
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 ketika Ella menyelesaikan ujian keduanya. Ujian TOEFL yang penuh dengan soal grammer dan tata cara penulisan bahasa inggris yang cukup membingungkan. Ella tersenyum puas melihat hasil yang didapatnya di layar komputer. Lumayan lah gak jelek-jelek amat.
Ternyata latihan jadi bule dadakan seharian kemarin dengan Ardi lumayan membantu juga. Membantu Ella untuk sedikit mengingat kosakata bahasa inggris di dalam otaknya. Dan selebihnya membantu membuat hati Ella senang dengan guyonan dan kekonyolan Ardi selama english day kemarin.
Begitu keluar dari ruangan Ella mendapati Roni masih menunggunya di luar ruangan. "Gimana El? Sukses gak?" Tanya Roni ketoka Ella mendekat padanya.
"Lumayan. Nilai B sih dapet seharusnya." Jawab Ella santai.
"Widih Ella sih emang encer otaknya." Roni memuji Ella yang memang sudah diakuinya sangat cerdas dan terampil dalam ilmu serta praktek kedokteran.
"Kalau kamu gimana tadi?" Ella balik bertanya. Setahunya Roni juga merupakan dokter yang sangat pintar dan handal. Cocok banget kalau dia nanti jadi spesialis jantung.
"Kayaknya gak sampai B sih, mungkin B min. Yah semoga lawanku nilainya gak setinggi itu aja deh." Jawab Roni pasrah.
"Kok bisa? Kamu jatuhnya di apa?"
"TOEFL nya gila! Udah lupa semua aku grammer dan kosakata bahasa inggris. Kelamaan gak ngomong english kali ya"
"Kan masih ada ujian tahap kedua. Genjot nilai disana aja." Ella sedikit menghibur Roni.
"Yoi. Tahap kedua kan khusus tentang bidang yang diambil. Aku percaya diri kalau soal itu. Tapi tes wawancaranya, mampoos lagi kalau nanyanya in english wahahaha"
"Eh masa si bahasa inggrismu sejelek itu?" Ella benar-benar penasaran sekarang.
"Kalau writing sih luamayan, El. Tapi kalau speaking suka belibet. Parah lidahku kayak keseleo kalau kebanyakan ngomong bahasa inggris." Roni menceritakan kelemahannya. Ella mau tidak mau tersenyum-senyum sendiri. Jadi inget Ardi gara-gara ucapan 'lidah keseleo' dari Roni.
"Ntar kita bikin english day aja Ron kalau udah deket jadwal tes wawancara." Ella memberi saran. Karena dia sendiri juga merasa masih sering belibet kalau ngomong menggunakan bahasa inggris. Apalagi kalau harus presentasi di depan orang banyak.
"Wow that's a great idea. I can't wait for that day." Saking semangatnya Roni langsung memulai english daynya.
(*Wow itu adalah ide yang bagus. Jadi gak sabar nungguin hari itu)
"Sure, anytime. But not start today yet hehe."
(Tentu. Tapi belum dimulai hari ini hehe)
"Jelas donk. By the way laper gak, El? Makan siang dulu yuk." Roni menawarkan.
And speaking of the devils. Kok bisa-bisanya pas banget sebelum Ella sempat menjawab ajakan Roni, ponsel Ella tiba-tiba bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Lazuardi tentu saja, siapa lagi? Kayaknya ni orang udah punya radar atau indra keenam deh buat ngelacak apa yang dilakukan Ella. Atau jangan-jangan dibisikin setan ya?
(*Kalau ngomongin setan - Ungkapan aja sih)
Ella memberikan isyarat pada Roni untuk meminta ijin mengangkat telponnya sebentar. Dan Roni yang sudah dapat menebak siapa yang menelpon Ella hanya bisa membuang napas keras-keras, kecewa. Asem banget tu Herdernya Ella. Kuat bener radarnya, umpat Roni dalam hati.
"Hallo Ella sayang, gimana udah selesai ujiannya?" Tanya Ardi dari sisi sana.
__ADS_1
"Udah mas. Ini barusan keluar dari ruang ujian." Jawab Ella.
"Abis ini ngapain lagi jadwalnya? Langsung pulang lho ya jangan keluyuran kayak nyamuk nakal hehe." Sekali ini lagi-lagi omongan Ardi benar-benar at the right time. Seolah-olah dia tahu Ella akan pergi keluar dengan pria lain.
(*di waktu yang tepat)
"I, iya abis ini langsung pulang kok gak kemana-mana." Jawab Ella kelabakan.
"Yaudah aku duluan deh El. Sampai jumpa besok di puskesmas aja." Roni akhirnya pamit. Dia melambaikan tangannya pada Ella untuk pamitan. Sadar diri bahwa Ella tak akan mau untuk makan siang berdua dengannya setelah peringatan keras dari Ardi ini.
"Ok Ron. Ati-ati di jalan ya" Ella membalas lambaian tangan Roni.
"Roni? Kamu lagi berduaan sama Roni?" Suara Ardi tiba-tiba saja meninggi. Duh mati deh! Keceposan! Bisa-bisanya aku nyebutin nama Roni tadi, Ella mengutuk kebodohan dirinya sendiri.
"Roni tadi pamit mau pulang duluan ke Genting." Ella membuat alasan sekenanya.
"Udah gitu doank?" Nada suara Ardi masih sewot. "Hasan mana? Buruan pulang sama dia!" Lanjut Ardi memerintahkan Ella.
"Iya, iya ini juga lagi jalan ke parkiran." Entah mengapa Ella jadi sedikit merasa bersalah. Kayak ketahuan selingkuh aja. Ella berjalan melintasi halaman kampus untuk ke parkiran mobil. Mencari dan menghampiri mobil pajero sport hitam dan Pak Hasan yang setia menantinya disana.
"Oiya tadi aku ketemu dokter Maheswara." Ella mencoba mengalihkan pembicaraan dari Roni ke Maheswara. Gimana-gimana Mahes kan sepupu Ardi, pasti aman membicarakan pria itu. Dan lagi hubungan Mahes dan Ardi juga sepertinya sangat dekat.
"Mahes? Maheswara Hartanto? Oiya dia kan sekolah spesialis di Uner juga ya." Ardi sedikit kaget mendengar Ella tiba-tiba menyebut nama Mahes. "Gimana anaknya menurutmu?"
"Sepertinya orangnya baik, ramah, humble dan menyenangkan. Kind of...tipe yang disukai kebanyakan wanita." Ella mengurungkan niatnya untuk menyebutkan ciri fisik Mahes yang lumayan tampan.
"Aduh, udah deh mas Ardi. Jangan ngomong aneh-aneh lagi. Ini aku udah sampai di mobil. Udahan dulu ya aku mau bangunin pak Hasan yang ketiduran di mobil." Ella buru-buru ingin mengakhiri percakapan.
"Bentaran El, Hallo ellaaaa...Tuut tuuut" Ella sudah mematikan sambungannya dengan Ardi. Ardi pasti udah misuh-misuh diseberang sana saking kesalnya dengan tindakan Ella.
Pria itu mencoba menelpon lagi tapi Ella tak mau mengangkatnya. Sengaja mengabaikan panggilan Ardi. Ella mengetuk kaca mobil untuk membangunkan Pak Hasan.
"Eh udh selesai non Ella?" Tanya Pak Hasan kaget setelah terbangun dari tidurnya. Pria itu buru-buru keluar mobil untuk membukakan pintu belakang buat Ella. Lalu dia kembali ke kursi kemudinya dan melajukan mobilnya. "Kita kemana lagi non?"
"Langsung pulang pak. Kembali ke rumah." Ella memberi perintah. "Oiya pak Hasan udah makan? atau kita mampir buat beli makan siang dulu?"
Karena berkali-kali menelpon Ella dan tak dijawab, Ardi akhirnya menelpon Pak Hasan. "Halo Pak Hasan?" Ella dapat mendengar suara Ardi karena panggilan itu dalam mode loadspeaker. Dia gak habis pikir dengan kekeras-kepalaan Ardi kali ini. "Ella udah sama kamu sekarang?"
"Sudah pak. Ini lagi sama saya di mobil. Perjalanan pulang ke rumah." Jawab Hasan sedikit takut mendengar intonasi nada suara Ardi yang meninggi.
"Ok. Langsung anterin ke rumah. Gak usah mampir-mampir lagi."
"Baik pak." Tiit Ardi menutup panggilannya.
"Disuruh langsung pulang non. Gak usah mampir-mampir ya nanti saya dimarahi." Ujar Hasan dengan sedikit memohon pada Ella.
__ADS_1
"Iyadeh kita makan di rumah aja." Ella memutuskan sambil membuang napas kesal. Dia sudah kelaparan sekali padahal. Apaan si mas Ardi? Kalau kayak gini dia beneran jadi mirip Doberman galak seperti kata Mahes tadi.
Ella membuka ponselnya dan segera menulis pesan pada Ardi. Dengan hati dongkol dan perut melilit kelaparan Ella menulis. Berharap Ardi mengijinkannya mampir sebentar ke warung untuk sekedar mengisi perutnya.
Ella
Aku lapar tahu! Abis mikir jadi kelaperan!
Lazuardi
Tahan bentar lagi. Nanti makan di rumah aja lebih hygienis dan sehat.
What the? Ella bener-bener kehabisan kata-kata sekarang. Bisa-bisanya Ardi menjadi orang yang menyebalkan katak gini. Entah mengapa kalau lagi bersamanya Ardi terasa sangat lembut dan perhatian. Tapi kalau lagi berjauhan kayak gini dia bisa menjadi pria yang sangat menyebalkan. Curigaan dan cemburunya kelewatan batas akhir-akhir ini. Membuat Ella seakan susah untuk sekedar berhubungan dan bercakap-cakap dengan orang lain yang bergender laki-laki.
Karena macetnya kota Surabaya di jam pulang kerja siang itu. Akhirnya mereka baru tiba di rumah Ella sekitar jam setengah empat sore. Ella langsung masuk ke rumah dan disambut oleh mamanya "Gimana tadi, El? Lancar?" Mama Ella sedikit khawatir melihat wajah Ella yang muram. Jangan-jangan Ella tidak bisa mengerjakan ujiannya tadi?
"Ma, aku laper. Laper pakai banget!" Jawab Ella diluar dugaan mamanya.
"Hah? Kamu belum makan siang? Yaudah kamu ganti baju dulu. Mama siapin dulu makanannya." Ujar mama Ella dengan sigap kembali ke dapur.
Ella berjalan gontai ke kamarnya karena kelaparan kronis. Dia meletakkan asal saja tas nya di sembarang tempat. Mengambil satu setel babby doll favoritnya di almari dan segera mengganti pakaian resmi yang tadi dipakainya dengan seragam kebanggannya di rumah, Babby doll.
Ella kemudian ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kaki dan wajahnya. Memberinya sedikit kesegaran dan menjernihkan sebagian pikirannya. Selanjutnya Ella kembali ke ruang makan dan mengambil duduk di salah satu kursinya. Hidangan yang menggiurkan sudah tersedia di atas meja.
Oseng-oseng cumi, sup kacang merah dan tempe goreng crispy. Semuanya terlihat masih hangat dan mengepulkan asap. Menggugah selera makan. Masakan mama Ella memang yang paling enak menurut Ella. Masakan yang selalu dirindukannya saat dalam perantauan di luar kota.
"Pak Hasan mana ma? Gak ditawarin makan juga?" Tanya Ella pada mamanya.
"Udah tadi tapi gak mau. Jadi mama anterin aja sepiring makanan ke kamarnya."
"Sip bagus." Ella mengisi piringnya banyak-banyak. Ingin balas dendam untuk mengisi perutnya sampai penuh.
"Gimana tadi ujiannya?" Tanya mama Ella sambil mengambil duduk di depan Ella. Menemani putrinya itu makan.
"Lumayan, gak jelek-jelek amat kok. Tinggal tunggu pengumuman hasilnya seminggu lagi." Jawab Ella sambil terus mengunyah.
"Terus kamu ngapain muram gitu?"
"Gara-gara mas Ardi."
"Emangnya nak Ardi kenapa?" Mama Ella semakin kepo, jangan-jangan Ella lagi bertengkar dengan Ardi?
"Dia kelewatan cemburuan akhir-akhir ini. Menyebalkan sekali."
"Owalah. Yah emang gitu biasanya cowok kalau sudah kadung cinta. Itu tandanya dia cinta mati sama kamu" Ujar mama Ella sambil tersenyum-senyum mendengar kisah cinta anaknya yang sepertinya sedang mesra-mesranya itu.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼