
"Pada zaman dahulu hiduplah seorang raja bernama Prabu Boko. Memiliki kerajaan yang megah bernama kerajaan Pengging. Karena kekayaan yang dimilikinya membuat Bandung Bondowoso, raja dari kerajaan lain berambisi merebut kerajaan tersebut." Roni mulai menceritakan legenda candi Prambanan.
Siang ini Roni dan Sari sedang duduk santai di kursi taman, tepat di bawah pohon rindang yang menghadap ke jajaran candi Prambanan.
"Pasukan Bandung Bondowoso mengalahkan pasukan dan menguasai kerajaan Pengging. Bandung kemudian jatuh cinta dengan Roro Jongrang, putri Raja Boko. Bandung berjanji tidak akan membunuh Roro Jongrang apabila Ia mau menjadi istrinya." Roni menghentikan ceritanya sejenak, memandangi wajah Sari yang menatap dengan pandangan kosong ke arah candi.
Roni benar-benar bingung harus ngapain lagi buat menghibur Sari. Setelah puas menangis di mobil sepanjang perjalanan ke area wisata Candi, Sari tiba-tiba jadi diam membisu. Bahkan pandangan gadis itu pun menjadi kosong seakan tak ada hasrat kehidupan lagi. Saat Roni mengajak gadis itu berjalan memasuki area wisata pun tetap tak ada respon atau reaksi dari gadis itu.
"Roro Jongrang tidak ingin menikahi Bandung Bondowoso. Namun karena tidak ingin dibunuh, dia akhirnya menerima tawaran Bandung. Dengan satu syarat. Bandung harus membuat seribu candi dalam satu malam untuknya."
"Dengan dibantu oleh jin yang dipelihara olehya, Bandung Bondowoso dapat dengan mudah untuk menyelesaikan tantangan tersebut. Melihat kecurangan yang Bandung perbuat. Roro Jongrang mencari akal untuk membuat Bandung kalah dan tidak jadi menikahinya." Roni menghembuskan napas kesal dan berhenti bercerita, capek juga cerita tanpa didengar atau dikasih respon begitu.
"Lalu gimana?" Sari tiba-tiba bertanya karena Roni tidak melanjutkan ceritanya untuk beberapa lama.
"Akhirnya Roro Jongrang menyuruh pelayan kerajaan untuk menumbuk padi dengan lumpang dan membuat api sehingga langit menjadi berwarna oranye. Pertanda hari sudah pagi. Bandung Bondowoso kalah karena tipuan Roro Jongrang. Candi yang telah ia buat telah berjumlah 999 buah. Ia hanya butuh satu candi lagi untuk menyelesaikan tantangan itu." Roni melanjutkan ceritanya dengan bersemangat. Seneng sekali Sari ternyata mendengarkan ceritanya dari tadi dalam diamnya.
"Mengetahui Roro Jongrang berbuat curang, Bandung merasa dibodohi. Ia sangat murka dan mengutuk Roro Jongrang menjadi Patung untuk menggenapkan jumlah candi yang ia buat menjadi seribu." Roni mengakhiri ceritanya dengan dramatis.
"Kasian ya mereka..." Sari mengomentari.
"Hmmm kasian gimana?" Roni bingung menanggapi komentar Sari.
"Endingnya sedih. Gak ada yang bahagia..."
"Ya karena sejak awal Bandung Bondowoso jahat, terus dia curang pakai bantuan jin. Tapi si Roro Jonggrang juga salah karena ikutan curang sih."
"Makanya gak akan berakhir bahagia kalau sejak awal sudah dimulai dengan kebohongan dan penipuan." Sari mengambil kesimpulan. Seakan merefleksikan hubungan cinta mereka berdua yang juga kandas karena alasan-alasan serupa.
"Yah namanya juga legenda. Kita cuma bisa mengambil hikmahnya saja kan, untuk dapat menjalani kehidupan yang lebih baik lagi." Roni tak ingin pembicaraan mereka kembali mellow dan merusak suasana. Harus diselimurkan dulu si Sari agar sedikit melupakan soal patah hatinya.
"Eh tapi kamu tahu nggak? Ternyata jumlah candi Prambanan gak sampai 1000 lho." Roni melanjutkan dengan nada penuh teka-teki.
"Masa si?" Sari terlihat mulai tertarik mendengar pertanyaan Roni. "Berapa jumlah aslinya?"
"Cuma 250. Dan Patung yang katanya Roro Jonggang yang dikutuk juga gak ada." Roni tersenyum lega melihat Sari yang sudah tidak kosong lagi pandangannya. Sudah mulai ada pancaran semangat hidup di matanya.
"Serius?" Sari terlihat semakin tertarik.
"Iya itu patung yang ada di Candi bukan patung roro jonggrang melainkan patung Dewi Durga."
"Siapa lagi itu Dewi Durga?"
"Dewi dari kepercayaan hindu yang dilambangkan wanita cantik naik harimau dan bertangan banyak."
"Wah selain tentang jantung kamu tahu banyak juga tentang sejarah ya." Sari sepertinya sudah sedikit melupakan kesedihannya. Sudah bisa sedikit mengembangkan senyum ringan di wajahnya.
"Iya donk hehehe." Roni tertawa lega. Demi siapa coba aku sampai go*gling cari informasi? Demi cari pembicaraan dengan siapa coba aku sampai cerita panjang lebar tentang legenda...Demi kamu Sar, cuma demi liat kamu bisa tersenyum lagi...
__ADS_1
"Terus kalau masalah jumlah candinya yuk kita buktikan sendiri ada 250 atau seribu candi." Roni berdiri dari duduknya, menyodorkan tanganya pada Sari untuk mengajaknya kembali jalan-jalan.
"Boleh siapa takut?" Sari menyambut uluran tangan Roni.
Kemudian mereka berdua berjalan beriringan menjelajahi setiap sudut area bersejarah itu. Menghitung jumlah candi yang mereka temui. Membaca dan mempelajari setiap tulisan petunjuk yang ada di depan bangunan. Serta sesekali mengabadikan moments dengan berfoto berlatar pemandangan atau berselfie bersama.
Menyenangkan, cukup menyenangkan acara jalan-jalan mereka ke candi Prambanan sebelum akhirnya melanjutkan ke wisata lainnya. Ke candi Ratu Boko yang merupakan kesatuan paket wisata dengan candi Prambanan. Lokasinya juga hanya 3 kilometer dari candi Prambanan.
Situs Ratu Boko sebenarnya bukan sebuah candi, melainkan reruntuhan sebuah kerajaan. Oleh karena itu, Candi Ratu Boko sering disebut juga Kraton Ratu Boko. Disebut Kraton Boko, karena menurut legenda situs tersebut merupakan istana Ratu Boko, ayah Lara Jonggrang.
Roni dan Sari melanjutkan wisata budaya mereka mengelilingi situs bahkan menyempatkan diri untuk makan siang disana. Sebelum melanjutkan ke tujuan mereka selanjutnya, tebing Breksi.
Tebing Breksi, tempat yang sebelumnya adalah bekas pertambangan batu breksi. Tebing batu yang telah dipahat dan diukir sangat indah sehingga dapat menjadi karya seni menakjubkan. Sebuah danau tepat disebelah tebing serta brown canyon yang seperti undakan arena ikut menambah keindahan suasana disana.
"Sini, Sar." Roni mengulurkan lengannya untuk membantu Sari naik ke puncak tebing bebatuan. Dan Sari menurut saja menyambutnya.
"Ngapain di atas?" Sari penasaran.
"Kita datangnya pas banget. Sunset."
"Waaaah keren banget." Sari mengikuti arah pandangan Roni ke ufuk barat. Terkagum-kagum menikmati pemandangan cakrawala senja yang disuguhkan oleh alam.
"Gak rugi kan jauh-jauh, naik-naik bukit buat liat beginian?" Roni ikutan seneng melihat Sari seneng.
"Iya, asli gak rugi. Asik banget travelling sama kamu. Kamu tahu banyak hal yang gak aku tahu." ujar Sari sambil terus memandang keindahan sunset.
"Makasih banget buat hari ini. Aku tahu kamu sudah berusaha menghibur dan membuatku melupakan kesedihan," lanjut Sari sambil mengalihkan pandanganya ke wajah Roni. Tersenyum.
"Ini adalah broken heart party paling keren. Semoga kamu juga bisa mengobati luka hatimu ya, Ron."
"Iya ini broken heart party buat kita berdua...Semoga masa depan yang menanti kita akan lebih indah." Roni menyetujui istilah yang dipakai Sari...*Broken heart part**y* eh? Bener juga.
"Kapan-kapan kita jalan lagi yuk. Kemana gitu..." Roni menawarkan, berharap masih ada next adventure bareng Sari yang ternyata sangat menyenangkan. Sari memiliki jiwa petualangan dan rasa penasaran yang besar akan segala sesuatu.
"Boleh. Kamu kan masih hutang janji ngajakin ke wedang ronde ala Jawa timur," Sari mengingatkan.
"Oiya bener juga. Bisa tu diagendakan." Roni menyanggupi janjinya tadi pagi.
Keduanya kemudian tersenyum dan tertawa riang bersama. Entah bagaimana sebagian beban berat yang menghimpit dan menyesakkan dada serasa terangkat dan menghilang. Menghadirkan sedikit rasa nyaman, kegembiraan dan ketenangan di hati masing-masing.
Baik Roni dan Sari sangat menikmati perjalanan mereka berdua kali ini. Saling mendukung, menghibur dan memberikan semangat. Saling memberikan kenyamanan dan pelipur lara. Mereka saling memahami luka dan derita satu sama lainnya tanpa harus banyak berkata dan bercerita.
Keduanya sedikit heran juga dengan kecocokan satu sama lainnya. Seakan mereka disatukan oleh nasib buruk, oleh kesedihan dan kemalangan serta kegagalan kisah asmara mereka.
Kenapa bisa senyaman ini untuk sekedar menghabiskan waktu bersama? Seolah-olah mereka berdua tak ingin waktu cepat pergi berlalu dan mengakhiri perjalanan dan kebersamaan mereka berdua.
Perjalanan pesta patah hati mereka akhirnya berakhir di jalanan Malioboro. Roni dan Sari berjalan beriringan di sepanjang Malioboro Boulevard yang ramai di malam hari. Berbagai warung lesehan serta pedagang berjajar berderet-deret disepanjang jalan. Menawarkan barang-barang dagangan mereka pada para wisatawan yang berlalu lalang.
__ADS_1
Sari kegirangan menghampiri setiap stan dan berbelanja di sepanjang jalan. Membeli barang-barang remeh seperti bros, gantungan kunci, kain batik sampai baju rumahan. Roni sampai hampir lupa bahwa si Sari ini seorang sultanwati. Ngapain coba dia belanja di pinggir jalan beginian? Bukannya biasanya dia beli-beli baju dan aksesoris di mall atau butik ternama?
Petualangan mereka berakhir di warung lesehan pinggir jalan. Dimana mereka duduk berdua menghadap jalanan dengan sesekali dihibur oleh para pengamen yang menghibur mereka dengan lagu-lagu yang merdu.
Sekali lagi Roni keheranan melihat Sari yang tidak terlihat risih atau keberatan dengan warung pinggir jalan begini. Duduk ngemper di lantai lagi. Makan lalapan dengan langsung menyuap menggunakan tangan lagi. Bahkan tanpa jaga image sama sekali, Sari menghabiskan nasi lalapannya dengan lahap. Dia terlalu sederhana dan apa adanya untuk wanita sekelas sultanwati Hartanto.
"Kenapa? Kok gitu ngeliatnya?" tanya Sari menyadari tatapan Roni padanya.
"Heran aja, bisa-bisanya seorang Mayang Sari Hartanto makan dengan lahapnya di lesehan pinggir jalan begini." Roni menjawab jujur.
"Jun yang ngajarin..." Sari menjawab ringan. Kemudian berhenti sebentar karena tanpa sadar dirinya menyebut nama Jun.
"Jun yang mengajari aku arti kesederhanaan. Arti hidup seperlunya dan tidak berlebihan. Arti kebahagiaan yang tak bisa didapatkan dengan uang dan harta kekayaan...Dia mengajari banyak hal padaku. Mendewasakan aku, sang nona besar yang manja sehingga menjadi seperti sekarang."
"Dia juga yang mengajari tentang kemandirian. Untuk melakukan apapun yang bisa kulakukan sendiri tanpa merepotkan orang lain. Dia juga mengajariku tentang kerja keras dan semangat pantang menyerah... Jun, he means a lot for me..." Sari melanjutkan ucapannya sambil menerawang.
"Makanya kamu jadi doyan sama wedang ronde ya?" Roni bertanya sambil menyeruput wedang ronde hangat-nya. Minuman yang dipesannya sebagai tambahan untuk menemani menu makan malam.
"Iya, awalnya agak aneh rasanya. Lama-lama enak, manis dan hangat. Rasanya seperti Jun...dia dengan sifatnya yang terlihat dingin, pendiam, cuek, membosankan dan tidak romantis. Tapi setelah lama bersama rasanya menjadi sangat manis dan hangat. Dia itu pria yang lembut dan perhatian dengan caranya sendiri..."
"Kamu sepertinya cinta banget sama dia..." Entah mengapa Roni merasakan suatu gejolak ketidak nyamanan di dadanya. Ada rasa iri juga mendengar Sari membicarakan pria lain dengan sebegitunya.
"Apalah artinya cinta kalau tetap saja tak bisa bersama..." Sari ikut menikmati wedang rondenya.
"Karena cinta tak harus memiliki..." Roni menyeletuk mengakhiri dengan sebuah kesimpulan. Kesimpulan pahit yang merupakan akhir dari kisah cinta mereka. Kisah Roni dan Ella, serta Sari dan Jun.
Keduanya terdiam, merenungi nasib mereka. Sambil menikmati wedang ronde hangat favorit mereka. Cukup lama hanya berdiam diri dan bermain dengan pikiran masing-masing.
Bunyi posel Sari mengakhiri kesunyian yang terjadi disana. Nama Jun yang terpampang dilayar. Jun? Kenapa dia menelpon? Sari buru-buru mengangkat panggilan itu saking khawatirnya. Tiba-tiba ada perasaan tidak nyaman yang menghampirinya. Firasat apakah ini?
"Jun? Apa apa?" Sari langsung bertanya.
"Nak Sari?..." Ternyata bukan Jun yang menelponnya, melainkan suara wanita, Bunda Nia.
"Bunda? Bunda Nia? Kenapa Bun?" Sari semakin tak sabaran saking cemasnya.
"Jun...Jun ngedrop lagi malam ini. Bunda sudah bawa dia ke rumah sakit, tapi kondisinya makin jelek dan sekarang dia sudah gak sadar, di ICU..." jawab Nia diiringi isakan tangis diseberang sana.
Sekujur tubuh Sari langsung lemas seketika rasanya mendengar berita itu. Saking lemasnya sampai tangannya bergetar sehingga ponselnya terlepas dari genggamannya. Air mata pun tak mau kalah ikut mengalir deras dari kedua matanya.
"Sar? Kamu kenapa?" Roni ikutan panik melihat reaksi Sari yang tiba-tiba aneh.
"Jun...Jun gak sadar...masuk ICU..."
"Kamu mau kesana? Kamu mau melihat dia?" ujar Roni prihatin, menawarkan diri mengantarkan Sari.
Sari hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan Roni langsung membimbing dan mengantar gadis itu ke rumah sakit tempat Jun dirawat.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss donk kasih KOMEN buat penyemangat author. 🌼