Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
226. S2 - Kebablasan


__ADS_3

Setelah semua kegilaan dan perbuatan brutal yang telah mereka lakukan, perbuatan atas dasar cinta, nafsu dan gairah. Harapan Ardi hanya satu... Semoga ada seseorang yang bisa menghentikan tindakan mereka.


Semoga segala kegilaan ini masih dapat dihentikan. Semoga baik dirinya atau Ella tidak akan kebablasan sebelum akhirnya mereka sah menjadi suami istri. Semoga Ardi masih bisa memegang janjinya untuk menjaga kesucian Ella sampai hari pernikahan mereka berdua nanti ...


Tetapi reaksi yang diberikan Ella benar-benar diluar dugaan Ardi. Gadis itu malah tersenyum manis kepadanya. Seakan nafsu dan gairah juga sudah merasuki pikiran Ella. Lonjakan hormon adrenalin telah merusak logika dan akal sehat di otaknya. Ella tampak begitu pasrah, tanpa penolakan...


Ardi yang sedang 'tinggi' tentu menganggap jawaban Ella sebagai persetujuan dari gadis itu untuknya. Bahwa Ella mengijinkan dirinya untuk melanjutkan permainan mereka lebih jauh lagi. Permainan api asmara yang semakin membara...


'Aaaahhhh seharusnya kamu mendorong saja tubuhku menjauh darimu, El. Seharusnya kamu memarahiku karena bertindak terlalu jauh... Kalau kamu sepasrah ini, aku bisa apa?'


Ardi kembali meletakkan jemarinya untuk membelai bibir Ella, spot favoritnya dari wajah Ella. Betapa kagetnya Ardi saat Ella lagi-lagi seakan memberikan sambutan positif dengan mengecup ringan jemarinya itu. Seakan mempersilahkan dirinya untuk lanjut menikmati bibir ranum nan sexy itu.


Dengan pandangan yang sudah semakin berkabut ardi mendekatkan wajahnya hingga hidung keduanya bersentuhan. Ardi memiringkan posisi wajahnya sehingga bibirnya bisa langsung menyambar bibir Ella. Tangannya pun tak mau ketinggalan ikut bergerak untuk menekan leher ella lebih mendekat kepadanya. Untuk memperdalam ciumannya.


Ardi menciumi dan menikmati bibir Ella seakan tak bisa berhenti, tak ada habisnya. Baru berhenti setelah keduanya hampir kehabisan napas.


Selanjutnya seakan masih belum puas, Ardi meneruskan aksinya dengan memberikan ciuman ke bagian wajah Ella yang lainnya, hidung, pipi, bibir, dagu dan leher. Semuanya rata mendapatkan ciuman ringan darinya tanpa terkecuali ...


Hasrat yang semakin tinggi membuat Ardi tak hanya berhenti sampai wajah Ella. Ardi melanjutkan gerilyanya menciumi leher Ella yang jenjang. Menikmati aroma tubuh Ella yang harum dan memabukkan disana, turun dan semakin turun lagi sampai di area tulang selangka Ella yang seakan terpahat dengan sangat indah.


Ardi Mendaratkan ciuman yang sedikit spesial disana. Meninggalkan tanda cintanya dengan warna kemerahan. Stempel yang seakan menandai bahwa Ella adalah milik Ardi seorang.


Ardi memandangi hasil karyanya di tubuh Ella itu. Menyunggingkan senyuman puas melihatnya.


"You're mine, honey."


"Mas Ardi..." Ella menyebut nama Ardi dengan sedikit mendesah tertahan dan napas terhela.


Panggilan untuknya paling merdu yang pernah didengar Ardi dari bibir Ella. Panggilan sexy dan menggoda... Wajah Ella sudah semakin memerah dengan ekspresi terlena karena sentuhan lembut bibir Ardi di area sekitar lehernya yang sensitif.


Akibat panggilan dari Ella yang menggoda itu, Ardi jadi semakin berani dan bersemangat. Pria itu kembali mendaratkan bibirnya di bibir Ella. Menciumnya dengan lebih panas membara dengan tangan Ardi juga ikut bergerak kemana-mana.


Seakan memiliki mata dan pemikirannya sendiri, sebelah tangan Ardi ikut aktif meraba sampai ke bagian depan tubuh Ella. Menyelinap ke dalam bath robe yang dikenakannya sampai mendapati gundukan lembut dan kenyal disana. Ardi meremas bulatan yang nyaman untuk digenggam itu. Ukurannya serasa begitu pas di genggamannya. Tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil.


Ella kaget dengan tindakan Ardi yang semakin tak terkendali. Tapi entah mengapa dirinya tak punya kekuatan untuk menolaknya. Tubuhnya seakan terhanyut dalam kenikmatan dari setiap sentuhan Ardi pada tubuhnya. Sentuhan yang diberikan pria itu yang terasa sangat lembut dan halus di sekujur tubuhnya. Pasrah, Ella hanya bisa pasrah menerima semuanya...


Melihat gadis yang dicintainya dalam keadaan seperti itu seakan membuat otak Ardi semakin konslet saja. Semakin error dan tidak bisa berpikir lagi. Menghilangkan semua logika dan kontrol dirinya. Yang ada di kepalanya hanyalah tentang meneruskan aksinya untuk menyalurkan hasratnya...


"Ting...Tong..."


Suara bel tiba-tiba nyaring terdengar di seluruh penjuru ruangan. Memecahkan kesunyian. Membuat Ardi dan Ella terlonjak kaget seketika. Menyadarkan dari segala kegilaan yang barusan mereka lakukan.


Tertegun, termenung dan terdiam keduanya sambil menata napas masing-masing yang cepat memburu. Mencoba meredakan kobaran gairah dan debaran di dada mereka yang masih membara.


"Ting tong...Ting tong...Ting tong..." Karena tak ada respon, bel kembali berbunyi. Berbunyi berkali-kali dengan tanpa kenal kompromi.


"Brengsek! Siapa sih!" Ardi mengumpat terang-terangan dengan sangat emosional.


"Pak? Pak Ardi? Saya datang membawakan pakaian ganti buat bapak." Suara teriakan Bambang terdengar dari luar pintu masuk kamar mereka.


"Aaaaaaaaaarrrrghhh!"


"FVCK YOU, Mbang!"


Ardi berteriak frustasi. Memaki dan mengumpat atas kedatangan Bambang pada waktu yang sangat tepat ini. Bisa-bisanya kamu Mbang...


Kesal! Sangat kesal sekali rasanya Karena mendapat gangguan saat dirinya sudah kepalang tanggung dan sampai di ubun-ubun...


Ardi buru-baru bangkit dari posisinya yang masih berada diatas tubuh Ella. Berlalu begitu saja dari kamar Ella tanpa kata. Terlalu canggung rasanya.


Ardi memperbaiki posisi bath robe-nya yang sedikit berantakan. Beranjak ke ruang tamu untuk membukakan pintu bagi Bambang.


"Selamat malam, pak Ardi." Bambang menyapa dengan senyuman terkembang saat Ardi membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Ini barang pesanan bapak," Bambang langsung menyerahkan dua buah papper bag berisi pakaian pada Ardi sambil senyam-senyum gak jelas. Membuat Ardi semakin kesal saja melihat wajahnya.


"Blaaamb!"


Tanpa basa-basi bahkan tanpa terima kasih Ardi langsung menutup kembali pintu kamarnya tepat di depan muka Bambang.


"Pak? Ada lagi yang bisa saya bantu?" Bambang bertanya kebingungan melihat reaksi bosnya yang terlihat sangat marah itu. Aku salah apa lagi coba?


"Minggat sana!" Ardi mengusir Bambang dengan semena-mena. Dan Bambang pun segera menurut pergi dengan keheranan maksimal.


Ardi buru-buru ke kembali ke kamarnya dan masuk kamar mandi. Menyiram tubuhnya dengan air shower yang dingin untuk meredakan segala gejolak jiwanya. Menenangkan kepala bagian atas dan bawahnya yang sudah overexcited.


Guyuran air dingin ternyata mampu menjernihkan otak Ardi agar bisa berpikir dengan lebih jernih. Mengembalikan kecerdasannya sehingga bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan.


"Sial!" Ardi mengumpat sambil menggosok keras rambutnya dibawah siraman air shower yang dingin.


"Hampir saja...Hampir saja kebablasan..."


Mau tak mau Ardi merasa sangat bersyukur karena mendapatkan ganguan pada saat yang tepat. Rupanya Tuhan telah menjawab doanya dan mengirimkan Bambang untuk menghentikan tindakannya sebelum semuanya terlambat. Menyelamatkan dirinya dari kemungkinan melanggar janji bahkan lebih jauh melukai dan mengecewakan Ella.


Membuat Ardi tak jadi marah, malah merasa berterima kasih pada Bambang, asistennya itu. "Makasih, Mbang! Kalau gak ada kamu, gak tahu udah sejauh apa kami kebablasan."


Setelahnya puas mendinginkan tubuh dan kepalanya, Ardi memakai pakaian yang dibawakan Bambang, Work suit yang biasa dipakainya. Kemudian Ardi menyerahkan pakaian Ella yang dibawakan juga oleh Bambang ke kamar gadis itu.


"Honey, ini bajumu. Buruan ganti ya." Ardi mengetuk pintu kamar Ella dan meletakkan begitu saja papper bag yang tersisa di depan pintu. Masih tak sanggup rasanya untuk berhadapan langsung dengan Ella.


Tanpa menjawab Ella mengambil papper bag itu dan kembali masuk ke kamarnya. Cukup lama gadis itu di dalam kamar sampai akhirnya keluar dari kamar. Ella menghampiri Ardi yang sedang menonton TV di ruang tengah dengan langkahnya yang masih sedikit pincang.


"Mas...gak ada baju lain ya?" tanya Ella malu-malu.


Ella sudah berganti pakaian dari bath robe yang tadi dikenakannya. Gadis itu kini memakai kemeja putih polos. Kemeja milik Ardi yang terlihat kedodoran untuk dipakai di ukuran tubuh Ella. Warna putih yang mau tak mau sedikit memberikan kesan tembus pandang untuk bisa melihat lebih banyak.


'Glek!'


'Duh Bambang kapan pinternya si kamu? Kenapa gak dibeliin baju cewek aja di toko tengah jalan buat Ella? Kenapa malah dibawain kemeja milikku? Kenapa pula yang warna putih?' Ardi membatin dengan geramnya pada Bambang.


Lebih parah lagi sepertinya Bambang juga tidak membawakan bawahan dan onderdil daleman untuk Ella. Good job, kalau ini mah hehe. Kapan lagi bisa lihat penampilan Ella semenggemaskan ini.


Gadis itu mengambil duduk di salah satu sofa yang tepat berhadapan dengan Ardi dengan sedikit salah tingkah. Berusaha menutupi pahanya yang jelas terasa semriwing dengan udara kamar ber AC. Berusaha menutupi agar Ardi tak bisa melihatnya.


Ardi tak tega juga melihat Ella yang sepertinya tidak nyaman dengan pakaiannya. Segera diambilnya ponsel dan ditelponnya si Bambang lagi.


"Mbang, hoi bego! Kamu bawa baju apaan buat Ella?" Ardi langsung memarahi Bambang saat penggilan mereka tersambung.


"Gak nemu pakaian cewek pak, di almari pak Ardi."


"Astaga... Ya pasti lah. Ngapain aku nyimpen baju cewek di almariku?" Ardi makin gemes sama begonya Bambang.


"Sekarang kamu beliin baju buat Ella. Terus bawa kesini lagi secepatnya. Sekalian Dalemannya."


"Haaah? Da, Daleman? Saya yang beliin pak?" Bambang bertanya ragu-ragu. Yaelah pak, saya masih single happy yang gak pernah sekalipun memegang daleman cewek pak. Masa disuruh beli?


"Cepetan beli dan bawa kesini!"


"Pak...itu Daleman kayaknya ada nomernya...nomer berapa punya Bu Ella?" Bambang bertanya takut salah beli.


"DA*MN You! Beraninya kamu nanyain! Ella itu calon nyonya kamu!" Ardi tidak terima Bambang menanyakan ukuran Ella. Gimana kalau anak sialan itu jadi mbayangin coba? No! Gak boleh!


Ngomongin nomer, mau tak mau membuat Ardi jadi teringat sensasi yang dirasakan oleh tangannya saat menggenggam suatu gundukan yang empuk dan kenyal tadi... They're mine!


"Tapi pak..." Bambang memprotes tapi Ardi sudah keburu mematikan panggilannya.


'Duh mampvs, mau beli nomer berapa? Ya lord, mohon kasih petunjuk pada hambamu ini...' batin Bambang sudah menangis teraniaya.

__ADS_1


"El...Maaf ya...Aku, Aku tadi kebablasan..." Ardi memulai pembicaraan mereka.


"Iya..." Ella menjawab dengan muka merah padam. Malu, malu sekali rasanya kalau mengingat apa yang terjadi tadi antara dirinya dan Ardi.


"That was a mistake... A sweet mistake." Ardi menyesali kebodohannya.


"Aku sayang sama kamu, El. Tapi yang namanya laki-laki itu punya insting sebagai hewan buas yang sulit dikendalikan. Sebaiknya kita jangan berduaan terlalu dekat lagi kayak tadi sebelum benar-benar sah menikah. Banyak setan..."


Keduanya kembali terdiam sejenak. Berpikir.


"Makanya kalau kata orang tua, sudah deket hari H gak boleh sering-sering ketemuan. Karena pasti akan banyak cobaan dan godaan. Sebaiknya kita batasi saja ya ketemuannya." Ella memberi saran.


"Kalau kangen gimana?" Ardi mencoba merajuk.


"Tinggal Vidio call."


"Kalau masih kangen?"


"Pakek tidur! Nanti ketemuan di mimpi."


"Duh..."


Ardi mengeluh tapi dalam hati membenarkan akan kebenaran perkataan Ella. Setelah kejadian tadi Ardi benar-benar sadar akan kemungkinan itu. Kemungkinan untuk kebablasan lagi mengingat mereka berdua sudah mencapai tegangan tinggi.


Dipandanginya sekali lagi Ella yang duduk di hadapannya. Sepertinya gadis itu kembali kedinginan karena pakaiannya yang terlalu minim. Ardi bangkit dari duduknya dan berjalan ke salah satu kamar untuk mengambil selimut tebalnya. Kembali pada Ella dan ditutupkannya selimut itu ke tubuh Ella sebelum beranjak pergi.


Tetapi langkah Ardi terhenti karena Ella meraih sebelah tangannya. Menahannya agar tidak pergi.


"Jangan pergi, jangan jauh-jauh dariku." pinta Ella.


"Aku masih disini kok."


"Temenin..."


"El...Kamu harus tahu, dari tadi aku itu udah nahan diri banget lho..." Ardi berkata jujur. Tak ingin kejadian tadi terulang lagi.


"Temenin aja duduk disini...please."


Mana tahan coba? Tembok pertahanan Ardi langsung jebol seketika demi mendengar ucapan manja Ella. Akhirnya menurut saja duduk di sofa yang sama di dekat Ella.


Dan betapa kagetnya Ardi teryata Ella hanya ingin tiduran dengan meletakkan kepalanya di paha Ardi. Meringkuk dengan selimut yang rapat membungkus tubuhnya, seperti anak kucing yang kedinginan. Manis sekali.


'Mbang, buruan datang Mbang! Selamatkan aku biar gak berduaan aja sama Ella!'


"Maaf ya mas...Aku udah bikin malu mas Ardi. Aku udah merusak nama baik keluarga Pradana bahkan di pesta pertamaku."


"Haaaah?" Ardi bener-benar kaget mendengar ucapan tak terduga dari mulut Ella. Sudah jelas sekali siapa yang salah dalam kejadian tadi, tapi Ella malah menyalahkan dirinya sendiri.


"Seharusnya aku nurutin ucapan mas Ardi tadi..."


"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Aku seharusnya gak ninggalin kamu sendirian...Maaf ya..." Ardi mengusap lembut kepala Ella yang ada di pangkuannya. Berusaha memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk gadisnya itu.


"You're doing great today. Gak usah mikir yang aneh-aneh biar aku yang urus sisanya." lanjut Ardi.


Ella tersenyum lega mendengar jawaban Ardi. Lega karena Ardi tidak merasa direpotkan olehnya. Oleh masalah yang dibuatnya.


Kemudian gadis itu memejamkan matanya dan perlahan tertidur di pangkuan Ardi dengan tidak punya rasa bersalah. Meninggalkan Ardi yang menahan sesuatu karena gesekan lembut kepala Ella di pahanya.


'Mbaaaang...Buruan datang Mbang!' Ardi sudah menjerit frustasi dalam hati.


~∆∆∆~


Cukup segitu ajaa part uwunya... Gak boleh terlalu jauh karena belum sah. Yang terlanjur hot hot pop silahkan dilanjutkan dalam bayangan masing-masing. Cyaaaw

__ADS_1


🌼Yuuuuks say jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN yaaaa 🌼


__ADS_2