Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
31. Hang Out


__ADS_3

Ella mengambil ponselnya dari tote bag nya. Diamatinya layar ponselnya, dibukanya aplikasi chattingnya. Tak ada pesan sama sekali dari Ardi, dengan sedikit kesal Ella mendengus dan diletakkannya ponsel kembali ke pangkuannya.


Hari ini Ardi berjanji menjemputnya sepulang jaga poli tapi entah mengapa sampai jam 14.00 siang ini pun Ardi belum nampak batang hidungnya. Satu jam telah berlalu sejak waktu janjiannya dengan Ardi.


"Lho El, kok belum pulang?" Roni kebetulan lewat di loby rumah sakit dan menyapa Ella.


"Eh kamu Ron? Lagi nungguin jemputan mas Ardi" Jawab Ella to the point. Dia tak ingin mengulang kesalahan lagi dengan memberikan harapan palsu kepada Roni.


"Oh. Klo gitu aku pulang duluan ya" Pamit Roni sedikit tidak nyaman dengan jawaban Ella yang membawa-bawa nama Ardi. Roni menyadari sekali bahwa Ella sedang ingin menghindar darinya.


"Yuk, daaah" Ella melambaikan tangannya mengantar kepergian Roni.


Roni berralih dan berjalan meninggalkan Ella. Sementara Ella kembali duduk sendirian di kursi loby sambil memainkan ponselnya. Diketiknya sebuah pesan singkat untuk Ardi.


Ella


Mas Ardi jadi jemput? Kok lama? Apa aku pulang sendiri saja?


Dan tentu saja tetap tak ada respon atau jawaban dari Ardi. Huh menyebalkan sekali, memang kadang Ardi bisa menjadi orang yang sangat ngaret begini. Dan parahnya tanpa kabar, siapa coba yang bisa bersabar menunggu selama satu jam tanpa mengeluh? Menungu adalah hal yang paling membosankan di dunia ini.


Di satu waktu Ardi bisa menjadi orang yang sangat on time dan diwaktu lainnya dia bisa menjadi sangat ngaret. Membuat Ella bingung memutuskan harus bagaimana menghadapinya. Tapi kebanyakan dia telat pasti dengan alasan yang bagus, yang biasanya dikarenakan karena pekerjaan daruratnya di kantor. Membuat Ella tak bisa benar-benar marah padanya.


Apa rapatnya memanjang? Apa Ardi dan perusahaannya belum menemukan penyelesaian dari permasalahan mereka?


Tak lama kemudian Ella dikagetkan oleh suatu pesan dari Ardi yang memberitahu Ella bahwa dirinya sudah datang dan menunggunya di depan loby. Ella pun segera berjalan ke arah parkiran mobil di depan Loby RSUD G. Langsung menghampiri mobil pajero sport hitam yang sedang berhenti di drop off point disana. Ella segera memasuki mobil itu dan mobil itu kembali melaju di atas aspal.


Ella sudah hendak membuka mulutnya untuk mengucapkan selamat siang pada Ardi, saat Ardi mencegahnya. Memberinya isyarat kalau dia sedang berada di panggilan telepon. Akhirnya Ella kembali menutup mulutnya dan memperhatikan layar ponsel Ardi yang menampilkan gambar foto keluarga Pradana dengan tema jawa yang sama persis dengan yang ada di rumah Ardi.


"Ya gak bisa gitu lah ma" Ardi berbicara dengan seseorang di ponselnya itu dengan mode load speaker sehingga Ella dapat mendengarnya juga. Pria itu terus saja menyetir mobilnya sambil berbicara dengan seseorang yang sepertinya anggota keluarga Paradana. "Ini udah keterlaluan"


"Tapi kan Choirul itu temen lama mama dan papamu. Pay respect dikit lah, gimana-gimana dia juga lebih tua dari kamu" suara diseberang sana sepertinya suara seorang wanita dewasa yang tegas.


"Pay respect buat maling kayak gitu? Jangan harap!" Jawab Ardi dengan nada mengeras. "Aku bakal respect kalau dia memang layak untuk mendapat respect-ku"


"Udahlah gak usah diperpanjang. Masalah uang cuma segitu gak usah terlalu dibikin heboh" Suara diseberang ikut bersikukuh.

__ADS_1


"Uang cuma segitu? Tiga belas Milyar ma! Bagi perusahaan Ardi duit segitu gede banget nilainya" Kali ini Ardi benar-benar marah.


"Kan dia sudah berjanji mau balikin semua duitmu. Abis perkara kan? Nagapain diperumit lagi masalahnya?"


"Terus Mama mau Ardi gimana?" tanya Ardi dengan nada penuh emosi. Oh ternyata dia sedang berbicara dengan mamanya sendiri, batin Ella. Gadis itu hanya diam saja tak berani bersuara atau berkomentar. Takut mengganggu pembicaraan mereka.


"Batalkan pemecatannya. Bikin MOU baru sama dia untuk kelanjutan kerjasama kalian. Thats it. All done dan kedua belah pihak sama-sama untung"


"Gak bisa ma. Ardi gak mau kerjasama dengan orang kayak gitu lagi." Protes Ardi. Kelihatan sekali sedang menahan emosinya dengan tidak berkata-kata kasar atau mengumpat pada mamanya.


"Ardi! Nurut sama mama kenapa?!" Mama Ardi ikut meninggi nada suaranya. Mulai emosi juga sepertinya menghadapi putranya yang keras kepala. "Pokoknya mama mau kamu kembali pekerjakan Pak Choirul." Lanjutnya mengakhiri pembicaraan.


"Tapi, ma..." Ardi tetap keberatan. Namun mamanya sudah keburu menutup panggilan telponnya dengan Ardi secara sepihak.


Ardi membanting ponselnya dari holder yang ada di dashboard mobil dengan marah "Dasar Maling sialan! Gak tahu diri!" Umpatnya marah sambil terus melajukan mobilnya dengan kecepatan semakin tinggi.


Ella diam saja tak berani berkata apa-apa ataupun berbicara sepatah katapun. Suasana hati Ardi sedang sangat buruk sepertinya saat ini. Ella bahkan mengurungkan niatnya untuk memarahi dan mengomeli Ardi yang terlambat menjemputnya. Dengan situasi saat ini hal itu bisa seperti menyiram minyak di kobaran api saja.


Ella memandangi wajah Ardi yang sendang mengemudikan mobilnya dalam diam. Wajah Ardi tetap terlihat tampan walau sebagian besar otot-otot wajahnya sedang mengeras, berkontraksi karena menahan emosinya yang sedang membara.


"Maaf ya, El. Aku telat jemputnya" Ujar Ardi setelah cukup lama berdiam diri.


"Eh? El? kamu ngapain?" Ardi sedikit terlonjak kaget dan geli menyadari tubuh Ella yang menggesek dan menempel pada bagian pahanya.


"Ngambil ponsel mas Ardi" Jawab Ella setelah berhasil menggapai dan mengambil ponsel itu. Gadis itu berusaha bangkit dari posisinya, namun karena ada belokan, mobil sedikit mengalami guncangan ringan. Guncangan yang mampu membuat tubuh Ella terlempar ke arah Ardi. Semakin menempel padanya.


"Aduh, duh" Ella mengeluh karena guncangan itu. Cepat-cepat dia berusaha bangkit dari tubuh Ardi. "Maaf..." ujarnya menarik diri menjauhi Ardi kembali ke kursinya, dipalingkannya wajahnya ke arah jendela untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah terasa sangat panas.


"Gak ngira kamu agresif juga ya, El hehehe" Goda Ardi, sedikit gemas dengan sikap Ella yang memalingkan wajahnya malu-malu.


"Kita mau kemana?" Ella tidak menanggapi godaan Ardi, berusaha mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain.


"Elizab*th"


"Ngapain?" Ella keheranan. Setahunya Elizab*th ini adalah toko tas dan segala macam pernak pernik wanita, yah sebagian barang pria juga ada si dijual disana.

__ADS_1


"Cari hadiah buat ulang tahun mama"


"Kapan?"


"Week end nanti" jawab Ardi. "Tadi mama nelpon nyuruh aku pulang utuk ngerayain ulang tahunnya. Yah walau pembicaraan selanjutnya sangat menyebakan..."


"Ehm...emang lagi ada masalah ya?" tanya Ella pura-pura tidak mendengar percakapan Ardi dengan mamanya tadi.


"Udah berhari-hari kami rapat mengurusi pemecatan si brengsek maling perusahaan. Tadi juga aku sampai telat jemput kamu karena pembahasan rapat alot yang belum selesai..."Ardi mulai bercerita pada Ella.


"Ternyata si brengsek itu minta dekengan dari mamaku. Dan mama ngeselin banget seenaknya ikut campur urusan perusahaanku"


"Kasih kesempatan sekali lagi gak bisa ya? Bukannya dia sudah mau ngembalikan semua kerugian perusahaanmu?"


"Gak bisa lah. Ini berhubungan dengan kredibilitasku sebagai pemimpin. Mana mau aku menjilat air ludahku sendiri. Aku gak mau disebut sebagai pemimpin yang plin-plan dalam mengambil keputusan" nada suara Ardi sedikit meninggi.


"Tapi segala urusan udah beres kan?"


"Iya. Tender dengan kontraktor penggantinya juga sudah beres. Semua peralihan urusan dari si Choirul itu ke kontraktor baru juga clear. Bahkan setelah sedikit menaikkan provit mereka, para kontraktor lainnya menjadi lebih loyal dan respect pada kami. Mereka menghormati kami yang bersikap tegas tanpa pandang bulu" Ardi mendengus kesal. "Lalu mama seenaknya menyuruhku membatalkan semua? hanya demi si maling brengsek itu?...Cih! Aku gak sudi!"


"Emang mas Ardi bisa melawan perintah mama mas?" tanya Ella sedikit takut membayangkan bagaimana mama Ardi yang sepertinya sangat keras itu.


"Bisa. Paling tidak untuk urusan perusahaanku sendiri mama tak berhak ikut campur" Ardi membelokkan mobilnya ke pelataran parkir sebuah toko besar tiga lantai yang terlihat cukup mewah dari luar.


"Mama itu gak tahu apa-apa soal perusahaan. Cuma asal ngomong, asal perintah tanpa tahu konsekuensinya. Gak mungkin lah aku bakal nurut hal konyol kayak gitu" Ardi memarkirkan mobilnya tepat di depan toko.


"Emangnya beliau gak akan marah kalau mas Ardi gak mau menurut?"


"Marah. Pasti marah, bahkan bisa sangat marah. Makanya ayo sekarang kita cari sesuatu yang sekiranya bisa meredahkan kemarahannya... Bantu aku meilih kado ya" Ardi mematikan mesin mobil dan keluar dari mobil itu.


Ella mengikuti Ardi keluar dari mobil juga. Mereka pun berjalan beriringan menaiki tangga dan memasuki pintu toko. Oh jadi Ardi mau nyogok mamanya biar gak ngambek ni ceritanya? Hehe lucu juga hubungan kedua ibu dan anak ini, Ella tersenyum-senyum sendiri memikirkannya. Jadi semakin penasaran dengan bagaimana sifat ibu dari pria yang dicintainya itu.


Ella ingat betul wajah mama Ardi dari foto keluarga yang pernah dilihatnya. Wanita itu sangat cantik bahkan dalam usian separuh bayanya. Tetapi Ella juga dapat menebak sifat mama Ardi sangat keras. Baik dalam mendidik anak-anaknya atau dalam kesehariannya dari cerita-cerita Linggar, Laras, bahkan percakapannya dengan Ardi barusan.


Hal ini tentu saja menumbuhkan rasa takut pada diri Ella untuk menghadapi calon mertuanya itu. Bagaimana jika mama Ardi tidak menyukainya? Apakah wanita itu mau menerimanya sebagai kekasih putranya? Apakah beliau akan menentang hubungannya dengan Ardi?

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2