
Aku masih ada di sini
Masih dengan perasaanku yang dahulu
Tak berubah dan tak pernah berbeda
Aku masih yakin nanti milikmu
Aku masih di tempat ini
Masih dengan setia menunggu kabarmu
Masih ingin mendengar suaramu
Cinta membuatku kuat begini
Aku merindu
Kuyakin kau tahu
Tanpa batas waktu
Kuterpaku
Aku meminta
Walau tanpa kata
Cinta berupaya
_Tanpa Batas Waktu - Ade Govinda_
____________________________________
"Much better. Barusan aku seperti dapat obat paling mujarab di dunia." Linggar menjawab dengan wajah menerawang. Kayak masih ngelantur.
"Haaaah?" Ella benar-benar bingung akan maksud ucapan Linggar kali ini.
"Non Ditha cantik ya tuan?" Inem yang sudah seperti ibu kedua bagi Linggar senyum-senyum geli. Tahu benar apa yang ada di pikiran tuan mudanya itu.
"Iya...cantik banget..." Linggar menjawab sambil membayangkan wajah Ditha dengan kecantikan uniknya yang terpancar bahkan tanpa make up tebal. Dipulas dikit pasti wow banget itu cewek.
"Ditha itu putri dari Sampoerna Grup lho itu, Nggar. Gak bisa dibuat mainan." Ella mengingatkan Linggar yang sepertinya sudah dimabuk asmara itu. Ella takut kalau sifat playboy Linggar masih belum sembuh. Kan gak lucu kalau dua perusahaan raksasa berseteru karena ulah nakal bocah tengil ini.
"Kali ini beda mbak,"
"Beda gimana? Hayooo jangan-jangan kamu..." Ella jadi cekikikan membayangkan Linggar beneran jatuh cinta pada seorang gadis.
"Rasanya agak aneh si mbak. Aku gak pernah ngerasain kayak gini meski pacaran bolak balik dengan macam-macam cewek. Rasanya gak cuma seneng, tapi gimana ya..."
"Kaya ada debar-debar ya?" Ella menggoda Linggar.
"Nah iya kaya ada rasa menggelitik gitu dan debaran-debaran aneh yang entah dari mana datangnya."
"Wah udah sakit parah kamu, Nggar!"
__ADS_1
"Sakit gimana?"
"Sakit cinta hahahaha." Ella ngakak keasikan godain Linggar. Kayak judul novel baru ni 'Ketika Playboy jatuh cinta'
"Hmmm jadi kayak gini rasanya cinta..." Linggar bukannya mengelak malah terlihat merenung. Wah beneran sakit parah kayaknya.
"Terus gimana dok? Tuan Linggar bisa pulang gak hari ini?" Inem menanyakan nasib tuannya, tidur dimana nanti malam. Kalau boleh pulang berarti sudah waktunya mengemasi barang-barang juga untuk dibawa pulang.
"Iya sudah bisa, bi. Nanti tinggal ngurus administrasinya aja dan bisa pulang deh." Ella menjelaskan dan si bibi langsung beranjak berkemas-kemas barang dan segala sesuatu yang sekiranya dibawa pulang.
Memilah mana saja yang ditinggal disini, dikasihkan para crew Rumah saki, seperti makanan, minuman, buah-buahan dan cemilan yang belum sempat termakan.
"Ni infuse-nya gak dilepas mbak?" Linggar setengah berharap. Udah kebas rasanya lengannya yang di-infuse selama empat harian ini.
"Abisin dulu aja ya, sayang kan. Sekalian nungguin pengurusan adminnya."
"Emang mbak Ella masih lama disininya? Bukannya jaga pagi?" Linggar penasaran dengan jadwal Ella hari ini.
"Jaga sore kok. Ini juga baru datang. Nanti sampai jam 8 malam." Ella menjelaskan jadwalnya.
"Kalau gitu aku keluar rumah sakitnya sorean aja,"
"Yah terserah kamu si. Yang penting adminnya beres. Nanti kalau sudah siap pulang kabarin aja ke UGD nanti aku kesini lepas infuse-mu sama sekalian advise." Ella tak keberatan.
"Ada yang ditanyakan lagi? Kalau nggak aku pamit dulu." Ella mengakhiri visite terakhirnya pada Linggar.
"Mbak Ella masih ada waktu kan sebelum jaga UGD? Aku ingin ngobrol kalau boleh." Linggar minta ijin.
"Hmmm..." Ella melirik jam tangan yang melingkar di lengannya. Masih setengah jam sebelum jam jaganya di UGD. "Boleh deh, ada apa?"
"Saya ngasihkan kue-kue dulu ke perawat ya tuan." Inem lagi-lagi tahu diri untuk tidak mengganggu pembicaraan Linggar dan Ella nantinya.
"Ada apa, Nggar?" Ella menurut saja memgambil duduk di kursi itu.
"Mbak Ella, sekali lagi aku tanya sama kamu. Mbak Ella masih cinta kan sama mas Ardi?" Linggar memulai pembicaraannya dengan serius.
Ella bingung juga harus menjawab apa. Mau bilang cinta tapi dirinya juga sedang dalam status berhubungan dengan pria lainnya. Mau bilang gak cinta juga kayaknya sudah terlambat untuk memungkiri kepada Linggar.
"Gak usah bohong, udah keliatan jelas hehe...Kalian masih saling merindukan satu sama lainnya." Linggar akhirnya mengambil kesimpulan karena Ella tak kunjung membalas.
"Aku tahu mbak Ella sudah menderita selama tiga tahun ini. Tapi mbak Ella gak sendirian, mas Ardi itu juga sama menderitanya denganmu. Menderita karena saling merindu, karena tak bisa bersatu. Tapi asli keren banget kalian berdua masih bisa saling setia begitu."
"Sekarang setelah sekian lama akhirnya kalian bisa bertemu. Kenapa kalian masih saja ragu? Bikin gemes aja!" Linggar menanyakan apa yang selalu membuatnya gemas akan hubungan Ella dan Ardi. Apa susahnya si saling jujur dan bilang cinta satu sama lainnya?
"Gak semudah itu, Nggar."
"Kenapa? Karena mbak Ella masih pacaran dengan Roni? Putusin saja lah. Cowok emosian gitu gak cocok buat mbak Ella. Eman banget tahu nggak?"
"Memang Roni sedikit emosian. Tapi selebihnya dia sangat baik padaku dan mau menemaniku dalam masa-masa sulitku tiga tahun ini. Bagaimana aku bisa memutuskan hubungan dengannya begitu saja?" Ella mengambil napas sejenak.
"Sementara mas Ardi kemana? Tiga tahun ini hidupku kacau balau, Nggar. Aku hidup dalam keragu-raguan dan ketidak pastian. Mas Ardi jahat sekali karena menghilang begitu saja dan tidak pernah memberi kabar. Lalu sekarang seenaknya saja dia muncul dihadapanku." Ella menjelaskan alasan keraguannya untuk kembali ke sisi Ardi meskipun jelas dirinya masih mencintai pria itu.
"Bukan begitu mbak, mas Ardi bukannya menghilang tiga tahun yang lalu. Tapi dia lagi apes aja. Terjebak situasi sehingga gak bisa pergi mendatangimu." Linggar mencoba menjelaskan.
"Huh pasti alasan pekerjaan dan perusahaan kan? Tetap saja kalian orang kaya selalu saja harta yang selalu dipikirkan." Ella mencoba menerka-nerka alasan Ardi tidak mencari dan mendatanginya.
__ADS_1
"Papa terkena serangan jantung mbak...tiga tahun yang lalu..." Ujar Linggar. "Bukan tentang materi mbak, persetan kalau masalah materi"
"Om Erwin?" Ella benar-benar kaget mendengarnya.
"Kejadiannya itu sebelum kalian berpisah. Papa terkena serangan pertama jantung koroner. Yang langsung bikin syok dan kalut keluarga kami. Untungnya papa berhasil selamat setelah melewati operasi yang sangat mengkhawatirkan."
Ella semakin kaget saja mendengarnya. Waktu itu mereka belum berpisah? Kenapa Ardi bahkan tidak pernah menceritakan tentang papanya yang sakit? Dan kenapa dirinya juga tidak menyadari keadaan dan kesusahan yang dihadapi Ardi waktu itu.
"Setelah papa cukup stabil, justru keadaan perusahaan yang colaps karena beberapa lama kehilangan pemimpinnya. Bahkan banyak yang mempertanyakan masa depan perusahaan kami. Karena sudah jelas papa tak sanggup memimpin. Kurang ajar banget kan?"
"Karena itulah mas Ardi yang ketiban apes, tiba-tiba ditimpuk segala beban kekuasaan itu. Semua perusahaan dibalik namakan padanya. Semua urusan dan kekacauan seketika menjadi beban di pundaknya. Kacau, benar-benar kacau keadaan keluarga kami waktu itu."
"Kamu juga tahu sendiri kan bagaimana keadaan mas Ardi waktu itu. Sampai-sampai dia juga ikut sakit yang memaksanya bedrest beberapa hari. Masih bagus dia gak gila waktu itu hahaha."
Ella jadi teringat kembali saat Ardi sakit vertigo. Memang seharusnya tidak separah itu. Tapi kalau dengan beban kelelahan fisik digabung dengan kecemasan mental begitu pantas saja membuat Ardi sampai nge-drop waktu itu. Dan Ella masih saja menambahi beban pikiran Ardi dengan masalah hubungan runyam mereka.
"Lalu saat mama menemui kamu mbak, aku, bahkan mas Ardi pun saat itu sama sekali tak bisa memarahi atau memperotes tindakan beliau. Karena waktu itu mamalah yang paling tertekan dengan keadaan papa yang bisa memburuk sewaktu-waktu." Linggar lanjut menjelaskan perkara Ella dengan mamanya.
"Kami tahu benar mama hanya ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Meskipun jelas apa yang dilakukan mama itu salah. Apa yang dilakukan mama pada kalian berdua terlalu kejam. Sampai tak dapat dihindari kalian akhirnya putus. Bodohnya, kenapa kalian harus putus?"
Sekali lagi Ella tertegun. Dia selama ini hanya memikirkan betapa jahat dan kejamnya perlakuan mama Ardi padanya. Tapi dirinya bahkan sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Nyonya Kartika Pradana sebagai seorang ibu. Seorang istri yang suaminya sedang sekarat. Tentunya dia hanya ingin yang terbaik buat Ardi.
"Setelah kalian berpisah, mas Ardi jadi setengah gila. Menghilang tanpa bisa dihubungi selama satu minggu penuh. Membuat suasana perusahaan kembali runyam dan yang pling parah membuat papa kembali terkena serangan jantung. Serangan kedua yang memaksa pemasangan ring jantung."
"Mbak bisa bayangkan bagaimana penyesalan mas Ardi waktu itu? Dia menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab sakitnya papa. Padahal ya semuanya murni karena takdir. Bahkan setelah papa akhirnya sembuh, sifat mas Ardi menjadi berubah. Dia berubah menjadi orang yang dingin, tak berperasaan, jadi kayak robot saja. Dia selalu memasang poker face untuk menutup emosinya. Dia selalu berusaha terlihat sempurna dalam berbagai urusan. Seakan bertekad tidak ingin membuat mama dan papa khawatir lagi."
"Karena itulah mas Ardi tidak bisa mendatangimu mbak. Tapi dia gak mau menyerah, dalam tiga tahun ini dia masih ingin mendekat padamu mbak. Merebutmu kembali. Dan hasilnya adalah dia membuat Pradana Business Park di kota Surabaya. Ide gila yang bisa diwujudkannya. Kenapa harus Surabaya? Sudah jelas karena ada kamu disana."
"Jadi...jadi mas Ardi selama ini..." Ella merasa dadanya sesak dan sangat perih demi mendengar cerita tentang Ardi. Tentang rasa cintanya pada keluarganya, tentang perjuangannya memenuhi harapan keluarganya, bahkan perjuangannya untuk mendekat dan meraih kembali cintanya. Dia benar-benar telah melalui banyak hal selama tiga tahun ini. Dia juga menderita dan berjuang...
"Aku dan mbak Laras sebagai adiknya juga gak tega melihat mas Ardi kami yang seperti itu. Akhirnya mbak Laras memutuskan untuk menikah muda dengan mas Mahes. Untuk menstabilkan keadaan finansial keluarga kami. Serta memberi ketenangan batin pada mama dan papa. Juga memberi sedikit waktu pada mas Ardi agar tidak terus dipaksa menikah dengan berbagai macam gadis kaya."
"Sementara aku juga, jadi bertekad agar cepat lulus sehingga bisa sedikit membantu meringankan beban yang ditanggung mas Ardi. Tobat dari gelar playboy kelas kakap yang hobi party hahaha." Linggar menceritakan alasan pertaubatannya.
Sekali lagi Ella tertegun, merasa terharu mendengar kisah persaudaraan mereka. Dimana Pradana ini bersaudara meskipun dibesarkan dalam gelimang harta tapi masih saja saling menyayangi sesama saudaranya. Tak ingin saudaranya menderita sendirian.
"Kalian berdua gak capek menderita terus? Hobi bener si menderita hehe. Kalian berdua juga berhak untuk berbahagia sekarang. Gak pa-pa kalian bersikap egois kali ini. Gak usah lagi kalian memikirkan orang lain. Pikirkan saja tentang kalian berdua yang saling mencintai. Seneng-seneng aja!" Linggar mengakhiri ceritanya dengan saran serta harapannya akan kebahagiaan Ella dan Ardi.
"Tapi semuanya akan sama saja kalau tetap kami tidak bisa mendapatkan restu..." Ella kembali teringat tentang alasan kandasnya hubungan asmaranya dengan Ardi tiga tahun yang lalu.
"Siapa bilang gak dapat restu?" Linggar kembali bertanya dan tersenyum misterius berteka-teki.
"Tentu saja karena mamamu tetap tak bisa menerimaku sebagai pendamping mas Ardi." Ella mengatakan kalimat itu dengan menekan segala gejolak dan rasa sesak di dadanya.
"Kata siapa?..." Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara lain yang menimpali pembicaraan mereka. Suara dengan nada datar tanpa emosi.
Baik Ella maupun Linggar langsung terlonjak kaget mendengar suara itu. Kontan mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu masuk ruangan. Dan benar saja, pria itu berdiri disana dengan santainya. Entah sejak kapan dia telah berada dan berdiri disana, mas Ardi?
~∆∆∆~
FYI (For Your Information)
*Penyakit jantung koroner (PJK) adalah Kerusakan atau penyakit pada pembuluh darah utama jantung.
*Penyebab biasanya adalah penumpukan plak pada pembuluh darah. Hal ini menyebabkan arteri koroner menyempit, membatasi aliran darah ke jantung.
__ADS_1
*Metode perawatan untuk pasian PJK meliputi perubahan gaya hidup, obat-obatan seperti obat pengencer darah sehingga meminimalkan gumpalan darah, angioplasti, peletakan ring pada pembuluh darah jantung dan operasi bypass pembuluh darah jantung.
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼