Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
105. S2- Harta & Saudara


__ADS_3

Ardi akhirnya memulai rapat internalnya dengan anggota keluarga inti dan orang-orang kepercayaannya siang itu. Cindy sebagai akuntan sekaligus auditor perusahan. Bambang sebagai asisten, sekretaris pribadi dan sie serba bisa. Gery sebagai pengacara sekaligus penasehat hukum. Serta Kresna sebagai bagian IT. Mereka berhadapan dengan Linggar, Laras dan Mahes yang merupakan keluarga inti Pradana.


Kresna, seorang yang datang bersama Linggar tadi sudah stand by bersama laptopnya yang langsung terhubung ke layar proyektor. Kresna merupakan staff kepercayaan Ardi lainnya. Pria muda itu sangat handal di bidang IT, bahkan dia juga menguasai ilmu hacking tingkat tinggi. Kemampuan yang sangat dibutuhkan untuk mengawasi segala data dan keamanan di perusahaan besar multy dimensi dengan banyak anak perusahaan seperti Pradana group ini.


Kresna menunjukkan slide di layar yang menampilkan nama-nama perusahaan bagian dari Pradana Group yang saat ini berada dalam kekuasaan Ardi. Perusahaan-perusahaan yang menyatakan Ardi sebagai pemilik sah-nya.


"Selain perusahaan inti Pradana Group yang bergerak di bidang properties, ada lima anak perusahaan lainnya yang berada dibawah nama pak Ardi. Untuk perusahaan Inti Pak Ardi adalah pemegang saham terbesar, bahkan saham pak Erwin masih dibawah pak Ardi." Cindy menjelaskan data-data statistik yang terpampang di layar.


"Jadi intinya hampir semua perusahaan strategis yang memiliki profit terbesar dari Pradana group berada dibawah nama Ardi Pradana sekarang. Aset lain seperti rumah, villa, tanah dan beberapa bidang usaha kecil lainnya sama sekali tak ada yang atas nama Pak Ardi. Yah kecuali semua yang Pak Ardi beli sendiri sebagai aset pribadinya." Cindy menambahkan penjelasannya.


"Hmmm...Berarti papa beneran sudah resign dan menyerahkan hampir semua usaha ke mas Ardi donk?" Linggar mengambil kesimpulan dari penjelasan Cindy.


"Benar sekali. Mungkin ini hanya formalitas saja, sebagai bukti perpindahan kekuasaan. Mengingat Pak Ardi adalah pewaris utama, nona Laras adalah wanita dan Tuan Linggar masih terlalu muda waktu itu. Tapi saya rasa keputusan ini bukanlah bersifat mutlak atau warisan. Karena seluruh aset tidak bergerak milik keluarga Pradana belum ada yang berpindah nama dan kepemilikan. Hanya terbatas pada perusahaan saja, badan usaha yang bergerak dan dapat menghasilkan uang." Cindy menyetujui pendapat Linggar, serta menambahkan penjelasannya.


"Gak usah mikirin soal warisan lah. Papa dan mama kita kan masih hidup. Aku juga tak berminat merebut dan menguasai semuanya sendirian." Ardi mencoba menjelaskan maksudnya untuk mengundang kedua adiknya ini.


"Aku sebenarnya ingin membagi harta dan aset atas namaku ke nama kalian. Tinggal sebut saja kalian mau yang mana."


"Apaan si mas Ardi? Gak usah bahas atas nama siapa perusahan ini. Anggap saja milik Pradana group," Linggar memprotes marah. Dirinya sangat percaya dan sama sekali tak ada pikiran jelek pada kakaknya itu.


Bahkan misalnya pun seluruh perusahaan jatuh ke tangan Ardi sekalipun Linggar sama sekali tak akan keberatan. Karena dia tahu betul bagaimana perjuangan Ardi untuk mengelolah perusahaan-perusahaan itu, bahkan menjadikannya jauh lebih maju daripada waktu kepemimpinan papanya.


"Aku juga setuju saja dan tak keberatan mas Ardi yang memimpin dan menguasai semuanya." Laras ikut berpendapat.


"Lebih jauh aku sangat setuju papa resign. Udah waktunya papa istirahat tanpa beban pikiran tentang perusahaan lagi." Laras menyetujui karena khawatir akan kesehatan papanya. Sebagai dokter dia tahu benar apa yang terbaik untuk kesehatan papanya.


Apalagi beberapa waktu yang lalu papanya juga sempat colaps dan jatuh sakit karena tensi darahnya yang tinggi serta ada penyumbatan pembuluh darah ke jantung yang mengharuskan papanya dioperasi untuk pemasangan ring. Mengingat akan hal itu, Laras merasa papanya sudah tidak memungkinkan lagi untuk terlalu lelah bekerja atau terlalu banyak beban pikiran.


"Beneran kalian tidak keberatan? Mumpung ada Gery yang bisa langsung ngurusin balik nama kalau kalian ingin ambil alih satu atau beberapa perusahaan." Ardi memastikan keseriusan adik-adiknya. Sebenarnya dirinya juga tahu baik Laras atau Linggar tak akan meragukan dirinya. Tapi Ardi hanya ingin bersikap adil dan meyakinkan mereka bahwa dirinya sama sekali tak berniat untuk merebut dan menguasai seluruh harta dan aset perusahaan Pradana group sendirian.

__ADS_1


Baik Laras maupun Linggar langsung kompak menggelengkan kepala mereka sebagai jawaban. Membuat Ardi mau tidak mau tersenyum, lega mengetahui jawaban mereka. Sangat bersyukur memiliki adik-adik yang baik, percaya padanya dan tidak gila serta tamak akan harta kekayaan.


"Kamu berapa lama lagi lulus kuliah nggar?" Ardi kali ini bertanya pada Linggar.


"Hampir mas, tinggal tunggu sidang. Palingan bisa ikut wisudah tiga bulanan lagi." Linggar memperkirakan waktu kelulusannya. Yah untuk seseorang dengan otak seencer Linggar memang tidaklah sulit untuk menyelesaikan study-nya sedikit lebih cepat daripada waktu normal yang dibutuhkan.


Jika benar tiga bulan lagi dirinya bisa ikut wisudah, berarti dia dapat menyelesaikan pendidikan strata satunya hanya dalam waktu tiga setengah tahun. Dan tentunya jangan ditanya lagi masalah nilai, tentu saja Linggar mendapatkan nilai sangat memuaskan meskipun tidak mencapai nilai cumlaud.


Selama lebih dari tiga tahun ini Linggar bahkan rela untuk tidak membuang-buang waktunya demi bersenang-senang, berkencan dengan para gadis dan berfoya-foya menikmati status kesultananya. Hal-hal yang dulu sering dia lalukakan waktu masih sekolah. Hal-hal yang membuatnya dikenal sebagai tuan muda yang nakal dan badboy.


Linggar hanya ingin membuktikan kepada papanya dan Ardi, kakak laki-lakinya bahwa kali ini dirinya juga bisa serius dan bertanggung jawab. Dirinya juga bisa menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan dengan hasil yang membanggakan keluarganya. Membuktikan bahwa dirinya sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang dapat diandalkan.


Di satu sisi lain juga Linggar ingin sedikit membantu dan meringankan beban yang ditanggung oleh Ardi. Setelah papanya sakit beberapa tahun yang lalu, seolah semua beban berat kekuasaan dan kepemimpinan Pradana Group langsung jatuh sekaligus ke pundak Ardi seketika. Tanpa aba-aba dan tanpa persiapan sama sekali.


Membuat kehidupan Ardi seolah berkejar-kejaran dengan waktu. Hanya disibukkan dengan urusan pekerjaan dan perusahaan. Seakaan Ardi tak miliki waktu dan kesempatan untuk menikmati kehidupan pribadinya. Bahkan untuk sekedar berhubungan dengan seorang wanita atau mengejar cintanya pun Ardi tidak sempat.


"Bagus deh kalau gitu. Berarti kegiatanmu di kampus udah longgar kan?" Ardi memastikan jadwal Linggar di kampusnya.


"Mulai besok lusa kamu magang disini ya. Gery dan Kresna nanti yang akan bantuin jelasin segala sesuatu tentang perusahaan inti di Banyu Harum. Tiga bulan kamu sudah harus menguasai semuanya. Abis wisudah langsung kamu pegang perusahaan inti yang di Banyu Harum." Perintah Ardi pada Linggar.


"Haaah? Langsung perusahaan inti mas? Bukan yang anak perusahaan dulu?" Linggar sedikit tidak percaya dengan keputusan Ardi.


"Kamu kan basicnya orang managemen, pasti cepet belajarnya. Langsung aja lah ke perusahaan inti, disana cuma mengurusi bagian produksi dan pengolahan kok. Bagian pemasaran dan finishing ikut perusahaan yang di Surabaya, aku yang pegang." Ardi menyakinkan Linggar bahwa dirinya percaya akan kemampuan adiknya itu.


"Oke deh. Tapi nanti bantu-bantuin lho mas, jangan dilepas begitu saja." Linggar masih sedikit ngeri dengan beban berat yang akan ditanggungnya.


"Kalau kamu gimana, Ras? Mau coba ambil dan urusin salah satu anak perusahaan?" Ardi menawarkan pada Laras.


"Ogah. Aku mau ngurusin Rangga aja deh. Biar kalian para pria aja yang ngurus perusahaan." Laras menolak, memang dirinya sama sekali tidak berminat dibidang bisnis.

__ADS_1


"Hes, kamu mau ambil bagian Laras?" Ardi menawarkan pada Mahes. Bagaimana pun juga dia ingin berbuat adil untuk adik-adiknya.


"Kamu kira aku punya berapa tangan dan kaki? Atau aku bisa membelah diri? Untuk ngurusin rumah sakit, klinik, dan beberapa perusahan farmasi di Hartanto group aja aku udah keteteran." Mahes menolak mentah-mentah tawarah Ardi. Siapa lagi coba kalau bukan Mahes yang berani menolak tawaran menggiurkan kayak begini?


Ardi mendengus kecewa mendengar jawaban Mahes dan Laras. Kalau Laras si masih wajar karena dia masih ingin fokus mengurus Rangga, putranya yang masih kecil. Mungkin nanti setelah Rangga sedikit besar Laras akan mau sedikit terlibat bisnis kecil-kecilan.


Mungkin inilah kelebihan dan kekurangan untuk memiliki adik ipar sesama sultan. Mahes yang notabene juga turunan sultan sudah memiliki aset dan hartanya sendiri dari keluarga Hartanto yang berlimpah. Dia sama sekali tak mengharapkan warisan harta dan aset dari keluarga Pradana.


Gak bakal ada yang namanya konflik atau perebutan harta kekayaan dalam keluarga mereka seperti yang umumnya terjadi pada keluarga-keluarga kaya. Tapi di lain sisi, Ardi juga tak bisa meminta bantuan Mahes untuk mengurusi salah satu aset mereka. Mahes sebagai pewaris utama Hartanto group sudah terlalu disibukkan dengan urusannya sendiri.


"Yaudah nunggu Linggar pinteran dikit aja ntar bagi tugas lagi sama aku." Ardi akhirnya mengalah juga. Memang beban tanggung jawab lebih besar berada di pundak anak laki-laki daripada anak perempuan. Membuat Ardi tak bisa memaksakan Laras untuk ikut menanggung beban ini.


"Lho? Mau dikasiin ke aku lagi?" celetuk Linggar kebingungan dengan keputusan Ardi.


"Rencananya si gitu. Kamu fokus mengawasi proses produksi di seluruh perusahaan yang ada di Banyu Harum. Sedangkan aku bisa fokus pada marketing dan pengembangan dari kantor utama di Surabaya." Ardi menjelaskan maksud dan rencananya.


"Memang sangat tidak memungkinkan untuk bolak-balik Surabaya-Banyu Harum terus. Jadi kita membutuhkan adanya dua managemen yang solid. Kita membutuhkan dua pimpinan yang cakap dan dapat dipercaya sepenuhnya." Cindy kembali menjelaskan slide presentasinya. "Dan tentunya pak Ardi dan pak Linggar adalah kandidat paling tepat serta kokoh tak tergoyahkan."


Semua yang hadir kembali mengangguk-anggukkan kepala tanda persetujuan. "Baiklah selanjutnya akan saya coba jelaskan pembagian keuntungan yang akan didapatkan oleh kalian bertiga." Cindy meminta Kresna untuk menampilkan bagan dan neraca-neraca keuangan sebelum menjelaskannya.


"Aku gak usah deh, kalian berdua aja. Toh kalian lebih butuh uang karena masih harus menikah dan mengurusi isteri nantinya." Laras mengundurkan diri dari kandidat penerima komisi.


"Iya aku setuju. Aku masih mampu kok menafkahi Laras dan Rangga tanpa ceperan dari Pradana Group." Mahes ikut mendukung kemauan isterinya. Ceperan katanya? komisi perusahaan inti dan lima anak perusahaan sekaligus lho ini yang lagi dibicarakan.


"Yaudahlah terserah kalian aja. Heran deh susah banget ya mau dikasih duit." Ardi menjawab Pasrah menghadapi kekeras kepalahan adik-adiknya yang seakan gak butuh duit itu. Semua yang hadir langsung tertawa mendengar perkataan Ardi.


Memang sedikit aneh si kedengarannya, disaat kebanyakan orang berebut untuk mendapatkan uang. Para pewaris Pradana Group ini seakan malah tidak menginginkan uang dan hartanya. Mereka jauh lebih menghargai hubungan persaudaraan mereka diatas uang, harta, aset dan segala hal yang bersifat duniawi lainnya.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2