Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
43. Sultan bucin style


__ADS_3

Siang itu seperti hari-hari sebelumnya Ardi menjemput Ella di puskesmas pada jam makan siang untuk mengajaknya keluar mengisi perut. Beberapa pegawai puskesmas keheranan bagaimana Ella bisa tiba-tiba dekat dengan bos dari Pradana Construction yang ganteng dan tajir. Mereka mengira kedekatan Ella dan Ardi karena kejadian kecelakaan kerja tempo hari.


Tak jarang perawat dan bidan-bidan menggoda Ella dan kepo tentang hubungannya dengan si sultan ganteng itu. Dan Ella terlalu malas untuk mengklarifikasi soal kebenaran hubungannya dengan Ardi. Dibiarkan saja rekan-rekan kerjanya itu untuk bergosip dan berimajinasi sesukanya tentang hubungannya dengan Ardi. Yah paling tidak mereka masih bener kok kalau nganggap Ella pacarnya Ardi hehe


"Mau makan apa hari ini?" Tanya Ardi sambil mengemudikan mobilnya. Ella tidak menjawab malah asik membaca buku tebal di hadapannya. Mengingat-ingat apa yang sudah dibacanya dengan komat kamit.


"El? Hallo any body there?" Ujar Ardi mulai kesal karena dicuekin.


(*Hallo ada orang disana?)


"Besok aku ujian mas! Harus belajar!" Ella balik memprotes Ardi yang mengganggu proses hafalan di otakknya.


"Ok, ok. Besok materinya apa?"


"TPA sama TOEFL," jawab Ella.


"TPA? Tempat pembuangan Akhir? Tempat sampah donk" Goda Ardi sambil terkikik.


"Enak aja! Tes Potensi Akademik." Ella sewot.


"Aku bisa bantu TOEFL nya. Let's talk in english. Englis slank juga boleh hahaha." Memang menurut Ella, Ardi ini seharusnya punya kemampuan bahasa inggris jempolan. Lha gimana nggak papanya aja bule asli impor luar negeri dan ngomongnya campuran indo-inggris gitu.


(*Ayo ngomong bahasa inggris)


"Ah sure. That's a great idea." Ella sekarang kegirangan mendapat lawan bicara untuk latihan bahasa inggrisnya. Itung-itung buat latihan tes wawancara bahasa inggrisnya juga kan lumayan.


(*Ah tentu. Itu ide yang sangat bagus)


"So Mr. Ardi, Where do you want to take me?"


(*Jadi Pak Ardi, kemana anda ingin membawa saya?)


"To have a lunch together. Maybe we can go to cafe or restourant?"


(*untuk makan siang bareng. Mungkin kita bisa ke cafe atau restoran?)


"Wow. I'm glad to hear that. thank you."


(*wow. Aku senang mendengarnya. makasih)


"You know what?...Lidahku keseleo lama-lama wahahaha" Ardi tertawa lepas menyadari saking belibetnya mereka ngomong daritadi.


(*kau tahu?...)


"Not that bad actually. We just need more practices." Ella keasikan ngomong english.


(*Tidak seburuk itu sebenarnya. Kita hanya perlu latihan lebih banyak)


"So would you like to eat Rujak cingur for our lunch? I promise you that this will be the best Rujak cingur you ever tasted." Ardi menawarkan saat mereka akan melewati sebuah warung Rujak cingur di tepi jalan.


(*Jadi apa kamu mau makan rujak cingur buat makan siang kita? Aku janji ini pasti akan menjadi rujak cingur terenak yang pernah kamu rasakan).


"Sure. Why not?" Ella tidak menolaknya.

__ADS_1


(*Tentu. Mengapa tidak?).


Ardi membelokkan dan memarkirkan mobilnya di depan warung kecil yang menjual rujak cingur. Meskipun warung itu kecil, tetapi yang nganti di dalam warung lumayan banyak juga ternyata. Tak diragukan lagi sepertinya soal kualitas dari rujak cingur ini dari banyaknya pelanggan yang rela antri disana.


"What do you want to drink?" Tanya Ardi masih sok keinggris-inggrisan.


(*Mau minum apa?).


"Hmmm iced tea," Ella menjawab singkat.


"Mam, i would like to order two plates of rujak cingur and two glasses of iced tea." Dengan dodolnya Ardi kelepasan pesen makanan ke ibuk-ibuk penjual rujak masih menggunakan bahasa inggris. Sang ibuk langsung bengong, bagitu pula sebagian besar pelanggan yang hadir disana ikutan melongo kaget mendengar ucapan Ardi. Ini bule lokal nyasar dari mana, gitu kali batin mereka.


(*Buk saya pesen dua piring rujak cingur dan dua gelas es teh).


"Hahahaha So stupid" Ella menertawakan kebodohan Ardi. "Pesen rujak cingur dua bu, sama es teh dua." Ella mengulangi pesanan mereka pada sang ibuk penjual dengan bahasa dari planet yang dapat dimengertinya.


(*hahahaha benar-benar bodoh).


"Owalah Mbak, pesen ngunu to. Bikin kaget aja." Si Ibuk ngomel-ngomel sambil melanjutkan mengulek rujaknya. Ella dan Ardi dan beberapa pembeli jadi tertawa cekikikan demi mendengar omelan si ibuk penjual.


"Terus ya aku kepikiran. Cingur itu bahasa inggrisnya apa?" Celetuk Ardi masih sotoy.


"Hmmm...cow's mouth skin?" Ella coba menjawab dan menerka-nerka.


(*hmmm...kulit mulut sapi?)


"Duh panjang bener. Jelek lagi kedengerannya hehe. Dah mending tetep cingur aja deh." Ardi gak suka dengan versi inggris dari cingur.


"Eh mas bule kalo bisa bahasa indonesia, pesen makananya pake indo aja ya mas" Ujar si ibuk ke Ardi sambil menyerahkan dua piring rujak dan dua gelas es teh pesanan mereka.


"Heluk, mas bulene iso boso alusan malah." Si Ibuk nyeletuk saking kagetnya dan sukses membuat semua yang hadir di warung itu tertawa ngakak. Bener-bener hiburan penyejuk disiang hari yang panas ini. Dan lagi bisa-bisanya guyonan garing ini datangnya dari Ardi yang biasanya selalu sok cool.


"Eh tadi kamu bilang kapan ujian PPDS mu?" Ardi memastikan ulang jadwal ujian Ella. "Dimana lokasi ujiannya?"


"Besok. Kampus A Uner." Jawab Ella santai sambil melahap sesendok rujaknya.


"Uner? Surabaya? Dan kamu masih


disini sekarang?" Malah Ardi yang panik.


"Nanti sorean berangkat ke Surabayanya bareng ama Roni naik mobilnya."


"Apaaa? Sama sapa?" Suara Ardi meninggi.


"Roni, siapa lagi?...Kan dia juga ikut ujian. Jadinya sekalian aja bareng." Jawab Ella dengan santai seakan tak punya dosa.


"Gak boleh. Pokoknya gak boleh sama Roni."


"Kalau gak sama Roni aku naik apa? Kereta juga udah gak ada jadwal ke Surabaya jam segini. Kalau naik bis bakal mabuk." Ella coba merengek.


"Kamu kok gak ngomong sebelumnya si sama aku? Kan aku bisa ngatur jadwalku buat nganter kamu!" Ardi tetep tak tergoyahkan oleh rengekan Ella.


"Kan mas Ardi sibuk banget akhir-akhir ini. Gak enak kalau ngerepotin."

__ADS_1


"El kan aku udah bilang, kamu boleh bergantung ama aku. Kamu boleh minta tolong sama aku atau mengandalkanku. Jangan semua kamu putusin dan urusin sendiri." Ardi mengingatkan.


"Apa salahnya si? Toh Roni kan sekalian jalan. Kita juga gak bakal ngapa-ngapain pastinya. Kok ribet amat?" Ella memprotes.


"Si Roni brengsek itu kelihatan banget dari tatapannya kalu suka sama kamu. Aku gak suka sama dia...Terus tujuh jam kamu bakal berduaan semobil sama dia? Aku gak rela!"


"Terus? Emang mas Ardi bisa nganterin?"


"Enggak."


"Yaudah gak usah banyak protes klo gitu." Ella benar-benar dongkol sekarang dengan tindakan Ardi yang melarang-larangnya tanpa alasan yang rasional.


"Aku bisa suruh supirku anterin kamu! Gak perlu minta bantuan si brengsek itu!"


"Hah?" Ella bener-bener speachless sekarang. Tidak menyangka Ardi sebenci itu sama Roni. Ataukah dia cemburu pada Roni? Duh masa si? ada-ada saja. Padahal jelas-jelas dirinya dan Roni tak pernah melakukan hal yang aneh dan melebihi batas pertemanan.


"Tapi nanti bakal ngerepotin banyak orang..."


"Gak usah tapi-tapian." Ardi memotong pembicaraan Ella. "Kamu tinggal pilih aja mau dianter pakai mobil apa. Mau si merah, si hitam atau Apv mobil kantor juga boleh"


Ella terdiam akhirnya tak berani membantah lagi. Ardi sepertinya benar-benar serius tak mau mengijinkannya untuk nebeng sama Roni. Ella melanjutkan untuk memakan rujak cingurnya dalam diam. Sementara Ardi mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang disana.


"Hallo Cindy, kamu carikan satu driver yang stand by hari ini ya. Aku perlu buat anter sesuatu ke Surabaya. Imedietly, jam tiga sore harus udah ready." Ardi berbicara dengan Cindy dari ponselnya.


"Hmmm Anwar, Hasan, sama Joni ya yang availabble? Yang paling senior dan sabar yang mana?"


"Oke deh kalo gitu. Suruh si Hasan aja. Nanti suruh langsung ngadep ke ruanganku di kantor jam dua-an. Oiya sekalian kau suruh dia ambil mobilku yang hitam di rumah ya" Ardi memutuskan dan memberi perintah.


"Fine. Thanx ya." Ardi menutup panggilan telponnya dengan Cindy.


"Udah clear. Nanti jam tiga-an kamu akan dijemput sama sopirku di kontrakan. Mau naik si merah atau si hitam? Si hitam aja yah soalnya jarak jauh. Biar nyaman dan kamu gak mabok. Ngerepoti orang nanti kalau kamu mabuk." Ardi memberi laporan pada Ella. Dengan cueknya pria itu kembali menyantap rujak cingurnya.


"Makasih lho mas. Mas Ardi baik banget sama aku." Ella benar-benar gak tahu harus ngomong apalagi menghadapi tingkah Ardi. Sultan kalau sudah berkehendak akan susah untuk dibantah.


Mau tak mau Ella juga merasa senang dan terharu juga menerima perlakuan protective dari Ardi ini. Bagaimana perdulinya Ardi padanya. Bagaimana Ardi ingin membuatnya merasa nyaman. Sampai-sampai sopir yang dipilih juga yang paling senior dan sabar? Masa iya sih Ardi juga cemburu sama sopirnya sendiri? Ckckck benar-benar dah emang Sultan satu ini.


"Abisin makananmu. Setelah ini langsung aku anter pulang buat siap-siap." Perintah Ardi selanjutnya pada Ella.


Keduanya menghabiskan rujak cingurnya dengan cepat setelah itu. Mereka bergegas meninggalkan warung setelah membayar tagihannya. Kembali ke mobil dan meluncur kembali membelah aspal. Ardi selanjutnya membelokkan mobilnya ke toserba dua puluh empat jam dan mengajak Ella turun.


"Beli semua perbekalan kamu buat perjalanan." Ujar Ardi saat mereka sudah di dalam toko. Tak memperdulikan protes dari Ella. Dengan cueknya dia mengambil obat anti mabuk, tisue, permen, kantong plastik, minyak kayu putih, beberapa buah roti, beberapa botol minuman vitamin c dan beberapa botol air mineral. "Apa lagi ni yang kurang?" Tanya Ardi sambil menunjukkan isi keranjang belanjaannya pada Ella.


"Udah lengkap itu kayak perbekalan anak SD mau piknik." Ella sambil cekikikan. Dia kembali tak dapat berkata-kata menerima perlakuan Ardi. Ardi hanya tertawa ringan mendengar jawaban Ella. Membawa keranjang belanjaannya ke kasir dan membayar semuanya.


"Nggak usah kayak gitu juga kali, mas. Aku bisa kok beli sendiri, ngurus keperluan aku sendiri." Protes Ella saat mereka kembali ke mobil. Kembali melaju ke puskesmas.


"Anggep aja sebagai permintaan maaf karena gak bisa nganterin kamu." Jawab Ardi.


See? Ardi sebaik dan seperhatian itu pada Ella. Bagaimana mungkin Ella bisa melepaskan diri dari jeratan cinta Ardi coba kalau kayak gini? Mana rela...


Tapi Ella juga telah membulatkan tekadnya. Dia tetap tak akan menyerah juga untuk menggapai cita-citanya setinggi langit. Memperjuangkan nasibnya untuk dapat terus berkarier dan menuntut ilmu. Semakin merana dan dilema saja kan jadinya...


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2