
Beberapa hari telah berlalu sejak ujian tahap awal penerimaan PPDS dan sesuai jadwal hari ini adalah hari pengumuman kelulusan tes tersebut. Jika berhasil lulus tes tahap pertama ini maka akan dijadwalkan untuk dapat mengikuti tes tahap kedua. Dan setelah itu barulah tinggal menunggu pengumuman final diterima atau tidaknya untuk dapat melanjutkan pendidikan spesialis di Uner.
Mulai tadi malam, middle nite Roni sudah stand by mantengin website PPDS Uner. Mencari-cari kabar tentang pengumuman mereka. Tetapi sampai pagi pun masih belum ada kabar. Sementara Ella lempeng banget santai, tak ada beban. Dia sama sekali gak kepikiran buat begadang nungguin pengumuman online malam-malam. Toh besok pasti Roni sudah heboh ngabarin berhasil lulus nggaknya mereka, pikir Ella.
Dan benar saja waktu selesai pelayanan poli, Roni langsung ke UGD dengan heboh dan bersemangatnya. Mencari Ella untuk menunjukkan pengumuman kelulusan di website resmi PPDS Uner. "El! Lulus El! Aku lulus tes tahap pertama!!" Ujar Roni kegirangan menunjukkan layar hand phonenya pada Ella.
"Wah selamat ya, Ron." Ella menyalami Roni, memberi selamat. "Selamat berjuang untuk tes tahap kedua hehe"
"Duh kok diingetin ujian lagi. Seneng-seneng dulu donk" Protes Roni sewot. "Kamu gimana? Udah cek website? Pasti lulus si kalo kamu?" Lanjutnya bertanya pada Ella.
"Hush gak boleh Over convident jadi orang. Aku belum cek si. Kan nungguin kamu ngabarin aku hehe" Aslinya sih Ella males aja ngecek website Uner yang pastinya sedang lemot saking crowded-nya yang online kesana.
"Bentar aku cek-kan bagian interna..." Roni mengutak-atik hand phonenya beberapa saat. "Noh jelas lulus Amellia Rieka Safitri. Selamat ya, El. Semoga sukses juga di ujian tahap dua"
"Mana mana?" Ella penasaran pengen liat juga. Roni menyodorkan ponselnya ke arah Ella. Dan Ella dapat melihat namanya terpampang disana, urutan kedua.
"Ujian keduanya sabtu depan El. Enak kalau sabtu sekalian Week end pulang kampung bentar." Roni menginfokan.
"Wah iya enak kalau sabtu gak perlu bolos lagi hehe." Ella menyeletuk. Masih teringat dirinya harus ijin tidak masuk jaga puskesmas dua hari gara-gara ujiannya kemarin. Alhasil dirinya nanti harus mengganti dua harinya itu pada hari lain setelah selesai jadwal iship.
"Curang kamu bolos gak bilang-bilang. Tau gitu aku juga bolos aja kemarin, ngapain buru-buru balik kesini." Gerutu Roni kesal mengingat Ella yang memanjangkan ijinnya sehari sementara dirinya tetap jaga.
"Hahaha kamu kan dokter teladan, Ron. Benar-benar mengabdi kepada nusa dan bangsa." Kelakar Ella.
"Asyeeeeem", Roni mengumpat. "Pokoknya ntar aku balik ke Malang dulu abis tes kedua. Udah kangen emak"
"Iya kelamaan gak pulang, ntar emakmu lupa wajah anaknya lho hehe," canda Ella.
"Gak mungkin lupa lah. Wong anaknya ganteng gini," ujar Roni tidak terima.
"Ganteng-ganteng tapi jomblo ya dok? Hahahhaa." Tiba-tiba Tatang salah seorang perawat yang betugas jaga menyeletuk dengan santainya. Emang ini anak terkenal paling gokil dan bertindak sebagai maskot dan sie penghibur suasana puskesmas.
"Wah sesama jomblo gak boleh saling nusuk, mas!" Roni tak mau kalah membalas.
"Beda dok. Dok Roni kan high quality jomblo sementara aku? Jomblo apa adanya hehe." Ucapan Tatang kali ini terdengar pasrah, lagi curhat kayaknya. Membuat Ella dan Roni mau gak mau ikut ngetawain juga nasib Tatang.
"Tu herdermu datang El. Buruan samperin, capek aku dijelesin mulu ama dia." Roni menunjuk mobil honda jazz merah yang baru tiba dan parkir di depan UGD. Memang udah kebiasaan Ardi untuk mengencani Ella di jam makan siang akhir-akhir ini. Membuat seluruh crew puskesmas hafal dengan mobil merah itu atau kadang mobil hitamnya.
"Aku keluar makan siang duluan ya, ada yang mau nitip?" Pamit Ella sambil menawarkan.
"Ogah. Males nitip tar digigit herdemu. Mending kita makan siang bareng aja ya mas Tatang? Jomblo party," jawab Roni.
"Setuju dok. Apalagi klo dibayarin tambah setuju." Tatang makin ngelunjak minta dibayarin tapi Roni sama sekali tidak keberatan dengan permintaannya. Yah beliin nasi bungkus di warung sekitaran puskesmas emang gak bakal bikin Roni bangkrut.
Ella menghampiri Ardi yang menunggu di dalam mobilnya. Betapa kagetnya dia saat memasuki mobil, didapatinya Ardi yang sedang menyodorkan buket buah yang indah dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
Di buket itu telah tertata apik berbagai mqcam buah seperti anggur merah, jeruk, apel merah dan delima. Beberapa kuntum mawar berwarna orange dan kuning juga turut hadir menghisasi buket. "Selamat ya sayang, udah lulus ujian tahap pertama" Ujarnya menyerahkan buketnya pada Ella.
Ella segera menerima buket itu, kaget, speachless, seneng dan terharu biru. Tapi bingung apa yang harus dilakukan. Masa dicium ini buketnya? Kalau bunga si iya, lha ini buah-buahan lho. Yah meski ada bunga-bunganya juga si sebagai hiasan.
But one importand thing is Ardi is devinetely so sweet. His love can makes Ella flying wihtout wings to the sky.
(*Yang terpenting dari ini adalah sikap Ardi yang sangat manis. Perhatiannya dapat membuat Ella terbang tanpa sayap ke langit).
"Makasih lho mas, How sweet are you." Ujar Ella kegirangan sambil senyum-senyum sendiri. (*Kamu manis banget)
"Udah gitu doank? Aku gak dikasih apa-apa sebagai balasan?"
"Hah? Emang mas Ardi mau dikasih apaan?"
"Kasih apa kek? Light kiss juga boleh."
Dieeeng...Wajah Ella memerah seketika. Udah semerah apel di buketnya mungkin. Duh aneh-aneh aja ini mas Ardi mintanya. "Apaan sih mas, jangan minta yang aneh-aneh." Protes Ella.
"Yaudah gak jalan-jalan ini mobil sebelum dikasih kiss..." Ardi merajuk manja.
Ella terdiam cukup lama, terlihat berpikir keras. "Merem dulu kalau gitu..."
"Lho kok merem? Gak kerasa donk!"
"Yaudah kalau gak mau merem, gak jadi..."
Ardi memejamkan matanya. Sementara Ella bergerak perlahan mendekatkan tubuhnya ke arah Ardi. Dengan gerakan yang sangat cangung Ella mendaratkannya bibirnya ke sebelah pipi Ardi. Kecupan ringan dan singkat tetapi terasa sangat manis dan dapat membuat jantung mereka berdua berdebar dengan sangat cepat tak karuan. Seperti genderang perang mahabarata saja. Sampai-sampai rasanya keduanya dapat mendengar debaran jantung satu sama lain.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Ella menarik tubuhnya menjauh dan kembali duduk di kursinya. Sementara Ardi dengan kikuknya segera melajukan mobilnya meninggalkan parkiran puskesmas.
"U, udah ya.." Ella memastikan telah memenuhi permintaan Ardi.
"Gak kerasa...Kapan-kapan kasih yang lebih kerasa ya?" Ardi makin jahil menggoda Ella. Sedikit kaget juga si ternyata Ella berani juga menciumnya seperti tadi, yah meski cuma kecupan ringan. Better than nothing hehe.
(* Lebih baik daripada tidak sama sekali).
"Yeee enak aja!" Ella membuang wajahnya yang kembali memerah. Mengalihkan pandangannya pada buket buah di pangkuannya. "Kok kasih buah? bukannya bunga aja?" Tanya Ella penasaran.
"Biar berguna. Bisa kamu makan juga, masuk perutmu. Kalau bunga paling bagus doank. Abis itu dibuang masuk tong sampah." Jawab Ardi dengan santainya.
Mau tak mau Ella jadi tertawa cekikian mendengar logika Ardi. Bener juga si, buket buah lebih berguna. Dasar Sultan satu ini emang sering anti-mainstream. "By the way kok tahu kalau aku lulus ujian?"
"Si Mahes tadi pagi-pagi udah heboh aja nelpon. Ngabarin kamu lulus ujian. Titip salam juga ama kamu."
"Eh? dokter Mahes nitip salam apa?" Mau tak mau Ella jadi teringat wajah teduh Mahes.
__ADS_1
"Dia bilang 'Selamat ya'. Gitu doank...Kok kamu kayak seneng banget gitu?" Ardi melirik Ella, ada rasa tidak suka melihat gadis itu senyam-senyum sendiri mikirin Mahes.
"Titip salam juga ya. Bilangin 'makasih banyak'." Ella yang menyadari Ardi mulai cemburu, makin menggoda pria itu.
"Ogah! Males banget jadi tukang pos!" Ardi menjawab sambil bersungut-sungut. Membuat Ella tertawa cekikikan tanpa sanggup tertahan.
"Ujian keduanya kapan?" Ardi bertanya mengalihkan pembicaraan.
"Sabtu besok. Tiga hari lagi."
"Kalau sabtu aku bisa nganterin."
"Hah? Seriusan?" Ella betanya kaget. Memang kalau week end biasanya Ardi libur si. Tapi belakangan ini bahkan week end pun dia tetap sibuk. Malah week end-nya sering dipakai untuk ke Banyu Harum. Mengurusi perusahaan yang ada disana.
"Serius. Ntar aku kosongin jadwalku."
Ella tersenyum seneng pakek banget mendengarnya. Diambilnya satu biji anggur dari buketnya dan dimakannya dengan riang.
"Duh kayaknya seneng banget." Ardi juga ikut sumringah melihat wajah Ella yang terlihat kegirangan mendengar dirinya bisa nganterin.
"Tapi ntar mas Ardi nyetir lama banget lho." Ella membayangkan harus menyetir selama tujuh jam nonstop pasti melelahkan.
"Kan ada kamu. Kita bisa gantian."
"Aku tidur aja deh sepanjang perjalanan."
"Ya gak papa. Ntar tinggal kucium biar bangun."
"Apaaa?...."
"Kaya putri tidur kan bangun kalau dicium pangeran hehe."
"Duh mikir apaan si! Dasar mesum!" Protes Ella dengan wajah kembali bersemu merah. Dan Ardi hanya bisa ketawa melihatnya.
"Oiya aku masih penasaran. Kenapa kamu nangis waktu di Surabaya kapan hari?" Tanya Ardi tiba-tiba mengungkit kejadian itu.
"Gak papa lagi mellow aja."
Ardi mendapat firasat Ella sedang tidak ingin membicarakan hal itu. Mungkin tentang sesuatu yang sangat sensitif. Mungkin juga sesuatu yang dapat mempengaruhi hubungan mereka selanjutnya. "Lagi mellow gimana?" tanyanya mencoba sedikit mengorek informasi.
"Yah biasa curhat-curhatan sama mama. Terus kebawa suasana jadi mellow." Jawab Ella sekenanya. Dia merasa belum siap untuk membahas masalah ini dengan Ardi. Tidak, jangan sekarang...Batin Ella seakan berteriak, 'Aku masih harus berkonsetrasi untuk belajar ujian tahap kedua. Tolong jangan tambahin beban pikiranku dengan keruwetan hubungan kita. Tolong berikan saja aku dukungan penyemangat darimu yang manis agar aku bisa berdiri tegak dan berjuang.'
Kali ini Ardi yang terdiam. Dia tahu betul apa yang pastinya dibicarakan ibu adan anak itu. Tentu saja tentang hubungan mereka kan? Apakan bom waktu ini sudah mulai berdetak lagi? Apakah saat-saat damai mereka sudah mulai menyempit dan mulai habis?
Ardi pun merasa belum siap untuk saat ini. Dia belum menata hatinya, belum pula mencapai kesepakatan dengan pikirannya sendiri. Yang dia tahu adalah dirinya semakin mencintai Ella. Semakin takut kehilangan Ella. Ardi hanya ingin memanfaatkan waktunya dengan gadis itu sebaik-baiknya. Sebelum mereka berdua kehabisan waktu. Sebelum bom waktu meledak dan entah apa yang akan terjadi setelahnya dengan hubungan mereka.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼