
Suasana malam jumat di Tunjungin Plaza Surabaya ramai sekali. Bahkan parkiran pun penuh sampai mereka harus naik terus untuk mencari tempat parkir yang kosong. Ella jadi heran padahal bukan week end kenapa bisa seramai ini.
Akhirnya mereka menemukan parking lot kosong dan Ardi memarkir mobil mereka di parkiran lantai 5 itu. Dari sana mereka berdua berjalan beriringan memasuki mall terbesar di Surabaya ini.
"Mau kemana dulu kita?" Tanya Ardi sambil terus melangkahkan kakinya perlahan ke arah deretan restoran dari berbagai nama dan macam masakannya.
"Mas Ardi lapar? Kita makan dulu yuk." Ella dapat menebak kalau Ardi sedang kelaparan.
Sangking laparnya sampai-sampai alam bawa sadar pria itu membawanya berjalan ke deretan gerai makanan. Area yang menebarkan aroma masakan yang harum kemana-mana.
"Hehe kok tahu? Tadi siang cuma makan roti di bis. Sekarang jadi lapar banget."
"Mau makan apa ni?" tanya Ella.
"Makanan jepang. Tu ada Hanamasa, kesana aja yuk." Ardi menunjuk salah satu gerai makanan dan berjalan ke arahnya.
"Eh tapi disana kemahalan," Ella memprotes.
Dia memang tak pernah makan di restoran hanamasa tetapi dia pernah dengar dari temannya kalau makan disana harus siap untuk merogoh kocek dalam-dalam.
'Sayang banget kan kalau hanya untuk sekali makan harus menghabiskan uang ratusan ribu bahkan sampai jutaan rupiah', pikir Ella.
"Kan hari ini aku udah janji mau bayarin kamu. Kamu minta apa aja boleh," jawab Ardi santai sambil terus melangkahkan kakinya ke Hanamasa masuk ke dalam restoran itu.
Mereka mengambil salah satu meja di pojokan. Di atas meja sudah kami sudah tersedia griller di atasnya. Rupanya Ardi sedang ingin makanan panggang. Ardi berjalan ke counter untuk memesan suatu menu makanan untuk mereka berdua dan tak lama kemudian dia kembali lagi dengan membawa beberapa piring daging.
Seorang pelayan juga membantunya membawakan sisa pesanan yang tidak bisa dibawa sendiri oleh Ardi.Tak lama kemudian berbagai macam makanan dan minuman telah terhidang di atas meja.
"Waduh kok banyak banget mas?" Ella keheranan melihat makanan sebanyak itu dimeja. Bahan mentah semua lagi.
"Namanya juga all you can eat. Makan aja semua sampai kenyang hehe." Ardi mulai menyalakan kompor dan mulai memanggang daging sapi, daging ayam, sosis, tempura, udang, sampai sayuran juga diatasnya.
"Heran ya, restoran mahal-mahal kok disuruh masak sendiri," celetuk Ella.
"Hahahaha justru disitu sensasinya. Sambil nungguin mateng bisa sambil ngobrol kan?"
"Oiya mas tadi waktu berduaan sama papa, beliau ngomong sesuatu gak?" Ella menanyakan sesuatu yang dari tadi mengganjal pikirannya.
"Iya donk," ujar Ardi singkat.
"Ngomongin apa?" Ella bertanya ingin tahu.
"Banyak hal. Intinya beliau mengingatkan aku buat sabar menghadapi kamu. Karena Ella adalah gadis manja yang selalu dimanjakan sebagai anak tunggal."
"Eh tapi kok kamu gak pernah manja ke aku si?" Jawab Ardi sambil membolak-balik daging nya yang matang.
"Emang mas Ardi suka cewek manja?" Ella sedikit menyelidik.
Haduh apaan si papa, ngomong apa coba ke mas Ardi? Ella memang waktu kecil sering bermanja-manja pada kedua orang tuanya. Tetapi setelah dewasa dia tak lagi melakukannya.
"Nggak juga. Tapi sekali-kali manja ke aku juga gak papa kok. Biar kelihatan manis hehe."
"Oh gitu..." Ella sedikit merenungkan ucapan Ardi. "Terus, papa ngomong apa lagi?"
__ADS_1
"Kayaknya papamu agak gak rela kalau kamu aku bawa pergi nantinya."
"Haaah? Dibawa pergi kemana?"
"Lho kalau kamu nikah sama aku kan kita akan tinggal di Genting, El? Sama saja kayak aku bawa kamu pergi jauh dari rumah kan?"
"Tunggu-tunggu, kok udah jauh banget gitu ngomongnya?" Ella merasa pembicaraan ini sudah terlalu jauh.
Dia memang menyukai Ardi, dia memang ingin menjalin hubungan yang serius dengan Ardi. Tapi untuk menikah, Ella belum kepikiran sama sekali.
"Kan aku ditanyain serius gak sama Ella. Ya aku jawab serius. Terus nyambungnya kesitu."
"Kalau gak tinggal di Genting gak bisa ya?"
"Bisa saja si. Ella mau tinggal dimana? Tinggal beli rumah aja disana, beres. Di Surabaya? Atau kota lainnya juga boleh." Ujar Ardi santai sambil melanjutkan proses memasaknya.
Ella terperangah mendengarnya. Gampang banget dia bilang tinggal beli rumah aja, seakan-akan semudah beli gorengan.
"Emang mas Ardi udah pingin cepet-cepet nikah?"
"Hmmm gimana ya..."Ardi terlihat sedikit berfikir keras.
"Dibilang ingin juga ingin. Tapi aku santai si, terserah Ellanya aja maunya cepet-cepet atau pelan-pelan aja"
Ella kembali terdiam memikirkan perkataan Ardi. Sedikit senang juga karena pria itu memberinya kebebasan, tidak memaksanya untuk segera cepat-cepat mengakhiri masa lajangnya. Karena Ella memang masih ingin melakukan banyak hal, Ella juga masih ingin mengenal sosok Ardi lebih jauh lagi.
"Gak usah terlalu dipikirin dulu. Kita juga baru resmi pacaran 5 hari," Ardi mengambil daging-daging yang telah matang ke piring dan menyodorkanya ke Ella.
Ella mengambil sumpit dan mengambil sebuah daging bakar, dicelupkannya di salah satu saus lalu dimakannya "Hmmmm enak. Beneran enak banget," ujar Ella kegirangan.
"Hehe Kalau gitu makan yang banyak," Ardi menambahkan beberapa daging lagi ke piring Ella.
Sudahlah begini saja untuk saat ini, dia tak bisa terlalu memaksakan Ella untuk terburu-buru. Tak ingin gadis itu pergi dan menghilang lagi darinya.
'Akan kuikuti saja bagaimana kemauan Ella' pikir Ardi.
Cukup lama mereka menghabiskan waktu untuk makan di Hanamasa restoran, karena mereka harus memasak dan menunggu semuanya matang dahulu sebelum akhirnya dapat menyantapnya. Jujur saja waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan makanan itu jauh lebih singkat daripada waktu untuk proses memasaknya.
"Setelah ini kita mau kemana?" Ella bertanya rencana perjalanan selanjutnya.
"Beli baju. Aku gak bawa baju ganti sma sekali," jawab Ardi santai. Kemudian dia beranjak ke kasir dan menyerahkan kartu kreditnya sebagai pembayaran. Ella mengikuti saja dari belakangnya.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan menyusuri etalase-etalase toko yang menawarkan berbagai macam barang dagangan. Mulai dari pakaian, aksesoris sampai parfum dan berbagai jenis makanan, cemilan serta minuman pun ada.
Ardi mengajak Ella mampir ke salah satu gerai Planet Ocean distro dan memilih sebuah t-shirt berwarna hitam bermotif simple yang dibandrol dengan harga puluhan dolar. Haduh ngapain coba beli kaos aja harus yg harganya pakai dolar, pikir Ella.
"Ella mau sekalian beli? Pilih aja," Ardi menawarkan pada Ella.
Ella melemparkan pandangannya ke sekeliling dan pandangannya tertuju pada Couple set t-shirt yang dipakai oleh dua manekin laki-laki dan perempuan.
"T-shirt couple kayak gitu kalau boleh," Ella menunjuk.
"Boleh. Pilih saja mau warna apa?" jawab Ardi enteng. Diajaknya Ella untuk mendekati deretan t-shirt couple yang dipajang disana.
__ADS_1
"Warna yang sekiranya bisa dipakai mas Ardi juga. Navi?" Ella menunjukkan sepasang t-shirt bertuliskan °you and me° dan °Me and you° dengan detail simpel.
Kain yang digunakan untuk T-shirt itu terasa halus dan sangat nyaman dipegang. Iseng saja Ella mengecek bandrol harga sepasang t-shirt itu.
Gila untuk sepasang kaos kayak gitu aja bisa sampai ratusan dolar? Bisa buat beli nasi bungkus berapa banyak coba? Dengan ragu Ella mengembalikan kedua kaos yang dipengangnya ke gantungan baju.
"Lho kok gak jadi? Itu tadi bagus kok," Ardi berkomentar sambil mengambil kembali kedua t-shirt yang barusan dikembalikan Ella.
"Kemahalan mas. Cari yang lain aja."
Ardi tertawa renyah mendengar jawaban Ella. Masa ratusan dolar aja dia bilang kemahalan? Ella memang benar berbeda dengan kebanyakan wanita lain yang pasti akan memilih apapun yang paling mahal kalau dapat voucer belanja unlimited begini.
"Mahal? Asal kamu suka aja gak masalah," Ardi bersikeras mengambil kedua kaos itu.
"Ada lagi yang kamu inginkan? Katanya tadi mau minta belikan sesuatu? Katanya mau ngabisin uangku sampai aku menyesal?" tantang Ardi sedikit menggoda Ella.
"Udah dulu yang disini ini aja" Ella berjalan ke arah kasir dan Ardi mengikutinya, meletakkan barang belanjaannya dan membayar semuanya dengan kartunya. Kartu serbaguna seperti kantong ajaib Doraemon.
Setelah itu mereka melanjutkan lagi jalan-jalannya sambil sesekali melakukan window shopping. Melihat-lihat saja apa yang sekiranya menarik perhatian mata mereka.
"Aku ingin membeli waktu," ujar Ella tiba-tiba saat mereka melewati sebuah toko yang menjual jam tangan branded dengan berbagai merk terkenal.
"Waktu yang berjalan hanya untuk kita berdua. Jadi itu yang kamu minta?" Ardi seakan mengerti maksud dari ucapan Ella.
Diajaknya Ella memasuki toko jam tangan itu. Mereka menghampiri counter dimana penjual menanyakan apa yang sedang mereka cari.
"Bentar lihat-lihat dulu," jawab Ardi pada sang penjual. Untuk memberi mereka berdua waktu berkeliling toko dan memilih barang yang mereka sukai.
"Waduh kayaknya kita salah masuk toko ini," bisik Ella pada Ardi saat melihat harga-harga yang tertera di masing-masing jam tangan yang dipajang di display. Dari sekian banyak harga yang tertera tak ada satupun yang dibawah satu juta.
"Gak papa pilih saja. Ella maunya yamg mana? Asal kamu suka akan aku belikan," Ardi mendahului Ella mendekat ke counter untuk memilih, biar aku aja yang pilih pikirnya.
Si Ella mungkin gak bakal mau memilih begitu melihat harga-harga jam tangan itu. Terlalu mahal menurut Ella, tapi bagi Ardi tak ada yang terlalu mahal jika itu untuk diberikan pada pada gadis yang dicintainya.
Pilihan Ardi tertuju pada jam tangan fossil dengan tali coklat dan layar jam putih. Detailnya simple dan elegan. Cukup netral untuk dipakai pria dan wanita. Ardi cepat-cepat membelinya dan membayarnya sebelum Ella sempat memprotes.
Sang penjaga toko menawarkan untuk mengukur pergelangan tangan mereka. Kalau-kalau mereka membutuhkan lubang tambahan pada tali jam tangannya.
Betapa kagetnya Ella saat melihat bandrol harga jam tangan yang baru saja dibeli oleh Ardi. Kedua jam tangan itu berharga lebih dari lima juta rupiah untuk masing-masing jam!
Gila, sultan memang berbeda dengan rakyat jelata ya. Ngeluarin uang berjuta-juta begitu dengan santainya dan tanpa perasaan bersalah sama sekali.
"Bagus sekali di tanganmu, El." Puji Ardi saat Ella mencoba jam tangannya.
Ardi pun juga mencoba jam nya, kemudian dia mensejajarkan tangannya dengan tangan Ella. Tangan mereka berdua yang memakai jam berpasangan.
"Cocok kan?"
"Hehehe Iya cocok," jawab Ella dengan sangat tidak berdaya. Seperti rakyat jelata yang tidak berdaya dan tidak dapat berkutik sama sekali di hadapan sang Sultan.
~∆∆∆~
🌼Tolong klik RATE (⭐⭐⭐⭐⭐), JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR and GIFTS Makasih 😘🌼
__ADS_1