
"Gimana mas Ardi, Mbang?" tanya Linggar setelah Bambang menyelesaikan panggilan telponnya dengan Ardi.
"Pak Ardi masih sibuk kayaknya. Gak bisa diganggu. Nanti pulang sendiri katanya," Bambang masih ingat dikatai fvck you oleh Ardi. Kayaknya lagi kesel banget bosnya tadi. Jadi gak berani menghubunginya lagi. Kenapa lagi ya si pak bos? Apa bertengkar sama cewek incerannya itu? Ella?
"Wah bagus kalau mas Ardi pulang sendiri. Mana kunci mobilnya, Mbang?" Linggar meminta kunci mobil BMW Ardi. Mumpung kakaknya itu gak ada, bisa dipinjem ini mobil buat jalan-jalan ke tempat yang lebih asik. Males banget jalan di mall kayak gini. Ditha juga kayaknya gak begitu suka ngemall. Bisa ni diajakin jalan sekalian hehe.
"Haaah? Buat apa?" Bambang kebingungan. Dirinya sudah sering dengar si kalau Linggar, tuan muda keluarga Pradana ini memang sering berulah. Tapi baru kali ini dirinya berhadapan langsung dengan ulah Linggar. Bukannya jadwal mereka selanjutnya adalah makan siang food cort?
"Kamu urusin aja masalah baju-baju dan pesanan kita tadi. Abis itu kau bebas mau makan siang atau kemana. Tapi kamu pulang naik taxi aja, mobilnya aku bawa." Linggar mengubah susunan rencana acara mereka seenaknya.
"Tapi gimana kalau pak Ardi minta jemput? Pak Ardi gak bawa dompet dan semua kartunya." Bambang beralibi, takut bosnya gak bisa pulang sendiri saking kere dan gak bawa duitnya.
"Gak bakalan. Mas Ardi pasti lagi asik sama mbak Ella sekarang. Mana sini kuncinya," Linggar semakin mendesak Bambang memberikan kuncinya.
Bambang pun tak berani membantah lagi, mengeluarkan kunci mobil Ardi dari saku celananya. Yah semoga saja bosnya itu gak minta jemput.
"Dith kamu mau ikut aku atau Bambang?" Linggar menawari Ditha.
Gadis itu terlihat kebingungan untuk sesaat. Klo di pilihannya ada mas Ardi jelas pilih mas Ardi lah. Lha ini? Pilihannya dua cowok geje gini...Tapi ya daripada sama Bambang si sekretaris yang gak asik kayaknya mending sama Linggar aja. Paling tidak kan mereka seumuran, sama-sama berjiwa muda.
"Ikut kamu deh." Ditha memutuskan dan mengikuti langkah Linggar meningglkan mall ke parkiran mobil. Kemudian selanjutnya mereka melaju meninggalkan mall menuju tempat yang dikehendaki Linggar.
"Mau kemana, Nggar?" Ditha bertanya penasaran.
"Tempat yang asik pokoknya. Aku liat tadi kamu kayak gak minat gitu belanja di mall."
"Hahaha iya, tau sendiri lah aku bukan tipe feminis yang doyan shopping."
"Kutebak kamu lebih seneng petualangan. Traveling, atau kegiatan yang berhubungan dengan alam atau aktivitas yang lebih menantang lainnya." Linggar asal saja menebak-nebak dari penampilan Ditha yang tomboy dan terlihat sangat bugar. Beda banget dari para cewek sultanwati bertubuh lemah yang doyan dandan dan bersolek.
"Tau aja. Kalau kamu? Pasti tipe yang suka party dan main sama cewek-cewek cantik ya?" Ditha menyuarakan pendapatnya dari penampilan dan peragai Linggar yang sepertinya tidak jauh berbeda dengan kakaknya, Prasetyo. Playboy kelas kakap.
"Liat aja ntar..." Linggar tersenyum ringan penuh misteri. "Btw kamu gak penasaran sama cewek yang dikejar mas Ardi tadi?"
"Iya, penasaran juga. Siapa dia?" Ditha akhirnya menanyakan rasa penasarannya. Kok bisa-bisanya mas Ardi pergi dan gak balik lagi setelah ngejar cewek tadi?
"Cewek tadi namanya mbak Ella. Mantannya mas Ardi. Just let you know aja kalau sudah ada cewek lain di hatinya mas Ardi." Linggar setengah memperingatkan pada Ditha. Selain kasian sama Ditha-nya, Linggar juga tak ingin ada penghalang lagi dalam hubungan kakaknya itu.
"Terus kenapa? Kan dia cuman mantannya." Ditha terlihat sama sekali tidak gentar.
"Ya gak pa-pa. Cuma gak ingin kamu kecewa aja kalau gak dipedulikan sama mas Ardi." Linggar makin penasaran dengan Ditha yang sepertinya pantang menyerah ini. Keren juga ini cewek.
"Oh makasih lo ya..." Ditha menanggapi sinis.
Beberapa lama kemudian mereka sampai di sirkuit motocross Medan Kolang. Linggar memarkirkan mobilnya di parkiran dan segera mengajak Ditha turun. Kemudian mereka berjalan beriringan ke area sirkuit balapan motocross ini.
"Kita makan dulu aja ya, laper. Mainnya kalau udah kenyang." Linggar memberikan ide.
"Ide bagus." Ditha terlihat sangat senang dan bersemangat. Benar dugaan Linggar, gadis ini tipe yang suka tantangan seperti ini.
Keduanya langsung berjalan beriringan menuju bangunan cafe and resto yang ada disana. Mengambil salah satu meja yang tepat menghadap ke sirkuit balapan.
__ADS_1
"Mau pesen apa?" Linggar menawari Ditha saat seorang waiters menghampiri mereka. "Aku big beef burger, double fried chicken, fried fries, sama double size cola." Linggar menyebutkan pesanannya.
"Buset dah itu makananmu sendiri?" Ditha terlihat takjub mendengar pesanan makanan Linggar. "Aku cheesy beef burger sama medium cola aja," Ditha mengatakan pesanannya.
"Hahaha, belum tahu aja kamu. Mas Ardi juga sama banyaknya kalau makan."
"Masa si? Badannya bagus gitu kok, masa makannya banyak?" Ditha penasaran kalau pembicaraan menyangkut Ardi.
"Ya kegiatan dia kan juga banyak. Otaknya juga kepake terus buat mikir. Butuh banyak energi." Linggar memberikan teorinya sekenanya.
"Oiya kamu sering main kesini?" Ditha terlihat tertarik dengan area sirkuit motocross ini.
"Sering. Aku juga sering tanding disini. Tiap hari minggu siang jam 3-an ada race disini."
"Wah hari ini donk. Kamu kesini mau tanding juga hari ini?" Ditha terlihat semakin tertarik.
"Tergantung..."
"Tergantung apa?" Ditha semakin penasaran.
"Taruhannya apa dulu..."
"Hah? Taruhan?"
"Kamu mau taruhan sama aku? Kalau aku menang kamu bakal ngasih apa yang aku minta?" Linggar sedikit menggoda Ditha. Gadis itu terlihat berpikir sejenak menimbang-nimbang permintaan Linggar.
"Boleh. Siapa takut. Kalau kamu yang kalah gimana?" Ditha tertarik dan tak mau kalah.
"Kamu boleh minta apa aja sama aku. Impas kan?"
Tak lama kemudian makanan pesanan mereka datang, dan keduanya langsung menyerbu dan menyantap menu makanan mereka dengan lahapnya. Linggar mengamati Ditha menyantap makanannya, kayaknya natural banget gak ada jaim-jaimnya seperti sebagian besar wanita lainnya.
"Kamu bisa naik motor? Pengen nyobain naik motocross? Aku bisa ajarin kamu," Linggar menawarkan sambil menggigit burger besarnya.
"Bisa si naik motor. Jadi penasaran nyobain. Ajarin ya," Ditha terlihat sangat tertarik, penasaran dengan tantangan baru yang bisa dicobanya.
"Tarifnya mahal lho, mentor Linggarjati hahaha."
"Duh tadi katanya mau ngajarin ternyata ada pamrihnya," Ditha memprotes manyun, membuat Linggar semakin tersenyum lebar melihatnya.
Tak lama kemudian rombongan anak muda memasuki cafe and restoran juga. Mendekati ke arah meja Linggar dan Ditha. Seorang wanita muda dari rombongan menghampiri meja mereka.
"Oh sekarang ganti lagi cewekmu, Nggar?" ujarnya sinis. "Udah bukan tante-tante lagi seleranya? Sekarang malah cewek tomboy yang gak ada cantik-cantiknya gini?"
Linggar melirik sekilas pada siapa yang menyapanya. Lisa Rajasa, mantannya yang resek. Makin malas Linggar menanggapi, akhirnya Linggar memilih diem aja sambil melanjutkan mengunyah makan siangnya. Ditha juga diam saja malas menanggapi cewek gak jelas yang tidak dikenalnya itu.
"Hei tomboy miskin, Linggar ini belum sebulan putus sama aku. Dia jalan sama tante-tante miskin sebelumnya. Eh sekarang sama tomboy miskin kayak kamu?! Jangan harap bakal awet!"
Ditha meremas-remas sedotan colanya. Geram juga lama-lama dikatai cewek gak dikenal. Ditha berdiri dari kursinya, mengambil posisi berhadapan dengan Lisa. Melemparkan pandangan menusuk pada Lisa, marah sepertinya.
Linggar mau tak mau tersenyum melihat pertengkaran dua cewek itu. Mampoos kau Lisa, belum tahu dia kalau yang dibilang miskin adalah Praditha Sampoerna. Aset Rajasa grup mah gak ada apa-apanya kalau dibandingkan Sampoerna grup.
__ADS_1
"Kamu bilang aku miskin? Kamu siapa, hah?!" Ditha menggertak Lisa dengan tatapan sinisnya.
"Lisa Rajasa, Putri terakhir dari Rajasa grup." Lisa menjawab dengan sombongnya.
"Eh Nggar, Rajasa ini grup kecil yang di Banyu Harum bukan si?" Ditha memastikan pada Linggar.
"Yoi. Paling sekelas perusahaan pribadinya mas Ardi di Genting lah." Linggar menjelaskan.
"Hah? Cuma segitu aja sombongnya selangit. Kelaut aja mending kamu! Get out of my way!" Ditha malas menanggapi lawannya yang besar mulut tapi tak selevel dengannya.
"Kamu, kamu siapa?..." Lisa terlihat sedikit gentar sekarang. Apa cewek ini berasal dari keluarga sekelas Pradana? Keluarga mana?
"Kenalkan dan ingat namaku baik-baik. Praditha Sampoerna." jawaban Ditha seakan menggelegar memenuhi ruangan, membuat Lisa dan teman-temannya yang datang bersamanya gentar seketika hanya dengan mendengar nama Ditha.
"Sa, Sampoerna yang itu?..." Lisa benar-benar tak bisa berkata-kata sekarang. Kalah telak dengan lawan di hadapannya ini. Terdiam, akhirnya semua yang hadir hanya bisa terdiam membisu.
Baik Ditha maupun Linggar tidak menjawab. Malas menanggapi orang orang yang tidak selevel dengan mereka. Yah memang hari ini penampilan keduanya menggunakan gaya kasual saja. Sama sekali tak menunjukkan status kesultanan mereka.
Bahkan Ditha tidak memakai dress dan tas mewahnya. Ditha hanya mengenakan t-shirt dan celana panjang serta sneakersnya. Gaya yang terlalu plain untuk seorang sultanwati Sampoerna grup.
"Eh, Enggar! Mau ikutan race hari ini? Sudah ada empat peserta. Satu lagi pas ni." Salah seorang pria teman Lisa ikut nimbrung, ingin memecahkan kebekuan suasana.
"Lima juta perorang taruhannya, Nggar! Take or not?" Pria lain ikutan menambahkan.
"Gimana, Dith?" Linggar meminta persetujuan Ditha.
"Take it! Aku yang bayar! Dua kali lipat! Kamu harus menang!" Ditha menerima tantangan mereka.
"Ok, deal! Jangan lupa janjimu ya!" Linggar mengingatkan Ditha akan janjinya tadi.
"As you wish!" Ditha menyanggupi. Kemudian kembali ke tempat duduknya.
Sementara Lisa dan teman-temannya juga mengambil tempat duduk di salah satu meja yang agak jauh dari lokasi mereka berdua.
"Eh kamu bisa menang gak, Nggar?" Ditha bertanya pada Linggar, sedikit khawatir juga. Bukan masalah duit sepuluh jutanya si. Tapi Lebih ke gensinya saja.
"Tergantung si..."
"Tergantung apanya?"
"Penyemangatnya, rewardnya worthed gak?"
"Tiga puluh juta masih kurang?" Ditha bertanya penasaran. Wah gila ini tuan muda Pradana mainannya ngeri kalau taruhan.
"Bukan masalah duitnya. Dapet duit juga ntar dibagi lagi kok buat perayaan."
"Terus apa dong?" Ditha semakin kebingungan.
"Kasih aku ciuman kalau menang gimana?" Linggar menyunggingkan senyuman liciknya.
"Haaaah?"
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. ðŸ¤ðŸŒ¼