Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
111. S2 - Penyesalan


__ADS_3

Cinta bukan melepas tapi merelakan


Bukan memaksa tapi memperjuangkan


Bukan menyerah tapi mengikhlaskan


Bukan merantai tapi memberi sayap


_Fiersa Besari_


_____________________________________


"Apa benar Ella sudah bahagia?..." Entah mengapa pertanyaan tak berdaya itu malah yang keluar dari mulut Ardi. Padahal Ardi sangat enggan untuk terlihat lemah dihadapan Roni. Kalah telak dari rival brengseknya itu.


"Paling tidak Ella sudah tidak pernah menangis lagi. Dan aku pasti akan selalu menemaninya, menjaganya dan membahagiakan dirinya. Aku tak akan melepaskan tangannya, meninggalkannya seperti yang pernah kau lakukan pada Ella..." Roni mengakhiri pembicaraan mereka berdua dengan sangat dramatis sebelum membalikkan badan meninggalkan Ardi, meninggalkan ruang kerja itu.


Ardi terdiam tak sanggup membantah ucapan Roni yang seolah dapat memukul sangat telak padanya. Memang benar dirinya telah melepaskan genggaman tangan Ella, pergi meninggalkan gadis itu. Dirinya juga yang membuat Ella bersedih dan menangis. Memamg sangat wajar kalau Roni, bahkan Ella sendiri menganggapnya sebagai pria brengsek yang tidak bertanggung jawab.


"Sebaiknya kamu tahu diri...Jangan dekati Ella lagi!" Roni menambahkan ucapanya saat dirinya sampai di pintu ruangan. Menutup daun pintu itu dengan sedikit debaman keras, sebagai tambahan gertakannya pada Ardi.


Ardi tetap berdiri mematung sampai Roni keluar ruangan kerja ini. Bahkan saat Roni menutup pintunya rapat-rapat dengan sedikit debaman keras. Sial, dia semakin berani menantangku! Umpat Ardi dalam hati.


Otak Ardi terasa penuh, terlalu sibuk untuk mencerna segala ucapan Roni. Dada Ardi juga terasa begitu sesak dan sakit. Sakit yang terasa sangat nyata walaupun tidak berdarah. Ucapan dan perkataan Roni yang setajam anak panah, serasa sanggup menusuk dan menghujam langsung menembus hatinya.


Dengan langkah gontai Ardi kembali ke kursi kerja Mahes, menghempaskan tubuhnya, duduk disana dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Menutup matanya serta mengatur pernapasannya untuk mencoba menata hatinya, meredakan emosi yang berkecamuk di dadanya dan mengembalikan kecerdasan di otaknya untuk berpikir.


Berusaha membuat dirinya lebih fokus untuk berfikir. Merenung dan memikirkan apa saja yang telah terjadi selama tiga tahun ini.


Ardi kembali mengingat-ingat segalanya. Apa saja yang telah terjadi setelah malam perpisahannya dengan Ella. Ardi juga mengingat-ingat apa saja usaha yang telah dilakukannya untuk mendapatkan Ella kembali selama tiga tahun ini?


Tak ada, tak ada usaha nyata yang nampak darinya untuk menunjukkan kesungguhannya pada Ella. Ardi bahkan seolah menghilang ditelan bumi begitu saja. Dia tidak pernah mencoba datang menemui gadis itu. Bukan suatu yang tidak mungkin sebenarnya karena Ardi sudah tahu dimana Ella tinggal dan berkuliah. Seharusnya dirinya bisa saja datang dan menjumpai gadis itu.


Tetapi Ardi memilih untuk tidak melakukannya. Ardi memilih pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Ella. Awalnya Ardi ingin agar Ella dapat melupakan dirinya memulai kehidupannya yang baru. Begitu pula dengan dirinya sendiri, Ardi juga berharap untuk dapat melupakan Ella waktu itu.


Sampai akhirnya Ardi terlalu disibukkan bahkan sampai terbuai dengan segala urusan pekerjaan yang menjadi pelariannya dari segala rasa patah hatinya. Pelarian untuk dapat sedikit melupakan segala penderiataan dan siksaan batin karena kehilangan Ella dari sisinya, kegagalan cintanya.


'Ketika kehilanganmu, aku hanya berpikir untuk belajar merelakan. Sampai akhirnya aku sadar bahwa melupakanmu tak semudah itu untuk dilakukan. Nama dan sosokmu seakan-akan sudah terpaku di dalam hatiku.


Merelakan kepergianmu adalah satu hal yang harus aku jalani. Namun nyatanya begitu sulit untuk aku pahami. Aku bahkan tak ingat lagi bagaimana aku bisa menjalani hidupku tiga tahun ini tanpa hadirmu disisiku.


Aku bukanya tak mau merelakan kepergianmu. Aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisku. Kenapa aku melepaskanmu waktu itu? Kenapa aku tidak berjuang lebih keras lagi untuk membuatmu menjadi milikku? Aku malah menyerah kalah pada keadaan yang memisahkan aku dan dirimu...'


Segala penyesalan dan rasa bersalah yang menyesakkan dada kembali berputar-putar di kepala Ardi. Segala ketidak berdayaannya dan penyesalan terbesar dalam kehidupannya. Melepaskan Ella dari sisinya...


Berbagai pertanyaan berkelebat dan menggaung di kepala Ardi. Pertanyaan yang sama sekali tidak tak dapat dijawabnya. Pertanyaan tentang hubungan cintanya yang sepertinya sudah tak ada harapan lagi. Membuat dirinya semakin tenggelam dalam penyesalan dan keputus asaan.

__ADS_1


'Apa benar kamu sudah bahagia sekarang?


Apa benar kamu sudah bisa melupakanku?


Bukankan kamu sendiri yang memintaku menunggu?


Bukankan kamu yang meminta waktu tiga tahun padaku?


Sekarang setelah tiga tahun aku kembali.


Aku kembali padamu untuk melanjutkan kisah cinta kita yang tertunda.


Tapi kenapa malah kau yang berpaling?


Sudah lelahkah kau untuk menungguku?


Atau sebegitu tidak percayanya kau padaku?


Kau tidak percaya akan cintaku padamu?


Sehingga kau memilih untuk bersanding dengan seseorang yang lain.


Dan mengubur kisah cinta kita.'


Cukup lama Ardi terdiam dan merenung, berpikir dan berpikir tanpa menemukan jawaban dan solusi. Sampai dirinya menyadari satu hal...Apa Ella sedang ada di sini sekarang? Apa dia hadir di pesta ini?


Ardi beranjak dari kursi kerja Mahes, berjalan menyusuri ruangan. Buru-buru keluar dari ruang kerja itu dan berakhir di koridor lantai dua. Diedarkan matanya untuk mencari-cari sosok itu. Ella, dimana dia? Pandangan Ardi berhenti pada dua sosok yang sedang berjalan dengan lengan saling bertautan, menuruni tangga melingkar ke lantai satu.


Tak salah lagi, sosok itu, Ella...pasti dia. Ardi yakin betul bahkan dengan hanya melihat sosok belakangnya kalau gadis itu adalah Ella. Gadis yang sedang berjalan berdampingan dengan seorang pria. Tak lain dan tak bukan si brengsek itu, Roni.


Debaran di dada Ardi kembali muncul, awalnya perlahan namun semakin lama semakin keras dan bertalu-talu. Demi melihat wajah cantik Ella, dengan senyuman manis yang selalu tersungging di bibirnya.


Ada yang sedikit berbeda dengan penampilan Ella kali ini. Ella memotong rambut panjangnya menjadi pendek sebahu dengan menambahkan aksen curly. Wajahnya juga sudah tidak sepolos dulu lagi, kini Ella sudah pintar memadukan warna make up untuk memulas wajahnya. Dandanan Ella masih terkesan flawless tapi lebih terlihat segar, dewasa, cerdas dan berkelas.


Ardi menepi ke sandaran balkon lantai atas, pandangan kedua matanya tak bisa lepas dari Ella dan Ella seorang. Dirinya berusaha mengabaikan Roni yang berada di sisi gadis itu. Roni yang mengandeng lengan Ella dengan lembut.


Ardi merasa sangat geram melihat ekspresi wajah Ella yang tidak menunjukkan penolakan terhadap perlakuan Roni itu. Jadi benar Ella sudah memilih si brengsek itu? Jadi benar apa yang dikatakan Roni bahwa Ella sudah bahagia sekarang? Bahagia di sisinya?


'Apa sekarang sudah saatnya aku untuk menyerah? Apa aku harus membuang segala harapan tentang hubungan kami?' pikir Ardi.


Baiklah jika memang Ella sendiri yang memilih untuk bersama Roni. Jika memang Ella bisa menjalani hidupnya dengan lebih bahagia. Jika memang Roni dapat lebih membahagiakan Ella dari pada dirinya. Mungkin Ardi hanya harus merelakannya, mengikhlaskan gadis itu untuk pergi.


Ikhlas? kata yang sangat mudah untuk diucapkan. Tetapi ternyata sangat sulit dan tak semudah itu untuk dilakukan. Rasa panas dari api cemburu perlahan mulai menjalar membakar tubuh Ardi demi melihat kemesraan diantara Roni dan Ella.


"Jadi benar kata Roni? Kamu sudah bahagia sekarang? Jadi benar kamu sudah melupakan aku, El? Melupakan semua yang telah terjadi diantara kita?" guman Ardi lemah tak berdaya.

__ADS_1


Entah sengaja atau tidak, Ardi merasa bahwa Roni sengaja untuk memamerkan kedekatan dan kemesraannya dengan Ella padanya. Sengaja menunjukkan bahwa dirinya telah menang dan berhasil merebut hati Ella dari Ardi. Roni bahkan dengan tak tahu malunya sengaja beberapa kali menyuapkan sesendok makanan pada Ella di depan umum.


Jika saja Ardi melihat Ella menunjukkan sedikit rasa tidak suka. Jika saja Ella terlihat tidak nyaman dan melakukan penolakan terhadap tindakan Roni. Maka Ardi tak akan ragu untuk menghampiri mereka, bahkan mungkin dia akan menghampiri, menarik dan merebut Ella dari sisi Roni saat ini juga.


Tetapi nyatanya segala harapan Ardi tidak terjadi. Ella nampak biasa saja dan lugas menerima perlakuan Roni padanya. Gadis itu sama sekali tidak terlihat keberatan, risih atau melakukan penolakan pada tindakan Roni. Membuat Ardi semakin tak berdaya melihatnya, tak memiliki alasan lagi untuk merebut paksa Ella dari sisi Roni. Tidak jika benar Ella sudah bahagia dan menetapkan hatinya untuk Roni.


"Brengsek! Si brengsek sialan itu..." ujar Ardi geram dan marah sambil mencengkeram pagar besi pengaman balkon erat-erat.


Entah mengapa dirinya jadi teringat kejadian saat dirinya menyuapi Sari di pesta ulang tahun mamanya dulu. 'Sial! Aku pasti kena karma. Apa yang pernah aku lakukan pada Ella berbalik padaku sekarang.' Ardi mengumpat dalam hatinya.


Jadi beginilah rasa sakit yang dirasakan Ella dulu? Pantas saja Ella bisa berakhir dengan sangat menyedihkan waktu itu. Beginilah sakitnya tak berdaya, penyesalan dan patah hati yang bergabung menjadi satu.


"Pak? Pak Ardi?" Bambang mendekat dan memanggil-manggil Ardi dengan kebingungan. Dari tadi dirinya sudah berulang kali memanggil tapi tetap tidak ada jawaban sama sekali dari bosnya itu.


Duh kenapa lagi ini si bos? lagi liatin apa si serius banget? Bambang jadi khawatir sekaligus penasaran dengan keadaan Ardi. Apa yang sedang dilihat oleh Ardi dengan sangat serius di lantai bawah?


Bambang berdiri di sebelah Ardi. Mengikuti arah pandangn Ardi ke lantai bawah. Dapat dilihatnya gadis itu, gadis yang selalu mengusik ketenangan bosnya, Ella.


Pantas saja Ardi terlihat bengong dan begitu emosi. Dari lantai atas ini dapat terlihat jelas kalau gadis itu sedang bersama dengan pria lain. Terlihat sangat serasi, intim dan mesra bersanding dengan sang pria. Pria yang sudah berkali-kali tertangkap kamera, dan dilaporkan juga oleh orang suruhan Ardi setiap beberapa hari sekali.


"Lho mbang?..." Ardi sedikit kaget menyadari Bambang sudah berdiri di sebelahnya.


"Saya cuma mau nanya pak Ardi ingin kembali ke kantor atau masih mau disini? Teman-teman sudah kembali semua ke kantor." Bambang menjelaskan maksud kedatangannya.


"Disini dulu..." Ardi masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Ella.


"Bapak sudah makan? Makanan bapak di kamar tamu sudah dingin dari tadi. Nanti saya suruh maid untuk menggantinya dengan yang baru." Bambang memastikan bosnya sudah makan atau belum.


Selama pesta tadi dirinya sama sekali tidak melihat Ardi. Setelah mencari kemana-mana akhirnya Bambang menemukan bosnya itu malah ketiduran di sofa ruang kerja. Pasti belum makan dia, bahkan makanan yang disiapkan di kamar tamu untuknya juga belum tersentuh.


"Tambahin wine dua botol."


"Tapi besok ada rapat direksi, pak." Bambang takut Ardi bakal mabuk-mabukan malam ini.


"Gak papa minum dikit. Nanti kamu join aja sekalian. Pesta patah hati."


"Lho bukanya dulu udah ya?" Bambang tak habis pikir, kok patah hati masih dirayain aja setelah tiga tahun.


"Part two."


"Baik, pak." Bambang menurut saja tak berani membantah lagi. Bambang beralih untuk mencari maid dan memenuhi permintaan Ardi.


Sementara Ardi yang sudah eneg memandang Ella dan Roni juga beranjak dari posisinya. Berjalan gontai ke kamar tamu tempatnya akan berpesta patah hati.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2