
Roni menyampirkan jas putihnya di hanger dan meletakkannya di almari kaca di belakang meja kerjanya. Menandai berakhir-nya jam prakteknya malam ini. Sudah beberapa hari ini Roni memulai pekerjaannya untuk praktek malam di RS. Medika Hartanto.
Ternyata kerja dua sift kalau dijalani juga tidak terlalu melelahkan, karena memang RS. Hartanto Medika ini masih baru berdiri dan beroperasi, sehingga jumlah pasien setiap sesi jaganya belum banyak. Capek sih enggak, bosen yang ada malah.
Roni pamit pada perawat yang mengasisteni dirinya untuk pulang. Setelah selesai praktek ini Roni berniat untuk mampir ke rumah Ella. Masih merasa sangat bersalah dengan gadis itu karena kejadian tadi siang. Semua pesan singkat yang dikirimnya pada Ella tak ada yang dibalas atau dibaca. Mungkin Ella masih sangat marah padanya.
Wajar si sebenarnya kalau Ella semarah dan sekecewa itu padanya. Mungkin memang tingkahnya hari ini sedikit keterlaluan dan melewati batasan. Yah paling tidak Roni ingin minta maaf sekali lagi dengan membawakan kue kesukaan Ella. Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada hubungan mereka. Tak ingin perjuangannya bertahun-tahun hancur karena kejadian hari ini.
Tapi Roni percaya Ella adalah gadis yang baik, bahkan terlalu baik. Tidak mungkin Ella akan memutuskan hubungan mereka hanya karena masalah ini kan? Mungkin dia cuma butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Menata hatinya kembali yang kecewa dan terluka.
Langkah Roni terhenti beberapa meter setelah membuka pintu ruang prakteknya. Tepat saat keluar dari ruangannya, Roni mendapati seorang wanita berdiri di depan ruangannya dengan gestur sedikit gelisah. Wanita cantik dengan pakaian formalnya, sosok yang tidak asing.
"Sari?" Roni menyapa wanita itu. Sedikit heran juga ngapain Sari berdiri di depan ruangannya? Kok gak langsung masuk aja kalau mau ngomong? Bukannya dirinya adalah direktur di rumah sakit ini?
"Eh, Ron. Kamu sibuk gak? Aku bisa minta waktunya?" Sari bertanya dengan sedikit ragu-ragu.
"Hmmm gimana ya," Roni sedikit berpikir, mau ke rumah Ella atau menemui Sari malam ini? Tapi kayaknya Ella juga masih marah padanya dan kemungkinan besar Ella tak akan mau menemui dirinya. Jadi ya biarkan dia tenang dulu saja hari ini, besok baru didatanginya gadis itu lagi.
"Boleh deh. Aku free kok abis ini." Roni akhirnya tidak keberatan. Entah mengapa dia merasa ada yang sedikit aneh dengan Sari hari ini. Sari yang biasanya selalu terlihat anggun, cerdas dan berwibawa sebagai seorang direktur rumah sakit. Kenapa malam ini bisa segelisah ini?
"Kita cari tempat aja yuk, gak enak ngomong disini." Sari mengajak Roni keluar. Roni tidak menolak, menurut saja mengambil mobilnya di parkiran dan mengantarkan Sari ke ke sebuah cafe yang terlihat sepi dan nyaman beberapa kilo meter dari rumah sakit Hartanto Medika.
"Maaf ya Ron jadi ngerepotin kamu kayak gini. Ella gak bakal marah ni kalau tahu kita keluar berduaan?" Sari memulai pembicaraan dengan sedikit canggung. Setelah mereka berdua mengambil duduk berhadapan di pojokan cafe dan memesan dua gelas minuman beserta cemilan untuk menemani obrolan mereka.
"It's Ok. kamu kayak gak tahu Ella aja? Dia gak bakal perduli apalagi cemburu aku mau jalan sama siapa juga hehe," Roni menjawab mencoba mencairkan suasana canggung mereka. Lagian Ella juga sudah marah besar hari ini, ditambahin kejadian kecil begini juga pasti gak masalah kan? Roni tertawa miris di dalam hatinya.
"Kamu hebat, Ron. Kamu kuat banget ngadepin Ella yang kayak gitu..." Sari tiba-tiba menyeletuk.
"Hahaha kamu sudah tahu ya?" Roni sebenarnya tidak kaget juga kalau Sari mengetahui status hubungannya dengan Ella yang sedikit rumit. Bagaimana pun Sari adalah sepupu si brengsek itu. Dan juga Sari merupakan teman lama mereka sejak di jaman iship tiga tahun yang lalu. Pastinya Sari juga tahu betul apa yang telah terjadi tiga tahun yang lalu bahkan mungkin sampai sekarang.
"Pasti berat banget ya rasanya mencintai seseorang dengan sepihak. Cinta bertepuk sebelah tangan... Kita sebenarnya tahu hati mereka bukan untuk kita, tapi entah kenapa kita juga tak bisa melepaskan mereka. Karena kita terlalu mencintai mereka..." Sari mengutarakan kalimat yang sangat mengena di hati Roni. Keadaan yang benar-benar dia rasakan saat ini tentang hubungannya dengan Ella.
__ADS_1
"Kamu sebenarnya kenapa, Sar?" Roni bertanya to the point. Penasaran juga kenapa Sari bisa ngomong kayak gitu.
"Ron...gimana ya? Aku bingung gimana mau ceritanya, tapi aku gak tahu harus ngomong sama siapa lagi..." Sari terlihat sangat gelisah dengan meremas-remas jemarinya yang diletakkan di atas meja.
"Soal Jun?..." Roni menebak-nebak. Masalah apa lagi coba yang ingin dibicarakan Sari padanya secara private seperti ini? Pasti masalah yang tak ingin didengar dan diketahui orang lain. Kalau masalah kerjaan kan bisa langsung di rumah sakit saja.
"Iya...Jun itu pendiam dan tertutup banget orangnya. Temennya cuma dikit. Di kampus dulu juga cuma sedikit yang kenal deket sama dia." Sari mencoba menjelaskan. Roni diam saja mendengarkan baik-baik cerita Sari.
"Aku ceritain dulu ya tentang hubungan kami sebelumnya...Yah sebenarnya gak jauh beda sama hubungan Ella dan mas Ardi. Hubungan berbeda kasta. Hubungan kami juga awalnya ditentang habis-habisan oleh keluargaku. Kamu tahu kan keluargaku kayak apa? Dan Jun bukan berasal dari golongan yang sederajat dengan kami. Bisa dibilang Jun berasal dari keluarga biasa saja. Rakyat jelata."
Roni sedikit kaget juga mendengar pembicaraan ini. Jadi benar hubungan Ella dan Ardi tidak direstui oleh pihak keluarga Ardi? Jadi karena itulah hubungan mereka berdua harus berakhir? Dan keadaan yang sama juga terjadi pada Sari dan Jun? Apa-apaan coba para keluarga sultan itu? Apa mereka lebih mementingkan harta dan kedudukan daripada kebahagiaan putra putri mereka?
"Tapi karena aku wanita dan aku bukan pewaris utama Grup Hartanto, keadaan percintaan kami tidak sesulit keadaan Ella dan mas Ardi." Sari melanjutkan ceritanya.
"Beban berat sebagai pewaris utama Hartanto Grup ada di pundak Mas Mahes. Tapi syukurlah kakakku itu tak harus menghadapi drama percintaan yang pelik. Dan pada akhirnya mas Mahes, kakakku menikah dengan Larasati Pradana. Pernikahan paling fenomenal yang diidamkan setiap orang. Bagaikan cerita fairy tale dimana seorang putri cantik dapat menikahi seorang pangeran tampan. Pernikahan dua kerajaan, kerajaan bisnis Pradana dan Hartanto."
"Pernikahan mereka benar-benar memberikan dampak positif bagi kedua keluarga kami, Hartanto dan Pradana. Keadaan keuangan, kekuasaan, dan segala aspek bisnis kedua belah pihak menjadi stabil. Apalagi dengan Mas Mahes dan Mas Ardi yang kemudian menjadi pimpinan tertinggi masing-masing grup. Keadaan finansial kedua keluarga menjadi tak tergoyahkan."
"Tapi selain dampak dalam aspek material seperti itu. Dampak sosial lainnya juga sangat terasa. Keluarga Pradana tidak memaksa lagi mas Ardi untuk cepat-cepat menikah dengan wanita sederajat. Keluargaku juga tidak lagi terlalu memaksaku untuk menikah dengan para pewaris tahta lainnya."
Roni seakan diingatkan pada acara pernikahan Mahes yang memang terkesan buru-buru dan serba mendadak. Jadi itu alasannya mas Mahes ingin cepat-cepat mengakhiri masa lajangnya? Ternyata bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang-orang terdekat mereka, keluarga dan juga segala jajaran kesultanan mereka yang rumit.
"Kamu tahu kan cerita selanjutnya kalau akhirnya kami berdua, aku dan Jun bertunangan? Tepatnya hampir setahun yang lalu..." Sari menghentikan ceritanya sejenak, menyesap kopi dari cangkir di hadapannya.
"Setelah semua yang kami lalui bersama lebih dari tiga tahun ini, kukira hubungan kami akan berakhir dengan bahagia sampai ke jenjang pernikahan..." Sari kembali berhenti, terlihat sangat sedih.
"Hemmm memangnya apa yang terjadi?" Roni bertanya dengan hati-hati.
Roni tak menyangka bahwa hubungan kedua teman lamanya itu juga mendapat banyak rintangan. Ternyata tidak hanya dirinya saja yang terombang-ambing nasibnya hanya karena cinta selama tiga tahun ini. Hidup memang keras, butuh banyak semangat dan perjuangan agar tidak mudah menyerah.
Tidak ada yang instan di dunia ini, Everythings happen for a reason. Jadi kalau ingin hidup enak dan bahagia juga harus ada usahanya. Gak bisa simsalabim dan jadilah bahagia sesuai dengan impian yang dicita-citakan.
__ADS_1
"Jun berubah akhir-akhir ini...Dia seolah menghindar dan semakin menjauh saja...Apa dia sudah ada yang lain disana? Apa dia sudah lupa perjuangan kami berdua sampai akhirnya mendapatkan restu?" Sari akhirnya menumpahkan segala emosinya. Mengutarakan alasan kegelisahannya dari tadi sampai ingin curhat pada Roni.
"Menghindar dan menjauh bagaimana?"
"Dia jadi jarang pulang kampung, aku mau ke Jogja untuk datengin dia juga selalu dilarang. Vidio call juga susah banget akhir-akhir ini. Bahkan panggilan telpon dan pesan singkat juga susah dan jarang dibalas sama dia. Seakan dia ingin aku menyerah dan memutuskan hubungan kami saja..."
Waduh gimana ini? Roni jadi ikut bingung juga kan bagaimana harus menanggapinya. Dirinya sendiri saja belum pernah berhubungan seserius itu dengan wanita manapun. Belum pernah sampai tahap pertunangan tepatnya. Kalau hubungannya sama Ella, tak pernah ada masalah hanya karena komunikasi. Bahkan misalnya mereka saling tidak menghubungi juga gak bakal ada masalah.
Mungkin masalah komunikasi ini terjadi karena mereka berjauhan. Karena mereka berdua terpisah ribuan kilometer jauhnya. Memang kadang sesuatu tidak bisa dijelaskan hanya dengan media komunikasi. Tetap harus bertemu agar bisa saling menjelaskan maksud dan tujuan masing-masing dengan lebih tepat sasaran.
Lebih lagi Roni tahu benar Jun bukan tipe pria yang tidak bertanggung jawab. Jun apalagi bukan tipe yang suka godain cewek lain. Jadi gak mungkin lah kalau dia selingkuh. Kalau sampai Jun bertingkah aneh bahkan sampai seolah ingin menjauh dari tunangannya pasti ada sesuatu hal. Tapi apa? Apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka?
"Terus kamu pengen aku ngapain?" Roni mengakui kebingungannya pada Sari.
"Aku cuma pingin tahu dia kenapa...Tolong kamu hubungin dia, tanyain padanya apa maunya. Itu saja, kalau memang dia mau kami berpisah paling tidak harus dengan cara baik-baik. Dia harus mendatangi aku dan membatalkan pertunangan kami dulu..." Sari akhirnya mengatakan permintaan pada Roni.
Roni membuang napas perlahan, tak menyangka akan terjebak dalam hubungan pelik kedua teman lamanya. Seolah dirinya gak punya masalah aja, masalah hubungannya dengan Ella tadi aja belum beres. Ini malah mau ditambahin masalah orang lain? Tapi melihat keadaan Sari yang menyedihkan di hadapannya entah mengapa Roni menjadi tidak tega untuk menolak.
Sari yang dikenalnya dulu, selalu ceria dalam setiap kesehariannya. Sari yang sering bertengkar dan berdebat dengan dirinya hanya karena hal-hal remeh. Sari yang cantik, modis, cerdas, tapi sangat humbel dengan status sultanwati-nya.
'Brengsek kamu jun!' Roni mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya kamu bikin gadis sebaik itu, gadis yang merupakan tunangannya menjadi sosok menyedihkan di hadapan Roni ini.
Sari yang terlihat sedih rapuh dan gelisah dengan mata berkaca-kaca menahan tangisnya. Dengan bibir bawah yang berkali-kali digigitnya. Dengan kedua jemari tangan yang terus saja dimainkannya untuk menutupi kegelisahan.
"Aku usahain ya..." Roni akhirnya menjawab. Tak berani terlalu berjanji dan memberikan harapan palsu kepada Sari.
~∆∆∆~
So sorry ya gaes masih belum nyeritain babang Ardi. santuy donk. Selow but sure ðŸ¤
Novel ini memang alurnya gak bisa dicepet-cepetin karena author sukanya yang detail. Dan pengen menceritakan sejelas mungkin. Tentunya yang realistik dan masuk akal ya, bukan yang simsalabim abra kadabra...
__ADS_1
Next ep giliran babang Ardi kok 🤣
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. ðŸ¤ðŸŒ¼