Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
166. S2 - Slow Down!


__ADS_3

Slow down


And enjoy yourself a litte more


Don't be so serious


life is not a race


_Chistian Lemieux_


(*Pelan - pelan saja


Dan nikmatilah apa yang ada pada dirimu


Jangan terlalu serius


Hidup bukanlah suatu perlombaan)


Slow down and enjoy life


It's not only the scenery


you miss by going too fast


You also miss the sense


Of where you are going and why


_Eddie Cantor_


(*Pelan-pelan dan nikmati hidup


Bukan hanya pemandangannya


Yang akan kau lewatkan jika berjalan terlalu cepat


Kau juga akan melewatkan inti


Dari alasan kemana kau pergi dan mengapa


__________________________________


"Sekarang semuanya tinggal menunggu keputusan dari Ella sendiri serta om Bowo sebagai ayah Ella. Kalau boleh saya ingin melamar Ella sebagai calon istri saya, om..." Ardi memberanikan diri berusaha menyampaikan itikad dan maksud hatinya.


Bowo tertegun selama beberapa saat, tak mengira Ardi akan begitu berani melamar dan meminta Ella secara langsung padanya seperti ini. Sesuatu yang jarang dilakukan oleh anak muda jaman sekarang. Kebanyakan mereka akan meminta orang ketiga untuk menyampaikan itikad kepada ayah si gadis. Tapi Ardi Pradana ini malah tanpa keraguan berani meminta kepadanya sebagai ayah Ella.


Senang juga si melihat keberanian dan ketegasan sifat Ardi akan keseriusan hubungannya dengan Ella. Entah mengapa Bowo menjadi sedikit tenang untuk melepas anak gadisnya bersanding dengan pria seperti Ardi. Pria yang tegas, berwibawa dan bisa dipercaya. Semoga saja kelak Ardi dapat menjadi pemimpin rumah tangga yang baik juga.


"Sepertinya kalian berdua sudah benar-benar serius. Om juga sangat menghargai keberanian dan ketulusan kamu. Dan Ella sendiri sebenarnya sudah menetapkan pilihannya padamu. Sebagai orang tua, om dan tante tentu tak akan bisa berbuat apa-apa kecuali hanya memberi restu kami pada kalian..." Bowo menghentikan ucapannya sejenak.


Jantung Ardi sudah dag dig dug gak karaun dari tadi. Sejak persidangan dengan papa Ella ini, lebih parah lagi saat dirinya mengutarakan niatnya untuk melamar Ella. Dan sampai sekarang detakan jantung itu tetap tak mau tenang sebelum mendengar jawaban dari pak Wibowo ini. Harap-harap cemas.


"Saya si tidak keberatan, tapi..." Bowo melanjutkan.


"Tapi, tapi apa Om?" Hati Ardi mencelos kecewa menantikan jawaban yang sepertinya akan berakhir dengan penolakan dari calon mertuanya ini.


"Tapi nanti dulu lah pada saat yang tepat. Slow down!" Bowo menjawab sambil tersenyum ringan. Bukan menolak, tapi menunda lebih tepatnya.


"Aduh...Maaf, Om." Ardi meminta maaf menyadari kebodohannya. Ampun deh, padahal tadi dirinya sendiri yang mengatakan akan menunggu Ella untuk menyelesaikan masalahnya dulu. Eh ini malah main lamar aja, main serobot pacar orang lain selagi ada kesempatan. Keburu napsu banget si. Malu-maluin aja. Ardi mengutuk kebodohan dirinya sendiri.


"Kamu boleh saja melamar Ella tapi dengan cara yang baik dan benar. Bawa orang tuamu kesini. Ikuti aturan dan prosedur yang baik dan benar. Ojo kesusu lan grusah-gusuh," ujar Bowo menjelaskan sekaligus memberi nasehat pada Ardi.


"Udah kebelet banget ya kamu?" Lanjut Bowo sedikit menggoda Ardi yang sepertinya sedih dan kecewa mendengar jawaban penundaan darinya.


"Hehehe..." Ardi hanya sanggup tertawa garing dan malu-malu menanggapinya. Padahal dalam hati dia ingin berteriak, 'Iyaaaaaaa! Udah kebelet banget om! Udah gak tahan pengen bawa pulang anak om.'

__ADS_1


Kedua pria itu pun akhirnya tertawa ringan bersama. Suasana dan kecanggungan diantara mereka sudah mulai mereda sepertinya. Ardi sudah tidak terlalu grogi lagi untuk berhadapan dengan papa Ella. Sedangkan Bowo juga sudah mulai akrab dan mengenali sifat serta karakter dari Ardi. Tidak lagi menganggap Ardi sebagai pria yang pernah mengecewakannya tiga tahun yang lalu.


"Ella! El, coba kesini nak!" Bowo tiba-tiba berteriak memanggil putrinya beberapa saat setelahnya. memanggil Ella untuk bergabung dengan mereka.


Tak lama kemudian Ella muncul ke ruang tamu dengan ragu-ragu memenuhi panggilan papanya. Lilik ikut mengekor saja mengikuti putrinya di belakangnya, saking penasarannya mungkin. Kedua wanita itu pun akhirnya mengambil duduk juga di sofa ruang tamu.


"Kenapa, Pa?" Ella bertanya penasaran pada papanya. Tumben-tumbennya papanya memanggil dirinya saat sedang melakukan pembicaraan serius dengan orang lain? Apa interogasi Ardi sudah selesai? Bagaimana hasilnya kira-kira? Ella tak dapat menebak apa yang terjadi. Karena baik papanya maupun Ardi hanya menampakkan wajah datar saja.


"Gini lo, El. Si Ardi ini katanya mau minta ijin ingin ngelamar kamu?" Bowo dengan terang-terangan menyampaikan keinginan Ardi pada Ella. Pernyataan yang sanggup membuat Ardi malu-malu, menundukkan kepala dengan wajah kemerahan.


"Eeehhhh?" Ella benar-benar kaget mendengarnya. Tak mengira Ardi akan senekat dan seserius itu untuk melamar dirinya pada papanya.


Beneran deh isi kepala Ardi memang susah ditebak. Terlalu misterius! Seneng si, asli seneng dan terharu banget mendengarnya, tapi tetap saja rasanya sekarang belum saat yang tepat untuk menerima lamaran dari Ardi. Tidak sebelum dirinya menyelesaikan masalahnya dengan Roni. Tidak sebelum dirinya putus dengan Roni.


"Gimana, El?" Bowo kembali menanyai Ella. Ingin mendengar pendapat anak gadisnya juga.


"Aku...aku senang sekali mendengarnya. Tapi maaf aku belum bisa menerimanya, mas Ardi. Aku butuh waktu..." Ella menjawab dengan wajah menunduk. Tak ingin melihat wajah Ardi yang pasti akan kecewa mendengar penolakan dan penundaan darinya.


Bowo tersenyum puas mendengar jawaban Ella. Seperti dugaannya Ella adalah gadis yang cerdas dan dapat berpikiran logis tanpa terlalu terbawa perasaan. Memang Ella juga mencintai Ardi dan sudah memilih Ardi sebagai pujaan hatinya. Tapi tetap saja Ella tidak dibutakan oleh cinta, Ella masih tahu aturan dan norma yang harus dijalankan.


"Tu kan? Kamu sudah denger jawaban Ella juga?" Bowo menegaskan kembali pada Ardi.


"Iya...maaf, Om. Saya yang salah. Saya yang terlalu terburu-buru..." Ardi kembali mengakui kesalahannya pada seluruh keluarga Ella.


"Yasudah, yang penting kalian berdua tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh." Bowo mengakhiri pembicaraan mereka dengan memberikan wejangannya.


"Om rasa pembicaraan kita cukup sampai disini. Yuk ma, kasih mereka waktu buat bicara berdua." Bowo mohon pamit dari ruang tamu, sekaligus mengajak istrinya juga. Meninggalkan kedua anak muda itu berduaan duduk berhadapan di sana.


"Mas?..." Ella menyapa setelah cukup lama Ardi hanya terdiam saja. Seperti sedang merenung dan berpikir keras. "Mas Ardi?"


"Eh. Iya? Kenapa, El?" Ujar Ardi kelabakan setelah tersadar dari lamunannya.


Ella beranjak dari kursinya, pindah posisi ke kursi yang berdekatan dengan kursi Ardi, sehingga bisa menggenggam dan menyentuh jemari pria itu.


"Maaf ya mas. Bukannya aku bermaksud menolak lamaran mas Ardi. Tapi..." Ella tak dapat menyelesaikan perkataannya. Dan Ardi pun sudah tahu benar dengan alasan Ella.


"Slow down baby. Take it easy and just let it flow." Ella tersenyum sambil membelai jemari Ardi.


(*Pelan-pelan saja. Tak usah terlalu dijadikan beban dan biarkan semua mengalir saja).


"You right. I believe in you. I'll be waiting for you." Ardi balas menggenggam jemari Ella erat-erat.


(*Kamu benar. Aku percaya padamu. Aku akan menunggumu).


"Iya akan aku selesaikan dulu urusanku sama Roni. Abis itu semua terserah mas Ardi." Ella menyanggupi keputusannya pada Ardi.


"Aku akan memintamu dengan lebih layak nanti. Gak grusah-gusuh kayak gini lagi." Ardi juga menyanggupi kesungguhannya pada Ella. Kemudian keduanya hanya terdiam bertukar senyuman dan tertawa ringan bersama.


Beberapa saat kemudian keheningan dipecahkan oleh suara ringtone ponsel Ardi. Lagu Paradise dari ColdPlay yang seharusnya merdu dan enak didengar tapi terasa menyebalkan kalau berbunyi disaat-saat seperti ini. Merusak suasana saja.


And dream of para-para-paradise


Para-para-paradise


Para-para-paradise


She'd dream of para-para-paradise


Para-para-paradise


Para-para-paradise


Ardi mengeluarkan ponselnya dan mendapati mamanya yang menelponnya. Segera saja Ardi mengangkat panggilan itu. Khawatir ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan mamanya.


"Halo, Ya ma ada apa?"

__ADS_1


"Ardi! Dasar kamu ya anak nakal! Kamu kok gak bilang kalau Linggar abis kecelakaan! Pakek ngamar segala lagi empat hari di rumah sakit. Dasar kalian ini semuanya sekongkol. Gak kamu, gak Laras, Mahes, Bambang sampai Inem pun sekongkol semua." Kartika ngomel-ngomel di sisi sana.


"Yang penting Linggarnya sudah sembuh kan ma?" Ardi berusaha menenangkan mamanya. Pantesan ngamuk gitu lhawong ketahuan anak kesayangannya sakit tapi tak ada yang ngasih laporan padanya.


"Sembuh apaan? Tadi mama telpon dia, vidio call sama dia. Dianya masih pucet gitu dan kayaknya masih kesakitan. Dia itu kan memang paling gak tahan sakit." Kartika terdengar sangat khawatir.


"Ya namanya fraktur tulang kan memang agak lama sembuhnya ma, gak bisa instan." Ardi menejelaskan.


"Pokoknya mama besok mau ke Surabaya nengokin Linggar." Kartika membuat keputusan.


"Terus papa gimana? Kan kasihan kalau ditinggalin?"


"Kalau diajak lebih kasihan lagi. Mama juga gak ngasih tahu papa, takut khawatir."


"Ya makanya...Gak usah kesini. Ardi sama Linggar udah gede, ma. Mama gak perlu terlalu khawatir, kami bisa jaga diri sendiri kok." Ardi mencoba meyakinkan mamanya untuk tidak meninggalkan papanya sendirian di Banyu Harum dan malah pergi ke Surabaya buat nengokin Linggar yang udah bisa cengengesan gak jelas gitu.


"Kamu sendiri gimana kabarnya? Mana sini mama pengen liat kamu. Mama gak mau kecolongan lagi." Kartika memindahkan penggilan ke mode vidio call. Membuat Ardi mau tak mau juga menurut untuk menerima panggilan vidio itu.


Kartika mengamati wajah Ardi dengan seksama. Dan mendengus lega setelah yakin putra sulungnya sehat wal afiat.


"Syukur deh kamu sehat. Oiya kamu lagi dimana? Kok kayaknya mama gak pernah tahu tempat itu." Kartika bertanya curiga.


"Aku...Aku lagi di rumah Ella, ma."


"Ella? Ngapain kamu ke rumah Ella? Tunggu-tunggu kamu udah balikan sama Ella?" Kartika bertanya dengan bersemangat saking penasarannya.


Ardi menggerak-gerakkan layar poselnya sehingga menampakkan wajah Ella yang sedang duduk di sebelahnya. "Ini anaknya...Makin cantik aja kan?"


"El ini ada mama, mau ngomong sama kamu..." Ardi memberikan ponselnya pada Ella dengan tidak punya dosanya. Yah kesempatan si biar Ella juga tahu kalau mamanya sudah tobat dan mau menerima dirinya.


"Eh?...Tapi...Tapi mas..." Ella merasa belum siap sama sekali untuk berhadapan langsung dengan mama Ardi, dengan Nyonya Kartika Pradana.


"Yaudah sini ngomong barengan." Ardi mengalah dan akhirnya menampakkan wajah dirinya dan Ella sekaligus untuk Kartika.


"Ellanya malu ma, ngomong bertiga aja ya kita."


"Halo Ella..." Kartika menyapa dengan nada sedikit canggung.


"Benar kata Ardi kamu tambah cantik aja."


"Halo tante, apa kabar?..." Ella menjawab tak kalah canggungnya. Masih sedikit ngeri juga untuk berhadapan dengan mama Ardi secara langsung.


"Oh baik, tante dan om baik disini..." Kartika menjawab kemudian terdiam, bingung mau ngomong apa lagi. Ella dan Ardi juga ikutan diam, sama bingung dan canggungnya.


"Hmmm...nak Ella...Tante minta maaf ya...Tante sudah jahat sama kamu..." Kartika akhirnya memulai pembicaraan lagi.


"Iya tante...Sama-sama. Ella juga minta maaf karena terlalu keras kepala dan egois juga. Ella juga tidak tahu keadaan om Erwin yang sedang sakit waktu itu." Ella balik meminta maaf.


Kartika tertegun mendengarnya. Ini anak kok mirip banget sama Ardi si? Terlalu baik hati. Kok malah dia yang minta maaf coba? Kan jelas-jelas dirinya yang bersalah? Yah memang yang namanya jodoh katanya mirip. Mungkin memang benar Ella adalah jodoh Ardi.


"Memang gak pantes untuk minta maaf lewat ponsel gini. Nanti kalau ketemu langsung kita bahas lagi ya." Kartika akhirnya menjawab lagi. Dan ella hanya bisa mengangguk setuju.


"Ardi, buruan bawa Ella ketemu mama papa lah. Atau mama dan papa aja yang ke Surabaya ya?"


"Iya sabar ma. On the way. Masih proses ini hehe."


"Pokoknya kalian harus kembali bersama. Kalian harus bersatu lagi. Kalian harus bahagia." Kartika mengakhiri percakapan mereka dengan doa dan harapannya untuk kebahagiaan keduanya.


"Amiiin...doain aja lancar ma." Ardi mengamini sebelum menutup panggilan vidio call mereka.


"Mas Ardi jahil banget, aku nyaris jantungan tadi." Ella memprotes tindakan Ardi yang tiba-tiba menyuruhnya berbicara pada mamanya. Benar-benar gak kira-kira jahilnya, membuat Ella nyaris jantungan.


"Hehehe tapi udah lega kan sekarang?" Ardi bertanya dengan santainya. "Sekarang kamu tahu sendiri, mama sudah tidak menentang hubungan kita lagi."


"Iya, makasih ya mas." Ella mengangguk setuju. Rasanya beban berat ribuan ton terangkat dari pundaknya seketika. Beban karena hubungan mereka yang tak direstui, kini telah hilang.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼


__ADS_2