
Sudah lebih dari satu minggu berlalu sejak pesta ulang tahun dan kejadian di kota Banyu Harum. Ella sudah mulai bisa menata hatinya. Mengobati luka luka di batinnya sehingga tak lagi terlalu menyakitkan. Kepada Intan Ella menceritakan segalanya, berharap Intan dapat membantunya memberi jawaban dan solusi atas permasalahan yang menimpanya.
Intan sebagai sesama dokter sangat menyayangkan tuntutan yang diberikan orang tua Ardi pada Ella. Intan juga sama tidak relanya jika Ella harus melepaskan profesinya sebagai dokter. Sebagai teman seperjuangan Ella sejak jaman kuliah, Intan tahu benar bagaimana perjuangan Ella untuk bisa sampai di titik ini.
Mengenai hubungannya dengan Ardi, Ella masih berhubungan dengan pria itu. Bertukar pesan atau sekedar melakukan panggilan telepon dan vidio call. Tetapi sejak kejadian di Banyu Harum waktu itu, keduanya belum pernah bertemu lagi sekalipun.
Ardi memang sedikit sibuk belakangan ini, dia harus sering-sering pergi keluar kota. Ke Jembar untuk mengurusi proyek perumahannya yang sempat terkendala masalah korupsi kontraktor. Juga ke Banyu Harum untuk mengunjungi perusahaan inti Pradana Group. Membuat pria itu kurang bisa meluangkan waktunya untuk Ella.
Ella sendiri malah tidak keberatan dengan kesibukan Ardi. Dirinya bisa mendapatkan banyak me time untuk berpikir dan menata hatinya kembali. Merencanakan apa yang kira-kira terbaik bagi dirinya sendiri.
Beberapa hari yang lalu dirinya mendapatkan kabar tentang penerimaan PPDS (program pendidikan Dokter Spesialis) di Uner dari grup Interenshipnya. Roni sepertinya sangat antusias untuk mengikuti tesnya dan mengajak teman-teman satu angkatan interenshipnya untuk ikut mendaftar juga. Syukur-syukur kalau lulus, kalau nggak ya belum rejeki. Nothing to lose.
Ella merasa tertantang juga untuk mengikuti seleksi itu. Selain untuk pengasah pengetahuannya di bidang medis, Ella juga sangat berminat untuk meneruskan jenjang pendidikannya. Ella sangat haus akan ilmu pengetahuan, rasa ingin tahunya sangat besar. Gadis itu sangat ingin memperdalam keilmuannya untuk dapat lebih bermanfaat lagi bagi kemanusiaan.
Ella ingin mengambil pendidikan spesialis ilmu penyakit dalam, karena dewasa ini hampir sebagian besar penduduk indonesia berusia lanjut memiliki salah satu penyakit degeneratif. Apalagi setelah papanya sendiri yang sakit kapan hari, Ella semakin sadar bahwa dokter spesialis penyakit dalam sangat dibutuhkan untuk pasien-pasien seperti papanya.
Dan jumlah dokter spesialis penyakit dalam saat ini sama sekali tak sebanding dengan jumlah pasien yang terus bertambah setiap tahunnya. Membuat Ella semakin bersemangat untuk mempelajari ilmu ini lebih dalam. Membuatnya semakin membulatkan tekad untuk mengikuti seleksi penerimaan PPDS Uner ini.
"Kamu yakin mau ambil Sp, El?" Tanya Intan keheranan dengan keputusan Ella.
"Iya, coba-coba aja. Kali aja hoki tembus."
"Terus kamu gak jadi lanjutin hubungan sama mas Ardi?" Intan kembali bertanya.
"Masih. Kan gak ada hubungannya."
"Gak ada hubungannya gimana? Kalau jadi Sp kamu bakal lebih susah lagi untuk melepas profesimu." Intan menggigit baksonya keras-keras saking kesalnya dengan Ella yang berlagak bloon ini.
"Emang siapa yang mau ngelepas profesi? Enak aja!" Jawab Ella santai sambil mengaduk-aduk es campurnya.
"Berarti kamu mau ngelepas mas Ardi?"
"Nggak juga...Udah deh tan. Gak usah dipikirin hal-hal yang belum terjadi. Ini juga masih coba-coba daftar tes. Belum pasti diterima, PD bener si bakal diterima hehe"
"Ella...Kamu itu pinter. Penter banget, filling-ku kamu pasti bakal keterima ntar."
"Amiiin ya rob." Jawab Ella mengaminin ucapan Intan.
"Lho malah diaminin. Keterima beneran pasti galau lagi kamu deh." Ujar Intan kesal.
Tak beberapa lama kemudian Roni datang menghampiri meja mereka di kantin. Roni membawa sepiring nasi rawon dan segelas es jeruk di tanganya. "Hallo ladies, boleh gabung?" Ujarnya meminta ijin.
"Boleh aja. Bebas." Jawab Intan.
"Lagi ngomongin apa? Kok kayaknya serius amat?" Tanya Roni memulai pembicaraan.
"Alah jangan pura-pura gak denger. Kamu pasti nimbrung gara-gara denger kita ngomongin PPDS kan?" Intan langsung to the point membongkar alibi Roni.
"Hehe tau aja. Sapa ni yang minat? Intan atau Ella?" Roni semakin bersemangat merasa menemukan teman seperjuangan.
"Gue mah apa atuh, Ron. Gak mampu otak gue buat mikir lagi. Abis Iship nikah aja dah biar diurusin suami nafkahnya hahaha" Jawab Intan pasrah.
"Oh berarti Ella yang minat? Mau ambil apa, El?" Tanya Roni penasaran.
__ADS_1
"Penyakit dalam." Jawab Ella.
"Mantab tu. Minta rekom dokter Albertus, El. Lumayan senior beliau, orangnya baik banget lagi. Pasti seneng kalau kamu yang nerusin jejaknya" Roni semakin bersemangat.
"Rencananya mau minta ke prof Mei di Uner yang dulu jadi pembimbing skripsi." Ella mempertimbangkan.
"Ya makin banyak rekom makin bagus, El. Gak kayak aku susah ni rekomnya"
"Emang kamu mau ambil apa, Ron?" Mau tak mau Ella jadi penasaran dengan jurusan pilihan Roni.
"Jantung dan pembuluh darah"
"Buset dah. Gak meledak tu otak, Ron?" Celetuk Intan kaget mendengar jurusan yang diambil Roni.
"Hehe kayaknya seru ya. Soalnya masih jarang banget di indonesia. Jatim apalagi, bisa diitung jari jumlahnya."
"Duh gak nutut deh otakku." Intan mengeluh.
"Kapan mau daftar, Ron? Daftar online kan?"
"Nanti malam. Mau siapin berkas-berkasnya dulu. Kamu kapan, El?"
"Barengan aja yuk. Aku siapin juga berkasku ntar. Bantuin daftarin punyaku" Ella meminta bantuan Roni. Roni memang paling pintar soal IT diantara teman setimnya inship.
"Boleh. Ntar aku ke kontrakanmu ya maleman." Roni menawarkan dan Ella langsung mengangguk menyetujuinya.
~∆∆∆~
Malam harinya Roni datang ke kontrakan Ella sesuai janjinya, membawa berkas-berkas yang dibutuhkan untuk pendaftaran online PPDS yang sudah di-scan dan disimpan di dalam flashdisknya. Ella yang masih canggung untuk berduaan dengan Roni, meminta Intan untuk menemani mereka. Yah paling nggak kan mereka tidak berduaan.
Tak beberapa lama kemudian Intan mendapat panggilan telepon dari Ivan, tunangannya. Intan meminta ijin sebentar untuk mojok ke tempat lain sambil menerima panggilan itu. Meninggalkan Ella dan Roni yang sedang asik mengerjakan isian formulir pendaftaran.
Tanpa mereka sadari sebuah mobil pajero sport hitam berhenti dihalaman rumah kontrakan itu, Ardi. Ardi sedikit kaget melihat ada mobil lain terparkir di depan kontrakan Ella. Mungkin ada tamu? Dan sekali lagi Ardi dikagetkan dengan dilihatnya Ella sedang duduk berduaan dengan seorang pria yang dulu pernah dilihatnya si mall bersama Ella. Pria yang sama yang dulu menggenggam erat tangan Ella.
Mereka berdua duduk begitu dekat dan akrab sambil menatap ke laptop di hadapan mereka. Apa-apaan itu? Ella bahkan daritadi tidak bisa dihubungi. Membuat Ardi semakin frustasi saja. Ardi yang sudah sangat merindukan Ella karena lebih dari seminggu tak bertemu, ingin sedikit memberikan surprise pada gadis itu.
Akhirnya Ardi memutuskan untuk mengunjungi Ella secara dadakan dengan membawakan oleh-oleh makanan favorit gadis itu. Tetapi apa yang didapatnya? Malah dirinya yang dibuat surprize dengan pemandangan di hadapannya ini. Pemandangan yang mampu menyulut amarah yang seolah membakar seluruh jiwanya.
"ELLA!" Sapa Ardi pada gadis itu begitu dirinya sampai di teras rumah kontrakan Ella.
Ella terlonjak kaget demi mendengar sapaan itu. Sapaan yang terdengar sangat familiar. Sapaan dengan nada yang terdengar sangat marah. Dan benar saja, saat Ella mendongakkan kepalanya didapatinya sosok Ardi telah berdiri di hadapannya. Dengan mengepalkan kedua tanganya dan wajahnya yang sudah merah padam, terbakar amarah.
Shit. I'm going to die! Maki Ella pada dirinya sendiri. Apes bener dah ketangkep lagi berduaan dengan Roni dengan posisi sedekat ini. Intan yang jadi orang ketiga pun pas lagi gak ada pula. Lengkap sudah kesalah Ella di mata Ardi.
"Mas Ardi? Masuk mas. Kok gak ngasih kabar mau kesini?" Ella berdiri dari duduknya di sebelah Roni, menyambut dan menghampiri Ardi.
Roni yang menyadari kehadiran Ardi cuma memberikan senyuman simpul pada Ardi dan menyapanya singkat, "Hi".
Ardi tak membalas sapaan Roni. Terlalu marah untuk dapat beramah tamah dengan pria itu. Ardi menyodorkan bungkusan yang dibawanya kepada Ella. Sekotak besar Blueberry cheese cake dari Bre*dTalk favorit Ella.
"Kamu gak bisa dihubungi dari tadi."
"Oh maaf. Ponselku kujadikan modem untuk hotspot sinyal ke laptop." Jawab Ella memberi alasan.
__ADS_1
Ella menunjuk Hand phonenya yang dia letakkan diatas lubang angin-angin pintu rumah. Demi mencari sinyal yang dapat ditangkap dengan lancar oleh laptop.
"Ini apa? Makasih ya." Diterimanya bungkusan kue pemberian Ardi.
Mau tak mau Ardi merasa geli juga melihat kelakuan Ella. Bisa-bisanya dia menjadikan Hp-nya sebagai modem, diletakkan di atas pintu kayak gitu pula. Apa sesusah itu nyari sinyal disekitar sini?
"Kayaknya lagi sibuk banget?" Tanya Ardi dingin. Tidak senang melihat Ella sedekat itu dengan pria lain.
"Enggak kok. Cuma lagi ngurusin pendaftaran PPDS online." Jawab Ella. Diajaknya Ardi keluar rumah sebentar untuk berbicara berdua, menjauhkannya dari Roni.
"Ron, tolong lanjutin ya. Aku mau keluar bentar sama mas Ardi." Pamit Ella pada Roni.
Ella mengajak Ardi berjalan santai mengelilingi kompleks perumahan. Berjalan berkeliling tanpa tujuan, hanya untuk mengobrol berdua.
"Tumben kesini malem banget? Bukannya mas Ardi lagi sibuk?" Tanya Ella. Dilihatnya Ardi masih memakai setelan formalnya, dengan kancing bagian atas kemeja yang terbuka. Pasti Pria ini bahkan belum pulang kerumah dari mengurusi pekerjaannya.
"Kerasa mungkin kalau kamu lagi sama cowok lain," sindir Ardi, masih ngambek kayaknya.
"Keren ya, kayak punya radar." Ella malah menggoda Ardi, ingin mencairkan suasana.
"Aku baru pulang dari Jembar. Tadi keingat kamu pas lewat toko kue, jadi mampir beliin kue kesukaan kamu." Jawab Ardi dingin. "Hoki banget dateng-dateng liat kamu malah berduaan sama si brengsek itu."
"Ih apaan si? Tadi ada Intan kok.Kita bertiga, bukan berduaan. Tapi anakya lagi terima telpon dari lakinya ke belakang."
"Terus kalian berduaan ngapain? Keliatannya asik banget gitu?"
"Duh, masa mas Ardi gitu aja cemburu?"
"Nggak"
"Ah masa si?" Ella makin jahil menggoda Ardi.
"Dibilangin nggak kok!" Ardi semakin sewot. "Kalian ngapain?"
"Pendaftaran online PPDS. Aku sama Roni mau coba-coba ikut daftar."
"PPDS itu apaan?"
"Program Pendidikan Dokter Spesialis"
"Hah? Kamu mau sekolah lagi?" Ardi sedikit kaget mendengar jawaban Ella. Ella tak pernah membicarakan tentang ini padanya. Ternyata mamanya benar, Ella sepertinya belum ingin cepat-cepat menikah. Gadis ini masih senang untuk meniti cariernya.
"Yah belum tentu. Coba-coba aja, belum tentu keterima juga. Kan saingannya banyak mas, pinter-pinter lagi." Ella menjelaskan dengan antusias.
"Mau ambil apa? Berapa lama masa studynya?" Ardi mulai sedikit ragu, apa Ella akan memintanya menunggu sampai lulus sekolahnya baru mereka bisa menikah?
"Penyakit dalam. Paling tiga sampai empat tahunan sudah lulus." Ella terdengar sangat bersemangat menceritakan cita-citanya.
Tiga tahun? Apa aku harus menunggunya selama itu? Ardi semakin galau demi mendengarnya. Mungkin dirinya masih bisa bertahan dan bersabar menunggu Ella. Tetapi apa kedua orang tuanya mau mengerti?..
Mereka pasti sudah memaksanya untuk menikah dengan dengan wanita lain dalam waktu tiga tahun itu. Kenapa Ella selalu saja menempatkannya dalam posisi yang sulit? Kenapa gadis itu seakan ingin semakin menjauh darinya disaat Ardi ingin serius menjalin hubungan dengannya? Apa benar hubungannya dengan Ella sudah tak dapat untuk dipertahankan lagi?
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼