Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
218. Holiday Special ~ Kresna


__ADS_3

Kresna masuk ke ruangan Ardi untuk memenuhi panggilan dari bosnya itu. Langsung berdiri saja di depan meja ardi tanpa menyapanya. Pasti pak bos udah tahu kan akan kehadirannya, gak perlu nyapa lagi kan? Dan benar saja Ardi segera memandang dirinya setelah menyelesaikan urusan dengan tumpukan dokumennya.


"Soal pelaku penggelapan uang dan korupsi yang kamu laporkan kemarin, dari mana sebenarnya kamu mendapatkan data itu?" tanya Ardi.


"Dari daftar mutasi rekening,"


"Dana masuk rekening masing-masing karyawan?" Ardi memastikan.


"Benar."


"Kamu gak berpikir adanya jebakan? Misalnya orang tak bersalah yang sengaja dikirimi sejumlah uang padahal tidak tahu apa-apa?"


"Maaf...tidak"


"Yah wajar saja sih aku juga gak kepikiran ke situ awalnya. Sampai Cindy ternyata masuk dalam list juga. Hal yang sangat tidak mungkin bagi Cindy untuk menggelapkan dana yang hanya 50 juta."


"Kenapa tidak mungkin?" Kresna penasaran kenapa bosnya ini begitu percaya pada Cindy.


"Gaji bulanannya Cindy dan 5% saham Pradana Contruction saja bisa lebih dari itu. Ngapain dia harus nyolong lagi?" Ardi mengutarakan analisanya.


"Cindy..." Kresna merasakan sedikit desiran di dadanya demi mendengar nama gadis itu disebut. Sedikit tidak suka juga mengetahui bosnya memberikan pada Cindy 5% saham perusahaannya. Kenapa pak Ardi sangat baik pada Cindy? Sedekat apa hubungan mereka?


Cindy, si miss perfect yang selalu tampil modis, cantik dan sempurna di dalam segala situasi dalam balutan work suit kekinian yang trendi. Cindy yang sangat pintar dan cakap dalam mengurusi segala hal di perusahaan raksasa pradana ini.


Cindy yang selalu menebarkan aura Untoucheable pada setiap orang. Galak dan ketus, terutama pada kaum pria yang mendekatinya. Cindy bagaikan wanita sempurna tanpa celah.


Sangat membosankan bagi Kresna awalnya untuk melihat wanita itu. Seakan terlalu plain dan tidak menyenangkan untuk dilihat, gak asik...


Tapi pertemuan tidak sengaja antara dirinya dengan Cindy di game centre beberapa hari yang lalu mengubah segalanya. Merubah total segala penilaiannya tentang wanita itu, ternyata Cindy adalah sosok yang penuh dengan kejutan, bikin penasaran.


Siapa sangka ternyata gadis cantik itu memiliki sisi lain yang tak pernah sekalipun diperlihatkannya di kantor. Sisi lain yang mampu membuat sesuatu di dalam dada kresna berdesir dan berdebar tak karuan hanya demi melihatnya.


"Kalau gitu sekarang kamu lacak siapa dan darimana pengirim dana itu. Aku mau tahu siapa dalang dibalik semuanya. Tangkep tikus busuk sialan yang mengkambing hitamkan karyawan lain." Perintah Ardi.


"Agak sulit pak," Kresna menjawab jujur. Membayangkan banyaknya proses dan kode hacking serta sistem keamanan yang harus dia tembus untuk mendapatkan data itu.


"Sulit tapi bukan tidak mungkin kan?" Ardi bersikeras, tahu benar Kresna dapat melakukannya. Dan Kresna tidak dapat membantah lagi. Diam saja.


"Kalau gampang ya gak usah nyuruh hacker kayak kamu. Buat apa aku bayar kamu mahal-mahal? Kerjain aja aku mau lihat hasilnya nanti. Kalau sudah dapat datanya minta Cindy untuk menganalisa dan serahkan laporannya ke aku." Lanjut Ardi.


"Baik, pak." Kresna menyanggupi perintah atasannya dengan sedikit mengumpat dan misuh-misuh di dalam hati.


'Brengsek, gak usah diingetin juga kali kalau elu yang ngasih gue gaji'.


Yah Kresna tahu benar tugas dan kewajiban yang diembannya. Tahu benar resiko besar yang dihadapinya dan berhadapan dengan cyber crime. Karena itulah memang sudah selayaknya dirinya mendapatkan gaji yang tidak sedikit sebagai reward.


Kresna tahu juga Ardi sangat menghargai dan memandang tinggi kemampuannya. Bahkan bosnya itu tak segan memberinya reward yang sangat pantas dan bahkan memfasilitasi segala kebutuhannya. Membuatnya menaruh respect dan loyalitas besar pada bosnya itu.


Tapi kali ini benar-benar tak akan mudah untuk melacak nomer rekening serta mutasi rekening sebanyak itu. Satu kata 'Ruwet'.


"Yaudah kamu boleh pergi," Ardi mengusir Kresna karena pria itu hanya diam saja di hadapannya, gak pamit undur diri.


Kresna hanya mengangguk menjawab dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Ardi. Kembali ke ruangannya sendiri yang masih satu lantai dengan ruangan Ardi. Kembali duduk ke meja kerjanya menghadap tiga layar monitor sekaligus, melancarkan jurus-jurus hacking tingkat tinggi untuk membobol beberapa sistem keamanan bank sekaligus.


Beberapa jam berlalu dan baru separuhnya saja proses hacking selesai. Terlalu banyak nama dan nomer rekening yang berhubungan dengan dana gelap. Terlalu banyak riwayat transaksi yang harus dipilah dan disorting sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Kresna sebagai kode hacking-nya.


Sangat wajar sebenarnya kesulitan ini, mengingat bank adalah lembaga yang berhubungan erat dengan keuangan. Tak bisa ditolerir apapun bentuk pembobolan atau hacking data dari sistemnya. Dan biasanya pasti dipasang sistem keamanan anti hacking super canggih untuk mencegah berbagai hal yang tidak diinginkan.


Tapi bagi Kresna tak ada satu sistem keamanan pun yang tidak mungkin dia masuki. Meskipun tentu tidak mudah dan memerlukan banyak waktu agar tidak tertangkap dan dianggap sebagai cyber crime. As expected, kalau terlalu gampang dibobol justru akan dipertanyakan kredibilitas dari bank tersebut. Sangat beresiko untuk menitipkan uang atau sekedar bertransaksi.


Ponsel di meja Kresna berdering dan nama 'Big boz' yang terpampang disana. Pak Ardi? Ada apa lagi? Buru-buru Kresna mengangkat dan menerima pangilan itu.


"Halo Kresna..." sapa Ardi buru-buru.

__ADS_1


"Ya pak?"


"Kres, kamu bisa tahu lokasi seseorang dari sinyal ponselnya kan?"


"Bisa."


"Aku pengen kamu lacak dan laporkan tentang keberadaan seseorang setiap jam sekali." Ardi menjelaskan tugas barunya.


"Siapa? Nomernya?" Kresna sudah penasaran saja, apa pak Ardi menemukan clue tantang pelaku penggelapan dana? Apa bosnya itu mencurigai seseorang?


"Ella, aku ingin kamu mengawasi dia. Laporkan posisi dia setiap beberapa jam sekali." Jawab Ardi tetap dengan nada serius.


"Haaah?" Kresna tak dapat menyembunyikan kekagetannya mendengar permintaan Ardi.


Ngapain coba mau stalking ceweknya kayak gini? Kalau mau tahu Bu Ella ada dimana kan tinggal nanya aja sama orangnya. Ngapain harus merepotkan dirinya dengan urusan gak penting begini? Malah hacking bank belum kelar lagi. Masa harus dijeda demi beginian?


"Ella ngambek Kres, dari tadi gak mau jawab pesanku. Ditelpon juga gak mau angkat. Aku kan kangen banget."


Kresna hanya diam saja sambil mengerutkan dahi. Apa memang cinta bisa bikin orang jadi idiot kayak gini ya? Kresna gak habis pikir bagaimana bosnya yang luar biasa cerdas bisa berakhir menjadi Mega-Bucin begini.


"Aku takut dia kenapa-napa, atau jangan-jangan lagi keluar sama cowok lain."


"Lagi sibuk mungkin," Kresna membuang napas sebal sebelum menjawab.


"Biasanya sesibuk apapun juga Ella pasti nyempetin jawab kok. Udah pokoknya kamu cek dia lagi dimana, kalau ada gambar CCTV malah lebih baik. Nanti laporkan ke aku."


"Iya..." Kresna pasrah saja. Dan Ardi langsung menutup panggilannya.


Akhirnya Kresna harus merelakan satu dari ketiga layarnya untuk mengurusi perintah baru Ardi. Merelakan kecepatan hacking-nya berkurang sepertiganya hanya untuk stalking Bu Ella. Yah daripada bosnya itu makin gila kalau kemauannya gak dituruti, bisa makin runyam perkaranya kalau dia bad mood.


Kresna mengamati ketiga layar monitornya yang sedang bekerja secara otomatis. Capek dan pusing juga lama-lama menghadapi layar. Akhirnya Kresna memutuskan untuk beranjak sejenak dari meja kerjanya. Membuat segelas kopi di pantry untuk sekedar menambahkan asupan kafein di otaknya. Untuk menambah kecerdasannya yang mulai luntur dengan semakin lama waktunya bekerja.


Setelah membuat segelas kopi, Kresna mengambil camilan yang memang disediakan untuk crew dan karyawan sebagai menu coffe break. Menyeruput kopinya dan menggigit banana cake-nya sambil menikmati pemandangan taman bisnis Park yang terlihat indah dari pantry.


Beberapa menit kemudian Kresna pun berjalan kembali ke ruangannya setelah menghabiskan kuenya. Membawa segelas kopi yang masih separuh diminum juga bersamanya. Betapa kagetnya Kresna saat mendapati pintu ruangannya terbuka.


Ruangan ini tidak selayaknya dimasuki orang lain, terlalu banyak data dan rahasia perusahaan yang ada di komputer Kresna. Bisa gawat kalau ada orang yang berniat jahat dan meretas komputernya.


Kresna mengedarkan pandangan ke seluruh ruangannya. Didapatinya seseorang sedang duduk di kursi kerjanya. Menghadap ketiga layar monitornya yang sedang bekerja. Kresna mendekati sosok itu dan betapa kagetnya dia saat mendapati seorang wanita cantik dengan rambut sebahu dalam balutan working suit mahalnya, Cindy.


Mata Kresna melebar demi melihat wanita itu, lebih-lebih saat melihat jemari Cindy yang sudah hendak menyentuh mouse dan keyboard komputernya. Fvck!


"Stop! Jangan Sentuh!" ujar Kresna.


"Eh?"


Cindy terlonjak kaget menyadari Kresna tiba-tiba ada di hadapannya. Saking kagetnya sampai jemarinya tanpa sengaja menyentuh mouse dan keyboard komputer.


Seketika proses hacking yang terlihat di layar monitor berhenti secara mendadak. Kemudian menghilang begitu saja dari layar seperti ter-shut down dengan paksa.


"Sial!" Kresna menepuk jidatnya, frustasi!


"Kres, Kresna!" Cindy memekik kaget, panik melihat kehadiran Kresna di hadapannya.


"Kenapa? Kenapa ini? Kok tiba-tiba mati?" Lanjut Cindy kebingungan melihat layar komputer yang tiba-tiba berhenti beroperasi.


Kresna mengeretakkan geliginya, terlalu kesal untuk sekedar menjawab pertanyaan Cindy. Ditariknya lengan gadis itu untuk menjauhkan dari kursi dan meja kerjanya. Kemudian meletakkan gelasnya keras-keras ke meja.


Selanjutnya Kresna menghempaskan tubuhnya ke kursi. Mengutak-atik tombol keyboardnya dengan sangat serius untuk mencoba menghidupkan lagi hacking enggine di komputer.


"Ma...maaf ya..." ujar Cindy ketakutan melihat wajah Kresna yang sepertinya sangat marah.


Kresna terdiam dengan muka kakunya, tatapan tajam berkilat-kilat serta geretakkan geliginya yang terdengar nyata. Serem, asli menyeramkan seakan pria itu sedang menahan segala amarahnya agar tidak meledak bagaikan ledakan gunung berapi.

__ADS_1


"Aku tahu aku tak seharusnya menyentuhnya, tapi tadi kamu yang ngagetin aku,...jadinya... jadinya..." Cindy mencoba menjelaskan.


Kresna tetep diam saja tak menjawab. Terlalu kesal dan marah. Kerja kerasnya selama tiga jam hilang begitu saja. Harus ngulang dari awal lagi, benar-benar sial rasanya. Dan parahnya hampir saja dirinya meninggalkan jejak sehingga hampir ketangkap sistem keamanan bank. Bisa jadi narapidana kalau beneran ketangkap. Gak lucu banget crew elit Ardi Pradana ketangkep melakukan cyber crime.


Dengan perasaan masih mangkel, Kresna kembali berkonsentrasi dengan layar dan keyboardnya. Berusaha keras menghilangkan jejak agar tak terlacak sistem.


'Sudahlah nanti bisa ngulang hacking lagi, dengan IP address baru. Yang penting aman dulu gak ketangkep.'


"Sudah aman." Ujar Kresna setelah cukup lama berkutat dengan keyboardnya.


"Aman? Sudah gak papa? Datamu gak ilang kan?" Cindy bertanya khawatir. Dari tadi sepertinya Cindy diam saja melihat Kresna bekerja karena merasa bersalah.


"Hilang. Tapi gak akan dipenjara."


"Haaaah? Di, dipenjara?" Cindy benar-benar kaget. Semakin merasa bersalah karena membahayakan keselamatan Kresna.


"Resiko pekerjaan." Kresna menjawab santai sambil me-restart ulang komputernya. Menghilangkan jejak kejahatannya.


"Maaf, maaf banget ya..." Cindy merasa tidak enak. Merasa bersalah.


Baru sekali ini dalam hidupnya, Cindy membuat kesalahan sefatal ini. Kesalahan yang bahkan bisa menjebloskan seseorang ke penjara.


"Laper! Kamu traktir makan siang." tawar Kresna, tak enak juga membuat Cindy sampai serba salah begitu. Kasian juga.


"Boleh. Ayo kamu mau makan dimana?" Cindy bersemangat, senang mendapatkan kesempatan untuk menebus kesalahannya.


Cindy berdiri dari kursinya, mendahului Kresna beranjak.


"Ayo," Cindy mengajak Kresna yang masih diam mengamati ketiga layar komputernya


Pria itu mengamati ketiga layar monitor yang telah sepenuhnya reboothing. Mengetikkan beberapa command task dan beberapa deretan kode yang menyembul di ketiga layarnya sekaligus.


Tunggu-tunggu...Cindy terbelalak kaget saat melihat Wallpaper yang dipakai Kresna untuk ketiga layarnya, terasa tidak asing.


Aaaaaagggh! Itu kan foto dirinya sendiri! Foto dirinya dengan berbagai macam pose dan posisi. Dan yang lebih parah sebagian besar fotonya adalah saat jelek dan tidak sadar kamera. Foto dirinya dengan pakaian kasual dan gembel juga terpampang disana. Apa-apaan coba? Dari mana Kresna bisa mendapatkan fotonya sebanyak itu?


"Kresna! Apaan itu? Kenapa ada fotoku di Wallpaper monitormu?" Cindy bertanya tak dapat menahan kekepoannya.


'Hoi paling nggak kan elu bisa ijin dulu sama yang punya foto! Jangan kayak paparazi gini.'


"Manis. Buat penyejuk kalo mata lagi sepet." jawab Kresna tak punya dosa.


"Ma, manis?" Cindy syok mendengarnya. Tapi entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdebar kencang dan wajahnya memanas. Seneng, seneng banget rasanya Kresna mengatakan dirinya manis sekali lagi.


"Yuk berangkat." Kresna akhirnya beranjak dari kursinya saat seluruh command task aktif sepenuhnya. Mendahului Cindy berjalan keluar ruangannya. Dan mengunci pintu ruangannya agar tak ada lagi yang masuk dan mengacaukan pekerjaannya.


"Kamu dapat dari mana foto-fotoku?" Cindy mulai menterogasi.


"Masa gak tahu?"


"Haaaah? Kamu, kamu stalkingin aku? Gila!" Cindy mengumpat marah dan Kresna hanya tertawa ringan tanpa menjawab.


"Malah foto-foto yang jelek lagi yang dipasang, malu-maluin."


"Manis kok."


"Gombal!"


"Yaudah nanti kasih foto yang layak pasang."


"Ogaaaah."


Sepanjang perjalanan ke kantin di taman bawah Bisnis Park Cindy terus saja mengomeli Kresna tentang pelanggaran privasi yang dilakukan Kresna atas dirinya. Dan Kresna dengan pasrah menerima saja omelannya.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan KOMEN yaaaa. Thanx🌼


__ADS_2