Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
180 S2 - In Relathionship


__ADS_3

Keesokan harinya betapa kagetnya Ella saat melihat seorang pria yang dengan cueknya datang memasuki UGD beberapa saat sebelum waktu jaga sift paginya berakhir. Pria itu menghampiri kursi di pinggir ruangan alih-alih menghampiri petugas. Pria itu duduk di kursi tunggu UGD. Pria tampan dengan setelan kerjanya yang rapi, siapa lagi coba? Sudah jelas mas Ardi.


Ngapain coba dia kesini di siang bolong begini? Gak ada kerjaan apa? Bisa-bisanya dia kabur dari kantornya pada jam-jam kerja begini? Pasti bolos kerja kan? Dasar sultan yang seenaknya. Ella dapat membayangkan Bambang atau Cindy yang kelabakan nyariin bosnya yang ngilang.


"Yaampun ganteng banget itu orang, kayak artis aja." Laila, seorang perawat tiba-tiba menyeletuk sambil memperhatikan Ardi dari meja jaga mereka. Kebetulan keadaan UGD sedang aman siang ini. Jadi Ella dan kedua perawat jaga bisa duduk santai di meja jaga mereka.


"Pasien atau keluarga pasien ya? Kok malah datang terus duduk-duduk gitu?" Laila makin kepo.


"Mana mana?" Rahma rekan jaga perawat yang satunya ikutan kepo melihat arah pandangan mata Laila. "Oh yang duduk di kursi tunggu itu ya?"


"Iyaaaa...Ganteng dan keren banget kan? Kayak Rangga. Rangga-nya Cinta itu lho. Kuberlari ke pantai kemudian ku berteriak...Aaahh Kamu ganteng hahaha." Laila semakin berkomentar gak jelas.


"Gantengan suamiku di rumah." Rahma menjawab dengan santai dan kalemnya.


"Aduuuuh yang di rumah mah urusan rumah. Kalau disini kita singgle happy hahaha. Iya gak dok?" Laila tiba-tiba mengikutkan Ella dalam obrolan mereka.


"Ya gak bisa gitu juga mbak, kalau udah punya yang di rumah ya harus setia. Gak boleh mendua." Ella ikut berkomentar, menyetujui ucapan Rahma.


"Bukan mendua, dok. Cuci mata ini namanya. Sepet liat yang di rumah mulu. Kalau ada yang bening begini gak pa-pa lah untuk sekedar dinikmati. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?" Laila mejelaskan cara pandangnya dalam menikmati keindahan ciptaan Tuhan.


"Dosa La, dosa. Pandangan pertama adalah rejeki tapi kalau pandangan selanjutnya diitung dosa. Kita harus menjaga pandangan." Rahma mengingatkan.


"Ampuuun ustazah. Udah deh kalau kalian gak mau menikmati pemandangan biar aku aja." Laila sewot menanggapi reaksi Ella dan Rahma yang tidak sesuai dengan harapannya. Gak asik deh.


"Lagian dok Ella mah enak. Yang nungguin di rumah dokter Roni yang gak kalah cakepnya. Lha aku? Sepet mata dok liat yang nungguin di rumah melulu hahahaha." Laila menambakan alibinya.


"Hahahaha." Ella ikutan tertawa garing. Miris juga mendengarnya. Roni yang menunggu dirinya di rumah? Sudah tidak lagi. Roni sudah bukan kekasih Ella. Hubungan mereka sudah berakhir.


Dan yang lebih aneh lagi, entah mengapa ada rasa yang tidak nyaman saat ada wanita lain memandangi dan membicarakan Ardi. Memuji ketampanan pria itu. Ella tahu benar Laila hanya bercanda tapi tetap saja ada rasa tidak terima di hatinya. Dia cowokku tahu! Jangan dilihatin terus!


Mau tak mau Ella jadi kepikiran juga akan hal itu. Mas Ardi dengan segala pesona dan status sosialnya, pasti tak sedikit wanita lain yang akan mengagumi dan menginginkan dirinya. Mungkin Ella sudah harus bersiap-siap dari sekarang untuk mempersiapkan hatinya saat berhadapan dengan wanita-wanita penggemar mas Ardi.


Apalagi jaman sekarang banyak pelakor kan? Dan pelakor jaman sekarang ganas-ganas. Ella jadi ngeri membayangkan pelakor untuk pria sekelas babang Sultan bakal kayak gimana nantinya? Pastinya cewek-cewek high quality bahkan mungkin cewek import blasteran dengan penampilan fisik aduhai.


"Ya bagaimana pun juga yg di rumah tetep the best lah. Kan yang sah, hahal, dapet pahala lagi bukan dapat dosa kalau dinikmati." Rahma tetap kukuh dengan pendirian lurusnya.


"Iya...iya terserah mbak Rahma aja deh." Laila akhirnya menyerah, sambil kembali menikmati pemandangan seger di kursi tunggu.


"Aku duluan deh mbak. Kayaknya aman ini gak ada pasien." Ella mengemasi barangnya dan melepas jas dokternya. Menghampiri Ardi yang menunggunya sambil sibuk berkutat dengan ponselnya.


"Bisa dibantu, pak?" sapa Ella jahil pada Ardi.


"Eeeeh?" Ardi mengalihkan perhatiannya dari ponselnya ke arah datangnya suara. Sedikit kaget dengan sapaan Ella padanya. Kirain siapa yang nyapa, resmi banget nadanya.


"Kamu sudah selesai?" tanya Ardi.

__ADS_1


"Udah. Mas Ardi mau ngapain? Mau jadi pasien atau jenguk?" Ella makin jahil menggoda Ardi.


"Mau jemput bu dokter paling cantik di RS. Hartanto Medika." Ardi menjawab balik merayu Ella.


"Oh salah orang berarti."


"Bener kok. Bagiku kamu yang paling cantik." Sekali lagi Ardi mengeluarkan rayuan mautnya.


Rayuan yang mampu membuat Ella tak berkutik dan tersipu malu. Duh makin pinter aja ni mas Ardi menggombal dan merayu begini.


"Yuk kita pergi," Ardi bangkit dari kursinya. Tanpa menunggu jawaban Ella langsung saja meraih dan menggandeng jemari gadis itu, mengajaknya berlalu pergi dari UGD dengan bergandengan tangan.


Rahma dan Laila yang melihat kejadian di depan mata mereka hanya bisa melongo gak percaya. Melihat hubungan antara dokter Ella dan si Rangga ganteng yang misterius. Jadi si cowok ganteng tadi nungguin dokter Ella? Siapanya? Kok mesra banget keliatannya? Terus dokter Roni gimana donk? Wah bisa jadi bahan gosip panas seluruh rumah sakit ini.


Ardi mengajak Ella ke parkiran ke tempat dia memarkirkan mobilnya. Kali ini Ardi memakai mobil BMW hitamnya. Ardi membukakan pintu mobilnya untuk Ella. Dan di dalam mobil itu ternyata sudah ada kejutan yang menunggu untuk Ella.


Mata Ella terbelalak seketika begitu melihat sebuah balon besar berbentuk kepala minnie mouse yang diikat entah kemana. Di jok mobil juga ada sebuah luxury box yang berbentuk kepala mikey mouse dengan isian coklat-coklat sebesar telur didalamnya. Coklat mahal dari Belgia sepertinya yang dikemas dengan bungkus keemasan. Sebuah pita berwarna pink yang manis juga turut menghiasi kotak itu.


Disebelahnya lagi ada sebuah luxury box lain yang berbentuk hati berisikan nut*lla, kind*rjoy serta berbagai cemilan-cemilan berbahan coklat lainnya. Ditambah lagi boneka-boneka beruang berukuran kecil yang berwarna coklat juga. Tak ketinggalan pita pinknya ikut menambah indahnya box yang ini.


'Apa-apaan coba? Serba coklat begini? Mau bikin aku gendut apa dikasih coklat dan manis-manis sebanyak ini?' batin Ella berteriak. Sekotak besar coklat hadiah Ardi waktu penyumpahan aja masih ada, malah ditambahin lagi. Bisa diabetes beneran ini lama-lama. Bukan hanya karena makanan manis tapi juga karena sikap dan tindakan Ardi yang terlalu manis padanya.


"Apa...Apa-apaan ini mas?" Ella bertanya pada Ardi dengan takjub menatap hadiah di hadapannya.


"Tembakan kedua...El, would you be my girl?" Ardi langsung saja melancarkan tembakan keduanya. Tanpa kompromi dan tanpa basa-basi lagi.


"Dasar...gak sabaran banget si mas?" Ella tertawa ringan. Gadis itu mengambil hadiah-hadiahnya dari jok depan mobil dan memindahkannya ke jok belakang. Tak lupa mengambil sebutir coklat telur yang sepertinya sangat menggoda untuk disantap.


"Kan kemarin aku bilang mau nembak lagi?" Ardi memasuki mobilnya begitu Ella selesai membersihkan jok. "Jadi, apa jawabanmu?"


Ella ikutan masuk mobil dan duduk di jok sebelah Ardi. "Apa masih perlu ditanyain lagi? Masih perlu formalitas begini-begini juga?" Ella tertawa geli.


Ngapain coba pakai katakan cinta lagi? Kan udah sama-sama tahu perasaan masing-masing? Sudah gak usah ditanya dan diragukan lagi seharusnya bagaimana perasaanya pada Ardi. Kenapa malah ruwet-ruwet pakai acara beginian? Dasar kebanyakan duit ya untuk dibuang-buang. Masih mending sih yang diberikan berupa makanan. Jadi gak terlalu mubazir lah.


Ardi menghidupkan mesin mobilnya. Menyalakan AC mobil, tapi tidak menjalankan mobilnya. Ingin meneruskan pembicaraan mereka dahulu dengan suasana yang lebih nyaman.


"Hmmm kamu gak suka ya?" Ardi bertanya sedikit khawatir. Tuh kan, gagal lagi strategi sweet ala primbon bikinan Cindy buat nembak Ella. Padahal kalau cewek lain dikasih kayak gini pasti sudah klepek-klepek. Tapi kayaknya gak ngefek buat Ella. Sifat Ella yang berbeda dari cewek kebanyakan ini yang sering bikin pusing Ardi gimana ngatasinnya.


"Suka, suka banget. Tapi gak perlu sampai begini juga kan? Aku gak butuh dikasih-kasih beginian." Ella menjelaskan. Memang susah untuk menjabarkan devinisi kata 'mubazir' bagi seorang sultan. Mereka yang kebanyakan duit untuk dibuang seenaknya.


"Terus kamu maunya dikasih apa? bunga bank?" Ardi kesel juga mendengar jawaban Ella. Kalau seneng yang bilang seneng aja gak usah pakai tapi tapian, kan bikin kecewa yang ngasih.


"Idiih kok diinget terus masalah bunga bank." Ella tertawa ringan. "Yang aku butuhkan cuma ketulusan dan kepastian dari mas Ardi."


"Masa kamu masih belum yakin juga?" Ardi semakin tidak sabaran mendengar jawaban Ella.

__ADS_1


"Hmmm gimana ya?"


"Gimana apanya? Terus jawaban kamu apa ni? Diterima atau nggak?" Ardi semakin gregetan saja.


"Kasih tahu nggak ya..."


"Kasih tahu! Ella! Apa jawabanmu?"


Ella tertawa semakin lebar. Menikmati menggoda Ardi yang semakin galau, gregetan dan tidak sabaran. Kemana coba perginya Ardi Pradana yang biasanya memasang poker face yang dingin tanpa ekspresi?


Ella sengaja berlama-lama memberi jeda sebelum akhirnya menjawab.


"I would..."


"Yes!!" Ardi tersenyum dan membuang napas lega mendengar jawaban Ella.


"Akhirnya kamu mau jadi pacarku lagi! My Honey! Welcome back my honey." tambahnya kegirangan.


"Now we're officially in relathionship. Don't you dare to cheating on me." Ella memberikan persyaratan. Tiba-tiba ingat masalah pelakor yang mungkin akan dihadapinya sebagi pasangan Ardi.


(*Sekarang kita resmi sebagai sepasang kekasih. Awas kalau kamu berani selingkuh di belakangku).


"Apaan si? Kamu bisa pegang ucapanku. Gak bakal ada wanita selain kamu di hatiku." Ardi menyanggupi persyaratan Ella dengan mantab.


"Janji lho ya..."


"Iyaaa janji..."


"Sini deh masa orang baru jadian manyun mulu." Ardi meraih dan menarik tubuh Ella mendekat ke arah tubuhnya. Memeluknya tubuh gadis itu dengan sangat erat. Seakan ingin membuktikan kesungguhannya pada Ella.


"I love you...always love you..." bisiknya lembut pada telinga Ella.


"I love you too..." Ella membalas ucapan Ardi.


Ardi melepaskan pelukannya perlahan, tersenyum memandangi wajah cantik Ella yang begitu dekat dengannya. Diraihnya bagian tengkuk Ella untuk mendekatkan wajah Ella dengan wajahnya sendiri. Menghilangkan jarak yang memisahkan mereka.


Dan tanpa dapat dihindari lagi, bibir Ardi pun akhirnya bertemu dengan bibir Ella yang sensual. Ardi langsung disuguhi oleh sensasi lembut, empuk dan manis yang menempel di bibirnya. Enak, memabukkan dan bikin ketagihan. Ketagihan untuk terus-terusan melakukan tanpa ada akhirnya. Sensasi yang seakan mampu membakar seluruh tubuh mereka dalam gairah membara.


Kedua bibir Ardi dan Ella beradu dan bertemu dengan gerakan yang cukup intens membara, saling menyambut dan membalas satu sama lain. Tak ada yang mau mengalah dalam mengungkapkan rasa cinta mereka. Sampai beberapa saat kemudian mereka melepaskan tautan bibir dan berganti saling melemparkan senyuman puas.


"Makasih sudah mau menerimaku kembali." Ardi mengakhiri dengan kecupan ringan di bibir Ella.


Dan gadis itu hanya sanggup mengangguk dan tersenyum sambil menata napas dan detakan di dadanya yang terasa menggila.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼


__ADS_2