Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
134. S2 - Konfrontasi (2)


__ADS_3

Kemudian Roni menghampiri Ardi, berhadapan satu lawan satu dengan Ardi. Kedua pasang mata mereka kini sejajar. Keduanya saling pandang bahkan seolah sampai ada aliran listrik yang mengalir dari kedua mata mereka yang saling berhadapan dan beradu pandangan. Pandangan setajam belati yang serasa saling menusuk dan membunuh satu sama lainnya.


"Aku gak menyangka kamu masih saja berani untuk mencoba menemui Ella, belum kapok juga? Dasar bajing*an gak tahu diri!" ujar Roni sinis pada Ardi.


"Aku gak tahu kalau Ella ada disini," jawab Ardi jujur.


Memang sejak pertemuan mereka di pesta Mahes, sejak Roni memperingatkan Ardi untuk menjauhi Ella. Ardi sudah berusaha menepatinya, dia tak pernah sekalipun mencoba mencari dan bertemu dengan Ella. Padahal jika dia mau, bukanlah hal yang sulit baginya untuk mendatangi gadis itu.


"Gak tahu? Hah lucu sekali!"


"Memang..."


Yah memang lucu. Terlepas dari perbuatan Linggar yang mengatur scenario pertemuan ini. Mungkin memang semua sudah diatur dan digariskan jalannya oleh takdir. Takdir yang seolah memepermainkan mereka dalam drama percintaan yang tak kunjung berakhir.


"Huh maling mana ada yang mau ngaku maling?!" kata-kata Roni semakin tajam menusuk rasanya.


"Terserah apa katamu saja..." Ardi malas meladeni Roni. Rasanya percuma memang untuk berdebat dengan orang yang sedang dibakar amarah begitu.


"Heh cecung*k sialan, Mas Ardi memang gak tahu apa-apa tentang pertemuan ini. Aku yang mengatur semuanya." Linggar mengakui perbuatannya. Tak terima kakaknya disudutkan dan dipersalahkan seperti itu, bahkan disebut sebagai maling oleh Roni.


Kalau Ardi bisa tenang menghadapi hinaan-hinaan dari Roni, tapi tidak dengan Linggar. Linggar dengan darah mudanya tentu tidak bisa terima dengan semua penghinaan itu. Harga dirinya yang tinggi sebagai sultan juga rasanya ternodai kalau dihina rakyat jelata begitu.


"Ya sama saja kan? Kalian pasti sekongkol. Dasar kalian Baj*ngan bersaudara!" Roni semakin menumpahkan kekesalannya kepada kedua pria di hadapannya.


"Jangan mentang-mentang kalian berdua memiliki kekayaan bak sultan lantas kalian bisa berlaku seenaknya saja. Kalian juga sama manusianya dengan rakyat jelata seperti kami. Kalian juga harus tahu cara memanusiakan manusia lainnya."


"Oh c-mon, You don't even know us," Linggar semakin tidak terima dengan hinaan Roni pada mereka berdua.


(*Oh ayolah, kamu bahkan gak kenal pada kami).


"Bagian mana memangnya dari kami yang tidak memanusiakan manusia?"


Ini maksudnya apa coba? Linggar penasaran juga maksud dari perkataan Roni. Padahal meskipun dirinya dan keluarga besarnya merupakan keturunan sultan mereka sama sekali tidak pernah tidak memanusiakan manusia.

__ADS_1


Keluarga Pradana termasuk golongan sultan yang arif dan tidak banyak tingkah. Terutama sejak papanya dan sekarang Ardi yang menjabat sebagai pimpinan tertinggi. Kedua orang yang paling Linggar hormati. Kedua orang yang menurut Linggar terlalu baik dan lembut untuk ukuran seseorang dengan kekuasaan dan power seperti mereka berdua.


"I know...I know all of you. I know your damn family. Especially your bastart brother!" Roni semakin menjadi-jadi kemarahannya demi meladeni ucapan Linggar, gak mau kalah. Si bocah tengil ternyata tajam juga mulutnya, emosian tidak seperti Ardi yang lebih adem pembawaannya.


(*Aku tahu...Aku tahu kalian semua. Aku tahu keluarga sial kalian. Terutama kakakmu yang brengsek).


"Kalian lah yang sudah membuat Ella menderita selama ini! Membuatnya bersedih dan menangis! Kalian para sultan dari keluarga Pradana yang telah menyiksa dan menyakiti dan mematahkan hati Ella sampai begitu parahnya." Roni mengutarakan maksud dari ucapannya. Menjelaskan dengan gamblang tentang siksaan batin yang telah mereka lakukan pada Ella.


"Put the blames on me. Don't you dare to involve my family to this matter." Ardi yang menjawab kali ini. Dengan nada penuh ancaman dan penekanan juga. Ikutan panas juga mendengar nama keluarganya dibawa-bawa dalam pertengkaran mereka. Ardi tidak bisa terima jika ada orang yang menghina dan menjelek-jelekkan nama keluarganya. Pradana.


(*Salahkan saja aku. Jangan kamu libatkan keluargaku dalam masalah ini.)


Suasana semakin memanas saja rasanya. Atmosfir di sekitar mereka juga berubah menjadi menyesakkan dada. Pertengkaran semakin pelik karena menyangkut ego, gengsi dan harga diri.


Ella bingung tak tahu harus bagaimana, hanya sanggup diam membisu melihat perang dingin di hadapannya. Rasanya seperti dirinya sedang berada diantara pusaran segitiga bermuda. Ketiga pria di hadapannya ini benar-benar menampakkan aura kebencian dan ancaman yang nyata satu sama lainnya. Tak ada yang mau mengalah.


"Right. Memang kamulah yang seharusnya disalahkan... Setelah apa yang sudah kamu lalukan pada Ella, kamu masih berharap untuk dapat kembali padanya? Jangan mimpi!" Ucapan Roni kali ini seakan merupakan skak mat yang mampu membungkam Ardi dan Linggar sekaligus.


Baik Ardi atau Linggar langsung membisu, mereka berdua bahkan tak sanggup membalas ucapan Roni kali ini. Ucapan yang setajam anak panah tepat menghujam ke jantung mereka, begitu mematikan. Keduanya tak dapat memungkiri kebenaran dari ucapan itu, tak dapat untuk sekedar beralasan.


"Cukup! Sudah cukup kalian semua!...Tolong hentikan pertengkaran kalian!" Ella yang akhirnya memecahkan kesunyian. Merasa sesak dengan beratnya atmosfir udara di sekitar mereka. Aura permusuhan yang terasa sangat menyesakkan. Bahkan membuat susah untuk bernapas.


"Sudah cukup semua hinaan dan kata-kata kasar kalian. Sampai kapan kalian mau saling mengejek dan menghina terus seperti ini? Gak akan ada habisnya. Kayak pertengkaran anak kecil saja!"


Ucapan Ella kali ini mampu membuat ketiga pria itu menghentikan agresi militernya. Menghentikan tatapan membunuhnya dan membuang aura kemarahan siaekitar mereka. Menyadarkan ketiga pria itu untuk berusaha menata hati, mengendalikan emosi dan kemarahannya.


Ella benar, mereka bertiga adalah pria dewasa. Mereka seharusnya dapat menata dan mengendalikan emosi. Bukan malah mengedepankannya dengan amarah yang berkobar-kobar.


Kenapa tiga orang pria dewasa malah bertengkar gak jelas seperti begitu? Benar kata Ella mereka seperti anak kecil yang sedang bertengkar saja. Sungguh menggelikan rasanya. Boys will be boys.


"Ayo pulang, El!" Roni memberi perintah singkat pada Ella setelah cukup meredam kemarahannya. Ingin segera pergi dari tempat ini. Mengakhiri pertemuan mereka yang menyebalkan ini.


Ella beranjak perlahan dari posisinya berdiri, mendekat ke arah Roni dengan langkah ragu-ragu. Bingung juga harus bagaimana untuk bertindak dalam keadaan begini. Haruskah dirinya mengikuti Roni untuk pergi dari tempat ini? Ataukah tetap disini bersama Ardi dan Linggar untuk melanjutkan pembicaraan mereka yang belum selesai? Apa yang harus kulakukan?...

__ADS_1


...-\=Mari kita lihat cerita dari sisi yang lainnya\=-...


Benar sekali semua dugaan dan kecurigaan Roni. Memang tidak mungkin adik dari si brengsek Ardi Pradana itu mau datang dan menemui Ella hanya untuk makan siang saja tanpa maksud dan tujuan tertentu yang lain.


Pasti Linggar, bocah tengil itu punya suatu tujuan lain. Dan tentu saja bisa ditebak pasti ada hubungannya dengan Ardi, kakaknya. Selanjutnya benar saja akhirnya memang Linggarjati yang telah mengatur scenario pertemuan antara Ella dan Ardi ini.


Siang tadi, entah mengapa Roni merasa sangat tidak tenang setelah menelpon Ella. Segala pikiran buruk berkelebat di kepalanya. Pada akhirnya Roni memutuskan untuk menjemput saja gadis itu ke imperial restoran ini. Tak ingin ketakutan yang selama ini menghantuinya menjadi kenyataan. Tak ingin sesuatu yang tak diharapkan terjadi pada Ella.


Saat tiba di imperial restoran Roni langsung memarkirkan mobilnya, dapat dilihatnya ada dua mobil super mewah disana. BMW dan Ferarry... Mobil siapa lagi coba? Pastinya mobil kedua sultan bersaudara itu. Mana ada orang biasa yang memakai mobil seharga milyaran begini di jalanan kalau buka para sultan gila itu.


Roni semakin cemas dan gemas karena melihat kedua mobil itu. Ada dua mobil mewah, berarti ada dua sultan yang sedang ada si restoran itu. Apakah Linggar dan Ardi? Atau mungkin pengunjung restoran yang lainnya?


Roni lanjut berjalan dengan langkah cepat ke arah restoran, mencari sosok Ella diseluruh penjuru ruangan, tapi dia tidak dapat menemukan sosok gadis itu. Akhirnya Roni mencari juga di daerah deretan private room. Disana lah dirinya mendapati seorang pria muda sedang berdiri mengunggu di depan sebuah ruangan private paling ujung.


Sekilas saja dapat terlihat dengan jelas, pria muda itu memiliki wajah dan postur tubuh yang sangat mirip dengan si brengsek Ardi Pradana. Pasti dialah yang telah dikatakan Ella tadi sebagai adiknya Ardi, Linggarjati Pradana.


Roni langsung saja berniat menyerbu kearah itu, mencoba memasuki ruangan itu dengan paksa. Tapi si Linggar malah menghalangi dirinya, menahan tubuhnya dengan kedua lengannya. Roni tak mau kalah, terus melawan. Jadilah mereka berdua beradu kekuatan untuk dapat masuk ke dalam ruangan itu.


Mungkin karena emosinya yang sedang tinggi Roni akhirnya dapat memaksa dan menerobos masuk ke dalam ruangan mengalahkan hadangan dari Linggar.


Dan benar saja, sesuai dugaannya saat akhirnya berhasil memasuki ruangan. Roni mendapati Ella sedang berduaan di dalam ruangan tertutup bersama si brengsek itu, Ardi Paradana.


Mereka berdua duduk saling berhadapan dan saling berpandangan dengan mesranya satu sama lainnya. Membuat emosi Roni seakan meledak seketika.


Kenapa Ella masih saja mau menemui si brengsek Ardi Pradana? Bukankah Ella saat ini berstatus sebagai pacarnya? Kenapa gadis itu malah menemui pria lain tanpa sepengetahuannya?


Apa saja yang telah mereka bicarakan berdua? Kenapa harus di ruangan private yang tertutup seperti ini? Hanya untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi diantara Ella dan Ardi saja sudah mampu membuat emosi dan amarah Roni semakin berkobar-kobar bagaikan bara api.


Ketakutan terbesarnya pun seolah menjadi kenyataan. Ella akhirnya bertemu dengan Ardi kembali. Apakah gadis itu akan tetap memilih bersama dirinya? Atau akan kembali berpaling dan kembali ke pelukan Ardi?


Akankah Ella mencampakkan dirinya lagi demi si brengsek Ardi Pradana? Mencampakkan Roni yang sudah setia dan sabar menemani Ella dalam keterpurukannya? Demi si brengsek yang bahkan sudah menghilang dan meninggalkannya begitu saja selama tiga tahun lamanya?


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🤭🌼


__ADS_2