Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
145. S2 - Kencan Rakyat Jelata


__ADS_3

"Kita mau kemana ini?" Ardi bertanya keheranan karena mereka berdua sudah berjalan cukup jauh bahkan hampir keluar dari pintu utama mall.


"Mau kencan kan?" Ella menjawab santai.


"Outdoor? Ini kan udah hampir keluar mall?"


"Udah ngikut saja babang Sultan. Pokoknya acara hari ini apa kataku. Kencan rakyat jelata." Ella tersenyum geli melihat reaksi Ardi yang keheranan.


"Ok, deh. Aku padamu saja." Ardi menurut akhirnya. Dilepaskan jas hitam Ina Avanie butik yang dari tadi masi dipakainya, dilipatnya asal saja. "Nitip donk di kantong plastikmu," disodorkannya jas itu pada Ella.


"Kok dilepas? Kepanasan ya kalau kegiatan outdoor pakai jas keren kayak gitu?" Ella tertawa ringan tapi nurut saja menerima jas itu dan memasukkannya di kantong plastik belanjaannya.


"Nggak juga. Biar gak salah kostum aja. Biar sekalian menjiwai kencan ala rakyat jelata ini." Ardi menjawab santai. Memang sekarang dirinya nampak seperti rakyat jelata biasa dengan celana jeans dan t-shirt kasualnya yang terlihat santai. Rakyat jelata ganteng lebih tepatnya hehe.


Ella tak menyangka kalau Aura CEO dan sultan tajir ternyata bisa langsung kelihatan hanya dengan memakai jas resmi kayak gitu ya ternyata. Jas mahal bikinan butik tentunya. Kalau jasnya dilepas, ya sama aja jadinya kayak rakyat jelata.


"Aku tadi kesini nebeng Shanti. Jadi gak bawa kendaraan juga. So kita jalan-jalan aja ya... Jalan-jalan dalam arti yang sebenarnya." Ella memimpin arah langkah mereka ke daerah pinggiran mall. Area yang tak kalah ramainya dengan yang ada di dalam mall sendiri.


Daerah dimana parkiran motor liar diluar mall marak disediakan. Dimana warung-warung kaki lima berjajar di sepanjang jalanan gang sempit yang menjajakan dagangannya. Situasi yang terlihat sangat kumuh dan kontras dengan segala kemewahan dan keteraturan yang ada di dalam mall terbesar di kota Surabaya itu. Seakan menunjukkan perbedaan sosial yang terlalu mencolok.


"Oh, I see." Ardi celingukan melihat pemandangan disekelilingnya. Pemandangan yang tidak pernah dia tahu ada di dunia ini. Yang tak pernah sekalipun dia kunjungi sebelumnya. Ardi keheranan juga dengan ramainya susana disana. Ini orang pada ngapain aja coba? Uyel-uyelan di gang sempit begini? Gak gerah dan kepanasan apa?


"Mau makan chinese food? Atau masakan indo?" Ella senyum-senyum sendiri melihat Ardi yang celingukan dari tadi. Sepertinya pria ini gak pernah kuliner di gang sempit begini.


Memang Ardi Pradana yang dikenal Ella tiga tahun lalu ini bukanlah orang yang terlalu pemilih soal tempat makan. Dia tak akan keberatan makan dimana pun asalkan enak dan sesuai dengan selera lidahnya. Tapi tetap saja sebagai seorang sultan yang kemana-mana naik mobil, warung pilihan Ardi tentunya yang aksesnya terjangkau oleh mobil. Jadi mana pernah dia mampir ke warung di gang sempit yang cuma bisa diakses dengan jalan kaki begini?


"Boleh aja. Yang penting enak dan kenyang." Ardi pasrah saja mau dibawa kemana sama Ella.


Ella menghentikan langkahnya di salah satu warung kaki lima dengan tenda biru. Masuk kedalam warung itu dan duduk di salah satu bangku panjangnya. Ardi pun mengikuti Ella dan mengambil duduk di sebelah gadis itu. Aroma masakan cina yang sedang digoreng langsung menyerbu indra penciuman.


"Kamu sering makan disini? Kok tahu ada makanan enak di daerah beginian?" Ardi tidak dapat menyembunyikan keheranannya.


"Hahaha mas Ardi itu yang mainnya kurang jauh." Ella tertawa menjawab Ardi yang masih canggung duduk di warung tenda sempit begini.


"Kwetiau disini favorit dan langganan para mahasiswa dan residen di UNER lho. Yang makan para dokter-dokter juga, jadi pasti aman hehe." Ella menjelaskan karena melihat keraguan di wajah Ardi.


"Bang, pesen kwetiau satu sama cap cay satu. Minumnya es jeruk dua." Ella membuat pesanan bahkan tanpa menawari Ardi mau apa. Suka-suka yang nraktir donk. Kan Ella bosnya hari ini.


"Beneran enak gak ni?" Ardi masih sangsi. Lebih sangsi lagi sama kebersihan dan kesehatan masakan disini. Maklum saja sejak jadi bos besar pradana grup pola makannya benar-benar dijaga dan dengan makanan yang bersih serta sehat. Entah perutnya masih sekebal dulu atau nggak ya kalau dikasih makanan gak jelas begini. Moga aja gak terjadi penurunan sistem imun. Moga aman.


"Sebenarnya ada satu lagi lho saingannya mas Ardi," Ella tiba-tiba menyeletuk, memulai pembicaraan.


"Hah? Saingan apaan?" Ardi kebingungan.


"Penggemarku nambah hehe. Selain Roni masih ada satu lagi..." jawab Ella malu-malu.

__ADS_1


"Siapa?!" Ardi langsung ngegas mendengarnya. Haduh laris bener si ini cewek? Cantik dan lucu si emang. Kayak masalah sama Roni belum cukup ruwet aja, ini mau ditambahin satu saingan lagi?


"Gak tahu si. Tapi tiap hari belakangan ini ada yang ngirimin aku bunga mawar tiap harinya. Udah seminggu lebih berjalan, tiap jam tujuh pagi selalu datang bunga mawar dengan ucapan selamat paginya. Siapa yang gak melting coba digituin?" Ella bercerita dengan antusias menceritakan tentang penggemar rahasianya yang misterius.


Ardi mengerutkan dahinya, bingung. Bunga mawar tiap hari kan dirinya sendiri yang ngirim? Lha ini Ella lagi serius, bercanda atau menggoda dirinya si? Ardi mengamati ekspresi wajah Ella. Kok kayaknya lempeng-lempeng aja, wajah tak berdosa gak kayak orang yang lagi bercanda.


Masa iya Ella gak sadar bunga mawar itu Ardi yang ngirim? Bukannya sudah ada inisial namanya disana ya? Kok masih gak sadar juga? Bisa histeris ini Cindy kalau tahu strategi-nya gagal total menghadapi Ella dengan segala ketidak pekaan-nya.


Kayaknya emang percuma deh cewek kayak Ella dimodusin. Percuma pakai strategi yang dirancang Cindy dengan sempurna. Percuma juga pakai surprise yang misterius. Kalau Ella si mendingan langsung datengin seperti kata Linggar aja.


"El, seriusan kamu gak tahu siapa yang ngirim bunga ke kamu tiap hari?" tanya Ardi penasaran.


"Iya, gak tahu. Gak ada nama pengirimnya juga cuma kartu ucapan selamat pagi doank."


"Terus ada apa lagi di kartu ucapan itu?" Ardi mulai gregetan juga dibuatnya.


"Ada lambangnya. Kayak huruf L sama P, Mungkin lambang dari toko bunganya kali ya?"


Dieeeenng! Fix ini cewek parah mati rasa dan gak peka nya. Yah mungkin karena hal itu juga kali ya cuma Ardi dan Roni yang betah sama cewek kayak Ella. Yang lain sudah mundur sebelum berjuang karena reaksi Ella yang tidak peka. Mana tahan.


"Astaga Ella...Kamu masa gak kepikiran L dan P itu inisial nama siapa?" Frustasi, Ardi sudah frustasi untuk menjelaskan pada Ella.


"L dan P siapa ya..." Ella masih mikir keras.


"Lhoooo...Jadi? Jadi bunga-bunga itu dari mas Ardi?" Ella nampak kaget mendengar jawaban Ardi. "Buat apa, mas?" lanjutnya bertanya lagi dengan nada gak punya dosa. Parah memang ini cewek.


Ardi sudah bener-bener dongkol dibuatnya. Jadi males aja naggepin Ella yang kumat dodolnya kayak gini. Heran ini cewek kok gak pinter-pinter si masalah beginian? Udah jadi dokter spesialis tapi ilmu masalah perasaan tetep gak nambah.


"Ya buat apa lagi, El? Buat ngerayu kamu lah. Eh kamunya malah gak sadar...Bete banget kan jadinya." Ardi ngomel-ngomel kesal. Dan Ella hanya bisa melongo mendengarnya.


Untung saja pesanan makanan mereka segera datang setelahnya. Membuat Ardi langsung menyantap kwetiau goreng plus cap cay yang masih panas itu. Daripada melanjutkan percakapan menyebalkan mending isi perut saja.


"Makasih ya, atas bunga-bunganya..." Ujar Ella akhirnya. Merasa gak enak juga melihat Ardi yang sepertinya sangat kesal. Mungkin Ardi merasa usahanya tidak dihargai olehnya...Lagian ngapain pakai inisial coba? Kenapa gak langsung sebut nama saja, ribet amat.


"Iya, gak masalah. Nanti bunganya bakal datang setiap hari berturut-turut dalam sebulan." jawab Ardi sambil memakan mie nya yang ternyata beneran enak. Rasa enak mie kwetiau ini mampu mengembalikan moodnya jadi lebih baik lagi.


"Ngapain si buang-buang duit buat hal gak penting kayak gitu? Mending kirim mentahannya aja." Ella gak habis pikir dengan jalan pikiran Ardi.


Bunga mawar segar kayak gitu kan lumayan juga harganya kalau dijadikan buket dan dikirim delivery. Malah mau dikirm tiga puluh hari berturut-turut lagi? Buat apa coba? Unfaedah banget dan buang-buang uang banget kan?


"Kamu mau minta mentahannya? Boleh juga si, minta berapa? nanti aku transfer," Ardi menjawab setengah menggoda Ella.


"Enak aja! Emangnya aku cewek bayaran! " Ella menolak mentah-mentah.


"Ya kali aja ada tarifnya tiap kencan atau kiss kayak tadi. Aku mau bayar berapapun buat tiap hari booking kamu," Ardi semakin jahil menggoda Ella.

__ADS_1


"Idih ogah! Aku gak butuh uangmu!" Ella gantian yang ngambek kali ini. Merasa terhina disamakan dengan wanita bayaran.


"Hahahaha, asli kamu gemesin banget El. Pengen tak bungkus bawa pulang kerumah buat dicium cium dan dikelonin tiap hari," Ardi semakin keasikan godain Ella. Asli gemesin banget reaksinya.


"Dasar mas Ardi mesum! Gak sembuh-sembuh penyakit mesumnya!" Ella semakin manyun. Dan Ardi semakin ngakak melihatnya.


Selanjutnya mereka melanjutkan prosesi makan siang dengan aman sampai selesai. Ella yang kemudian membayar tagihan makanan mereka yang ternyata sangat murah bagi Ardi.


Padahal kualitas rasa masakannya lumayan enak juga gak kalah dengan restoran kelas atas di mall. Pantas saja warung nyempil kayak gini bisa laris dan jadi favorit banyak orang. Meski lokasinya nyempil tetep dicari.


Ella mengajak Ardi berjalan beriringan sekali lagi. Melintasi gang-gang sempit yang memanjang dan berakhir ke sebuah boulevard yang cukup asri. Di sepanjang boulevard berjajar pohon bunga tabebuya yang sedang bermekaran dengan berbagai warna.


Ada yang berwarna pink, putih bahkan kuning. Bunga-bunga itu banyak yang jatuh berguguran di aspal. Menciptakan suasana layaknya musim semi yang romantis dan menyenangkan seperti di negara empat musim. Jika di Jepang dengan bunga sakura-nya, maka di Surabaya dengan tabebuya-nya.


"Cantik banget pemandangannya kan? Gak kalah sama di Jepang," Ella mempromosikan keindahan kotanya, kota Surabaya.


"Iya aku gak ngira ada yang beginian di sini."


"Kalau naiknya mobil melulu ya gak bakal sadar. Keindahan kayak gini cuma bisa dinikmati sambil jalan santai kayak gini."


"Kamu benar. Mungkin sekali-kali aku perlu jalan-jalan melihat yang seger-seger kayak gini. Pemandangan yang sangat indah," Ardi menyetujui.


Mereka berdua terus berjalan beriringan sampai akhirnya berhenti di tepi Sungai Mas yang mengalir membelah kota. Ada taman yang indah juga ditepian sungai itu. Dan Ella langsung mengajak Ardi untuk mampir ke taman. Duduk di salah satu kursinya yang menghadap ke sungai.


Mereka berdua memandangi angsa-angsa yang berenang disana. Kok bisa-bisanya ada angsa ditengah kota? Mungkin memang bagian dari program promosi dan pelestarian kota yang getol dijalankan di kota ini.


"Jadi? Status hubungan kita apa?" Ardi mencoba bertanya pada Ella.


"Hmmm apa ya? Teman? Mantan?" Ella kebingungan juga harus memutuskan apa.


"Selingkuhan? Teman tapi mesra?" tawar Ardi.


Dan Ella hanya tertawa miris. Memang sudah jelas hubungan mereka salah karena Ella masih pacar Roni saat ini. Tapi tetap saja tidak mungkin bagi Ella untuk memutuskan Roni begitu saja. Not that simple to break the relationship.


"Tenang saja, El. Aku gak masalah kok dengan status atau apa. Yang penting kamu mencintaiku. Dan aku akan buktikan bahwa akulah yang paling cocok menjadi pasanganmu." Ujar Ardi karena melihat keraguan dan kebimbangan Ella.


"Iya kita jalani saja untuk sekarang." Ella menyetujui. "Kita lihat saja waktu akan membawa kita kemana."


Keduanya kembali terdiam tanpa bersuara, menikmati suguhan pemandangan alam yang indah. Menikmati susana dengan tiupan angin sepoi-sepoi yang sesekali menerbangkan bunga tabebuya.


Menikmati kencan ala rakyat jelata yang ternyata tak kalah menyenangkan jika dibandingkan ala sultan. Menikmati kebersamaan mereka berdua yang bagaikan hubungan terlarang. Hubungan penghianatan yang mengatas-namakan cinta sebagai alasan.


~∆∆∆~


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼

__ADS_1


__ADS_2