
Keesokan harinya Ella bangun kesiangan. Bangun-bangun waktu sudah menunjukkan hampir tengah hari saja. Hal pertama yang dirasakan Ella adalah kepalanya yang terasa sangat sakit. Seakan ada palu yang menghantam dan memukul-mulul kepalanya itu.
Pelan-pelan Ella mencoba untuk membuka matanya, mengembalikan kesadarannya. Mengingat-ingat rentetan kejadian yang telah dilaluinya semalam. Kemarin aku nonton konser Cold Play sama mas Ardi di Convension Hall Tunjungin Plasa.
Setelah selesai nonton aku ikut mas Ardi gathering sama Johanh, Luna, Masrur dan Jillia ke J.W Melati Lounge and bar. Kami ngobrol-ngobrol santai disana. Terus aku Dengerin Jillia curhat panjang lebar tentang kisah hidupnya.
Abis itu aku tiba-tiba merasa pusing banget, kepala berat dan pandangan berputar-putar. Kayaknya ada yang gak beres sama puding coklat yang kumakan kemarin. Jangan-jangan ada alkoholnya? Terus abis itu untuk meredakan pusingku, aku mau minum mocktail, eh malah salah ambil gelas minuman cocktail.
Siapa sih yang naroh segelas cocktail di deketku? Nyebelin banget kan! Udah gitu kuhabiskan lagi satu gelas sampai bersih. Jadinya aku makin teler dan makin susah untuk membuka mata.
Ella semakin bingung dan kesusahan untuk mengingat-ingat kejadian setelah dirinya meminum segelas cocktail di meja. Kejadia-kejadian itu seolah timbul tenggelam di dalam kepalanya tanpa urutan yang jelas. Hmmm kayaknya abis itu mas Ardi gendong aku di punggungnya. Aku ngomel-ngomel sendiri dan ngoceh gak karuan kayak orang gila, memalukan sekali.
Aaaaarrgh!! Aku bilang cinta sama mas Ardi, sayang ama dia. Dan aku bahkan cium-cium, menikmati aroma parfum greens yang segar di lehernya...Gilaaa! Ella melemparkan salah satu bantalnya dengan frustasi ke lantai. Aku pasti sudah gila! Pasti memalukan sekali tingkahnya kemarin pada Ardi.
Setelah itu Ardi membawanya ke mobil. Menidurkannya di jok belakang, menata bantal sapi juga untuknya...Lalu...lalu...
Wajah Ella Langsung memanas seketika saat ingatan kejadian di mobil kembali berkelebat di kepalanya. Aku mencium mas Ardi? dengan agresif dan ganasnya? dengan lahapnya seperti wanita murahan kayak gitu?
Darimana aku bisa menguasai teknik ciuman kayak gitu? Dari film-film drama korea yang biasa aku tonton kah? Aaaarrrggghh! Aku pasti sudah gila! Alam bawah sadarku sepertinya mengingat teknik ciuman ala-ala drakor dan membuat tubuhku mempraktekkannya tanpa sadar.
Selanjutnya apa lagi? Apa yang kami lakukan di mobil? Apa saja yang kami lakukan di jok belakang itu? Apakah cuma sampai berciuman saja? Jangan bilang lebih dari itu...Aku gak ingat!
Bagaimana ini aku bener-bener gak bisa mengingat apa saja yang telah terjadi. Ella semakin dilema, tapi kemudian coba ditenangkannya dirinya. Paling tidak bagian pangkal pahanya tidak terasa sakit dan tidak ada keanehan yang disana. Pasti masih aman...
Oh my god! Mati aku! Mampoos beneran ni! Gila dan malu-maluin banget. Mau ditaroh dimana mukaku kalau ketemu mas Ardi ntar?...
"Aaaaaasaaarrrghhhh!!!" Ella berteriak semakin frustasi dan melemparkan seluruh bantal dan gulingnya dari kasur ke lantai dengan semena-mena. Ella pun mengacak-mengacak rambutnya dengan frustasi dan tak berdaya karena gagal mengingat kejadian yang telah terjadi.
"El? Ella? Kamu kenapa nak?" Terdengar suara Lilik, mama Ella dengan nada khawatir dari luar kamar. Lilik juga sesekali memberikan ketukan di pintu kamar Ella. Ella panik sekarang, aduh jangan-jangan teriakanku kedengeran sampai dapur? Jangan-jangan mama mengira anak gadisnya ini sudah gila atau kesuruapan?
"Masuk aja ma," Ella mempersilahkan mamanya untuk memasuki kamarnya.
__ADS_1
Lilik memasuki kamar anak gadisnya itu dengan dahi sedikit berkerut. "El? Apa-apaan ini? Kamu gak apa-apa kan?" Mau tak mau Lilik jadi merasa khawatir juga melihat anak gadisnya itu yang seperti orang gila. Rambutnya acak-acakan dan seluruh bantal gulingnya berserakan di lantai. Seperti habis kena angin put*ng beliung saja.
Apa yang telah terjadi? Apa jangan-jangan kemarin beneran terjadi sesuatu? Masa si Ardi yang terlihat begitu sopan berani macam-macam dengan Ella? Dan Ella juga meskipun masih sangat lugu tak mungkin membiarkan Ardi bertindak melewati batas kan? Segala pikiran buruk berkelebat memenuhi otak Lilik yang semakin panik.
"Errr gak apa-apa kok, ma...Aku cuma agak pusing aja. Kemarin habis minum dikit." Ella berusaha menenangkan mamanya.
"Minum? Kamu sampai mabuk gitu abis ngapain aja kemarin? Kemana aja kalian sampai baru pulang dini hari begitu?" Lilik mengambil duduk di ranjang Ella, memberondong Ella dengan berbagai pertanyaan saking penasarannya.
"Kemarin kan nonton konser. Baru kelar konsernya jam dua belasan malam. Terus abis itu ketemuan sama temen-temennya mas Ardi di Lounge and bar J.W Melati. Ada empat orang kok temennya dua cowok dan dua cewek. Terus aku salah ambil minum, yang ada alkoholnya. Jadinya mabok dan setelah itu mas Ardi nganterin pulang. Udah gitu aja yang terjadi" Ella menjelaskan kronologi kejadian dengan singkat.
"Papamu itu gak bisa tidur semalaman saking gelisahnya kamu gak pulang-pulang. Gak bisa dihubungin lagi ponselnya. Eh pas bisa nyambung gak tahunya nak Ardi yang ngangkat. Bagaimana gak panik coba kami?" Lilik menjelaskan kecemasan dirinya dan suaminya kemarin malam.
"Maap ma, Ella ketiduran kemarin setelah mabuk. Mata sudah gak bisa dibuat melek." Ella mengatakan sebenarnya. Bahwa dirinya seperti tidak sadar dan ingatannya kacau hilang timbul akibat hang over. Parah banget memang, padahal cuma segelas dan sepotong puding saja sudah bisa membuatnya semabuk itu.
"Kamu? Gak ngapa-ngapain sama Ardi kan?" Lilik bertanya to the point.
Wajah Ella langsung memanas seketika, mungkin rona mukanya juga sudah semerah tomat saat ini. "Ngapa-ngapain gimana si ma?" Ella balik bertanya dengan sangat malu.
"Yaampuuuun mama!!!" Ella memprotes dengan rasa malu yang sudah sangat amat memuncak, mamanya ini memang kadang terlalu vulgar dalam berkata-kata. Efek sebagai orang Surabaya asli kali ya, bonek mania. Bahasa yang digunakan Suroboyoan banget.
"Jelas lah ma. Ella sama mas Ardi gak pernah ngapa-ngapain. Paling mentok cuma ciuman doank..." Ella menghentikan ucapannya. Duh mati aku, malah kelepasan ngomong soal ciuman lagi, sesal Ella.
"Ciuman?" Lilik sedikit kaget tapi tidak memprotes lebih jauh. Yah bagimana pun kedua anak muda itu sudah dewasa, tak bisa dihindari lagi untuk interaksi tubuh dan bermesra-mesraan seperti itu. Apalagi kalau mengingat pergaulan anak jaman sekarang yang sangat bebas. Dirinya tidak keberatan kalau hanya ciuman. Asal jangan melewati batas saja.
"Iya cuma ciuman doank paling mentok. Itu juga baru sekali yang di bibir..."
"Duh memangnya kamu mau berapa kali?Dasar mesum kamu ini! Udah mandi sana cepat. Abis itu makan siang bareng. Papa mau ngomong katanya sama kalian." Lilik beranjak berdiri dari ranjang Ella. Menarik dan mendorong tubuh Ella untuk beranjak turun dari kasurnya ke arah kamar mandi.
"Iya iya..." Ella berjalan malas ke kamar mandinya. Dia kemudian mengguyur seluruh tubuhnya dengan air shower yang dingin untuk kembali menjernihkan pikirannya. Mengambalikan kesadaran dan kewarasannya.
Setelah mandi dan berganti pakaian Ella segera keluar kamarnya. Ke dapur sejenak untuk melihat mamanya yang sedang memasak dan papanya yang sedang menonton tv di ruang tengah.
__ADS_1
Lha mas Ardinya mana? Masih di kamar? Belum bangun tidur? Masak si? Tapi kalau inget hobi molornya si mungkin aja. Ditambah kemarin dia juga minum cocktail cukup banyak.
Setelah membantu mamanya sedikit dalam memasak dan menyajikan menu makan siang di meja makan, Ella pun beranjak ke kamar Ardi. Diketuknya pintu kamar itu beberapa kali dan Ardi membukakan pintu tak lama kemudian. Sudah rapi, sudah mandi juga, wangi dan ganteng tentu saja.
"Ella? Kamu udah bangun? Udah enakan?" Ardi bertanya khawatir. Diamatinya wajah Ella lekat-lekat, sudah terlihat segar dan mempunyai kesadaran penuh. Tidak lagi mabuk dan nggelambyar kayak kemarin.
"Udah donk. Mas Ardi-nya gimana?" Ella balik bertanya sambil memasuki kamar. Menata dan merapikan selimut dan seprei kasur Ardi.
"Aku? Aman, minum lima gelas kayaknya baru mulai mabuk. Dan kemarin aku cuma minum dua gelas, jadi aman." Ardi memperhatikan saja Ella yang sedang menata kasurnya dengan cekatan.
"Hari ini ya balik ke Genting, jangan nginep lagi. Sorean juga gak papa," pintanya pada Ella.
"Iya boleh. Besok jadwal kerjanya sibuk ya?" Ella jadi penasaran dengan kerjaan Ardi. Setelah pertemuan dengan teman-temannya kemarin Ella jadi merasa sepertinya dunia bisnis juga tak selamanya menyeramkan.
"Kayaknya aku harus gantiin tiga hari ini dengan lembur beberapa hari." Ardi duduk di pingiran kasur yang telah ditata rapi oleh Ella.
"Mas Ardi kalau lembur suka lupa waktu. Gak boleh gitu mas, kesehatan juga harus dijaga lho. Jangan mentang-mentang masih muda terus tenaga diforsir kayak gitu. Nanti kalau udah tua baru kerasa efeknya." Ella menyuarakan kekhawatirannya yang sejak lama telah dia pendam. Dia tak suka dengan hobi begadadang dan workaholic Ardi yang berlebihan.
"Kan gak setiap hari juga lemburnya. Kalau pas banyak kerjaan aja kayak gitu. Kalau pas santai ya banyak molornya kok." Ardi mencoba make an excused, menenangkan Ella agar tidak khawatir berlebihan padanya.
"Yaudah yang penting take care of youself ya mas. Jaga diri, jaga kondisi jangan sampai sakit." Ella mengingatkan Ardi. Dan Ardi hanya mengangguk menyanggupi.
"Oiya mas, kemarin malam...kemarin malam kita gak ngapa-ngapain kan?" Wajah Ella kembali memerah demi mengingat kejadian di jok belakang mobil kemarin malam. Dan sekeras apapun dirinya mencoba mengingat, Ella tak dapat mengingat kejadian apapun yang terjadi setelah ciuman itu. Apa ada lanjutannya?
"Hampir..." Ardi menjawab dengan wajah yang ikut memerah. "Kamu parah banget deh."
"Hampir?...Hampir gimana?" tanya Ella dengan nada sedikit histeris. Apalagi ketika didapatinya wajah Ardi yang juga sangat merah padam malu-malu.
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼
__ADS_1