." Ardi hanya bisa tertawa ringan pasrah.

__ADS_1


"Honey..."


"Apa? Kenapa mas? Ada yang sakit?"


"Sini..." Ardi menggerakkan tangannya memanggil untuk Ella mendekat padanya.


"Kenapa?" Ella nurut saja mendekatkan wajahnya ke arah Ardi mungkin suaminya itu ingin membisikinya sesuatu. Mungkin buat ngomong aja masih susah.


"I love you..." Bisik Ardi diluar dugaan Ella.


"Cuuup," Ardi menambahkan dengan kecupan ringan di sebelah pipi Ella begitu posisi wajahnya mereka sudah sangat dekat.


Untuk sesaat Ella hanya bisa tertegun tanpa bereaksi. Namun beberapa saat kemudian Ella langsung menjauhkan wajahnya dan kembali mengomeli Ardi.


"Yaampun mas Ardi, kamu masih selemes itu tapi nakal dan mesumnya gak sembuh-sembuh. Udah orang sakit tidur saja jangan kebanyakan tingkah," protes Ella bersungut-sungut.


"Balasanku?..." Ardi menagih balasan dengan tatapan memelas penuh harap.


Aduh...cute overload...like a puppy...mana tega...


"Gak ada! Udah tidur sana." Ella tetap menolak.


"Cium dulu..."


Sekali lagi Ella memandangi wajah Ardi, masih tak tega rasanya melihatnya selemah itu.


"Yaudah, tapi abis ini tidur lagi ya," Ella mendengus pasrah pada akhirnya. Menuruti saja kemauan Ardi.


Ella kembali mencondongkan wajahnya mendekati wajah Ardi. Menciumi ringan kening, pipi kanan, pipi kiri dan berakhir dengan bibir Ardi sekaligus. Biar puas dan gak minta-minta lagi maksudnya. Dan suaminya itu langsung terlihat sumringah kegirangan.


Ella dan Ardi langsung terlonjak kaget mengetahui ada orang yang masuk kamar mereka. Buru-buru Ella menjauhkan tubuhnya dari Ardi. Berusaha bersikap sewajar mungkin menyambut para tamunya. Para tamu yang tak terduga, Linggar, Mahes, Kartika dan Bambang. Kok bisa mereka ada disini?


Ella menyambut ketiga tamunya, mencium tangan Kartika sebagai sapaan dan mempersilahkan ketiga tamunya untuk masuk mendekat ke ranjang Ardi.


"Percuma deh kita buru-buru kesini sampai naik jet pribadi. Ternyata masih sehat orangnya." Linggar menambahkan sedikit usil menggoda keduanya.


"Gimana keadaan mas Ardi, mbak?" Mahes menanyai Ella sebagai sapaan. Sebagai dokter pribadinya Ardi, merasa perlu mananyakan keadaan pasiennya secara medis. "Anakfilaktik syok?"


"Iya, tapi udah stabil sekarang," Ella menjawab. "Makasih ya kamu udah ngengetin aku sebelumnya."


"Hasil tes alerginya waktu general check up agak mengkhawatirkan soalnya. Aku ngingetin buat jaga-jaga aja eh gak tahunya kejadian beneran." Mahes sedikit menjelaskan pada Ella. "Aku juga gak ngira separah ini."


Kartika tidak berbicara atau berkomentar tapi langsung menghambur mendekat ke arah Ardi. Memeriksa keadaan putranya itu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Sangat khawatir.


"Anak nakal, mama nyaris jantungan waktu dikabari kamu syok karena alergi." Ujar Kartika sambil membelai lembut wajah Ardi.


Wanita paruh baya itu menitikkan air mata di kedua sudut matanya. Tak tega melihat keadaan putranya selemah ini. Padahal baru beberapa hari lalu putranya ini menikah dan berbahagia, eh sekarang malah nyaris meregang nyawa begini.


"Aku gak pa-pa, ma." Jawab Ardi berusaha tersenyum menenangkan mamanya itu.


Merasa bersalah karena membuat semua keluarganya terutama mamanya sangat khawatir akan keadaannya. Bahkan sampai jauh-jauh menyusul kesini untuk menjenguknya.


"Kamu gak pa-pa dari mananya? Liat tampangmu itu lemes dan pucet banget kayak mayat." Kartika gak mau kalah. Dan Ardi tak sanggup membantah.

__ADS_1


"Mahes kamu hubungin pihak Rumah Sakit pastikan Ardi dapat perawatan yang terbaik disini. Linggar sama Bambang kalian ke hotel, minta kompensasi sama mereka. Bisa-bisanya mereka bikin putraku sampai menderita kayak gini." Kartika memberikan perintah saking geramnya, dan ketiga orang yang diperintah langsung menyanggupi saja.


"Ella, kenapa bisa begini? Mama kan sudah bilang Ardi gak bisa makan kelengkeng?" Ella juga tak ketinggalan kena omelan Kartika.


"Maaf, ma..." jawab Ella penuh penyesalan.


"Ella gak salah...aku yang salah, ma." Ardi membela Ella. Karena memang dirinya yang asal minum jusnya.


"Saya yang salah...Saya yang lupa memberitahukan pihak hotel tentang kelengkeng." Bambang mengakui kesalahannya, tak tega juga melihat keadaan si bos.


Fix salah Bambang!


Semua mata langsung tertuju pada pria itu. Pandangan menusuk setajam belati yang membuat nyalinya mengkerut. Tapi tidak ada yang menyalahkan Bambang lebih jauh, anggap saja lagi apes.


"Gimana ceritanya?" Kartika meminta penjelasan.


Ella menceritakan segalanya yang terjadi. Mulai dari kejadian di hotel, sampai proses evakuasi bahkan observasi di di UGD sampai Ardi dinyatakan stabil dan dipindahkan ke ruangan.


Kartika, Linggar dan Mahes kompak tertegun mendengar cerita Ella yang terdengar mengerikan. Bersyukur ada Ella di dekat Ardi yang sigap memberikan pertolongan emergency padanya. Kalau gak ada Ella sudah melayang kayaknya nyawa Ardi.


"Makasih ya, sayang. Kamu telah menyelamatkan Ardi." Kartika memeluk erat tubuh Ella. Semakin menyayangi menantunya itu,


"Sama-sama, ma. Sudah tugas Ella untuk menjaga mas Ardi." Ella membalas pelukan mama mertuanya dan mengarahkannya ke sofa untuk duduk disana berdampingan dengannya biar lebih tenang.


"Mama gak bisa bayangin kalau gak ada kamu, Ella."


"Mama gak bisa bayangin juga kalau Ardi sampai kenapa-napa." Kartika menggenggam jemari Ella.


"Mas Ardi udah stabil kok ma, dia pasti sembuh." Ella berusaha menenangkan Kartika.


"Mama bener-bener terimakasih, kamu ada untuk Ardi. Ga salah Ardi dapetin kamu. Coba dapetin Laila pasti udah lewat dia." Kartika percaya bahwa dirinya dapat menitipkan dan mempercayakan Ardi pada Ella.


"Terima kasih juga atas kepercayaan mama padaku. Aku dan mas Ardi pasti akan saling menjaga satu sama lainnya." Ella membalas ucapan Kartika dengan sangat terharu dan bahagia. Bahagia karena Kartika menyatakan penerimaan atas dirinya sebagai istri Ardi sekaligus menantu Pradana.


"Tapi Laila siapa lagi ini?" Ella bertanya penasaran.


"Hayo lhooo..." Linggar mengompori jahil.


"Wah aku juga jadi kepo." Mahes ikut-ikutan.


"Mantannya pak Ardi ya?" Bambang ikut bertanya.


"Siapa mas?" Tanya Ella semakin mendesak.


"Gak kenal," Ardi menjawab pasrah.


"Ya emang gak kenal. Lhawongan mama asal sebut nama." Jawab Kartika gak punya dosa.


"Yaelah mamaaaa..." Linggar tertawa ngakak, gak ngira mamanya bisa melawak di suasana seperti ini. Dan semua yang hadir juga ikut tertawa riang bersama.


~∆∆∆~


Gimana udah puas kan dengan extra part honeymoonnya?

__ADS_1


Begitu sembuh Babang Sultan langsung dipaksa pulang sama mama Kartika. Disuruh total bed rest di Pradana Mansion. Bubar deh acara bulan madu yang terkonsep indah. Yang sabar ya babang🤭


🌹LIKE, KOMEN , VOTE, GIFTS...seikhlasnya aja deh (udah pasrah, tau banget readernya pelit)😭🌹


__ADS_2