
Siang itu Gery sedang berada di pengadilan negeri Surabaya, bagian perdata. Mengurusi tentang pembagian dan pemecahan serta balik nama beberapa perusahaan di bawah nama Ardi Pradana, perusahaan-perusahaan di bawah naungan Pradana Group.
Pak Ardi akhirnya memutuskan untuk mengalihkan dua anak perusahaan di Banyu Harum atas nama pak Linggar. Tak lama lagi pak Linggar yang akan duduk sebagai CEO disana. Dan satu lagi, pak Ardi juga ingin membuat nama bu Ella sebagai pemegang saham tertinggi di perusahaannya pribadinya di Genting, Pradana Construction.
Bosnya itu sepertinya sudah gila dan dimabuk asmara. Masa dia mau memberikan 60% saham perusahannya pada calon istrinya itu? Kalau mereka nantinya cerai gimana coba? Auto bangkrut donk? Auto jadi punya bu Ella donk perusahaannya.
Gery benar-benar gak habis pikir. Emang si pak Ardi ini duit dan perusahaannya banyak. Tapi masa mau diberikan begitu saja karena cinta? Diberikan kepada orang yang sama sekali tidak tahu tentang bisnis lagi. Parah kan? Sepertinya benar kata pepatah, kalau sudah cinta, ai ucing pun rasa coklat.
Setelah menyelesaikan urusannya di gedung pengadilan perdata, Gery melanjutkan acaranya untuk mampir ke pengadilan agama yang ada disebelah pengadilan perdata. Ngapain coba? Nyari janda? Bener banget.
Gery mengedarkan pandangannya ke sekeliling begitu sampai di halaman gedung. Mencari-cari sosok yang wanita yang dikenalnya, wanita yang sudah membuat janji untuk bertemu dengannya hari ini.
"Diana," Geri memanggil seseorang yang dikenalnya sebagai Diana. Wanita cantik dengan rambut pendek kekinian ala-ala artis koreya. Wanita yang terlihat jelas berasal dari golongan upper class.
"Ger, makasih ya sudah mau datang." Seorang wanita meninggalkan kerumunan yang sepertinya adalah keluarga dan temannya, mendekati Gery. Wanita itu menyapa Gery dan memberikan pelukan hangat dan ciuman pipi kanan kiri sebagai sapaan.
"No problems. Mumpung ada urusan juga di sebelah tadi." jawab Gery cengengesan.
"Sini deh..." Diana menarik tangan Gery dan mengajaknya sedikit menjauh dari ramainya kerumunan. Duduk berduaan di salah satu park bench di bawah pohon rindang.
"Kenapa lagi? Kenapa elu manggil gue? Masalah perceraian lu gak lancar?"
"Iya bantuin donk. Duh elu si gak mau jadi pengacaraku, jadi ruwet dan panjang begini kan urusannya." Diana mengeluh. "Si brengsek mantan suamiku itu minta hak asuh anak. Gimana donk?" Diana meminta saran.
"Gak bisa, gue sudah terikat kontrak dengan perusahaan. Gue resmi jadi pengacara perusahaan Pradana Group. Terus? Kenapa gak dikasiin aja?" Gery bertanya.
"Gila lu, gue yang melahirkan, menyusui dan merawat anak itu. Enak aja mau diminta begitu saja." Diana memprotes.
"Kalau dikasiin bapaknya kan elu bisa bebas. Elu bisa cari yang lain yang lebih baik dari dia. Gue juga siap kok nampung elu hahaha." Gery berpendapat sekalian menggoda Diana. Ya kali aja kena.
"Asyem. Kalau gak tahu sifatmu, pasti gue udah klepek-klepek sama rayuan gombalmu."
"Di, elu itu berhak bahagia. Elu gak perlu menjalani toxic relationship lagi. Keputusan elu untuk bercerai ini sudah benar. Daripada elu terus-terusan sress dan terkekang oleh mantan suamimu yang seenaknya. Bisa gila elu lama-lama, Idup ini terlalu indah untuk dihabiskan bersama orang orang toxic kayak dia." Gery kali ini memberikan pendapatnya dengan serius.
"Elu kan belom nikah, tahu apa?"
"Justru karena tahu terlalu banyak tentang hubungan dua insan manusia gue gak mau nikah. Yah paling tidak dalam waktu dekat."
"Dasar Playboy kelas teri! Tapi elu benar, mungkin gue harus lebih menikmati hidup, menata hidup kembali." Diana setuju.
"Gono gininya gimana?" Gery bertanya.
"Dapat donk. Lhawong semua harta dan aset sebagian besar dari keluargaku dan dari hasil kerjaku. Gue juga gak goblok Ger, semua aset sudah atas namaku semua. Makasih ya elu yang sudah ngasih saran dan bantuin proses balik nama hehe..."
"Good girl. Aman berarti. Terus apa lagi masalahnya?" Gery bertanya tentang keraguan yang nampak di wajah Diana.
"Dibilangin kok, gue sekarang galau masalah anak. Dia minta Lily, anakku."
"Agak susah, Di. Karena elu yang ketahuan sudah selingkuh dari suamimu duluan. Jadi kalau hak asuh harusnya jatuh ke dia."
"Dan pasangan selingkuhnya adalah elo!"
"Hahahaha itulah apesnya..." Gery mengakui.
"Terus setelah gue resmi bercerai elo mau serius sama gue? Bukan jadi selingkuhan lagi?" Diana bertanya penuh harap. Tahu Gery gak bisa cuma dengan satu cewek saja.
"Lho ya gak bisa gitu juga donk. Kan gak ada dalam kesepakatan awal kita. Sejak awal kan kita udah sepakat buat have fun aja, gak ada hubungan serius. Tapi karena masalah sudah jadi serunyam ini yah gue ikut bertanggung jawab dengan bantuin elo dapetin apa yang elo mau." Gery menolak tawaran Diana.
"Tapi gue pengen anak gue."
__ADS_1
"Sejak awal elo gak bilang pengen anak. Bikin lagi aja deh entar, sama yang baru. Atau elo butuh donor sper*ma? Gue siap kok hehehe."
"Sialan loe." Diana mengumpat marah.
"Intinya kita impas sekarang, Di. Anggap aja gue yang menyebabkan masalah rumah tangga kalian. Tapi gue juga sudah bantuin urusin semuanya...Ini kasiin ke pengacara loe. Suruh bacain semua di pengadilan hari ini. Gue jamin elu bakal menang telak dan dapat semua materi kekayaan kalian. Dia cuma dapat anak aja." Gery menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Diana.
"Anak gue gimana, Ger?" ujar Diana memelas.
"Ikut bapaknya lah...Jangan serakah!" Gery beranjak dari duduknya. "Udah gue harus balik ke kantor sekarang." Gery pamit pada Diana.
"Ok deh, makasih ya. Tar gue transfer jatah elu setelah putusan final." Diana menyalami Gery dan memberikan cupika cupiki lagi sebagai tanda perpisahan mereka.
Gery hanya menganguk menjawab sebelum berjalan santai menghampiri mobil Terrios hitamnya yang terparkir di halaman pengadilan. Lega karena salah satu urusan bisnis ceperannya sudah kelar. Bisnis semi pribadi sih tepatnya.
Diana adalah satu dari sekian banyak mantan Gery jaman masih kuliah. Pertemuan kembali dengan wanita itu sekitar setahunan yang lalu, dan mereka akhirnya intens berhubungan kembali. Cuma sekedar TTM buat nemenin jalan atau sekedar curhat.
Gery tahu benar Diana sudah memiliki keluarga. Tapi sebagai playboy klas wahid Gery pantang untuk menolak wanita secantik dan menarik itu untuk mendekat padanya. Rejeki gak boleh ditolak kan? Pamali.
Tapi ternyata hubungan mereka diketahui oleh suami Diana, dan terjadilah prahara rumah tangga dengan Gery yang ketiban apes dijadikan kambing hitam. Usut punya usut memang Diana ini sudah ingin berpisah dari suaminya. Suaminya toxic, overprotective, terlalu membatasi segala kebebasan Diana. Dan yang paling parah pria itu adalah parasit secara finansial pada Diana. Pria tak berguna.
Akhirnya sebagai seorang pria yang budiman, mau tak mau Gery harus membantu Diana menyelesaikan perceraiannya ini. Dengan segala keinginan Diana untuk mendapatkan seluruh aset finansial yang memang hak-nya.
'Goodbye Diana, sekarang waktunya jalan sama Lydia atau Clara.'
Gery melajukan mobilnya kembali ke arah Bisnis Park. Kapok sudah urusan sama istri orang atau janda, mending kencan sama Lydia aja anak marketing, status single. Atau Clara yang masih mahasiswa, brondong. Atau lebih asik lagi dua-duanya sekaligus hahaha.
Dan lamunan Gery terputus karena adanya panggilan masuk di ponselnya. Tulisan 'Bos Laknat', di layar ponsel membuatnya wajib untuk segera menerima panggilan itu.
Dengan memanfaatkan headset blue toothnya, Gery segera menerima panggilan itu. Mau ngapain coba si bos?
"Ya pak, bisa saya bantu?" tanya Gery.
"Gimana masalah saham Ella?" suara Ardi di sebelah terdengar penasaran.
"Bagus. Kalau gitu kamu mintakan tanda tangan ke dia." Perintah Ardi kali ini diluar dugaan Gery. Kenapa gak dia sendiri yang minta, sekalian bilang surprise aku kasih kamu saham...kan so sweet banget jadinya.
"Iya sekalian kamu jelas-jelasin lah gimana-gimananya biar Ella gak bisa nolak untuk kasih tanda tangan. Kalau udah beres dapet tanda tangan, aku yang akan ngomong ke dia nanti." Ardi menjawab.
"Jadi saya jadi tumbal omelannya bu Ella ya?" Gery dapat menebak maksud busuk bosnya itu. Pasti bu Ella bakalan menolak dikasih duit segede itu. Terus gue yang harus cari alasan buat meyakinkan dan merayunya agar mau tanda tangan? Da*mn you Boss!
"Hahaha nah pinter." Ardi mengakui tujuannya dengan nada gak punya dosa.
"Bu Ella dimana pak?" Gery bertanya. Sudah biasa si menangani permintaan-permintaan Ardi untuk menangani klien sulit atau rewel.
"Di rumah sakit lah. Kamu kesana aja. Oiya sekalian bawain sogokan biar moodnya bagus." Ardi memberikan sarannya.
"Sogokan?" Gery bertanya curiga. Nah kan mulai lagi, pasti minta yang aneh-aneh si pak bosnya itu.
"Nanti ajakin Ella ke cafe yang enak, atau ajakin ke kantin rumah sakit. Beliin dia es cocho milk shakes biar moodnya bagus. Baru deh diajak ngobrol."
"Pak, kayaknya pak Ardi sendiri aja deh yang bilangin." Gery sudah membayangkan betapa ruwetnya menghadapi calon nyonya bos ini.
"Nanti kalau sudah beres kamu kabarin aku, aku meluncur kesana." Ardi sudah menutup panggilannya dengan semena-mena sebelum Gery sempat memprotes.
Gery pun akhirnya tak jadi melajukan mobilnya ke bisnis park, puter balik untuk mengarah ke RS. Hartanto Medika. Sebagai pria dengan segudang pengalaman tentang wanita, Gery tahu benar apa yang harus dilakukan untuk membuat mood seorang wanita menjadi baik.
Jadilah Gery mampir dulu di Dunkin Do untuk membeli Choco Milk Shake sekaligus beberapa buah donat yang terlihat cute. Ditambah lagi setangkai mawar sebagai pemanis buket sogokannya. cewek mana coba yang gak melting dikasih beginian? Pasti calon nyonya juga bakalan melting ini.
Dengan kepercayaan diri tinggi, Gery memarkirkan mobilnya dan melangkah ke poli spesialis RS. Hartanto Medika. Dan ternyata poli penyakit dalam tempat nyonya bos bekerja masih panjang sekali antriannya. Alamat bakal nunggu lama ini, sial.
__ADS_1
Dan setelah menunggu dua jam lamanya akhirnya Gery mendapat giliran untuk menemui si calon nyonya besarnya.
"Maaf ada yang bisa dibantu pak? Pasien hari ini sudah selesai." Seorang perawat menyapa Gery, heran melihatnya mungkin.
"Dia tamuku mbak," Ella merasa wajah pria itu tak asing baginya, kayaknya salah satu dari anak buah mas Ardi deh.
"Baik, kalau gitu saya tinggal dulu dok," si perawat pamit undur diri.
"Selamat siang Bu Ella," Gery memberikan senyuman lebar dan menyodorkan buah tangannya ke meja Ella.
"Apa ini? Dari mas Ardi?" Ella bertanya curiga.
"Bukan, dari saya pribadi Bu."
"Makasih ya, mari silahkan duduk." Ella mempersilahkan Gery duduk di hadapannya. Seperti seorang pasien yang duduk berhadapan konsultasi dengan dokternya.
"Perkenalkan saya Gery, saya adalah pengacara perusahaan pak Ardi." Gery memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Iya, terus kamu mau ngapain?" Ella masih curiga, mengambil milk shakenya dan meminumnya beberapa tegukan.
"Begini Bu Ella," Gery mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari map yang dibawanya. "Saya kesini ingin meminta tanda tangan dari Bu Ella." Ujar Gery to the point.
"Tanda tangan?" Ella semakin insecure, tanda tangan dokumen di hadapan seorang pengacara bukanlah sesuatu yang main-main.
"Jangan khawatir, bukan perkara aneh kok. Malahan Bu Ella bakalan dapat rejeki nomplok." Gery menyodorkan selembar kertas yang perlu di tanda tangani Ella. Selembar materai juga sudah tertempel disana.
"Gak mau, jelasin dulu maksudnya,"
"Coba Bu Ella baca sebentar. Nanti kalau ada yang tidak mengerti silahkan bertanya." Gery melayani dengan sabar.
Ella menurut saja dan membaca beberapa lembar kertas yang disodorkan Gery. Inti dari yang tertulis disana adalah beberapa aset, harta serta nominal-nominal uang. Dan yang lebih parah adalah disitu juga disebutkan namanya sebagai pemilik aset itu.
"Apa-apaan ini? Kok ada namaku disitu? Pasti salah ketik ya?"
"Ya gak mungkin salah ketik donk. Ini dokumen bahkan sudah ACC pengadilan." Gery menahan tawanya melihat reaksi Ella.
"Terus ngapain ada namaku disana?"
"Pak Ardi ingin memberikan perusahaannya pada Bu Ella. Menjadikan Bu Ella sebagai pemegang saham terbesar dari Pradana Construction yang ada di Genting."
"Haaaah?"
"Seperti yang kita ketahui, perusahaan itu murni milik pak Ardi. Jadi terserah dia juga mau diapakan. Dan beliau ingin memberikan 60 persen sahamnya untuk Bu Ella."
"Gak mau!" Ella menjawab tegas.
"Lho kok gak mau? Sini saya jelasin apa saja yang bisa Bu Ella dapatkan."
"Kembalikan ke mas Ardi. Aku gak mau!"
Mampvs. Ini cewek keras kepala. Gak doyan duit! Apa susahnya coba tinggal tanda tangan lalu dapet harta melimpah? Kok malah ditolak?... Benar-benar tipe yang unik. Pantes aja bisa menaklukkan Pak Ardi.
"Anda tidak akan rugi apa-apa, tinggal tanda tangan."
"Saya tidak mau, anda bisa pergi dari sini." Ella semakin marah bahkan sampai menggebrak meja dihadapan Gery.
'Ngeri juga ini cewek kalau marah.'
Fix, Gery gagal mendapat tanda tangan dari Ella bahkan lebih jauh lagi diusir dari ruangannya dengan tidak terhormat. Baru kali ini seumur hidup dirinya gagal bernegosiasi. Siap-siap bakalan disemprot abis-abisan sama Pak Ardi deh nanti dirinya.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan KOMEN yaaaa. Thanx 🌼