
Ella beranjak perlahan dari posisinya berdiri, mendekat ke arah Roni dengan sedikit ragu-ragu. Bingung juga harus bagaimana untuk bertindak. Haruskah dirinya mengikuti Roni untuk pergi dari tempat ini? Ataukah tetap disini bersama Ardi dan Linggar untuk melanjutkan pembicaraan mereka yang belum selesai?
"Tapi urusan kita belum selesai, mbak," Linggar mengingatkan Ella bahwa masih ada yang belum terselesaikan antara Ella dan Ardi. Linggar sama sekali tidak perduli dengan Roni.
"Ehm Iya...Kamu benar..." Ella menjawab ragu-ragu.
"Sebaiknya selesaikan dulu semuanya baik-baik," Linggar memberikan sarannya pada Ella. Gak rela juga rencananya untuk mempertemukan Ardi dan Ella berakhir begitu saja tanpa hasil yang nyata.
Linggar merasa masih banyak yang harus Ella dan Ardi bahas serta bicarakan berdua. Masih ada debaran asmara yang bisa menyatukan perasaan mereka kembali untuk bersama. Dan Linggar percaya mereka berdua hanya perlu sedikit waktu kebersamaan. Untuk dapat kembali saling jatuh cinta satu sama lainnya. Mengulang kisah cinta mereka seperti dulu lagi.
Bodoh amat deh sama si Roni, pacarnya mbak Ella. Linggar sama sekai tak perduli. Satu-satunya yang dia pedulikan adalah bagaimana mempersatukan Ardi dan Ella. Everything is fair for love and war, right?
(*Semua hal sah saja dilakukan dalam urusan cinta dan peperangan).
'Ayo aja kalau mau saingan atau rebutan aku bakal ladenin. Ayo aja kalau mau konfrontasi terbuka, siapa takut?!' Linggar memasang devil mode on. Hahaha seolah-olah dirinya sendiri yang mau merebut Ella saja, bukan mas Ardi-nya.
"Urusan apa lagi? Kalian gak malu sudah menjebak seorang gadis di ruang tertutup begini bersama dua orang pria?" Kali ini Roni yang kembali menjawab.
"Kalian gak mikir apa betapa mengerikannya itu bagi Ella? Dasar kalian para Sultan brengsek yang egois."
"Mengerikan apanya? Kami hanya ingin bicara dengannya. Gak ada maksud lainnya sama sekali." Linggar makin bersungut-sungut menghadapi Roni.
"Ngapain kalau cuma ngomong harus di ruangan tertutup seperti ini hah? Kalian gak punya otak apa? Dasar kalian para sultan cabul!" Roni menanyakan keheranannya soal pemilihan tempat pertemuan ini.
Mikir apa si para sultan ini? Apa gara-gara mereka kebanyakan duit? Sampai untuk ketemuan saja memakai private room? Bukannya sangat berbahaya untuk seorang wanita terkurung di ruangan privat bersama dua orang pria dewasa?
"Hah? Justru otakmu itu yang bermasalah! Kamu yang pikirannya kotor!" Linggar tidak terima dikatai cabul oleh Roni. "Bahkan sampai kiamat pun kami berdua tak akan pernah berbuat hal mengerikan yang ada di otakmu pada Mbak Ella."
"Ron, udah jangan keterlaluan lagi. Mereka beneran gak ngapa-ngapain kok. Malah mereka baik dan sopan banget sama aku tadi." Ella ikut memberikan suaranya, tak ingin pertengkaran ini berlanjut kembali.
Ella juga dapat merasakan bahwa Roni sedikit kelewatan hari ini. Memang si benar si dirinya lagi emosi, tapi seharusnya gak usah meledak-ledak begitu juga. Apalagi yang jadi lawannya adalah para sultan yang seolah bisa melakukan segalanya. Bisa gawat kan kalau membuat mereka marah, gak bisa dibayangkan apa yang bisa mereka lakukan sebagai bentuk pembalasannya. Ngeri.
Untung saja Ardi sepertinya masih cukup adem dan bisa berpikiran logis mengimbangi Roni dan Linggar yang mudah emosi. Ella jadi sedikit kagum dengan kedewasaan dan kemampuan kontrol emosi Ardi. Yah walau kadang kebablasan sampai terlihat datar tanpa ekspresi gitu dia saking dinginnya.
"Bukannya tidak melakukan, tapi belum melakukan apa-apa..." Roni mengoreksi ucapan Ella. "Kita tak akan tahu kemungkinan apa yang akan terjadi..."
"Udah cukup. Gak usah diterusin lagi, kamu bisa bawa Ella pergi dari sini." Diluar dugaan malah Ardi yang memberi ijin pada Roni untuk membawa Ella pergi dari tempat ini. Tak ingin memperpanjang keributan lagi.
"Tapi mas..." Linggar memprotes, masih tidak rela pertemuan ini berakhir begitu saja.
__ADS_1
Sementara entah mengapa Ella juga merasa kecewa dengan ucapan Ardi. Kenapa mudah sekali kamu merelakakanku dibawa pergi oleh pria lainnya? Apa kamu tidak cemburu? Apa benar sudah tidak ada lagi cinta untukku di hatimu?
'Kenapa kamu begitu dingin dan tak berperasaan begini? Kenapa kamu begitu tega, mas Ardi?'
"Ayo kita pergi dari sini," Roni menarik tubuh Ella untuk mendekat ke arahnya dengan sedikit kasar. Roni tak ingin Ella berada terlalu lama di dekat kedua tuan muda Pradana itu. Terlalu berbahaya...
"Kami duluan ya, terima kasih atas jamuannya." Ella akhirnya memutuskan undur diri dan pamit.
Paling tidak dia ingin pamit kepada Linggar yang telah berbaik hati menemaninya dan menjamunya makan siang. Walaupun berakhir dengan menjebak Ella untuk bisa bertemu dengan Ardi, kakaknya. Membuat dirinya, membuat mereka berempat terlibat drama konfrontasi yang pelik ini.
Roni selanjutnya menarik lengan Ella untuk keluar ruangan mengikuti langkahnya. Meninggalkan Ardi dan Linggar yang hanya bisa terdiam membisu memandangi kepergian mereka.
Kali ini Ella memilih untuk menurut saja menerima perlakuan Roni padanya. Ella dapat merasakan Roni sedang dalam mood yang sangat buruk dan emosi yang sedang meledak-ledak. Membuat Ella tak ingin menolak atau melakukan perlawanan padanya.
Di lain pihak, Ella juga sudah merasa sesak untuk tinggal berduaan bersama Ardi lebih lama lagi disini. Ardi yang telah berubah menjadi seperti orang lain, bukan lagi Ardi yang dulu dikenalnya tiga tahun yang lalu, bukan Ardi yang mencintai dirinya. Membuat Ella ingin cepat-cepat kabur meninggalkan tempat ini. Menjauh sejauh mungkin dari pria itu.
Ella ingin segera melupakan apa saja yang telah dilaluinya hari ini. Pertemuannya dengan Ardi, wajah dan ekspresi Ardi yang terlihat dingin, kaku, sinis dan tak perduli padanya. Ella bertekad untuk segera melupakannya, menghapus semua kenangan buruk tentang Ardi Pradana yang ditemuinya hari ini.
Ella juga merasa sangat bersalah pada Roni, bagaimana pun saat ini mereka berdua dalam status berpacaran. Dan apa yang telah dilakukannya hari ini sama saja dengan penghianatan. Ella pergi dengan pria lain dan berakhir di sebuah ruangan private dengan seorang pria lain juga. Pria yang notabene sangat dibenci oleh Roni. Pria yang pernah memiliki hubungan asmara dengannya.
Roni menghentikan langkahnya tepat sebelum mereka keluar ruangan. Menghadapkan tubuhnya ke arah Ardi dan memberinya peringatan sekali lagi dengan pandangan penuh ancaman.
"Fvck Off! Beneran menyebalkan! Dasar bed*bah sialan dia! Pengen aku hajar saja rasanya" Linggar mengumpat dan mengutarakan kekesalannya mendengar ancaman Roni pada kakaknya.
Lebih kesal lagi saat melihat Ardi, kakaknya itu malah diam saja tanpa membalas atau bereaksi. Hanya menatap kedua sosok itu pergi meninggalkan mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aduh mas Ardi, lawan balik donk! Jangan diam saja kayak gitu!" Linggar memprotes kakaknya yang terlihat terlalu pasif, semakin geregetan.
"Buat apa? Kamu lihat sendiri kan? Ella sudah memilih dia. Ella sudah mau jadi pacarnya. Menyerahkan hatinya untuk Roni. Ella sudah bahagia bersamanya. Kita tidak usah mengusik Ella lagi." Ardi menjawab dengan pasrah. Walau sebenarnya dalam hatinya dia tidak rela Ella bersama Roni.
"Hah? Bahagia? Dari mananya?" Linggar tidak percaya pada apa yang didengarnya dari mulut Ardi. Memang dia tahu kalau kakaknya ini tidak peka, tapi masa sih separah ini?
"Ya itu tadi dia mau aja ikut digandeng tangannya sama si Roni, kayak gak keberatan sama sekali"
"Mbak Ella memang ngikutin aja tadi. Tapi apa mas Ardi gak liat ekspresinya? Dia itu jelas masih gak rela untuk pergi. Dia sebenarnya masih ingin disini lebih lama bersama kita."
"Itukan cuma perasaanmu aja..." Ardi kembali ke tempat duduknya. Mengambil makanan yang tersedia di meja ke piringnya.
"Mas, aku tadi melihat dengan mata kepalaku sendiri waktu kalian berdua bertemu. Aku lihat reaksi mbak Ella. Jelas sekali dia masih sangat mencintai kamu!" Linggar menjelaskan dengan gemasnya ikut mengambil duduk di hadapan kakaknya itu. Eit dah, bisa-bisanya malah makan si mas Ardi. Nyebelin.
__ADS_1
"Ngaco kamu, ah!" Ardi memprotes ucapan Linggar.
"Mas Ardi itu yang ngaco! Kamu nggak peka itu boleh. Tapi jangan kebangetan kayak gini! Parah kamu mas!" Linggar semakin geram. Tapi ikutan mengambil makanan juga ke piringnya, menemani Ardi makan. Kebanyakan emosi bikin laper lagi.
"Nggak peka gimana? Aku cuma mau realistik aja. Apa yang kupercayai adalah yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri." Ardi beralibi tak mau kalah.
"Kalau mas Ardi gak percaya buktikan sendiri sana. Datangin mbak Ella, tanyakan bagaimana perasaannya yang sebenarnya padamu!" Linggar benar-benar kehabisan kata-kata untuk menjelaskan dengan gamblang pada kakaknya itu.
Ucapan Linggar mau tak mau membuat Ardi menjadi berpikir juga. Apa benar Ella juga masi mencintai dirinya? Apa masih ada namanya di hati gadis itu? Apakah Ella masih mau menerima dirinya?
"Hmmm bisa begitu ya?" Entah mengapa pertanyaan bodoh itu yang keluar dari mulut Ardi.
"Lagian kamu itu ngapain pasang poker face segala di depan mbak Ella? Harusnya kalian berdua itu sama-sama jujur ngomongin apa yang kalian rasakan. Gak usah pura-pura dan malah bikin salah paham kayak gini. Kalau cinta bilang aja cinta..."
"Gampang bener emang kalo cuma ngomong," Ardi mendengus, enak aja tinggal bilang cinta. Dasar si Linggar ini play boy kelas kakap.
"Aduuuuh parah!! Masalahnya ya... Kalian berdua itu sama-sama gak pekanya! Gemes aku ngeliatnya!" Linggar gregetan juga menjelaskan duduk perkara dari sudut pandangnya. Ini mas Ardi beneran bodoh atau cuma pura-pura bodoh si kalau soal percintaan begini? Padahal biasanya kakaknya ini cerdas banget kok bisa-bisanya jadi sebodoh begini.
"Haaaah?..." Ardi semakin bingung.
"Mas Ardi itu gak bisa baca reaksi mbak Ella. Padahal udah jelas banget tadi kelihatan kalau dia itu masih ada rasa sama kamu."
"Di sisi lain, sebenarnya mbak Ella itu cukup peka. Tapi lagi-lagi karena mas Ardi masang poker face yang sok ganteng itu jadi gak keliatan kan gimana ekspresi dan emosi mas aslinya..."
"Sok ganteng gundulmu!" Ardi memprotes ucapan Linggar yang mengatakan dirinya sok ganteng. Sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging bagi Ardi untuk mengaktifkan poker face nya dalam urusan bisnis dan kesehariannya. Jadi mungkin tadi secara tidak sadar keluar juga mode itu untuk menyembunyikan perasaan dan emosinya.
"Intinya ya, kalian cuma perlu bicara lagi. Jujur omongin semua perasaan kalian. Gak usah ada pura-pura lagi...Wong jelas-jelas masih saling suka kok susah amat." Linggar mengakhiri wejangannya sambil menyantap udang crispi.
Ardi terdiam, berpikir. Jika memang seperti itu kenapa Ella malah jadian sama Roni? Kenapa gadis itu mau saja bersanding dengan Roni? Kenapa Ella tak memperdulikan dirinya yang cemburu dan tak tahan melihatnya bersama dengan pria lain? Bisa gila rasanya Ardi setiap melihat Ella berduaan dengan Roni.
Linggar memang benar, semua pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh Ella sendiri. Hanya Tuhan dan Ella sendiri yang tahu jawaban pertanyaan ini. Dan Ardi tentu harus menanyakan secara langsung pada gadis itu secara langsung.
Baiklah aku akan bertanya langsung pada Ella di lain kesempatan. Dan jika memang benar gadis itu masih mencintainya walaupun sedikit saja, Ardi bertekad akan mengejar gadis itu. Mendapatkan hatinya serta menjadikan Ella sebagai miliknya kembali. Walau harus ke ujung dunia akan kukejar. Lihat saja nanti...
"Tunggu saja, Ella. Kamu tak akan bisa kabur lagi dariku." Tekad Ardi semakin bulat untuk mencoba berjuang mendapatkan Ella kembali ke sisinya.
~∆∆∆~
Jeng jeng jeng Akhirnya Ardi sadar juga akan perasaan mereka berdua yang masih saling mencintai. Akhirnya Ardi mau beraksi juga untuk mengejar Ella dan tidak bersikap pasif lagi...
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. ðŸ¤ðŸŒ¼