
Tak terasa sudah sepuluh bulan berlalu sejak Ella menginjakkan kakinya di kota Genting. Delapan bulan dirinya mengabdi di RSUD G di bagian UGD dan poli rawat jalan. Dan dua bulan ini dirinya mengabdi di Puskesmas Sobo. Berarti tinggal dua bulan lagi waktu yang dibutuhkannya untuk menyelesaikan pengabdian interenshipnya di Kota Genting ini. Time flies so fast, gak kerasa.
Dan hari ini seperti biasa Ella duduk manis di UGD puskesmas Sobo. Seperti hari-hari biasanya UGD puskesmas kecil di area pedesaan begini jarang sekali ada pasien yang berkunjung. Paling mentok pasien kecelakaan lalu lintas atau luka karena alat pertanian. Kebanyakan pasien puskesmas ini berobat ke poli untuk rawat jalan. Yah kalau pas ada pasien UGD berarti lagi hoki aja hehe.
Sepertinya hari keberuntungan itu juga mampir hari ini. Tepat pukul sebelas saat mata sudah mulai ngantuk-ngantuknya dan perut mulai lapar-laparnya. Tiba-tiba saja suasana puskesmas menjadi gaduh. Beberapa orang berlarian dari mobil APV yang terparkir di halaman puskesmas. Beberapa orang lainnya membopong tiga orang pasien sekaligus. "Kecelakaan kerja dok. Lagi pasang kanopi terus ambruk ngejatuhin mereka" Salah seorang perawat melapor pada Ella.
"Ok mas Rozi, siapkan bed-nya." Jawab Ella siap-siap menerima pasien.
"Tiga orang pasien dok. Kecelakaan kerja dari pabrik konstruksi di daerah itu. Satu pasien dengan luka sobek di kepala, perdarahan. Satu luka sobek di kaki kiri dan satunya lagi tertancap paku di tangan kanan." Rozi menjabarkan keadaan pasien.
"Yang cedera kepala dan kaki taroh di bed. Sementara yang kena paku di kursi aja dulu. Coba minta bantuan dokter Roni di poli kalau udah gak ada pasien." Ella memberi perintah.
Ella Segera mengambil dan memakai hand gloves nya. Dihampirinya pasien yang cedera kepala dan cedera kaki yang sudah ditidurkan di bed UGD. Diamatinya baik-baik kedua pasien itu, lalu Ella memutuskan untuk menangani si cedera kaki duluan karena perdahannya lebih banyak.
"El? Dapet rejeki nomplok ya?" Roni datang menghampiri Ella beberapa saat kemudian. Bantuan datang, at lease Ella sedikit lega ada Roni yang satu puskesmas dengan dia. Jadi gak usah sungkan kalau minta tolong saat kejadian tak terduga seperti ini.
"Ron, bantuin yang ketusuk paku gih." Ella meminta tolong dan Roni langsung dengan cekatan mengambil handgloves juga. Menghampiri dan merawat pasien itu.
"Mas Rozi, minta tolong dua perawat lagi untuk ngurusin untuk asisten dan urus administrasinya. Mas yang kerjain cedera kepala. Ringan kok cuma perlu rawat luka aja itu." Perintah Ella pada perawat UGDnya.
"Ok dok," Rozi segera memanggil dua orang rekannya ke UGD. Kemudian dirinya menangani si pasien cedera kepala.
"Ada yang bisa saya bantu dok?" Erni, perawat bantuan menghampiri Ella.
"Mbak coba pasang infuse set dulu deh. Masukin anti biotik sekalian. Aku masih ngurusin perdarahannya ini." Ella menekan perdarahan di kaki pasien, tepatnya bagian betis. Dia memasang torniquet di paha atas pasien untuk menghentikan perdarahan . Menganastesi jaringan disekitar luka pasien kemudian menjahit luka pasien dengan needle dan benang yang telah disiapkannya sebelumnya. Kemudian dilanjutkan dengan menutupnya luka dengan kasa steril.
Beberapa menit kemudian segala kekacauan di UGD telah teratasi. Ketiga pasien tadi sudah selesai dilakukan perawatan darurat sesuai dengan prosedur perawatan. Tetapi keributan masih belum selesai di bagian administrasi sepertinya.
Data diri pasien serta kartu jaminan kesehatan dan ketenaga kerjaannya belum lengkap. Bisa-bisanya ya ketiga pasien ini bahkan tidak membawa kartu identitas dirinya. Dan lagi masalah pembayaran juga masih bingung karena sepertinya para pekerja ini gak bawa uang. Mungkin mereka masih nungguin bos mereka untuk datang kesini mengurusi administrasinya.
Ketenangan Ella menulis dan mengisi lembaran rekam medis terusik gara-gara keramaian di meja administrasi itu. Samar-samar Ella mendengar nama perusahaan yang disebutkan oleh pegawai yang mengantarkan ketiga korban tadi. Pradana contruction, perusahaannya mas Ardi? Masa iya?
Dan benar saja, tak lama kemudian Ella melihat mobil honda jazz merah Ardi yang tiba dan parkir di depan UGD. Dari dalam mobil keluarlah Ardi dan Cindy yang berjalan bersamaan menghampiri para pekerjanya yang masih heboh di depan pintu UGD.
Cindy mendahului Ardi memasuki ruangan UGD. Sedikit kaget melihat Ella yang duduk di kursi dokter jaga bersama Roni. Keduanya masih sibuk menulis isian rekam medis pasien. "Permisi dok, bagaimana keadaan ketiga pekerja saya?" Cindy menghampiri Ella dan Roni, menyapanya.
Sementara Ardi juga sedikit keheranan mendapati Ella dan Roni yang menjadi dokter jaga UGD di Puskesmas Sobo ini. Ella memang sudah pernah cerita padanya bahwa dirinya sudah pindah putaran ke puskesmas. Ella tak lagi bertugas di RSUD G. Tapi Ella tak pernah bilang puskesmas mana. Dan bodohnya lagi Ardi juga tak pernah mempertanyakannya. Kalau tahu puskesmasnya deket kantor gini kan bisa kudatangi tiap hari, sesal Ardi.
__ADS_1
Apesnya lagi ngapain si cowok brengsek itu selalu saja ada di deket Ella? Sapa ya dulu namanya? Roni? Bisa-bisanya cowok itu selalu dapat satu putaran dan satu tempat terus sama Ella. Benar-benar menjengkelkan.
"Pasien atas nama Darmo cuma luka lecet di kepalanya dan sudah dilakukan rawat luka. Tak ada yang serius. Pasien kedua atas nama Budi lukanya cukup lebar di kaki kiri. Sudah dilakukan penjahitan, 10 jahitan. Sekarang masih diinfus dan diobservasi karena banyak kehilangan darah." Ella menjelaskan kedua pasien yang ditanganinya tadi.
"Tunggu observasi dulu, nanti bisa dibawa pulang kalau sudah stabil. Tinggal minum obat rawat jalan aja di rumah. Obat habis bisa kontrol kesini sekalian rawat luka dan ganti kasa." Lanjut Ella tentang prosedur perawatan kedua pasiennya tadi.
"Pasien terakhir yang kena paku atas nama Joko juga sudah dikeluarkan paku yang nancep di tangannya. Juga sudah dirawat luka dan ditutup kasa. Tapi kayaknya butuh suntikan ATS (Anti Tetanus Serum) karena paku yang menancap tadi sedikit berkarat. Belum diberikan karena menunggu persetuajuan. Soalnya harganya mahal." Roni ikut menjelaskan pasien yang ditanganinya.
"Sama aja kalau udah stabil bisa dibawa pulang. Minum obat dari rumah dan kontrol kalau obat habis." Lanjut Roni.
"Ketiganya gak punya jaminan kesehatan dan tenaga kerja dok." Rozi menambahkan.
"Kok bisa gitu? Wah kalian gak daftarin pekerja ke jaminan ya? Tega bener! Masa perusahaan gede gak menjamin kesejahteraan pegawainya?" Celetuk Roni sambil tersenyum sinis ke Ardi.
"Mereka masih baru kerja di perusahaan kami. Belum ada tiga bulan. Jadi semua administrasinya masih tahap pengurusan. Status mereka saat ini cuma tenaga harian lepas saja." Cindy menjelaskan. Sementara Ardi tetap diam saja berdiri mengamati keadaan disekitar mereka. Mengamati Ella di mejanya lebih tepatnya.
"Ya berarti semua pakai umum ya." Rozi kembali menegaskan status pembayaran ketiga pasien itu.
"Tidak masalah saya akan urus semua pembayarannya." Jawab Cindy memastikan. "ATS nya berapaan kira-kira?"
"Sekitar 600 ribuan serumnya saja. Belum biaya perawatannya" Rozi menjawab.
"Kasih aja," Jawab Ardi singkat.
"Baiklah silahkan diberikan suntikan ATS nya. Lalu saya bisa ngurus administrasinya dimana?" Cindy memutuskan. Rozi langsung menyerahkan resep obat dan tagihan pembayaran ketiga pasien itu ke Cindy. Kemudian dia juga mengantarkan Cindy kebagian administrasi dan kasir. Sementara itu Roni juga beranjak untuk memberikan suntikan ATS pada pasien yang tadi ditanganinya.
Ardi yang dari tadi berdiri memandangi Ella dari jauh pun mendekat ke arah Ella setelah tak ada siapapun lagi disekitar mereka. Pria itu mengambil duduk di kursi tepat berhadapan dengan Ella. Seperti posisi pasien yang ingin berkonsultasi dengan dokternya. "Hallo Ella, sayang." Sapanya lembut pada Ella yang masih menulis di tumpukan kertas rekam medis.
"Hallo, mas Ardi." Ella membalas sapaan itu.
"Aku kangen banget sama kamu," celetuk Ardi. Memang sudah dua mingguan mereka sama sekali tidak bertemu. Ardi dengan segala kesibukannya mengurusi dua perusahaan sekaligus. Yah perusahaan utama di Banyu harum sudah mulai diurusinya sebagian, ditambah perusahaannya sendiri di Genting. Dan Ella juga sedang fokus untuk belajar lebih giat mempersiapkan diri menghadapi ujian penerimaan PPDS. Mulai dari mempelajari TOEFL bahasa inggris sampai kembali mengulang materi-materi kedokteran yang didapatnya jaman masih kuliah dan koas.
Keduanya masih berhubungan setiap hari melalui chating, telpon dan vidio call. Berusaha bertahan dengan hubungan jarak jauh mereka yang mungkin akan terus berlanjut mengingat Ella hampir menyelesaikan masa interenshipnya di kota ini. Sekalian belajar LDR (Long Distance Relationship) ni ceritanya. Tetapi tetap saja ada rasa rindu yang membara di hati mereka karena sekian lama tak bisa berjumpa.
Hubungan mereka memang terlihat baik-baik saja, tapi keduanya seakan menjaga jarak dan menahan diri untuk tidak mengungkapkan hal-hal yang terlalu sensitif. Keduanya seakan menjaga dan memelihara bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak, menghancurkan hubungan mereka seketika.
"Aku juga kangen."
__ADS_1
"Kamu kok gak bilang dapet puskesmas ini?" Ardi memberondong dengan pertanyaan. "Gimana keadaan kamu? Kok kayaknya kurusan?"
"Baik mas. Masa si kurusan? Mas Ardi tu yang kurusan."
"Kayaknya kita butuh sering ketemu ya biar gemukan hehe." Celetuk Ardi.
"Iya kalau ketemu kan kita selalu kuliner makan-makan mulu. Gimana gak gemuk?"
"Kalau gitu mulai besok kita ketemuan lagi aja lebih intens. Demi kesehatan kita."
"Ih apaan si? Emangnya mas Ardi udah gak sibuk?" Ella bingung juga antara senang dan tak enak untuk mengganggu kesibukan Ardi.
"Paling nggak kan kita bisa makan siang bareng. Pas jam istirahat, aman. Lagian disini deket sama kantorku, jahat banget kamu gak pernah mampir"
"Ok. Boleh deh kalau gitu." Ella menyanggupi. "Terus aku mampir kantor ngapain coba? Aneh-aneh aja mas Ardi ini."
"Yah gak ngapa-ngapain. Nemenin aku doank atau sekedar ketemu juga boleh. Kayak yang waktu itu kamu main ke kantor."
"Nanti liat situasi deh. Takut gangguin kerjaan mas di kantor soalnya. Ntar dibilang gak profesional lho sama anak buahnya. Masa ngantor bawa pacar"
"Suka-suka aku dong. Mana ada yang berani protes dan mengeluh soal bos."
"Dasar bos besar hehe"
Pembicaraan mereka berhenti saat Roni kembali menghampiri meja mereka. Mengambil duduk disebelah Ella, menjadi orang ketiga diantara mereka dengan cueknya. Menuliskan sesuatu di rekam medis pasiennya. Ardi mengumpat dalam hati melihat tingkah kurang ajar Roni ini, sementara Ella terlihat santai tak perduli.
Sepertinya cukup begini dulu untuk saat ini. Baik Ella maupun Ardi sama-sama belum bisa memutuskan harus dibawa kemana hubungan mereka selanjutnya. Keduanya terlalu takut membahas tentang itu. Takut bom waktu akan meledak. Menghancurkan segalanya, membuat mereka berdua terpaksa harus berpisah.
Biar sajalah mereka menikmati kebersamaan ini yang memang cuma tinggal dua bulan saja. Paling tidak mereka masih berstatus pacaran sampai saat itu. Mungkin setelah Ella menyelesaikan interensahipnya dan kembali ke Surabaya. Mungkin setelah pengumuman hasil ujian PPDS Ella keluar, mereka baru dapat membicarakan lagi tentang hal ini. Membahas sesuatu yang tak dapat dihindari lagi.Dan sekali lagi biarkan saja waktu yang menjawab apa yang akan terjadi pada hubungan mereka berdua.
~∆∆∆~
FYI (For Your Information)
*Tetanus adalah infeksi bakteri dengan potensi fatal yang mempengaruhi saraf. Tetanus menyebabkan kontraksi otot yang menyakitkan, terutama pada rahang dan leher. Hal ini dapat mengganggu kemampuan untuk bernapas, dan akhirnya dapat menyebabkan kematian.
*Salah satu pilar terapi kasus tetanus adalah merealisasi toksin/racun tetanus dalam sirkulasi darah. Terdapat dua pilihan terapi merealisasi toksin, yaitu anti tetanus serum (ATS) yang berasal dari serum kuda dan human tetanus immunoglobulin (HTIG) berasal dari manusia.
__ADS_1
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼