
Keesokan harinya, dihari minggu yang cerah. Hari dimana seharusnya Ella bisa bersantai atau berlibur. Menikmati hari off duty nya dari jaga poli di RSUD. Atau hanya untuk sekedar rebahan dirumah, nonton tv atau nonton drama koreya seharian. Tapi hari minggu ini Ella terpaksa bangun pagi-pagi sekali dan harus siap dengan dandanan lengkap sebelum jam tujuh pagi.
Buat apa coba? Tentu saja karena tuan besar Lazuardi Edwin Pradana yang mau datang menjemputnya pada jam tujuh pagi. Mau ngapain Ardi menjemputnya sepagi itu? Tentu saja masih merupakan sebuah misteri. Hanya tuhan dan Ardi sendiri yang tahu jawabannya.
Semalam Ardi memulangkan Ella ke kontrakan sedikit malam setelah mereka menghabiskan waktu bersama ditaman. Intan langsung memberondong dan menginterogasi Ella dengan berbagai pertanyaan begitu Ella sampai dirumah. Bagaimana Ella tiba-tiba menghilang dan tidak pulang bersama mereka. Sementara Roni yang ditanyai hanya mau menjawab dengan 'Ella pulang duluan'.
Ella menceritakan semua yang terjadi pada Intan. Bagaimana Ardi yang tiba-tiba datang dan memergokinya berduaan dengan Roni. Bagaimana drama permusuhan dua pria itu yang saling berhadapan. Intan mendengarkan dengan ngeri dan menyalahkan Ella karena tak mau menuruti nasehatnya tentang Roni.
Intan pun kembali mengatakan bahwa seharusnya Ella sangat bersyukur prahara itu tidak berakhir dengan petaka. Memuji Ardi yang begitu sabar dan dewasa dalam menghadapi masalahnya dengan Ella. Intan juga mengatakan jika hal itu terjadi pada dirinya atau pasangan lain pastinya tidak akan berakhir sedamai dan dramatis itu. Tak jarang malah yang akan berakhir dengan perang dunia dan perpecahan.
Tepat jam Tujuh pagi Ella mendengar klakson mobil dibunyikan di depan rumah kontrakannya. Dia pun mengambil tasnya, lalu berlari dan bergegas keluar rumah menyambut Ardi yang sudah datang dengan mobil pajero sport hitamnya.
Ella segera memasuki mobil itu seperti biasa saat Ardi menjemputnya, pandangannya berhenti sejenak demi melihat penampilan Ardi yang terlihat segar dan kece abis dengan polo shirt warna hitam dan kaca mata hitamnya. Aduh ganteng maximal ini cowok! Penampilan yang bisa meluluhkan hati siapa saja wanita yang memandangnya. Gak papa kan sekali-kali muji pacar sendiri hehe.
"Mau kemana kita?" tanya Ella begitu Ardi menjalankan mobilnya, melaju meninggalkan kompleks perumahan kontrakan Ella.
"Ke kantor" jawab Ardi singkat.
"Hah? Ngapain ke kantor?"
"Kerja" Lagi-lagi jawaban singkat.
Ella benar-benar tak bisa mengerti jalan pikiran Ardi. Mengapa pria itu mengajak Ella keluar, pada hari minggu, dan pagi-pagi sekali. Untuk bekerja ke kantornya? Yang benar saja?
Ella merasa Ardi sedang tidak mood untuk melanjutkan pembicaraan. Jadi dia nyalakan saja audio player mobil dan menikmati lagu yang diputar oleh radio. Ella baru menyadari lagu-lagu favoritnya yang dia kumpulkan dalam sebuah flashdisk tak ada disana. Playlist kesukaannya yang biasa diputar saat bepergian dengan Ardi menggunakan mobil merahnya. Tentu saja karena sekaranga mereka tidak memakai si merah melainkan si hitam kan?
"Kok dari kemarin make si hitam terus? Si merahnya kemana?" tanya Ella kepikiran falshdisknya yang ada di mobil merah Ardi.
"Di bawa Cindy"
"Hah? Kok enak banget ya jadi Cindy sampai-sampai dibawain mobil sama bosnya. Dia benar-benar pegawai kesayangan bos" celetuk Ella merasa tidak senang mengetahui Ardi meminjamkan mobilnya untuk Cindy.
__ADS_1
"Kamu gak suka?" Tanya Ardi menyelidik.
"Flashdiskku di mobil itu" Ella mencoba membuat alasan. "Yah terserah itu kan mobilnya mas Ardi. Suka-suka Mas lah mau dipinjemin ke siapa" lanjutnya dengan nada pura-pura tak perduli. Menutupi kecembururuannya pada Cindy.
"Nanti aku suruh Cindy bawain"
"Gak usah. Nunggu dia balikin mobilnya aja"
"Kayaknya masih agak lama"
"Hah kenapa gitu?" Ella semakin penasaran kok bisa-bisanya Ardi sebaik itu sama Cindy.
"Mobilnya Cindy rusak, lagi dibenerin dibengkel. Kalau udah bener ntar juga dibalikin mobilku" Jawab Ardi enteng banget. Hello ini minjemin mobil ya, bukan minjemin barang murah kaya bolpen yang bisa dikembalikan seenaknya kapan aja. Ella semakin gemas menyadari betapa royalnya Ardi pada Cindy, sekretarisnya itu.
"Dia lagi butuh banget mobil buat ngurusin keperluan perusahaan. Lagi ada sedikit masalah dan Cindy yang paling sibuk ngurusin ini itunya" Ardi sedikit menangkap nada tidak suka Ella.
"Biar Flashdisknya di mobil itu aja. Nanti aku siapin flashdisk baru berisi playlist lagu lain buat mobil ini" Ella akhirnya memberi solusi.
"Sama halnya kaya mas Ardi gak suka dengan Roni." Ella memberikan persamaan logika.
"Ya beda donk. Cindy itu sekretarisku, jadi wajar kalau dia dekat denganku. Tapi hubungan kami murni hubungan kerja"
"Kalau begitu sama aja. Roni juga teman sejawatku, teman satu timku. Tak ada hubungan special lainnya. Hanya hubungan kerja doank. Team work" Ella bersengut tak mau kalah kali ini.
"El, bisa gak kita stop bicarain hal-hal yang bikin emosi gini. Stop bicarain orang lain yang sekiranya bisa mengganggu hubungan kita. Cukup fokus ke kita berdua aja please" pinta Ardi sedikit memohon. Dan tentu saja sukses meluluhkan hati Ella untuk menurut.
Akhirnya mereka berdua mengalihkan pembicaraan mereka menjadi pembicaraan yang lebih menyenangkan. Membahas hal-hal kecil dan ringan yang tidak beresiko untuk menimbulkan kecekcokan diantara mereka. Yah memang Ardi selalu bisa meredakan pertengkaran mereka. Dan Ella memang tak pernah bisa menang berdebat dengan Ardi yang kadang egois dan keras kepala ini. Dilain sisi Ardi bisa bersikap cool, cuek, dan terkesan tidak perduli. Tapi disisi lainnya pria itu bisa begitu manis dan perhatian.
Pembicaraan mereka berhenti saat Ardi membelokkan mobilnya memasuki kawasan perusahaan konstruksi miliknya. 'Pradana Constructions'. Pada bagian depan kawasan berdiri gedung tiga tingkat yang sepertinya berperan sebagai main office tempat Ardi bekerja. Sedangkan dibelakangnya ada beberapa gedung lagi yang tidak sebagus dan sebersih gedung pertama. Gedung-gedung itu ada yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang dan bahan, bahkan beberapa gedung terlihat seperti pabrik produksi bahan baku konstruksi.
Ardi mengajak Ella memasuki gedung utama. Bangunan bergaya simple minimalis dengan kaca-kaca lebar di sisi depannya. Ardi Langsung menggiring gadis itu menaiki tangga dan dibawanya memasuki ruang kantor pribadinya yang terletak di lantai tiga.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan mereka sama sekali tak menemui satu manusia pun kecuali dua security yang menjaga pintu masuk gedung. Dan dua lainnya yang membukakan gerbang saat mobil mereka memasuki kawasa pabrik. Mungkin karena hari minggu, atau karena mereka yang datang kepagian?
Hampir seperti keadaan di rumah Ardi, keadaan di ruang kantor pribadinya juga terkesan terlalu bersih dan plain. Dengan berbagai perabotan berwarna hitam dan putih. Sebuah rak buku besar di sepanjang tembok, di depannya ada sebuah meja kantor super besar lengkap dengan kursi empuk bersandaran tingginya yang elegan, berbagai tumpukan berkas tertata rapi diatas meja itu.
Di sudut lain ruangan ada meja kerja lain lengkap dengan komputer yang terlihat sangat canggih, printer dan berbagai peralatan kantor lainnya juga ada disana. Tepat di sebelahnya berdiri juga meja desain khas milik para arsitek. Mungkin sudut itu merupakan work bench corner Ardi untuk menciptakan desain-desain perumahannya.
Selanjutnya ditengah ruangan terdapat satu set sofa kulit berwarna hitam yang empuk dan terlihat sangat berkelas untuk menerima tamu. Terakhir kulkas dan minibar juga ada disudut kain ruangan ini, tempat menyimpan suplay makanan Ardi dan suguhan bagi tamu yang mungkin berkunjung.
Desain ruangan ini lagi-lagi bertema monocrom serba hitam putih dan minimalis modern. Bahkan untuk pemilihan lukisan dan hiasan dindingpun tak jauh-jauh dari kedua warna itu. Penataan ruangan yang Ardi banget pokoknya, simple, efisien and elegan.
"Terus mas Ardi bawa aku kesini buat apa sebenernya?" Ella kembali menanyakan pertanyaan yang daritadi mengganjal dihatinya, membuatnya penasaran.
"Buat kencan. Yang penting kan ketemuan, jalan bareng. Daripada kamu keluar sama cowok lain" Jawab Ardi santai sambil membolak-balik dokumen dihadapannya, membaca, dan kadang menandatangani sesuatu di dokumen-dokumen itu.
"Astaga!" Ella benar-benar speachlees menghadapi Ardi. Memang kadang cowok ini seenaknya seperti ini, terutama kalau menyangkut pengen ketemu. Ardi tak akan ragu memaksakan segala kondisi untuk dapat sekedar ketemu sama Ella. Dan mungkin Ardi juga masih kepikiran kejadian kemarin malam. Dia tak ingin Ella menghabiskan waktunya dengan pria lain, mending disini aja nemenin dirinya kerja.
Akhirnya daripada bengong sendirian Ella memilih untuk duduk di sofa sambil menonton film yang ada di layar pintarnya. Dengan setia dia menunggui Ardi yang terlihat sangat serius bekerja di mejanya.
"Kalau bosan tu ada makanan di kulkas. Kamu juga bisa idupin tv biar gak sepi" Ujar Ardi sambil tetap berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
Tanpa menjawab Ella segera beranjak ke minibar dan membuka kulkas kecil disana. Dapat dilihatnya beberapa kaleng minuman ada disana dengan berbagai macam dan merk. Lalu di tengah kulkas Ella dapat melihat beberapa slice cheese cake kesukannya.
Sedikit heran juga bagaimana bisa ada cheese cake favorit Ella di kantor Ardi jika bahkan pria itu tak suka dengan kue manis. Sepertinya Ardi sengaja menyiapkan kue itu untuknya. Ella mengambil sebuah kaleng soft drink dan seiris cheese cake di piring. Sekali lagi dia terharu dengan perhatian kecil Ardi padanya yang terasa sangat sweet ini.
"Mas Ardi mau minum?" tanyanya menawari.
"Kopi susu dingin boleh" jawab Ardi dan Ella pun mengambilkannya untuk pria itu. Lalu keduamya melanjutkan kesibukannya masing-masing, Ardi dengan dokumen-dokumennya dan Ella dengan drama koreya-nya
~∆∆∆~
🌼Tolong klik RATE (⭐⭐⭐⭐⭐), JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR and GIFTS Makasih 😘🌼
__ADS_1