
Hari ini diadakan rapat pemegang saham rutin di Bisnis Park. Para tuan besar pimpinan dari masing-masing perusahaan yang ikut menjalankan usahanya di kawasan Pradana Bisnis Park hampir semua hadir. Investor baik besar maupun kecil juga tak ketinggalan untuk ikut hadir dalam rapat kali ini. Sekalian sebagai penilaian kinerja dari kawasan bisnis mereka serta prospek kedepannya.
Ardi sebagai salah satu founder dan pemegang kekuasaan tertinggi di bisnis park tentunya menjadi pimpinan rapat hari ini. Duduk sejajar dengan founder lainnya, Irza Wismail, Tyo Sampoerna dan Nick Marcus. Sementara Ceicillia Tang sedang berhalangan hadir siang ini.
Acara rapat berjalan dengan lancar tentu saja karena Cindy yang memegang kendali dalam mengurusi rapat hari ini. Karena tugas ini jugalah Ardi tidak melibatkan Cindy dalam urusan pribadinya dengan Gengen. Mungkin nanti setelah acara ini selesai Ardi akan meminta bantuan Cindy juga.
Bagaimana kelanjutan tuntutan Gengen? Alot tentu saja. Maklum pertarungan antar sultan memang tak akan mudah. Masing-masing dapat menyewa pengacara mahal serta dapat mengendalikan media juga. Benar-benar seperti perang Mahabarata jadinya. Dan satu hal yang dikhawatirkan Ardi adalah ini akan menjadi pertarungan panjang.
Kemungkinan terburuk memang dirinya akan dipenjara. Kemungkinan lainnya dirinya harus membayar denda dalam jumlah tidak sedikit. Tapi kemungkinan yang paling menghantui Ardi adalah tertundanya pernikahannya karena kasus ini.
Kalau sampai tercium media dirinya terlibat suatu kasus dan harus berurusan dengan kepolisian dan pengadilan pasti akan heboh. Bisa goncang seluruh dunia persilatan. Bisa batal kaweeen maaaak!!!
'No! Fvcking No!'
Dan gara-gara pikiran kalut inilah membuat mood Ardi tidak begitu bagus beberapa hari ini. Uring-uringan dan mudah marah, seakan senggol bacok. Bahkan dirinya sering bengong dan tidak fokus dalam bekerja, termasuk dalam rapat ini.
"Demikian sekian dari saya jika tidak ada yang ditanyakan lagi." Cindy mengakhiri sesi presentasi laporan statistik Pradana Bisnis Park dalam setengah tahun ini. Dan semua hadirin mengangguk puas dengan penyampaian dari Cindy yang sangat jelas, transparan dan mudah dimengerti.
"Selanjutnya akan saya serahkan kepada Pak Lazuardi Pradana sebagai pimpinan rapat untuk mengakhiri kegiatan kita hari ini." Cindy mengalihkan giliran bicara kepada Ardi.
Shiiiiiiing.....Sunyi untuk beberapa saat, Ardi juga sepertinya tidak mendengarkan ucapan Cindy.
'Duh kenapa lagi ini pak bos? Sindrom mau merrid?'
"Pak Ardi?" Cindy menegur sekali lagi. Tak ingin para hadirin menunggu terlalu lama.
Karena Ardi masih terlihat bengong (meski tetap dengan memasang muka cool). Bambang yang memang berdiri di belakang kursi Ardi mengambil inisiatif untuk untuk menepuk ringan bahu bosnya itu. "Pak, sambutan akhir."
Ardi sedikit kaget demi mendapat tepukan Bambang di bahunya, langsung tersadar dari lamunannya. Mengutuk dirinya sendiri yang sampai menunjukkan kelemahan di depan banyak orang begini.
"Ehem..." Ardi memperbaiki performanya dengan berdehem sebentar. Mengatasi kecanggungan sebelum kembali memasang pocker face-nya.
"Baiklah itu tadi presentasi dari kami yang telah dibawakan oleh Cindy. Mohon maaf atas kurang lebihnya. Dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak atas kehadiran anda sekalian. Saya bangga untuk bisa bekerja sama dengan anda..."
Baik Bambang ataupun Cindy menghembuskan napas lega karena Ardi dapat mengakhiri kegiatan rapat hari ini dengan smooth. Udah ketar-ketir aja tadi kalau bosnya itu kumat gilanya. Syukurlah sepertinya masih belum gila-gila amat.
Ardi melanjutkan kegiatan dengan menyalami dan sedikit beramah tamah dengan para bos yang pamit undur diri kepadanya. Sudah kembali pada dirinya yang biasanya, berwibawa, tegas dan disegani. Sang pimpinan tertinggi Pradana Group.
"Irza!" Ardi memanggil pewaris Wismail grup yang sepertinya akan meninggalkan ruangan rapat.
"Aku perlu ngomong sama kamu sekarang." Ardi melanjutkan dengan tingkat urgensi tinggi. Tanda bahwa dirinya tak ingin penolakan.
"Oke," balas Irza sedikit heran tapi tak keberatan.
"Ke kantorku langsung ya." pinta Ardi sambil beranjak pergi ke arah tempatnya bekerja seperti biasa. Kantor plus ruangan pribadinya.
"Aku ke sana dulu ya. Nanti kita cocokin jadwal untuk kapan bisa ketemuan." Irza berpamitan pada Tyo dan Karna, anak buahnya yang sedang bersama dirinya. Kemudian mengikuti arah langkah Ardi.
Tyo menyetujui, memberikan sebuah jempol sebagai jawabannya sebelum berpisah dengan Irza. Beranjak langsung pergi dari tempat meeting. Mungkin karena kesibukannya dia harus segera berpindah lagi ke lokasi yang lain.
"Have a seat..." Ardi mempersilahkan Irza yang menyusulnya masuk ke ruangan. Mempersilahkan Irza duduk berhadapan dengannya di meja kerjanya.
Tanpa banyak bertanya Irza otomatis langsung mengambil kursi untuk duduk di hadapan Ardi, "Ada apa?" tanyanya penasaran.
"Ada yang mau aku tanyain. Tapi sebelumnya kamu mau makan siang apa?" Ardi menawarkan sebagai tuan rumah yang baik.
"Sebenarnya kalau kita bisa pergi makan di luar, aku pengen makan mie ayam bakso OPE." Irza menjawab setelah berpikir sedikit lama.
"OPE?" Ardi yang sejak tadi bermuka tegang langsung tertawa terbahak-bahak mendengar usulan makanan dari Irza. Diantara banyak pilihan makanan ngapain ini sultan milih mie ayam pinggir jalan. Dan lagi mie ayam yang itu lagi...
Warung yang menjual mie ayam bakso dengan kode OPE adalah warung rekomendasi Linggar. Menurutnya mie ayam disana sangat maknyus rasanya. Berbekal rasa penasaran Irza dan Ardi pernah ke warung yang dimaksud Linggar itu.
Ketika mereka berada di tempat yang dimaksud, Ardi dan Irza tak kuasa menahan tawa karena spanduk warung tersebut sangat cetar dan menggetarkan dunia persilatan. Dengan ditambah foto dari Ultraman yang ikut terpampang disana.
...MIE AYAM BAKSO ORA PATEK ENAK...
__ADS_1
...ULTRAMAN PERNAH MAKAN DISINI...
Cukup lama Ardi dan Irza tertawa ngakak sebelum akhirnya mencoba menu makanan disana yang ternyata memang cukup enak sesuai rekom Linggar.
"Tapi kalau makan mie ayam dibungkus bukannya jadi nggak terlalu enak karena mie nya udah pada mekar?" Ardi memprotes.
"Iya ya. Jadi beneran Ora Patek Enak." tambah Irza cekikikan dengan logat bahasa jawanya yang aneh.
"Apa mending makan sate aja? Sate batas kota?" Irza memberi usulan lainnya.
Lagi-lagi Ardi tertawa ngakak, "Kamu masih inget aja ya warung-warung absurd yang pernah kita cobain atas nama wisata kuliner itu."
Bagaimana Ardi tidak tertawa ngakak, karena sama seperti warung usulan Irza sebelumnya. Warung sate ini juga memajang spanduk yang tak kalah absurd-nya. Dengan memajang gambar Naruto di spanduknya yang bertuliskan;
...SATE AYAM BATAS KOTA...
...NARUTO PERNAH MAKAN DISINI...
"Boleh.. Boleh.. Akan aku suruh di Bambang beli dulu ya." ucap Ardi semangat. Dia kemudian menekan interkomnya menghubungi Bambang.
"Halo, Mbang? Tolong pesankan 2 porsi di warung Sate Ayam Batas Kota. Alamatnya di jalan Ngagel Tirta." Ardi memberi perintah. "Jangan sampe salah lho ya, yang Naruto pernah makan disana."
"Hah? Naruto pak?" Bambang terdengar bingung tapi Ardi sudah mematikan sambungannya.
'Emang ada ya sate yang pernah dimakan Naruto?' Bambang hanya bisa pasrah menuruti permintaan aneh bosnya.
Setelah selesaikan sambungan, Ardi menghilangkan bekas senyuman dan tawa di wajahnya, berganti memasang raut wajah yang lebih serius.
"Za, waktu di acara ulang tahun Cecil pas kejadian di kolam kamu ada di mana?" Ardi mulai bertanya.
"Waktu itu… Aku awalnya lagi di area meja prasmanan buat nyari minum." Irza menjawab setelah berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat kejadian itu.
"Berarti waktu kejadian Ella kecebur kamu nggak ada di lokasi kejadian?" Ardi bertanya meminta kepastian dari Irza.
"Kalau begitu ceritakan apa saja yang kamu lihat saat berada di lokasi kejadian. Every details matter." Ardi meminta penuh harap. Berharap Irza mengetahui sesuatu yang dapat membantunya.
"Saat datang ke TKP aku melihat Ella sudah berada di dalam kolam renang dan Ridley juga berniat menceburkan Kika. Tapi sepertinya tidak jadi berkat aksimu yang heroik pada Gengen." Irza menyunggingkan senyum karena teringat adegan yang bagaikan di film action saat Ardi menonjoki tubuh Gengen. Ultraman mah lewat.
"That madafaka..." Ardi mengumpat geram.
"Seharusnya kuhajar lebih keras lagi dia. Kalau perlu sampai orang tuanya bahkan nggak bisa mengenalinya lagi. Beraninya dia menghina calon istriku. Itu artinya sama saja dia seperti menghina kehormatanku juga." Lanjut Ardi sambil menggeretakkan geliginya, marah.
"Memang si Gengen ngomong apaan?"
Sebelum lanjut bercerita Ardi menghela nafas panjang seolah jika tidak melakukannya dia akan lupa bernafas saking emosinya.
"Si Gengen brengsek itu mengatai Ella sebagai cewek matre. Bahkan lebih jauh dia sampai menjanjikan duit kalo Ella mau nemenin tidur di hotel. Menjijikkan."
"Si idiot itu! Berani bener dia." Komentar Irza ikut geram mendengarnya. Sebagian karena ikut merasakan kekesalan dan kemarahan Ardi.
Sebagian lainnya juga bersimpati. Tentunya simpati pada Gengen karena telah apes berurusan dengan orang yang salah. Ardi Pradana.
"Saat denger ceritanya langsung dari mulut Ella, aku rasanya langsung panas banget mau meledak. Otakku rasanya mendidih. Serasa di dalam badanku berisi lahar gunung berapi. Marah kalau inget Ella bercerita dengan muka sedihnya." Ardi melanjutkan ceritanya dengan semakin emosi.
"Aku paham perasaanmu." Irza bersimpati.
"Parahnya lagi, si Gengen itu waktu aku ultimatum untuk minta maaf ke Ella dia gak mau. Malah makin ngelunjak. Dia nantangin aku dengan melayangkan gugatan resmi padaku atas tuduhan tindak kekerasan dan penganiayaan." Nada bicara Ardi lebih tinggi 1 oktaf saking marahnya.
"Kamu gugat balik dong. Pasal perbuatan tidak menyenangkan." Irza mengomporinya Ardi. Masa temennya ini mau begitu saja digugat Gengen tanpa perlawanan? Bukan Ardi Pradana banget itu...
Orang seperti Gengen memang harus beneran dibuat kapok sekapok-kapoknya supaya nggak makin ngelunjak. Supaya gak sombong dan ngulangin perbuatan bejatnya. Kalau diberi ati pasti ngerogoh ampela dia.
Ardi menghela nafas berat, seolah melepaskan beban pikirannya. "Pengennya sih begitu. Aku sudah meminta timku untuk cari bukti atau saksi yang bisa memberatkan si Gengen. Tapi hasilnya masih saja kurang. Justru malah terlalu banyak saksi yang memberatkanku. Makanya aku minta kamu ke sini, siapa tau kamu bisa jadi saksi untukku."
Irza terdiam memikirkan ucapan Ardi. Memang penyerangan Ardi terhadap anggota Kobold grup sangat jelas kejadiannya. Karena Ardi sama sekali tidak setengah-setengah dalam menghajar Gengen yang sudah membuatnya naik pitam. Dan apesnya terlalu banyak saksi mata yang melihat kejadian itu.
__ADS_1
"Sori banget. Sayangnya aku datang ke lokasi agak terlambat." Irza menjawab dengan nada menyesal.
"Sekarang aku baru ngerti rasanya jadi kamu, Za. Kika dan ibu tirimu kan sering dikata-katain kayak gitu sama orang-orang..."
"Jaman itu udah lewat sih. Sekarang setelah Kika udah punya prestasi sendiri di perusahaan, nggak ada lagi yang ngomong macem-macem tentang dia." Irza menanggapi santai.
"Lho? Kika nggak cerita ke kamu?" Ardi bertanya sedikit heran dengan jawaban Irza. Kok tumben Irza tidak marah Kika dihina juga sama Gengen dan Ridley? Bukannya Irza ini sister complek kronis? Bahkan Ardi saja tak pernah sebegitunya dulu sama Laras. Sayang dan melindungi sebagai kakak, tapi gak sampai jadi sister complek kayak temennya yang satu ini.
"Cerita apa?" tanya Irza kebingungan, tak mengerti maksud dari ucapan Ardi.
"Gengen dan Ridley kan ngata-ngatain Kika juga waktu kejadian itu." jawab Ardi.
Mata Irza langsung terbuka lebih lebar dan berkilat-kilat karena mendengar informasi ini, "Beneran?"
"Iya beneran."
Tanpa pikir panjang lagi Irza mengambil ponselnya. Menekan tombol panggilan ke arah nomor Kika. Terlihat sangat gelisah untuk menanyakan kebenaran dari ucapan Ardi barusan. Memang Irza Wismail ini sudah terkenal logis, pasti dia akan memastikan kebenaran.
"Halo. Ada apa Kak?" sebuah suara menyahut.
Irza mensetting panggilan dalam kondisi loudspeaker agar Ardi dapat ikut berbicara juga.
"Halo Kika. Lagi sibuk nggak?" tanya Irza.
"Ini aku baru mau ke kantin nyusul yang lain."
"Aku lagi sama Ardi nih." Irza menjelaskan.
"Halo Kika." Ardi memberi salam.
"Halo Kak Ardi. Gimana kabarnya?" Kika menjawab sapaan Ardi dengan ramah.
"Kabar baik." Ardi menjawab basa basi.
"Kika, aku baru tau ceritanya dari Ardi. Kenapa kamu nggak bilang ke aku?" Irza bertanya to the point.
"Cerita yang mana ya?" tanya Kika balik.
"Tentang Gengen dan Ridley cari gara-gara sama kamu dan calonnya Ardi." Irza semakin tak sabar.
"Oh...tentang itu."
"Emang kurang ajar banget tu si Gengen. Beraninya memaki dan menghina perempuan baik-baik kayak Kak Ella." Kika lanjut nyerocos dengan nada marah.
"Kak Ardi ngehajar dia kemaren kayaknya masi kurang banyak. Harusnya lebih dibonyokin lagi!"
"Hahaha bener banget!" Ardi tertawa menyetujui.
"Perkara Ella itu urusannya Ardi." ujar Irza tak sabaran. Penasaran dengan kejadian tentang Kika.
"Yang aku mau bahas ini kejadian yang di kamunya. Kata Ardi kamu juga dimaki ya? Sama siapa? Gengen juga? Atau Ridley?"
"Ya kayak biasanya aja kok."
"Kayak biasanya bagaimana? Mereka bilang apa?" Irza semakin mendesak adik perempuannya untuk mengatakan apa yang terjadi.
"Uuuummm....Hampir sama seperti yang dialami Kak Ella, Ridley bertanya berapa tarifku dan memintaku untuk check in di Balamb Garden."
"What? That damn Madafaka!" Irza terang-terangan mengumpat kali ini, terlihat meledak terbakar amarah.
~∆∆∆~
Penasaran dengan tokoh Kika dan Irza Wismail? Mereka ada di novelnya temenku ASTARI berjudul YOUNG MISS. Jangan lupa dikepoin juga ya dijamin gak kalah serunya 🥰
🌼Yuuuuks say PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼
__ADS_1