
Waduh nantang banget ini kayaknya si sultanwati. Berani bayar berapa dia memangnya buat menggaji dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis jantung seperti Ella dan Roni sekaligus?
"Aku mah cuma dokter pengganti statusnya disini. Penggantinya Mas Mahes yang sedang berhalangan praktek. Pasrah aja deh mau dikasih berapa juga. Sepantasnya saja lah," Roni menjawab pasrah.
"Aku juga terserah pihak managemen RS. Hartanto Medika aja." Ella menjawab dengan sedikit bingung karena dirinya belum tahu pasaran fee dan tarif jaga untuk dokter spesialis penyakit dalam berapa.
"Gak usah sungkan begitu lah. Kalian mintanya berapa? Just tell me. Temen ya temen, duit perkara lain hehe." Sari menjadi merasa tidak enak karena kedua temannya itu tidak mau menentukan berapa fee mereka. Apa mereka jadi tidak enak untuk menyebutkan nominal angka karena hubungan pertemanan mereka?
Wah gak boleh begitu donk. Sebagai seorang direktur rumah sakit yang profesional Sari wajib menanyakan berapa fee yang diharapkan oleh setiap pegawainya, agar dirinya bisa memenuhi apa yang sekiranya diharapkan mereka.
"Udah ngikut kamu aja deh, Sar." Ella meyakinkan bahwa dirinya mempercayai keputusan Sari.
Percaya bahwa temannya yang satu ini tidak akan nakal untuk urusan keuangan seperti ini. Urusan yang menyangkut hak yang didapatkan pegawainya sebagi imbalan kerja. Yaiyalah ngapain juga pelit atau curang lhawong ini bukan duit seberapa bagi mereka. Gak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekayaan keluarga Hartanto keseluruhan.
"Yaudah kalau begini aja sistemnya bagaimana?" Sari memerintahkan sekretarisnya untuk menyodorkan selembar kertas pada mereka masing-masing. "Itu daftar fee untuk dokter spesialis. "Do you have Any complain?"
(*Ada yang kalian keluhkan?)
Ella membaca dengan seksama rincian detail tentang penjabaran beban kerja serta angka-angka yang terdapat di kertas itu. Mata Ella melebar dan terbelalak seketika demi melihat jumlah nominal angka-angka yang tertera di kertas yang dipegangnya.
Beneran ini? Apa dirinya tidak salah lihat? Gak kebanyakan ni angka nol-nya? Gak salah ketik? Ella syok melihat bilangan angka yang tertera disana. Angka yang jauh diatas expectasinya. Bahkan dalam mimpi pun Ella tak berani mengharapkan gaji segitu banyaknya.
Ella menoleh sejenak pada Roni. Ingin melihat reaksi Roni terhadap rincian kertas yang didapatnya juga. Ella dapat melihat wajah Roni juga terlihat kaget sekaligus kebingungan demi memandangi kertas di hadapannya. Ella dapat membayangkan pasti angka yang tertera di kertas Roni sama fantastisnya.
"Gimana? Apa fee segitu masih kurang? Kalau masih kurang bisa kalian utarakan." Sari terlihat bingung melihat reaksi kedua temannya yang terlihat bengong sambil memandangi kertasnya.
"Sar...Ini gak kebanyakan?" Ella yang mengutarakan alasan kebingungan mereka berdua.
"Kebanyakan? Nggak lah! Kalian berdua itu kuliahnya susah, mahal dan memakan waktu yang panjang. Tidak semua orang bisa dan sanggup kuliah seperti kalian dengan segala perjuangannya. Kalian layak kok mendapat penghargaan segitu, setelah semua efforts yang telah kalian usahakan." Sari malah ikut kebingungan mendengar ucapan Ella.
Sari sadar bahwa penghargaan terhadap tenaga medis di negara ini memang sangat kurang. Bahkan sampai-sampai para tenaga medis itu sendiri sudah terbiasa terzolimi dengan fee mereka yang rendah. Mungkin karena itu kedua temannya ini keheranan melihat nominal yang ditawarkan Sari.
Padahal menurut perhitungan Sari sendiri sebagai orang managemen, nominal segitu sangat wajar dan layak untuk mereka dapatkan. Untuk mereka peroleh sebagai bentuk penghargaan profesional mereka sebagai seorang dokter spesialis.
"Beneran gak pa-pa ni segini, Sar?" Roni ikut ragu.
"Aduh kalian kok gak percaya sama aku si? Nanti kalau kalian merasa kurang atau mau kenaikan fee boleh kok ngomong langsung sama aku."
"Bukan gitu, Sar..." Ella bingung juga jadinya. Asli dilema, di satu sisi merasa yang ditawarkan Sari terlalu besar. Di satu lain siapa coba yang tidak senang mendapatkan fee dalam jumlah besar?
__ADS_1
"Kalau kalian gak ada keluhan berarti aku anggap sebagai persetujuan saja." Sari mengambil kesimpulan dari perilaku kedua temannya itu.
"Nanti aku bikinkan kontrak kerjanya, kalian baca dulu dan dilihat lagi rinciannya. Kalau ada yang kurang sesuai bisa langsung hubungin aku nanti."
"Ok deh." Roni menjawab pasrah saja. Sementara Ella hanya mengangguk setuju. Sekali lagi kalau seorang sultan atau sultanwati sudah berkehendak akan sulit untuk dihindari tau ditolak.
"Maaf lho ya agak ribet pakai kontrak segala kayak gini. Bukannya aku gak percaya sama kalian. Tapi ya di dunia kerja kita harus profesional, gak pa-pa kan?" Sari sedikit tidak enak juga harus membuat kontrak kerja segala dengan temannya. Kontrak yang seolah mengikat kedua temannya itu. Seolah menegaskan pula bahwa dirinya adalah atasan mereka berdua.
"Gak masalah kok. Malah enak, fair buat kedua belah pihak." Ella tidak keberatan dengan sistem kontrak ini. Menurutnya memang wajar untuk rumah sakit atau perusahaan untuk penandatanganan kontrak kerja. Untuk keamanan masing-masing pihak.
Kembali Ella diingatkan dengan kemampuan, kecakapan dan kepintaran para sultan muda ini dalam mengelolah bisnisnya. Bahkan Sari yang seorang wanita, teman interenshipnya yang dulu terlihat kalem dan lugu. Sekarang juga sudah berubah menjadi sosok sultanwati yang tangguh. Seorang direktur rumah sakit besar yang berwibawa.
Sebagai pimpinan tertinggi badan usaha para sultan dan sultanwati itu tak akan tanggung-tanggung dalam setiap tindakan dan keputusannya. Mereka sama sekali tidak ragu untuk mengeluarkan uang jika memang diperlukan.
Mereka tidak akan pelit atau ragu untuk memberikan reward yang pantas bagi siapa saja yang memang layak menerimanya. Untuk mendapatkan loyalitas dan kesetiaan dari para bawahannya atau para rekanan bisnis mereka.
Penghargaan yang mereka berikan kepada para tenaga ahli juga tidak main-main. Benar-benar sudah dihitung sesuai kapasitas dan kelayakan yang seharusnya didapatkan meskipun jatuhnya jauh melebihi angka normal di pasaran.
Lihat saja, tak lama lagi pasti banyak dokter dan dokter spesialis bersedia untuk bergabung dengan Rumah sakit ini. Para tenaga medis dan tenaga administrasi serta para tenaga pembantu lainnya juga akan berbondong-bondong pindah kesini.
Rela mengabdi dan menggunakan segala keahlian mereka untuk Rumah sakit. Karena memang apa yang akan mereka dapatkan disini sangat layak dan sesuai dengan standart yang seharusnya.
Berbeda dengan rumah sakit lain yang seolah masih memperbudak para tenaga medis dan karyawan mereka lainnya. Ella juga yakin tak lama lagi Rumah sakit Hartanto Medika yang dipimpin oleh Sari ini akan sukses besar dengan managemen sebagus ini.
"Iya bulan ini aku mau fokus ngurusin kelulusan, penyumpahan dan ujian kompetensi dulu." Ella menyetujui usulan Sari.
"Untuk Roni, kalau bisa si secepatnya saja kerjanya karena poli jantung sudah buka setiap sore, biasanya si mas Mahes yang jaga praktekan. Tapi karena dia balik ke Banyu harum jadinya ya kosong."
"Aku mulai besok aja gimana?" Roni menawarkan diri. Mumpung lagi semangat-semangatnya cari duit ini. Demi cepet-cepet nikah juga hehe.
"Boleh. Secepatnya lebih baik. Kalau gitu udah fix semua ya masalah bisnis kita?" Sari mengakhiri pembicaraan resmi mereka. Baik Ella dan Roni mengangguk setuju, sangat puas dengan sambutan dari Sari sebagai calon atasan mereka.
"Gimana kabarnya Jun, Sar? Katanya kalian abis tunangan ya? Kok gak undang-undang si?" Roni memulai pembicaraan informal mereka sebagai teman lama.
"Iya, sudah hampir setahun si sebenarnya. Emang kalau diundang kalian bisa datang? Kalian kan para residen sibuk banget dan lagi kejauhan kalau kalian harus ke Banyu harum." Sari menjelaskan tentang acara pertunangannya dengan Jun.
"Hahaha iya juga sih. Salam ya buat Jun. Kangen sama omongan iritnya." Jawab Roni.
"Iya nanti aku sampaikan. Orangnya lagi ambil onkologi di UGM jadi ya jarang pulang ke Jawa timur." Sari juga menceritakan tentang Jun.
__ADS_1
Entah mengapa baik Ella atau Roni dapat menangkap perubahan ekspresi Sari saat membicarakan Jun. Apa sedang ada masalah diantara Sari dan Jun? Tapi tentu saja mereka berdua tidak berani bertanya tentang hal yang terlalu pribadi sifatnya seperti ini.
"Si Intan gimana kabarnya El? Masih cerewet gak dia?" Sari bertanya penasaran pada Ella.
"Mak Intan? Terakhir ketemu si makin heboh dan cerewet aja hehe. "Yah maklum aja dia udah jadi ibu dua anak sekarang."
"Dua? dalam tiga tahunan? Buset dah si Intan produktif amat kejar setoran hahhaha." Roni ikutan menyeletuk kaget.
"Yah gimana lagi, si Ivan awalnya g bolehin Intan buat KB...Tapi setelah kebobolan yang kedua akhirnya Intan kapok. Langsung pasang KB spiral dia sebagai bentuk protes hehe."
"Wuih ngeri si Intan, sadis." Sari ikutan berkomentar.
"Si Dani dan Ferdi juga gimana ya kabarnya sekarang?" Roni mengalihkan pembicaraan dari Intan ke teman-temannya yang lainnya.
"Si Dani kayaknya udah nikah sama tunangannya yang dulu itu. Kalau Ferdi balik ke negaranya sono, kayaknya si putus sama ceweknya yang waktu itu. Gak kuat LDR kali ya." Sari bersemangat memberikan informasi tentang teman-teman interenshipnya tiga tahun yang lalu.
"Kamu kok update banget Sar info temen-temen." Ella sedikit takjub dengan informasi Sari.
"Aduh Ella, makanya kamu itu ikutan main IG donk add tu semuanya. Gak perlu nanya, gak perlu cerita ntar juga nongol sendiri mereka lagi ngapa-ngapainnya. Anak-anak pada rajin update status kok tiap harinya." Sari gemas menyadari Ella yang kurang update.
"Ella ada kok IG tapi ya gitu udah berdebu gak pernah dikunjungin lagi bertahun-tahun." Roni ikutan mengeluhkan Ella yang kurang bermain dengan media sosial. Heran juga si, kok bisa-bisanya anak muda jaman sekarang gak hobi main medsos.
"Hahaha tau aja kamu, Ron. Yaudah ntar aku download lagi deh. Biar update dan gaul ya." Ella akhirnya mengalah juga.
"Jelas aja Roni tahu IG kamu, El. Pasti buat stalking kan? Dan hasilnya zonk? hahahaha." Sari bisa membayangkan reaksi Roni saat membuka IG Ella yang sama sekali tidak ada foto gadis itu yang terpampang halaman IG-nya.
"Nah You know lah hahaha." Roni mengakui kebenaran ucapapan Sari. "Adanya juga foto dia lagi rame-rame sama temen-temennya atau sama keluarganya. Sisanya foto pemandangan. Gak ada foto sendirian sama sekali." Roni melanjutkan keluhannya pada Ella.
"Tipikal Ella banget deh. Yang sabar aja kamu Ron." Sari ikutan gemes mendengarnya. Tapi itulah yang menaikkan nilai jual gadis itu. Ella begitu ekslusif sehingga untuk mendapatkan fotonya saja tidaklah mudah. Membuat pria yang naksir atau mengejarnya semakin penasaran saja.
"Terus kalian sendiri gimana ini kemajuannya?" Sari menanyakan rasa penasarannya tentang hubungan kedua temannya ini yang terlihat sangat dekat.
"Hemm gimana ya? Gimana El?" Roni meminta persetujuan Ella, ragu untuk menjawabnya sendiri.
"Pacar bukannya? Masa kamu lupa?" Ella menjawab dengan santainya. Jawaban yang mampu membuat Roni sumringah sekaligus Sari tercengang.
Yaampun setelah tiga tahun berlalu, setelah tiga tahun Ella putus dengan mas Ardi. Mereka berdua baru sampai tahap pacaran saja? Udah gitu kayaknya masih sungkan-sungkanan gitu? Jangan-jangan masih baru pacarannya? Sari keheranan juga akan hubungan kedua temannya itu.
Mereka bertiga pun lanjut bernostalgia dan membicarakan hal-hal yang menyenangkan tentang masa lalu dan tentang teman-teman mereka. Dengan pembicaraan akrab begini, mau tak mau mereka seolah melupakan status Sari sebagai seorang Sultan dan atasan mereka. Dan tentu saja Sari sama sekali tidak keberatan, malah senang bisa bercengkerama dengan teman lamanya.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN ðŸ¤ðŸŒ¼