Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
114. S2 - Kediaman Suherman (2)


__ADS_3

"Tante Ella pacarnya Om Oni ya?" celetuk si kecil Nisa, aduh darimana coba kecil-kecil tahu istilah pacar. Kebanyakan nonton tayangan TV jaman now yang tidak mendidik kayaknya ini anak. Ella gemas mendengarnya, namun hanya sanggup tersenyum tanpa berkata-kata.


"Berarti tante Ella nanti jadi manten sama Om Oni dan jadi tante kita." Aish sang kakak ikut menambahkan. Nah ini lagi logika darimana coba? Logika gadis kecil berusia enam tahun?


"Gak boleh! Pokoknya Om Oni kan nanti jadi manten sama Nisa!" Sang Adik memprotes sekarang.


"Enggak Om Oni nanti jadi manten sama Aish." Sang kakak ikutan tak mau kalah.


Kedua gadis kecil itu semakin berebut, bertengkar dan beradu mulut untuk mendapatkan Om Oni-nya. Membuat Ella, Roni dan kedua orang tua Roni semakin gemas serta terkikik geli melihat kelucuan dan kebawelan kedua gadis kecil itu. Cerdas dan ceriwis banget mereka ini kelihatannya...


"Mereka berdua terobsesi banget sama pernikahan. Mereka pengen menjadi manten sejak diajakin kondangan sama mamanya, El." Roni menjelaskan tingkah lucu kedua keponakan kesayangannya.


"Karena melihat mempelai wanita yang cantik seperti putri atau ratu di film-film. Mereka kepengen banget jadi seperti putri juga hehe. Mungkin karena bingung dengan pasangan manten-nya mereka milih Om Oni aja." Mama Roni menambahkan penjelasan.


"Tante Ella cantik kan? Kalau tante Ella jadi manten juga pasti akan sangat cantik nanti." Mama Roni menengahi dan melerai pertengkaran kedua cucunya. "Nanti Nisa sama Aish jadi manten kecilnya yang mengiringi di sebelah tante Ella."


Ucapan mama Roni ini mampu membuat wajah Ella terasa memanas. Ella tahu mama Roni memang tidak bermaksud apa-apa, tapi tetap saja sepertinya ada suatu harapan tersembunyi dibalik perkataannya itu. Seolah mengharapkan Ella dan Roni benar-benar menjadi sepasang pengantin.


Pembicaraan apa ini coba? Ella mau tidak mau menjadi panik juga demi mendengar celotehan kedua gadis kecil dan mama Roni. Kok tiba-tiba jadi ngomongin manten coba? Masa iya mau membahas pernikahan di kunjungan pertama Ella ke rumah ini? Dan lagi kenapa pembicaraan ini dimulai oleh kedua gadis kecil ini dengan tanpa dosanya?


"Jadi Nisa sama kak Aish bisa jadi manten kecil barengan?" Nisa memastikan ucapan neneknya.


"Iya nanti barengan aja kan seru," Ida membenarkan. Dan kedua kakak beradik itu langsung menghentikan pertengkarannya, tertawa kegirangan.


"Nah bener kata Uti, kalian jangan bertengkar lagi ya. Tadi tante Ella belikan donat buat Nisa sama Aish, sana minta donatnya sama mbak Siti." Roni memberikan solusi agar kedua anak berisik itu pergi.


"Wah donat? Mauuu...." Nisa langsung menghambur pergi ke bagian dalam rumah.


"Aku juga mauuuu..." Aisyah tak mau kalah ikut mengejar adiknya ke dalam rumah.


"Hahaha maaf ya nak Ella, mereka berdua memang selalu heboh dan ribut. Umurnya terlalu dekat cuma beda setahun jadinya ya kayak gitu." Papa Roni kali ini memberikan penjelasan, tak enak dengan tingkah nakal kedua cucunya.


"Gak pa-pa kok, Om. Aish dan Nisa lucu banget." Ella sama sekali tidak keberatan dengan tingkah mereka.


"Lucu si, tapi pertengkaran mereka terjadi setiap hari dan setiap saat. Lumayan bisa jadi hiburan dan peramai suasana hehe." Mama Roni menambahkan dan langsung disetujui oleh suami dan putranya.


Mau tak mau Ella menjadi sangat senang melihat kehangatan dan keakraban keluarga Roni. Suasana kekeluargaan dan kebebasan disini sangat terasa. Mama dan Papa Roni menyambut Ella dengan sangat baik dan ramah. Seakan tak keberatan dengan kehadiran Ella diantara mereka. Terlepas dari sudah sejauh mana hubungannya dengan Roni.


"Eh ma, kok tamunya gak disuguhi apa-apa ini?" Papa Roni bertanya kepada isterinya.

__ADS_1


"Lho iya, si Siti mana tadi ya?" Mama Roni baru sadar bahwa tak ada suguhan apapun di meja untuk Ella dan Roni. Ida buru-buru meninggalkan ruang tamunya, masuk ke dalam rumah.


"Duh maaf lho nak Ella, pasti deh mamanya Roni keasikan ngobrol tadi sampai lupa kasih suguhan." Rizal meminta maaf atas sifat pelupa isterinya.


"Gak pa-pa, Om. Santai saja," Ella menjawab.


"Nak Ella rumahnya dimana?" Rizal ikutan penasaran dengan gadis cantik yang dibawa Roni.


"Surabaya, Om. Daerah Ketintang, deketnya Royel Plaza." Ella menjawab dengan detail.


"Oh sekitaran kampus UNESA ya?"


"Benar sekali, Om."


"Udah kerja atau masih sekolah?" Rizal kembali bertanya pada Ella.


"Masih sekolah, Om. Barengan sama Roni di Uner cuma beda prodi."


"Wah ambil prodi apa?" Rizal semakin tertarik mengetahui Ella juga seorang dokter yang sedang melanjutkan study-nya ke jenjang spesialis. Gawat juga ni si Roni, pinter banget milih cewek. Udah cantik, sopan, dokter, spesialis lagi.


"Penyakit dalam," jawab Ella singkat.


"Si Ella udah mau lulus pa, gak kayak Roni masih lama." Roni menambahkan.


"Yeee, emang beda masa study-nya," jawab Roni sewot yang mampu membuat ketiganya tertawa.


"Keluarga gimana nak Ella? Orang medis juga?" Rizal kembali menanyai Ella.


"Papa dan Mama di bidang pendidikan, Om. Cuma Ella yang tersesat di bidang medis hehe." Ella jadi terbawa suasana obrolan santai dan informal mereka.


"Yah biar bisa ketemu aku kan, El?" celetuk Roni sedikit menggoda Ella. Dan yang digodain cuma tersenyum saja, bingung mau jawab apa.


Dalam hati Ella merasa sangat lega, karena tak ada suasana canggung atau intimidasi yang menyesakkan jiwa dari kedua orang tua Roni. Tak ada interogasi yang mendalam tentang latar belakang dan keluarga Ella. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga hanya pertanyaan standart yang biasa ditanyakan saja.


Keluarga Suherman ini terkesan sangat welcome dalam menyambut Ella. Seakan keluarga Roni tak memperdulikan dari mana asal usul gadis yang dibawa putranya. Selama gadis itu terlihat baik, sopan, dan berasal dari keluarga yang jelas maka mereka tak akan keberatan. Sangat berbeda sekali dengan suasana dan perlakuan yang Ella pernah dapatkan dari kediaman keluarga Pradana beberapa tahun yang lalu.


Tak lama kemudian mama Roni kembali ke ruang tamu. "Makan siang udah siap, gak jadi disuguhi disini deh langsung masuk aja kita makan bersama." Ujarnya memberikan informasi. "Ayo nak Ella, jangan sungkan-sungkan."


Ella, Roni dan Rizal segera bangkit dari duduknya dan mengikuti Ida berjalan ke arah meja makan. Disana sudah tertata rapi berbagai macam menu sajian makan siang untuk mereka.

__ADS_1


"Ayo silahkan, maaf lho masakannya seadanya saja. Roni si gak ngasih tahu dulu kalau mau pulang, kan mama bisa nyiap-nyiapin makanan enak klo dikasih tahu mau ada tamu." Ida mempersilahkan Ella dengan ramah, sekaligus mengomeli Roni.


"Ini udah lebih dari cukup kok, Te. Terima kasih," Ella mengambil duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan yang berbentuk oval itu. Duduk bersebelahan dengan posisi duduk Roni.


"Ini namanya surprise, ma hahaha." Roni menjawab dengan beralibi. Mulai mengisi piringnya dengan berbagai sajian yang terhidang di meja. Masakan rumahan yang tentunya sangat dirindukannya selama hidup dalam perantauan di kota lain. Masakan terenak didunia baginya dan tak ada duanya, masakan mamanya tercinta.


Selanjutnya prosesi makan siang berlangsung dengan tenang. Tak ada yang mengobrol dan berbicara hanya berkutat dengan piring, sendok, garpu serta makanan yang ada di piringnya masing-masing saja.


Pembicaraan ringan baru dimulai saat semua sendok dan garpu sudah diletakkan kembali di piringnya. Formalitas acara makan siang dan ramah tamah yang biasa dilakukan tuan rumah dalam menjamu tamunya.


"Siti sudah menyiapkan kamar tamu buat nak Ella. Monggo kalau ingin istirahat sejenak." Mama Roni mempersilahkan Ella untuk beristirahat setelah prosesi makan siang mereka selesai. Setelah cukup lama juga mereka ngobrol tentang berbagai hal yang menyenangkan.


"Iya, Te. Maaf ya jadi merepotkan," jawab Ella.


"Merepotkan apanya? Tante malah seneng banget Roni akhirnya mau bawa teman main ke rumah."


"Kayak aku gak punya teman aja, Ma?" Roni tidak setuju dengan ucapan mamanya. Perasaan dulu dirinya sering membawa teman untuk main ke rumah mereka. Bahkan saat kuliah, karena rumahnya dekat dengan kampus maka rumahnya ini sering sekali dijadikan base camp oleh teman-teman kuliahnya satu jurusan. Untuk sekedar nongkrong atau mengerjakan tugas dan kerja kelompok mereka.


"Habisnya yang kamu bawa kesini kan laki-laki semua. Dari jaman masih sekolah, kuliah sampai udah jadi dokter pun masih begitu. Gimana mama mau seneng coba? Yang ada malah ketar-ketir."


"Mamamu udah khawatir kamu gak doyan cewek, Ron. Dikirain kamu agak belok kali hahaha." Papa Roni terang-terangan menertawai putranya kali ini.


"Haduuh! Asyem banget deh mama. Masa gak percaya sama kejantanan anak sendiri." Roni mengeluh, terang-terangan manyun mendengar kelakar mama dan papanya. Sedikit terhina juga dikira sedikit belok. Baik Ella, mama dan papa Roni ikutan tertawa melihat reaksi Roni yang terlihat sangat tidak senang.


Sejak dulu Roni memang sudah berprinsip untuk tidak akan membawa teman wanita manapun ke rumah. Kecuali wanita yang benar-benar dicintainya dan dirinya ingin serius berhubungan dengan wanita itu. Dan sejauh ini, selama dua puluh tujuh tahun Roni hidup dirumah ini memang baru Ella, wanita yang pertama dibawanya ke rumah.


Bahkan pacar, sahabat, dan teman dekat wanitanya mulai jaman sekolah sampai kuliah pun tak ada seorang pun yang pernah dibawanya ke rumah. Tak ada yang pernah diperkenalkan pada keluarganya.


Roni bukanlah tipe yang tertutup dan tidak pernah berhubungan dengan wanita, hanya saja dia tak ingin mencampur adukkan urusan percintaan dengan urusan keluarganya. Tidak sebelum dirinya memutuskan untuk benar-benar serius dengan wanita itu. Seperti apa yang dirasakannya pada Ella.


"Yaudah sana anterin nak Ella istirahat dulu di kamar tamu, Ron." Rizal memerintahkan.


"Yuk, El." Roni bangkit dari kursinya dan mengantarkan Ella ke kamar tamu yang terletak di bagian belakang rumah, menghadap halaman belakang yang tertata apik lengkap dengan kolam ikan di tengah halaman. Pepohonan asri dan bunga-bunga anggrek juga tertata apik di halaman ini. Rupanya mama Roni adalah penggemar bunga.


"Kamu istirahat dulu ya, kalau butuh apa-apa kirim pesan aja padaku." Pamit Roni sebelum akhirnya pamit dan meninggalkan Ella sendirian di kamar itu.


Ella memasuki kamar bernuansa coklat itu, kamar yang rapi dan hangat dengan perabotan minimalis sederhana. Ella segera melangkah untuk mencuci kaki dan tanganya di kamar mandi.


Selanjutnya Ella pun naik ke pulau kapuk yang sudah menggoda dan memangil-manggil dirinya untuk segera merebahkan diri disana. Maksud hati hanya ingin istirahat dan rebahan dan meletakkan punggungnya. Apalah daya mata ikutan merem tanpa bisa kompromi lagi. Jadilah Ella tertidur dengan pulasnya di kamar itu.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2