
I'm living in the present
My mind is on the past
Not knowing what I'll lose
Not knowing what will last
(*Aku hidup di masa sekarang
Pikiranku ada di masa lalu
Tidak tahu apa yang akan hilang
Tidak tahu apa yang akan bertahan)
Blinded by fears
Drowning in a doubt
Struggling to be free
Looking for a way out
(*Dibutakan oleh ketakutan
Tenggelam dalam keraguan
Berjuang untuk mendapatkan kebebasan
Mencari jalan keluar dan solusi)
_______________________________
Setelah acara makan siang dan sedikit ramah tamah dengan orang tua Ella lagi, akhirnya Roni dan keluarganya mohon pamit undur diri dari rumah Ella. Bukan untuk kembali ke Malang si, lebih tepatnya untuk melanjutkan perjalanan menikmati liburan mereka di Surabaya. Menyenangkan duo comel yang kepanasan dan ingin berenang katanya.
Mereka sekeluarga pun tak ketinggalan mengajak Ella untuk ikut dengan mereka, sekedar ngabisin waktu hari ini. Alhasil disini lah mereka sekarang berada, Atlantis Land yang merupakan wahana bermain dan serta water adventures yang sangat cocok untuk memanjakan para buah hati. Sangat cocok untuk Aisya dan Anisa yang memiliki rasa penasaran dan petualangan sangat besar.
"Om ayo naik itu..." Nisa menunjuk sebuah wahana mobil bom-bom car pada Roni.
"Iya ayo tabrak-tabrakan. Nisa sama Om Oni, Aish sama papa ya. Ayo balapan sapa yang menang." Aish tak mau ketinggalan mengajak papanya.
Kedua gadis kecil itu langsung menggandeng tangan om dan papanya untuk mengambil antrian giliran masuk ke wahana dengan bersemangat. Sementara Ella dan Reni dengan setia menunggui mereka selesai di sebelah pagar pembatas. Bertugas sebagai sie pemotretan nantinya.
Saat mereka akhirnya dapat bermain dan memasuki wahana, mereka semua terlihat sangat bergembira. Baik Roni ataupun Wildan tak ada yang mau mengalah untuk saling balapan, bahkan tak jarang saling pepet dan saling tubruk.
Tabrakan hebat yang membuat para penumpang mobil terpental keras. Tapi mereka lalu tertawa dengan keras dan riangnya setelah tabrakan itu. Dasar bisa-bisanya Roni bahkan mas Wildan mengajari anak gadis yang cantik begitu main tabrak-tabrakan bom-bom car.
Sementara Reni dan Ella yang melihat juga ikutan tertawa. Reni tak jarang berteriak-teriak khawatir akan keselamatan anaknya, saat adik atau suaminya terlalu brutal saling tabrak satu sama lainnya. Membuat Nisa ataupun Aish terguncang-guncang badannya bahkan sesekali terpental dan terbentur. Tapi kedua gadis kecil itu sama sekali tidak takut malah seolah menikmatinya. Tertawa riang dan keterusan minta tabrakan terus.
__ADS_1
"Kalian berdua ini gimana? anak cewek kok diajakin main beginian?" Protes Reni pada suami dan adiknya sekaligus setelah mereka bergabung kembali dengan Ella dan Reni.
"Lho kan mereka sendiri yang minta," jawab Roni.
"Iya, toh mereka seneng banget gitu." Wildan juga tak keberatan. "Emangnya kalau anak cewek mainnya apa?" lanjut Wildan penasaran.
"Merry go round. Tu ada kuda-kudaan naik itu yuk." Reni menawarkan kedua anaknya untuk naik komedi putar dengan kuda berbagai jenis dan warna yang tersusun rapi di wahana itu.
"Ayo, ayooo. Nisa mau sama tante Ella kali ini." Nisa langsung menggandeng tangan Ella mendekati wahana komedi putar.
"Aish sama mama!" Aisha tak mau kalah menggandeng tangan mamanya menyusul mereka.
"Lho Om Oni dan papa gak diajakin?" Roni pura-pura merajuk. Berjalan perlahan bersama Wildan mengikuti langkah mereka semua.
"Gak boleh. Kudanya gak suka sama laki-laki." Aisha menjawab sekenanya saja.
"Iya badan papa berat kasian kudanya." Anisa ikut menambahkan dengan lucunya yang mampu membuat semua orang tertawa gemas karenanya.
Selanjutnya mereka berempat bersenang-senang dengan wahana merry go round itu. Sementara gantian Roni yang menjadi juru foto mereka. Wildan juga bertugas memanggil agar kedua putrinya fokus memperhatikan kamera di arah mereka.
Setelah turun dari wahana kedua gadis kecil itu ternyata masih penasaran untuk menaiki kereta kelinci, perahu columbus bahkan sampai roller coaster. Beneran gak ada matinya mereka berdua ini, seakan batrenya full terus dan terlalu bersemangat. Membuat keempat orang dewasa yang mengikuti mereka kewalahan juga.
"Udah dulu deh mainnya, Nisa, Aish. Papa capek banget. Nanti kan masih harus nyetir mobil juga." Wildan berusaha mengakhiri sesi petualangan mereka muter-muter taman hiburan yang ternyata lumayan melelahkan.
"Yaaaah...belum puas." Nisa merengek.
"Udaranya kan panas banget ini. Kita ke kolam renang aja yuk. Nanti kalian bisa berenang dan mainan air sampai puas sama papa dan om Oni." Reni mencoba mengalihkan perhatian keduanya.
"Iya ni. Di kolam renangnya nanti ada banyak seluncuran juga lo, gak kalah serunya." Roni makin mengompori dan mempromosikan.
"Nah kan tadi udah sengaja bawa baju renang juga kan? Pasti cantik anak-anak papa pakai baju renang." Wildan mengeluarkan rayuan mautnya.
"Ayoo...ayo kita renang cepetan." Nisa mulai tergoda.
"Iya ayo cepetan nanti gak kebagian tempat." Aish gak kalah bersemangatnya.
Baik Wildan, Roni, Ella dan Reni tertawa lepas menyadari keberhasilan mereka merayu kedua putri kecil itu. Kemudian semuanya berjalan beriringan menuju area water park yang cukup luas. Area yang menawarkan kolam renang dengan berbagai kedalamannya. Ditambah lagi area kolam renang khusus anak-anak dengan banyak permainan dan dekorasi yang lucu di dalamnya.
Akhirnya Aisha dan Anisa pun berganti pakaian dengan swimming suit mereka yang lucu banget. Kembar berwana pink dengan model renda-renda. Keduanya langsung saja menceburkan diri kolam dengan ditemani Wildan dan Roni. Sementara Ella dan Reni yang tidak ikut berenang menunggui mereka di gazebo yang tersedia dipinggiran kolam.
Ella dapat menebak kenapa Reni tak mau ikut berenang. Karena jelas saja ini kolam renang umum, dan Wildan tak akan mengijinkan istrinya itu untuk berenang dan menunjukkan lekukan tubuhnya di hadapan pria lain. Yah meskipun dengan memakai baju renang hijab. Tetap tidak boleh.
Sementara Ella? mana berani juga ikutan berenang, apalagi baju renang yang dimilikinya tipe standar. Bukan tipe hijab, bisa berabe juga kan kalau maksain renang memakai baju begituan di depan Wildan, Roni dan banyak pria lainnya disana. Bisa dapat ceramah agama soal aurat wanita kayaknya.
"Wah mereka berdua pinter renang ternyata." Ella memuji kedua putri Reni.
"Hehehe iya. Kakek, papa dan omnya doyan banget ngajakin mereka berenang bahkan saat mereka masih kecil dulu." Reni memberi jawaban.
"Pasti seru banget hehehe." Ella berkomentar.
__ADS_1
"Iya seru banget. Makanya kadang agak bingung juga mereka dengan orientasi gender. Aku si pengennya mereka jadi gadis-gadis manis yang lucu. Tapi kayaknya didikan kakek, papa dan om Oni lama-lama bakal bikin mereka jadi cewek tomboy." Reni mendengus pasrah membuang napasnya.
"Mereka masih semanis seorang putri kok mbak. Lucu dan cantik banget malah." Ella berusaha membesarkan hati Reni.
"Lucu si, karena aku yang maksain mereka memakai segala pernak-pernik dan pakaian yang girly. Yang berwarna pink atau warna-warna khas wanita lainnya. Aku juga yang memaksa memanjangkan rambut mereka. Menanamkan tentang nilai kecantikan dan keanggunan sejak dini."
"Dan sepertinya berhasil. Mereka tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik dan manis." Ella tersenyum membayangkan Reni yang senang untuk berbelanja segala pakaian dan pernak pernik lucu anak perempuan. Pasti sangat menyenangkan.
"Itu cuma bungkusnya aja, El. Diluar memang keduanya terlihat sangat manis seperti putri. Di dalamnya mereka berdua itu sama nakal dan jahilnya seperti anak laki-laki saja. Lihat saja tadi, masa wahana pertama yang diminta adalah bom-bom car?" Reni terlihat sedikit kecewa.
"Ya gak pa-pa mbak kan jiwa petualangan." Ella mau gak mau tertawa juga membayangkan bagaimana Pak Rizal, Roni dan Wildan mendidik Aish dan Nisa. Mendidik dan mengajari segala permainan ala pria.
"Mereka itu ya, sukanya naik sepeda, main sepatu roda, main tembak-tembakan, main mobil-mobilan. Yah meski aku masih sering mencekoki mereka dengan boneka, bunga dan berbagai hal manis lainnya si...Tapi lama-lama pengen kumenangis juga jadinya melihatnya."
"Hahaha gak singkron ya mbak?"
"Iya bayangin aja. Mereka udah aku pakaikan gaun cantik yang berenda-renda dan berbunga-bunga tapi malah yang dipegang pistol-pistolan...Duh didikan siapa coba? Kumenngis deh rasanya."
"Hehehe iya bener juga si. Tapi kan mereka masih kecil mbak. Nanti kalau sudah gedean juga bisa menentukan orientasinya sendiri. Memilih apa yang mereka sukai sendiri." Ella kembali menghibur Reni.
"Ya semoga saja deh," Reni tertawa ringan menanggapi ucapan Ella sambil meneruskan kegiatannya melipat pakaian-pakaian anak, suami dan adiknya.
Baik Ella maupun Reni terdiam kemudian terdiam, kehabisan topik bahasan. Keduanya menjadi sedikit canggung dan akhirnya memilih untuk mengamati keempat orang yang sedang asik berenang di kolam tanpa berkata-kata.
"Sebenarnya mama sama papa mau ikut tadi main dan silaturahmi ke rumahmu. Pengen kenalan sama orang tuamu katanya." Reni memulai pembicaraan yang lebih serius beberapa saat kemudian.
"Om dan Tante? Kenapa gak ikut saja? Kan seru rame-rame." Ella menanggapi.
"Hmmm...Kata orang jawa si, kalau orang tua dari pihak laki-laki datang itu artinya sudah melamar. Mereka memang ingin secepatnya menjadikan kamu menantu. Tapi tetap saja kan gak mungkin untuk melamar kamu tanpa minta ijin dahulu." Reni menjelaskan alasan tidak mengajak kedua orang tuanya.
"Makanya hanya aku dan suamiku yang datang sebagai permintaan ijin hari ini."
"Oh...begitu." Ella tertegun dengan kesopanan dan kehalusan pekerti keluarga Suherman ini. Mereka sangat menjaga perasaan Ella dan keluarganya. Tidak main lamar saja, gak kayak seseorang yang sudah sangat bernapsu dan main lamar saja hehe.
"Yah tapi berhubung kamu minta penundaan lagi, sepertinya kunjungan berikutnya juga masih belum bisa ditentukan ya?" Reni sedikit menyerempet dan menyelidik alasan penundaan Ella.
"Iya...Sepertinya begitu." Ella merasa bersalah karena penundaan yang dilakukannya sebagai jawaban. Karena telah mengecewakan seluruh keluarga mereka.
"El...jujur sama mbak, kamu ada apa sama Roni? Kalian lagi ada masalah ya?" Reni tiba-tiba bertanya menyelidik, mungkin dapat merasakan ada yang tidak beres dengan hubungan Ella dan Roni.
Ella kaget mendengar pertanyaan Reni. Apa Reni dapat membaca segala rasa ragu dalam hatinya? Apa Reni curiga akan retaknya hubungannya dengan Roni?
Butuh beberapa saat bagi Ella sebelum menjawab. Berusaha memantapkan hatinya untuk dapat mengungkapkan kenyataan yang terasa pahit.
"Maaf mbak. Aku masih ragu. Mungkin aku dan Roni gak bisa untuk melanjutkan hubungan kami."
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼
__ADS_1