Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
235. S2 - Join Force


__ADS_3

"Kayak biasanya bagaimana? Mereka bilang apa?" Irza semakin mendesak adik perempuannya untuk mengatakan apa yang terjadi.


"Mereka cuma pedes di mulut doang. Lagian aku sudah biasa." Kika menjawab.


"Pedes di mulut yang kayak gimana? Kamu dibilang sok cantik? Sok imut? Sok tahu?" Irza meminta penjelasan yang lebih rinci. Kika terdiam sejenak.


"Za, kemaren aku sempat tanya Kika untuk keperluan crosscheck kejadiannya Ella... Kalo dari ceritanya, Kika dikatai perempuan matre dan anak pelacur." Ardi melanjutkan dengan nada sehalus mungkin. Tapi tetap saja Irza langsung memberikan tatapan sinisnya kepada Ardi sebagai tanda tersinggung.


"Jangan melotot padaku. Aku cuma mengulangi apa yang dibilangin sama si Gengen atau Ridley." Ardi mencoba menenangkan pimpinan Wismail grup itu.


"Apa lagi yang mereka katakan? Bilang semuanya sekarang." Irza melanjutkan semakin mendesak.


"Uuuummm....Hampir sama seperti yang dialami Kak Ella, Ridley bertanya berapa tarifku untuk satu malam dan dia menawariku untuk check in di Balamb Garden dengan bayaran lebih besar."


"What? That damn Madafaka!" Irza terang-terangan mengumpat kali ini, terlihat sudah terbakar amarah


"Seharusnya kamu tampar mulut lancang Ridley seperti Ella menampar Gengen. Kalo perlu tonjok dia pake high heels-mu." Kata Irza berapi-api terbakar amarah. 


"Aku sudah balas dengan hinaan juga kok. Anggap aja impas. Makian dibayar makian." Kika sepertinya tak ingin memperpanjang masalah.


"Emang kamu balas apa?" Ardi penasaran.


"Ya waktu dia dengan sombongnya bilang bisa memubuat aku puas. Aku jawab emang bisa ya dengan burung pipit kecilmu yang bahkan Mak Erot aja udah nyerah buat gedein?"


"Hahahaha"


Jawaban Kika dengan nada tak punya dosa kali ini sukses membuat Irza dan Ardi kembali tertawa ngakak. Savage! Good job Kika!


Itu adalah hinaan yang paling telak melukai harga diri seorang laki-laki. Apalagi untuk Ridley yang sudah terkenal badboy dan doyan main wanita.


"Kalo emang ada kejadian gitu kenapa kamu nggak bilang ke aku? Menghina kamu berarti menghina seluruh keluargamu. Menghina Wismail grup." ujar Irza kembali meninggi. 


"Sudahlah, anggap aja masalahku selesai."


"Gak bisa! Mungkin kamu sudah kebal dengan hinaan, sehingga bisa menerimanya. Tapi kejadian ini adalah yang pertama kali buat Ella. Bahkan pada pesta sultan pertamanya. Ella benar-benar terpukul karenanya." Ardi memberi jeda sejenak.


"Aku marah, aku kecewa karena tidak bisa melindunginya. Aku merasa bersalah pada Ella dan lebih-lebih pada kedua orang tuanya. Seharusnya aku membahagiakan Ella bukan malah membiarkan dia mendapatkan penghinaan yang tidak pantas dia terima...Baik Ella atau kamu tidak pantas untuk direndahkan begitu." Ardi menjelaskan alasan pada Kika kenapa dia tak bisa melepaskan kasus ini begitu saja. Tidak sebelum membuat perhitungan dengan si brengsek Kobold bersaudara itu.


"Kika, kedepannya kalau kamu menerima perlakuan tidak menyenangkan bilang ke aku ya. Atau ke Johanh juga boleh. Jangan dipendam sendiri. Karena kamu adalah putri Wismail yang berharga." Irza juga ikut menambahi ucapan Ardi.


"Iya Kak, makasih ya...Thats mean so much for me." Kika menjawab dengan nada terharu. 


"Dan kita punya satu alasan lagi untuk tidak melepaskan kasus ini. Karena si brengsek Gengen itu bahkan menggugat resmi Ardi atas tuduhan penyerangan dan penganiayaan. Mengancam akan memenjarakan Ardi." Ujar Irza berapi-api.


"Apa? Dasar laki-laki kerdus tak tahu diri! Kayaknya memang bogem mentah aja gak cukup buat bikin dia jera. Kalian hajar saja mereka. Jangan kasih ampun lagi!" Kika ikutan emosi mengetahui Ardi Bahkan sampai dituntut secara hukum begitu.


Baik Ardi atau Irza sepakat menyanggupi permintaan Kika sebelum akhirnya menutup panggilan dengan gadis itu. Kedua pimpinan grup raksasa itu seolah mencapai kesepakatan tak tertulis bahwa mereka akan bekerjasama untuk menghancurkan Gengen dan Ridley. Join Force.


Setelah panggilan berakhir, seorang office boy mengantarkan makan siang yang sudah mereka tunggu-tunggu. 50 tusuk sate ayam plus empat porsi lontong. Memang kedengarannya seperti porsi jumbo. Tapi bagi kedua pria dewasa yang sedang kelaparan ini porsi segitu pas. Laper bang? Iya laper banget gara-gara emosi.


"Jadi gimana? Kamu ada ide? Terus terang aku udah buntu dan hanya mengcover serta membalas dari jalur hukum saja. Tapi ternyata sangat alot...Aku udah gak bisa mikir lagi." Ardi memulai kembali pembicaraan setelah mereka menghabiskan menu makan siang yang sesuai dengan selera Naruto itu.


"Ya jelas aja, paling yang ada di otakmu cuma kawin melulu sekarang!" Irza mendengus kesal menyadari Ardi yang tiba-tiba kehilangan kecerdasan dan sifat cool-nya mendekati hari pernikahannya. Apa karena sindrom mau merrid ya? Bikin tiba-tiba bego?


"Asli. Aku malah kepikiran yang jelek-jelek melulu, batal kawin atau dipenjara. Tekanannya gede, bro. Cuma tinggal sebulan lagi masalahnya." Ardi membenarkan ucapan Irza dengan malu-malu.

__ADS_1


"Seriously? C-mon bro, kemana perginya Lazuardi Pradana yang biasanya sangat cemerlang dalam mengambil keputusan?" Irza menertawakan kebodohan Ardi. Dan Ardi hanya bisa nyengir pasrah.


"Untuk membalas mereka aku sudah memikirkan seribu satu scenario di dalam otakku." Irza lanjut berkata dengan sok keren.


"Wah gak rugi kamu naik jabatan jadi pimpinan Wismail grup. Jadi bagaimana scenarionya?" Ardi semakin antusias mendengarkan.


"Sebenarnya ada banyak scenario yang bisa diambil. Tapi yang relatif legal dan tidak menimbulkan banyak korban hanya ada satu scenario saja." Irza menjelaskan dengan sangat serius.


Dalam otaknya, Irza sudah dapat membayangkan berbagai macam aksi balasan dengan memanfaatkan sumber daya gabungan dari mereka. Dari dua grup raksasa crazy rich negara ini, Wismail dan Pradana Grup. Bisa apa grup Kobolt sendirian?


"Sekarang aku nanya, kamu maunya kayak gimana?" Irza bertanya dengan senyuman licik terkembang.


"Ehhmm...Ya gak gimana-gimana deh. Pokoknya aku ingin namaku bebas dari tuntutan. Sekaligus bikin si brengsek Gengen itu jera. Kalau urusan Ridley terserah kamu saja."


"Kamu yakin cuma mau begitu doank?" Irza memastikan jawaban Ardi. Sedikit heran juga kenapa Ardi cuma ingin membuat perhitungan dengan Gengen. Padahal kalau mau bisa saja dia menghancurkan Kobolt Grup sekalian.


'Kamu terlalu baik jadi orang, Di.'


Ardi mengangguk yakin sebagai jawaban. " Aku cuma ingin Ella mendapat keadilan."


"Yaudah kalau kamu maunya begitu." Irza menghormati keputusan Ardi. Urusan Gengen biar Ardi yang memutuskan, tapi untuk urusan Ridley lain perkara. Irza sendiri yang akan membuat perhitungan dengan si brengsek itu.


"Intinya untuk bisa menjalankan rencanaku, kita harus mengerahkan 'karyawan kesayangan' kita." Irza mulai menjelaskan rencananya.


"Karyawan kesayangan?" Ardi bertanya dengan sedikit kebingungan. "Siapa? Cindy?"


"Enak bener ya kamu punya sekretaris yang serba bisa kayak dia. Cantik lagi." Irza menanggapi jawaban Ardi, sudah lama sebenarnya Irza kagum dengan kepiawaian Cindy dalam mendampingi Ardi di setiap pekerjaannya. Hoki banget Ardi bisa nemuin yang kayak Cindy, bikin iri saja.


"Tapi bukan Cindy yang aku maksud. Aku tahu kamu punya 'karyawan kesayangan' yang lainnya." Irza memancing Ardi lebih jauh lagi.


"Bukan lah!" Irza langsung menjawab cepat. Irza tahu benar siapa si Bambang ini. Asisten Ardi yang masih muda dan sangat apa ya...Duh pokoknya kamu semangat aja deh Mbang ngadepin bos kayak Ardi yang sudah terbiasa dimudahkan oleh Cindy.


Ardi memberikan tatapan kebingungan pada Irza.


"Aku mau 'anjing penjaga' kita bekerja sama. Agar pekerjaan menjadi lebih mudah dan efisien."


"Anjing penjaga ini maksudnya..." Ardi mulai bisa menangkap arah pembicaraan Irza.


"Yang mana lagi? Kalau bukan hackermu dan hackerku? Kita join Force. How about that?"


Ardi terdiam, berpikir sejenak. Untuk suatu kelompok tertentu keberadaan hacker adalah suatu top secret. Bahkan untuk kalangan internal perusahaan Pradana pun tidak banyak yang tahu kalau Kresna adalah seorang hacker. Hanya Cindy, Bambang, Gery dan Linggar yang tahu. Selebihnya hanya tahu bahwa Kresna adalah kepala bagian IT saja.


Keberadaan seorang hacker handal bisa dianalogikan sebagai sebuah senjata nuklir. Mengancam dan meresahkan instansi lain yang tidak memilikinya. Memiliki hacker berarti suatu instansi tertentu berkesempatan untuk bermain kotor. Karena biasanya apa yang dikerjakan seorang hacker atau cracker adalah melalui jalur ilegal.


"Jangan terlalu tegang gitu donk. Hampir semua grup besar punya yang namanya 'anjing penjaga'. Kebetulan saja anjingku mencium jejak anjing punyamu." Irza mencoba menenangkan Ardi.


"Padahal aku sudah bilang untuk melakukan kerjaan dengan bersih dan tanpa jejak." Ardi kesal karena Kresna melakukan kesalahan. Kesalahan yang mungkin saja dapat berakibat fatal.


"Kebetulan saja si saat aku meminta 'karyawan kesayanganku untuk meretas kamera CCTV di sekitar kolam renang Balamb Garden Hotel. Sebenarnya aku cuma ingin tahu apa yang terjadi disana. Ternyata aku malah dapat laporan ada jejak seseorang pernah menembus firewall keamanan cyber yang dipasang oleh Balamb dan Ciputra sekaligus." Irza menjelaskan.


"Sial. Udah dibilang safe and clean." Ardi berdecak.


"Jangan terlalu keras pada 'karyawan kesayanganmu' itu. Karyawanku sendiri juga mengakui kehebatannya karena jejak yang ditinggalkan sangat tipis. Rapi dan nyaris tak terlacak. Kebetulan saja karyawanku dapat menemukan jejaknya."


"Sorry lho ya, bukan maksudku tracking ke sistemmu. Awalnya aku khawatir itu adalah perbuatan dari Kobolt Grup yang ingin mengutak-atik rekaman CCTV. Kalau sejak awal aku tahu itu kamu ya pasti akan kubiarkan." Irza memperjelas dirinya tak ada niat jahat pada Ardi.

__ADS_1


"Benar, aku memang menyuruh dia untuk meretas dan melihat CCTV di TKP untuk mencari bukti yang sekiranya dapat dipakai menjerat Gengen." Ardi menghela napas, menyerah dan mengaku.


"Kenapa gak minta ke Cecil saja?"


"Aku tak ingin melibatkan Ciputra Grup. Karena mereka mempunyai banyak bisnis dengan Kobolt Grup. Jadi sebisanya aku tak ingin masalah ini berdampak pada orang-orang yang tidak berkepentingan." Ardi menjelaskan maksudnya.


"Jadi gimana? Kita sudah sama-sama buka kartu. Masih berminat dengan scenario rancanganku?"


Ardi terdiam, menatap tajam pada Irza. Menimbang dan memikirkan mana yang terbaik harus dilakukan. "Ok Irza. Let's do it! Smash them!" Ardi akhirnya memantapkan diri dengan mengepalkan tangannya.


Setelah kesepakatan itu, baik Ardi maupun Irza langsung memanggil para karyawan kesayangan mereka untuk ikut bergabung membahas strategi.


Tak lama kemudian Kresna dan Cindy mengetuk pintu dan memasuki ruangan Ardi. Keduanya mengangguk sopan menyapa bos dan tamunya.


"Ini Kresna 'Karyawan Kesayanganku'," Ardi memperkenalkan Kresna pada Irza.


Kresna hanya mengerutkan dahinya keheranan dengan sebutan 'karyawan kesayangan' dari bosnya itu. Terlalu mencurigakan. Pasti ujung-ujungnya ngasih kerjaan berat lagi...


"Halo Kresna, saya Irza Wismail." Irza mengayunkan jabat tangan ringan. Dan Kresna menerima jabat tangan itu tanpa berkomentar.


Beberapa saat kemudian pintu ruangan diketuk lagi dan masuklah seorang pria berperawakan tinggi dengan wajah datarnya. Pria itu memasuki ruangan sambil membawa tas laptopnya. Bergabung dan menyapa kepada semua yang hadir disana.


"Dia Karna, yang sudah kalian kenal sebagai salah satu eksekutif Wismail. Sebenarnya itu cuma dipermukaan saja, tugas aslinya kurang lebihnya sama seperti Kresna." Irza memperkenalkan Karna, sang 'karyawan kesayangannya'.


Baik Kresna, Cindy bahkan Karna sekaligus terheran-heran mendengar perkataan gamblang Irza. Memang sangat tabu untuk mengungkapkan rahasia besar perusahaan mereka pada perusahaan lain seperti ini. Tapi kalau kedua bos mereka sudah sepakat mau buka-bukaan kartu mau apa lagi?


Entah bagaimana ada semacam ketegangan yang tak terkatakan antara kubu Wismail dan Pradana. Ketiga anak buah kesayangan bos itu tampak saling mencurigai satu sama lainnya. Sangat berkebalikan dengan Ardi dan Irza yang malah terlihat santai.


Yah memang baik Ardi dan Irza sudah terbiasa gila-gilaan bersama dalam pertaruhan bisnis. Investasi milyaran pun dijabanin kalau salah satu dari mereka membutuhkan bantuan. Seakan sudah saling percaya tanpa keraguan sedikitpun. Untung bareng ayo, bangkrut bareng pun tak masalah.


Dan kedua tuan muda itu pun tahu yang terpenting dalam operasi gabungan Join Force ini adalah kepercayaan. Saling terbuka akan kemampuan dan keahlian masing-masing adalah cara perkenalan yang paling tepat. Untuk menghilangkan kecurigaan pada masing-masing pihak lainnya.


"Pak Irza, ini kan rahasia." Karna terang-terangan mengingatkan Irza. "Apa gak pa-pa?"


"It's ok, Ardi bisa dipercaya kok." Irza mencoba mencairkan suasana dengan nada sesantai mungkin, meyakinkan Karna.


"Tapi gak tahu ya dengan Kresna dan Cindy." Irza melanjutkan sambil melirik kedua crew Pradana.


"Mereka pasti bisa dipercaya." Ardi yang kini memberikan pernyataannya. "Aku jamin itu."


Irza langsung menepukkan kedua tangannya sebagai tanda telah mencapai kesepakatan antara kedua kubu.


"Ok then, Now shall we begin the operation?" Ujar Irza dengan semangat empat lima.


(Baiklah, apa kita bisa mulai operasinya?)


"Let the battle begin!" Ardi menyetujui.


(Ayo kita perang!)


Ketiga karyawan kesayangan para bos langsung mengambil posisi duduk di kursi, mengelilingi meja kerja Ardi. Irza menjelaskan dan menjabarkan konsep tentang strategi yang ada dalam pikirannya. Kemudian Cindy membantu untuk menyempurnakan strategi itu dengan lebih rinci dan detail. Selanjutnya membahas pembagian tugas kedua hacker yang akan beraksi sesuai dengan rencana dan proporsi yang telah mereka sepakati.


~∆∆∆~


Penasaran dengan tokoh Johanh, Kika dan Irza? Mereka ada di novelnya temenku ASTARI berjudul YOUNG MISS. Jangan lupa dikepoin juga ya dijamin gak kalah serunya 🥰

__ADS_1


🌼Yuuuuks say PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼


__ADS_2