
Pernahkah suatu hari kamu berpikir bahwa ternyata dunia begitu sempit?
Pertemuan-pertemuan tak disengaja dengan orang yang tak terduga kadang terjadi begitu saja.
Seperti sebuah kebetulan.
Namun, mungkin bukan. Mungkin semuanya memang sudah diatur dan digariskan demikian.
______________________________________
Linggar kembali ke dalam ruangan private mereka beberapa saat kemudian. Tak lupa dirinya mampir ke toilet dahulu untuk mencuci mukanya di wastafle. Sebagai alibi kalau dirinya memang benar-benar kembali dari toilet sesuai pamitnya tadi.
"Sorry ya mbak agak lama," ujar Linggar saat kembali memasuki ruangan, mengambil duduk kembali ke kursinya yang berhadapan dengan Ella.
"Gak pa-pa kok santai aja. Udah lega ya sekarang?" Ella tersenyum ringan melihat wajah Linggar yang sudah terlihat lebih segar, pasti habis cuci muka dia. Mungkin Linggar ingin sedikit menjernihkan dan mendinginkan kepalanya setelah kejadian tidak menyenangkan yang dialaminya tadi.
Yah walaupun Linggar bilang bahwa dirinya tidak ada rasa cinta pada Lisa. Tapi tetap saja kejadian seperti tadi tentu cukup bikin syok juga untuk dialami siapapun. Putus cinta di depan umum dengan sangat memalukan seperti itu.
"Hahaha lega? kayak abis ngapain aja." Linggar tertawa geli mendengar jawaban Ella. Sepertinya mbak Ella ini masih mengkhawatirkan dirinya. Pasti dia kepikiran kejadian tadi di rektorat.
'Kamu terlalu baik jadi orang, mbak Ella. Benar-benar cocok untuk mas Ardi yang juga terlalu baik.'
Padahal bagi Linggar pribadi kejadian tadi bukanlah apa-apa. Bukan kejadian yang layak untuk mendapat perhatiannya. Pengalamannya sebagai mantan Playboy kelas kakap membuatnya kebal dengan kejadian-kejadian seperti itu. Mantan Lho ya, sudah setahun ini Linggar bertobat untuk fokus kuliah agar bisa lulus secepatnya.
Tak bisa dipungkiri Linggar memang sudah terbiasa dengan berbagai macam cewek. Hampir semua tipe cewek pernah dia coba untuk menjadi pacar atau sekedar Teman Tapi Mesra. Cewek mana coba yang sanggup menolak pesona Linggarjati Pradana sang anak konglomerat? Jadi kejadian putus cinta kayak gini, jangan tanya lagi sudah sering Linggar alami.
Linggar memang belum berniat serius menjalin suatu hubungan asmara dengan cewek manapun. Karena dirinya masih terlalu muda, terlalu naif untuk memikirkan cinta dan pernikahan. Selain itu Linggar juga belum menemukan seorang gadis yang mampu menggetarkan hatinya dan menumbuhkan bunga asmara disana.
Lebih jauh lagi, Linggar juga sedikit trauma melihat kegagalan cinta Ardi, kakaknya. Mungkin nasibnya akan sama saja atau tak jauh berbeda seperti Ardi kalau dirinya nekat jatuh cinta pada gadis dari kalangan rakyat jelata. Pasti tidak akan mudah dan sangat merepotkan untuk diperjuangkan. Oleh karena itu Linggar lebih memilih untuk membentengi dirinya agar tidak mudah jatuh cinta pada siapapun.
Dan suatu saat nanti mungkin dirinya terpaksa harus menikah dan dijodohkan dengan seorang gadis dari keluarga terpandang. Linggar pun tak akan menolak selama si gadis konglomerat itu cukup menarik dan mampu membuatnya penasaran. Selanjutnya dia sendiri yang akan membuat gadis itu jatuh cinta padanya. Tidak terlalu buruk bukan?
"Yaudah ayo buruan abisin makananmu, nanti keburu gak enak lho," Ella mengingatkan Linggar akan sajian makanan di meja mereka yang masih sangat banyak yang tersisa. Gimana mau ngabisin-nya coba?
"Santai aja, kita makan pelan-pelan saja sambil ngobrol." Linggar kembali mengisi piringnya dengan makanan yang ada di meja. Makan ronde kedua.
Linggar menjadi merasa sedikit gelisah dan ingin mengulur waktu sampai Ardi datang. Yah dia pasti datang kan? Awas saja kalau gak datang! Linggar bertekad akan berusaha untuk menahan Ella disini selama mungkin. Sampai Ardi datang kesini.
__ADS_1
"Mbak Ella gak takut berduaan di private room begini sama aku?" Linggar tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang tidak terduga pada Ella.
"Hah? Takut? Emang kamu bisa makan orang?" Ella menjawab dengan candaan. Tak dapat menebak arah pembicaraan Linggar akan kemana.
"Bisa donk, Awas lho nanti kamu bisa aku makan! Aku sudah bukan anak kecil lagi, mbak. Aku seorang pria dewasa sekarang. Badanku juga lebih besar dan kuat dari mbak Ella. Dan kita cuma berduaan sekarang di private room."
"Aku juga pernah bilang kan kalau aku punya demon side? Kira-kira apa yang mungkin akan terjadi jika aku tiba-tiba khilaf dan berubah jadi setan?" Linggar melanjutkan pertanyaan dengan ekspresi yang sulit diartikan, Ekspresi seekor binatang buas yang siap untuk menerkam buruannya.
"Hah? Apaan sih Nggar, kamu kan sudah seperti adikku sendiri. Kenapa harus takut sama kamu?" Ella mencoba menjawab dengan sok tegar. Padahal aslinya mulai bergidik ngeri. Jantungnya juga berdetak cepat dag dig dug saking cemas dan paniknya menyadari kebenaran dari ucapan Linggar.
Ella tiba-tiba merasa sangat bodoh, dirinya sudah dewasa, bukan lagi gadis ABG yang lugu. Kenapa dirinya bisa begitu ceroboh dan sembrono begini? Bagaimana kalau Linggar berniat jahat? Seorang pria dan wanita berduaan didalam ruang tertutup begini? Ella tahu dirinya tak akan bisa melakukan perlawanan yang berarti jika hal itu sampai terjadi...
Tapi masa sih? Sejauh ini sikap Linggar kepadanya masih sopan kok. Gak ada yang aneh-aneh. Ella menolak untuk membayangkan hal terburuk. Tidak mungkin Linggar adik kecilnya akan tega berbuat jahat kepadanya. Paling tidak jika tidak mengaggap Ella, Linggar masih harus menganggap Ardi, kakaknya. Bagaimana pun Ella pernah menjadi bagian dari kehidupan kakaknya itu.
"Aku juga pria normal lho mbak. Kalau berduaan dengan cewek secantik mbak Ella bisa khilaf aku,"
"Nggar, gak lucu deh. Kamu ngomong apa sih..." Ella semakin ngeri mendengar pembicaraan Linggar. Apa lagi pria itu berbicara dengan wajah seriusnya. Membuat Ella tak bisa menebak dia beneran serius atau hanya bercanda untuk menakut-nakutinya.
"Mbak Ella, jangan pernah mudah percaya sama pria yang belum dikenal. Jangan mau diajak kemanapun seenaknya. Bahaya banget mbak sekarang banyak tindak kejahatan..." Linggar melanjutkan ucapannya sebagai peringatan untuk Ella. Karena dia merasa Ella ini kadang terlalu baik, lugu dan susah untuk menolak permintaan seseorang.
"Untung mbak ketemunya sama cowok baik hati tidak sombong, ganteng lagi kayak aku. Paling cuma diajakin kencan dan gak ngapa-ngapain hehe."
"Hahahaha I got You." Linggar tertawa ngakak melihat wajah ketakutan Ella.
Lucu banget si ini cewek. Asli gemesin banget. Pantesan saja mas Ardi sebegitu cintanya sama dia. Kalau bukan incarannya mas Ardi, udah aku gebet kamu mbak. Gak ngurus deh meski kamu lebih tua, atau aku dianggap brondong, batin Linggar gemas.
Selanjutnya mereka berdua meneruskan prosesi makan siang mereka sambil sesekali bercanda dan berbicara ngalor ngidul tentang apa saja. Keduanya berusaha sebisa mungkin menghindari topik pembicaraan tentang keluarga Pradana.
Terutama tentang kakak laki-laki Linggar, Ardi Pradana. Linggar terus saja mencari topik pembicaraan yang sekiranya menyenangkan, ringan, dan enak dibicarakan, ingin mengulur-ulur waktu sebanyak mungkin sampai Ardi datang kesini.
~∆∆∆~
Ardi keluar keluar kantornya dengan gelisah dan terburu-buru setelah mendapat panggilan telpon dari Linggar tadi. Dimintanya Bambang untuk memimpin staff meeting siang ini menggantikan dirinya. Sementara Ardi sendiri segera meluncur ke arah restoran yang ditunjuk oleh Linggar. Khawatir terjadi apa-apa pada adiknya itu.
Sebenarnya Ardi merasa sangat janggal dan sanksi dengan apa yang dikatakan Linggar tadi. Masa iya sih dia kecelakaan? Masa iya dia tabrakan beneran? Si Linggar itu bukannya udah jadi driver profesional ya? Mau pakai mobil dengan kemudi sisi kiri atau kanan sudah bukan masalah lagi bagi Linggar.
Ardi juga tahu Linggar memang sering nakal dan jahil, tapi adiknya itu masih tahu waktu lah kapan harus bercanda. Tak mungkin Linggar meminta Ardi meninggalkan pekerjaannya kalau bukan untuk hal yang serius. Satu hal lagi yang pasti, linggar bukanlah pembohong. Terutama kepadanya, Linggar tidak pernah berbohong atau menipu dirinya.
__ADS_1
Dan sekarang kenapa Linggar sampai berbohong seperti ini? Kenapa Linggar sampai berani berbohong hanya untuk meminta Ardi datang ke suatu tempat? Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan atau tidak bisa dia katakan. Sesuatu yang sangat penting yang mungkin harus Ardi lihat. Tapi apa? Dan kenapa harus di private room sebuah restoran mewah seperti ini?
Mau dipikirkan sekeras apapun, Ardi sama sekali tak dapat menemukan jawaban dari pertanyaannya. Linggar bahkan mematikan ponselnya sehingga tak bisa dihubungi. Membuat Ardi semakin penasaran dan gregetan saja.
Begitu Ardi sadar, dirinya sudah memarkirkan mobil BMW hitamnya di halaman sebuah restoran mewah yang ditunjukkan Linggar tadi. Imperial restoran yang memiliki gaya bangunan seperti mansion jaman kerajaan eropa kuno. Megah, dan elegan.
Ardi dapat melihat mobil merah linggar yang terlihat sangat mencolok ada di parkiran itu juga. Segera saja dihampirinya dan diamatinya keadaan mobil itu. Mulus tanpa cacat sedikit pun.
Apanya yang tabrakan coba? Ada rasa lega yang merasuki hati Ardi, setidaknya adiknya pasti baik-baik saja. Tapi ada rasa geram juga mengetahui dirinya telah jelas-jelas ditipu dan dibohongi oleh Linggar.
Fix berarti Linggar memang membohonginya tentang tabrakannya dan kecelakaan. Tapi kenapa Linggar sampai membuat kebohongan seperti ini hanya agar dirinya datang ke tempat ini? Ada apa dengan restoran ini?
Ardi berjalan memasuki restoran, menghampiri seorang waiters disana untuk menanyakan dimana private room Bougenville yang dikatakan Linggar dalam pesannya tadi.
Sang waiters menunjukkan arah yang harus dituju untuk ke ruangan itu. Ardi pun mengangguk sopan dan berterima kasih padanya sebelum kembali berjalan ke arah ruangan itu. Ardi mengetuk pintu ruangan saat sudah sampai di depan ruangan yang dikatakan oleh Linggar.
Pintu ruangan mereka diketuk dari luar, pasti ada seseorang di luar sana yang datang. Linggar membuang napas lega dan tersenyum bahagia. Dia tentu dapat menebak siapa yang sedang mengetuk pintu itu. Akhirnya kamu datang juga, mas Ardi!
Dengan wajah sumringah tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya Linggar bangkit dari duduknya. Bahagia karena entah bagaimana rencana gilanya berjalan dengan sukses. Rencana untuk mempertemukan kembali Ardi dan Ella. Linggar bangkit dari duduknya untuk menyambut dan membukakan pintu bagi tamu mereka yang baru datang.
Ella sedikit heran juga mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan mereka. Bukan waiters pastinya, mereka pasti langsung masuk ruangan setelah mengetuk pintu. Tapi yang datang kali ini malah menunggu untuk dibukakan pintu oleh orang yang ada di dalam ruangan.
Apakah seorang tamu? Apa Linggar mengundang seseorang lain untuk datang kesini? Untuk bergabung bersama mereka? Pantas saja Ella merasa hidangan yang dipesan Linggar rasanya terlalu banyak untuk dihabiskan dua orang. Bahkan untuk linggar yang doyan makan pun porsi masih terlalu banyak.
Seketika Ella tersadar akan kebodohan dirinya sendiri. Aduh sial! Aku pasti sudah terkena jebakan dan tipu muslihat dari Linggar, Ella mengutuk kebodohannya sendiri. Mengutuk kenaifan dirinya yang terlalu mudah percaya pada orang lain.
Pantas saja Linggar sengaja mengajaknya ke restoran ini, bahkan membooking ruangan private seperti ini. Pantas saja Linggar tadi terlihat sedikit gelisah. Pantas saja Linggar terkesan ingin mengulur-ulur waktu dengan berbicara ngalor ngidul gak jelas. Pasti karena menunggu kedatangan sang tamu. Pasti menunggu pria itu...
Linggar membuka pintu ruangan private mereka, mempersilahkan sang tamu untuk masuk ruangan. Ella menelan air ludahnya begitu menyadari siapa yang memasuki ruangan mereka.
Seorang pria dengan setelan jas hitamnya yang rapi layaknya seorang direktur dari sebuah perusahaan. Postur tubuh itu, wajah tampan itu, gestrur tubuh itu, tak salah lagi...Lazuardi Pradana.
~∆∆∆~
Eng Ing Eng akhirnya mereka ketemu juga setelah sekian purnama... So Tim Ardi mana suaranya?
Maafkan Author yang terlalu kejam menyiksa keduanya begitu lama ya...
__ADS_1
Maafkan juga author yang membuat reader penasaran sampai setiap hari meminta untuk mempertemukan mereka berdua...
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🤭🌼