Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
94. S2 - Unexpected Couple


__ADS_3

"Kayaknya itu Pak Maheswara deh." Cindy menunjuk pada suatu arah ruangan pesta.


"Mahes?" Ardi bertanya sedikit keheranan. Masa iya sih Mahes mau datang ke acara beginian? Gak kuliah apa dia? Atau pas libur ya? Mau tidak mau Ardi mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Cindy.


Dan benar saja, dari tempatnya berdiri Ardi dapat melihat Mahes sedang berdiri sendirian sambil menikmati hidangannya. Tanpa pikir panjang Ardi segera mengajak Cindy untuk menghampiri sepupunya itu.


"Yo, Mahes! Tumben dateng ke acara ginian?" Ardi menyapa Mahes begitu jarak mereka sudah dekat.


"Ardi?!" Mahes sedikit kaget melihat Ardi datang menghampirinya. Kayaknya dia tidak menyangka Ardi akan hadir juga di acara ini. Setelah mengatasi kecanggungannya Mahes memberikan bro-hug kepada Ardi sebagai sapaan. Dia juga menyalami Cindy dengan sopannya layaknya seorang gentleman.


"Kok kaget gitu si liat aku kayak liat hantu aja?" Ardi merasa ada yang salah dengan sikap Mahes padanya malam ini.


"Tumben aja kamu mau dateng di acara ulang tahun bapak-bapak kayak gini." Mahes berusaha menjelaskan keheranannya.


"Awalnya si papa dan mama yang diundang. Tapi mama males dateng katanya, males ketemu nyonya Rajasa. Biasa ditanyain mulu kapan mantu, kapan punya cucu. Jadi aku yang disuruh tanggung jawab dateng. Karena menurut mama akulah penyebab mereka belum mantu dan punya cucu sampai sekarang. Logika yang gak masuk akal." Ardi menjawab sambil setengah curhat.


"Hahahaha kok kayaknya nasibmu hampir sama kayak aku." Mahes ikut ketawa. "Mama juga gak mau datang dan nyuruh aku kesini, alasannya sama saja dengan mamamu.Tapi emang gila ya si Nyonya Rajasa mulutnya pedes banget. Mentang-mentang anaknya pada nikah muda dan cucunya banyak. Seolah bagi mereka banyak anak dan banyak cucu adalah segalanya, bentuk kejayaan tersendiri." Mahes jadi mengingat alasan kedatangannya ke acara ini karena perusahaan obat Hartanto Group ada yang bekerja sama dengan Rajasa Group. Tidak sopan untuk tidak menghadiri undangan mereka.


"Kamu datang sendirian?" Ardi bertanya agak menyelidik. Masa iya Mahes berani datang ke pesta tanpa bawa pasangan? Paling tidak dia kan bisa membawa Sari, adiknya jika terpaksa tak punya gandengan. Karena sama tidak mungkinnya bagi Mahes seperti Ardi untuk hadir ke pesta manapun sebagai pria singgle.


"Kamu sih enak ada Cindy yang bisa gantiin posisi Ella buat nemenin..."


"Shut up!" ucapan Mahes terhenti saat karena Ardi tiba-tiba menyelanya dengan marah.


"Aduh Pak Mahes ini salah paham. Saya cuma nemenin Pak Ardi sebagai sekretaris saja kok. Business matter only." Cindy membantu menjelaskan posisinya terhadap Ardi, berusaha mencairkan suasana.


"Owh sorry," Mahes meminta maaf, merasa tidak enak. Sebenarnya dirinya sudah tahu benar bahwa tak mungkin Ardi dapat semudah itu untuk melupakan Ella. Tetapi ada satu sisi lain dari dirinya juga yang mengharapkan bahwa Ardi, sepupunya itu bisa move on dan menemukan cinta yang lainnya dari gadis yang lain. Agar hidup Ardi bisa lebih tenang dan bahagia.


Pembicaraan mereka terhenti saat seseorang menghampiri mereka bertiga. Sesosok wanita cantik dengan cocktail dressnya yang membuatnya semakin menawan, Larasati.

__ADS_1


"Mas Mahes, maaf ya lama nungguinnya..." Laras sedikit kaget menyadari Ardi dan Cindy berdiri di samping Mahes. "Lho Mas Ardi? Kak Cindy? Kok kalian ada disini?"


"Maheeeeesss!!!" ujar Ardi dengan geram. Tak mengira bahwa pasangan yang dibawa Mahes sebagai alibinya adalah Laras, adiknya sendiri. Bahkan Mahes pun tak pernah berkata apapun padanya mengenai hal ini.


"Justru harusnya aku yang nanya sama kamu, kamu ngapain disini? Mama dan papa tahu kamu hadir di pesta ini? Sama Mahes?" Ardi menjawab Laras dengan nada meninggi.


"Errr sorry, Di. Ini aku yang meminta Laras untuk nemenin tadi. Dadakan tadi sepulang jaga di RS, jadi belum sempet minta ijin orang tua kalian." Mahes mencoba menjelaskan.


"Eh, brengsek! Gak gitu juga kali caranya bawa keluar anak gadis orang!" Nada bicara Ardi makin meninggi. Entah mengapa dia merasa tak suka dan marah dengan sikap Mahes kali ini.


Mau tak mau Ardi jadi teringat kejadian dirinya dengan papa Ella tentang ijin membawa putrinya pergi waktu itu. Pantas saja beliau semarah itu padanya. Jadi beginilah rasanya kecewa dan kecemasan seorang ayah atau kakak terhadap keselamatan anak atau adik perempuannya.


"Mas Ardi ini apa-apaan si?" Laras malah memarahi Ardi, membela Mahes. Dia merasa Ardi sedikit berlebihan dalam bersikap. Apalagi di tengah keramaian kayak gini. "Gak lucu deh, Mas. Kalian berdua kayak gak pernah kenal aja sebelumnya."


"Udah Pak, sabar dulu. Tenang-tenang jangan emosi. Tuh liat, udah banyak orang-orang yang ngeliatin kita ni. Bener kata Laras gak lucu kalau kita jadi pusat perhatian karena pertengkaran ini." Cindy mengeratkan pegangan tanganya pada Ardi. Berusaha meredakan emosi bossnya yang meninggi.


"Nanti akan aku anterin Laras pulang sekalian ngomong sama papa dan mama kalian." Mahes mencoba memperbaiki citranya di depan Ardi. Yah emang salah sih apa yang dilakukannya dengan membawa Laras tanpa ijin. Tapi tadi mamanya menyuruhnya ke pesta ini benar-benar mendadak. Dan Sari kebetulan sudah keluar bersama pacarnya. Dan kebetulannya lagi Mahes melihat Laras sedang berjaga di UGD rumah sakitnya. Iseng saja Mahes mengajak gadis cantik itu, eh siapa yang mengira Laras akan mau menerima ajakannya.


"Mas Ardi, jangan keterlaluan kayak gitu!" protes Laras.


"Di, tolong kasih aku kesempatan please." Mahes sedikit memohon pada Ardi.


"Udahlah pak, lagian Pak Mahes kan juga saudara sepupu bapak. Hubungan kalian sangat dekat masa kaya gini aja gak bisa dimaafkan." Cindy ikut merayu Ardi.


"Ok. Tapi besok pastikan kamu nemuin aku ke kantor." Ardi akhirnya mengalah. Yah besok aja dibicarain lagi. Pastinya Mahes juga gak mungkin punya niat buruk pada Laras.


"Kita lanjutin greeting aja yuk sama kandidat investor. Yang mana dulu pak?" Cindy mencoba mengalihkan perhatian Ardi ke tujuan utama kedatangan mereka.


"Kalian butuh dana?" Mahes bertanya penasaran. Ada apa lagi kira-kira di perusahaan Pradana. Apa Ardi berulah lagi?

__ADS_1


"Biasa lah rombak dikit-dikit sana sini," jawab Ardi enteng.


"Yaelah kamu kalau mau main rombak juga pake hati dan perasaan donk, Di." Mahes mengingatkan Ardi agar tidak terlalu keras dan saklek dalam mengambil keputusan yang menyangkut nasib banyak orang.


"Ini udah lebih halus lho. Setahun yang lalu lebih parah lagi malah." Ardi menjawab.


"Parah memang tahun lalu kami sampai harus berlarian kesana kemari ngejar segala sesuatu. Target dan tujuan gak jelas. Terlalu banyak yang harus diurusin. Lembur total berbulan-bulan." Cindy menceritakan penderitaannya pada masa awal-awal kepeminpinan Ardi sebagai CEO Pradana Group.


"Tapi worthed kan sama uang lemburnya." Ardi masih membela dirinya. Merasa dia sudah memberikan reward yang pantas untuk beberapa pegawainya yang berjasa.


"Iya sih. Terutama saya tak masalah dengan cara kerja Pak Ardi. Udah kebal hehe." Cindy mengakui bahwa dirinya sudah terbiasa dengan working pace dengan Ardi. Sudah hafal benar dengan hobi kebut-kebutan Ardi dalam meyelesaikan pekerjaannya.


"Dasar kalian berdua emang partner bisnis yang cocok. Workaholic parah." Mahes mendengus pasrah menyadari hobi lembur dan kerja gila-gilaan Ardi.


"Yaudah kita jalan dulu. Sapa tahu nemu investor yang sevisi misi." Ardi pamit pada Mahes dan Laras, mengajak Cindy pergi meninggalkan mereka. Menghampiri Randy Wijaya, target pertama yang kebetulan tertangkap pandangan mata Ardi. Tuan muda Wijaya group ini merupakan teman Ardi di grup bisnismannya juga.


"Ok good luck ya," Mahes menjawabnya.


"Maaf ya Mas Mahes, Mas Ardi agak sedikit keterlaluan tadi." Laras berkata pada Mahes setelah kedua orang tadi pergi. Merasa tak enak dengan sikap kasar Ardi pada Mahes.


"Gak pa-pa. Wajar aja kok, Ras. Aku yang salah juga si bawa kamu tanpa ijin. Gak seharusnya aku membawa gadis baik-baik pergi tanpa meminta ijin orang tuanya atau kakak laki-lakinya." Mahes malah mengakui kesalahannya. "Maaf ya aku udah ngerepotin kamu dan bikin kamu susah."


"Gak usah dipikir lagi deh mas, santai aja," jawab Laras. Sebenarnya dia malah seneng banget Mahes mau mengajaknya ke pesta. Memang entah sudah berapa lama dirinya memendam rasa sukanya pada Mahes. Tapi Laras terus saja menekan perasaannya dan tak berani mengungkapkan perasaannya. Karena keakraban, serta hubungan kedekatannya dengan Mahes, karena dia takut Mahes hanya menganggapnya sebagai adik kecilnya, sebagai adik sepupunya atau sebagai adik dari sabahatnya saja. Laras takut Mahes tidak menganggapnya sebagai seorang wanita. Seorang wanita yang bisa dijadikan pasangan baginya.


"Yuk kamu makan-makan dulu sampai puas, abis itu aku anterin kamu pulang. Gak enak kalau kemaleman." Mahes mengajak Laras berkeliling ruangan pesta untuk memilih hidangan yang disuguhkan disana.


"Ok, aku laper banget ni tadi banyak pasien tindakan di IGD." Laras menyetujui. Memang dirinya belum makan apa-apa setelah jaga di IGD tadi. Akhirnya mereka berkeliling berdua menjelajahi berbagai booth makanan.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2