
Senin siang itu Mahes kembali duduk di kursi direktur RS. Hartanto medika Surabaya. Kursi yang telah ditinggalkannya selama beberapa bulan ini. Yah bagaimana pun rumah sakit ini masih milik Mahes pribadi. Jadi dirinya lah yang paling bertanggung jawab pada segala sesuatunya disini.
Dan benar dugaannya, Sari meninggalkan begitu saja semua pekerjaannya di rumah sakit ini untuk pergi ke Jogja. Dasar anak itu, seharusnya sebelum pergi kan bisa mengalihkan tanggung jawab ke sekretarisnya dulu. Bukan main ngilang kayak gini. Yah tapi mungkin inilah bedanya seorang pimpinan perempuan dan laki-laki. Perempuan lebih mengedepankan perasaannya daripada akal sehatnya. Bahkan tak jarang melakukan hal-hal yang konyol dan tak masuk akal.
Mahes terpaksa harus membereskan berbagai tumpukan dokumen yang belum sempat diperiksa oleh Sari. Menandatangani banyak hal penting dan mendesak. Bahkan dia juga harus mempelajari dan membereskan berbagai urusan internal rumah sakit yang ditelantarkan Sari beberapa hari ini.
Untung saja Wulan asisten Sari merupakan sekretaris yang cakap dan handal. Dia sudah membereskan sebagian besar pekerjaan yang bisa dihandle-nya sehingga Mahes tidak terlalu keteteran.
Setelah kunjungan mengejutkan dari tuan dan nyonya besar Sampoerna sabtu kemarin, mereka sekeluarga akhirnya pergi ke Surabaya juga. Mahes, Laras dan Rangga serta papa dan mama mertuanya kompak berangkat bersama-sama kemarin.
Mahes segera saja disibukkan dengan urusannya sendiri di Rumah sakit dan perusahaan farmasinya di bisnis park. Sementara para keluarga Pradana itu juga disibukkan dengan urusan dan keruwetannya sendiri. Persiapan perjodohan Linggar dan Ditha. Dan entah bagaimana ibu mertua dan istrinya paling heboh menanggapi dan mempersiapkan hal ini.
Mahes menghentikan kesibukannya untuk berkutat dengan dokumen-dokumen saat Wulan mengetuk pintu dan memasuki ruangannya. Seperti terlihat terburu-buru dan cemas akan sesuatu.
"Ya? Ada apa, Lan?" Mahes bertanya pada Wulan.
"Dok, perawat UGD minta bantuan jika dokter Mahes sedang luang waktunya." Wulan menjawab.
"Lho emang kenapa? Ada pasien masal? Dokter jaga UGD nya kemana? Gak ngatasin untuk menangani sendirian?" Mahes bertanya sedikit keheranan.
Tumben-tumbennya crew UGD tidak mampu menangani pasiennya sendiri. Bukankah seluruh staff UGD adalah tenaga pilihan yang handal? Kenapa sampai harus meminta bantuan pada dirinya yang menjabat sebagi direktur rumah sakit.
"Nah itu dok. Dokter UGD nya yang sakit. Tiba-tiba jatuh pingsan katanya." Wulan lanjut menjelaskan.
"Haaah? Dokternya yang sakit? Sakit apa?"
"Kurang tahu dok. Pokoknya anak UGD bilang kalau dokter Ella sakit. Minta tolong dokter Mahes untuk memeriksa, karena dokter yang sedang bertugas di poli rawat jalan dan rawat inap sedang menangani pasien semua." Wulan dengan sabar menjelaskan.
"Ella? Dokter Ella, Sp. Pd?" Mahes memastikan bahwa dirinya tidak salah orang. Dan Wulan mengangguk mantap sebagai jawaban.
Mahes sangat kaget mendengar nama yang sangat familiar itu disebut. Kenapa Ella? Sakit apa? Saking khawatirnya Mahes langsung saja beranjak dari kursi kerjanya, keluar ruangannya, berjalan cepat kearah lift, turun ke lantai dasar dan segera berjalan mengarah ke UGD.
Mahes langsung mendatangi meja crew UGD dan beberapa perawat langsung menyambutnya dan memberi salam padanya sebelum mengawalnya ke bed tempat Ella dibaringkan.
Mahes mendapati Ella yang terbaring setengah sadar dan kesakitan dengan memegangi perutnya. Wah kayaknya masalah bulanan ini (dismenore) , mungkin ditambah kecapekan dan stres kronis yang menumpuk bisa bikin Ella sampai tumbang begini.
"Udah dikasih apa?" Mahes menanyai tindakan apa yang sudah dilakukan para perawat untuk Ella.
"Belum dok, belum diapa-apain. Gak berani." Salah satu perawat menjawab. Ya jelas aja sungkan dan gak berani lhawong Ella dokter mereka sendiri.
"Pasang infuse masukin analgesik juga. Lalu pindahkan ke kamar VVIP." Mahes memberikan perintah. Dan perawat itu langsung dengan cekatan melaksanakan apa yang diperintahkan Mahes padanya.
"Diobservasi dulu gak dok?" perawat tadi bertanya sedikit takut-takut pada Mahes. Takut dianggap gak pecus bekerja sama owner RS. Hartanto Medika ini, kan bisa berabe.
"Gak usah langsung pindahin saja ke kamar. Gak usah pakai RM, gak usah pakai admin." Mahes menjawab sambil berlalu meninggalkan Ella.
"Ada pasien lain yang perlu diperiksa?" Tanya Mahes sebelum beranjak pergi meninggalkan UGD.
"Sementara ini aman dok."
__ADS_1
"Yaudah aku tinggal dulu. Nanti dokter ruangan yang akan gantiin dokter Ella jaga UGD."
"Baik dok."
Mahes kemudian kembali ke kantornya. Bingung juga harus menghubungi siapa untuk menunggui Ella. Ardi? atau Roni? Siapa yang lebih tepat dia hubungi untuk menjaga Ella disaat begini. Siapa yang kira-kira lebih dibutuhkan Ella?
Akhirnya Mahes memutuskan untuk menghubungi Ardi. Kalau Roni, nanti sore juga bakal jaga disini kan? Gak usah dikabari juga bakalan tahu sendiri. Mahes mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ardi tapi tidak ada respon. Tiga kali Mahes menelpon tetap saja tak ada jawaban. Mungkin Ardi sedang sibuk. Akhirnya Mahes memutuskan untuk menulis pesan singkat saja pada Ardi.
Maheswara
Ella tumbang. Sekarang lagi di rawat disini. Di ruangan tempat Linggar dirawat.
Selanjutnya Mahes kembali ke ruangannya untuk membereskan semua pekerjaannya yang tertunda. Segala dokumen yang harus ditanda tangani dan diperiksa olehnya akhirnya beres juga beberapa lama kemudian. Setelah semuanya beres Mahes memutuskan untuk menghampiri Ella saja di ruangannya. Untuk sekedar menyapanya.
Saat Mahes masuk ke kamarnya Ella sudah setengah terbangun walau masih berbaring di bed dengan lemah. Mahes mendekatinya dan tersenyum menyapa gadis itu.
" Halo bu dokter spesialis. Apa-apaan lagi ini? Udah dua kalinya aku liat kamu tumbang kayak begini."
"Mas Mahes?" Ella sedikit kebingungan menyadari dirinya terbaring di bed dalam kamar rawat inap.
"Kamu tadi pingsan waktu jaga UGD. Lagi waktunya ya? Sering kayak gini?" Mahes bertanya prihatin.
"Oh...Gak sering si, cuma kalau pas lagi banyak dan lagi capek aja."
"Dan stress? Kamu pasti lagi banyak pikiran?" Mahes menebak-nebak. Mengambil duduk di kursi di sebelah ranjang Ella.
"Mungkin terlalu tegang saja akhir-akhir ini."
"Bisa aja..." Ella mengelak.
"Selamat ya El, atas kelulusannya. Dan maaf ya beberapa hari yang lalu aku yang minta tolong sama Roni buat jagain Sari..."
"Jadi mas Mahes tahu? Ada apa sebenarnya mas?" Ella kaget juga ternyata Mahes juga terlibat dalam perkara Roni, Sari dan Jun.
"Iya aku yang ngasih tahu Roni alamat Jun di Jogja."
"Sebenarnya bagaimana hubungan Roni dengan Sari?" Ella hanya ingin memastikan.
"Hmmm...Biasa saja, seperti teman dekat. Karena Sari masih mencintai Jun dan Roni juga masih mencintai kamu." Mahes bingung juga harus menjawab bagaimana. Dan Ella terdiam mendengar jawaban Mahes, tidak menanggapinya.
"El, kamu sama Roni itu gimana? Terus Ardi juga bagaimana? Jangan-jangan kamu sampai tumbang begini karena mikirin mereka berdua ya?" Mahes kembali menebak-nebak. Dan Ella hanya mengangguk lemah menjawabnya.
"Kamu itu terlalu banyak mikir, El. Los dol ajalah sekali-kali. Yen kuat dilakoni yen ra kuat ditinggal ngopi hehe." Mahes memberi wejangan yang terkesan selengekan tapi sebenarnya sangat tepat untuk masalah Ella saat ini.
"Kamu cuma perlu jujur sama dirimu sendiri. Maumu gimana, gak usah mikirin perasaan orang lain. Yang penting kamunya senang. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
"Udah kamu istirahat dulu aja sekarang. Kalau sudah enakan nanti boleh pulang. Gak usah mikirin jaga dulu, kamu ambil libur beberapa hari saja sebaiknya." Mahes memberikan sarannya. Beranjak berdiri dari kursinya untuk meninggalkan ruangan.
Tepat saat itu juga pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan kasar. Dan masuklah seseorang dengan langkah terburu-buru yang terlihat sangat cemas. Seseorang dengan setelan kerja formalnya. Ardi.
__ADS_1
"Ella! Ella kamu kenapa?" Ardi segera mendekati ranjang Ella. Mencari-cari sosok gadis yang membuatnya khawatir.
Ella hanya tersenyum lemah melihat tingkah Ardi yang terlihat sangat khawatir padanya. Kok bisa mas Ardi ada disini? Siapa yang memberi tahunya? Pasti ulah mas Mahes lagi ini.
"Kamu kok tahu-tahu udah disini aja? Tadi aku telpon gak bisa-bisa padahal." Mahes menyapa Ardi.
"Iya tadi lagi ada meeting. Di pertengahan meeting aku sempat baca pesanmu. Aku langsung gak kepikiran apa-apa lagi, cuma ingin secepatnya sampai disini. Dan tahu-tahu aku sudah melajukan mobilku ke rumah sakit ini." Ardi menjelaskan kesibukannya tadi di kantor. Entah gimana nasib meeting tadi setelah ditinggalnya seenaknya.
"Ella kenapa, Hes?" Ardi kembali bertanya pada Mahes karena Ella tidak menjawab.
"Dismenore, kram perut dan nyeri haid yang hebat. Dia sampai nyaris pingsan tadi waktu jaga UGD."
"Kenapa? Kenapa bisa begitu?" Ardi kembali bertanya khawatir. Setahunya dulu Ella tidak pernah sampai kesakitan begini kalau PMS. Palingan cuma uring-uringan dan gampang ngambek doank.
"Normal saja si selama tidak terlalu sering terjadi. Penyebabnya bisa kecapekan dan stress yang berkepanjangan." Mahes menjelaskan.
Ardi terdiam mendengar jawaban Mahes. Mau tak mau merasa bersalah juga dengan keadaan Ella. Bagaimana pun dirinya lah penyumbang terbesar stress Ella. Pasti Ella kepikiran tentang hubungan mereka. Tentang bagaimana mutusin Roni juga sehingga mereka bisa bersatu lagi...
"Yaudah aku balik ke kantorku dulu. Kalau ada perlu apa-apa kabarin aja. Nanti kalau Ella sudah enakan kamu bisa anterin dia pulang." Mahes mohon pamit.
"Ok makasih ya," jawab Ardi.
Mahes hanya mengangguk sebelum keluar dari kamar VVIP itu, meninggalkan Ella dan Ardi berduaan saja disana.
"Sakit banget ya?" Ardi mengusap lembut kepala Ella. Tak tega melihat gadis itu kesakitan. Seolah Ardi sendiri dapat ikut merasakan sakit yang Ella rasakan saat ini.
Ella hanya mengangguk lemah menjawabnya. Ardi semakin tak berdaya demi dilihatnya Ella menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakitnya. Bahkan sebelah tangan Ella yang lain terus saja memegangi perutnya yang pasti terasa sakit.
"Makasih sudah datang...Maaf ya jadi ngerepoti mas Ardi." Ella memaksakan tersenyum sambil sedikit mengernyit kesakitan.
"Gak usah mikir aneh-aneh. Kamu itu yang paling penting bagiku. Aku gak bisa bayangin kalau terjadi apa-apa sama kamu, El..." Ardi mengambil duduk di kursi yang ada di sebelah bed Ella. Menggenggam jemari Ella semakin erat, berusaha sedikit saja meringankan penderitaan Ella.
"Aku gak pa-pa, cuma nyeri haid biasa."
"Gak pa-pa apanya sampai pingsan begitu?" Ardi memprotes ucapan Ella. Selalu saja gadis ini ingin merasakan deritanya sendirian. Selalu saja tak mau merepotkan orang lain. Selalu begitu...
"Udah, kamu istirahat dulu ya, jangan kebanyakan mikir biar ceper sembuh. Kamu denger sendiri kan tadi Mahes bilang apa? Kamu ini stress, kamu kebanyakan pikiran." Ardi mengusap kembali rambut di kepala Ella dengan lembut.
"Kamu benar mas, aku rasanya bisa tenang kalau ada kamu." Ella tersenyum dan perlahan menutup kedua matanya. Tak lama kemudian gadis itupun tertidur dengan Ardi masih menggengam sebelah tangannya dan mengelus kepalanya.
Cukup lama Ardi menemani Ella tertidur sampai akhirnya dirinya juga mengantuk dan tertidur juga dengan kepala tersandar si sisi bed Ella. Tidur berdampingan berdua dengan tanpa beban.
~∆∆∆~
FYI (For Your Information)
*Dismenore adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan keluhan kram yang menyakitkan dan umumnya muncul saat sedang haid atau menstruasi.Â
*Kram atau nyeri di perut bagian bawah yang bisa menyebar sampai ke punggung bawah, dan paha bagian dalam. Rasa sakit terasa intens atau konstan
__ADS_1
*Gejala penyerta lain yang sering terjadi antara lain pusing, sakit kepala, mual, muntah, lemah dan tidak bertenaga, bahkan bisa sampai pingsan juga.
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼