
Bambang menghadap ke kantor Ardi sore ini, jam pulang kerja sudah berakhir. "Benar dugaan pak Ardi, banyak sekali kebocoran dana yang dilakukan para eksekutif di perusahaan utama Pradana. Pak Erwin selama ini terlalu percaya pada golongan tua yang sudah bekerja bersamanya selama bertahun-tahun. Pak Erwin seakan tutup mata dengan semua yang mereka lakukan."
"Tapi sekarang semua bukti sudah ada di tangan kita. Tinggal mau mengertak mereka atau langsung pakai jalur hukum saja." Bambang menambahkan laporannya.
"Ok. Nanti aku yang urusin sisanya," jawab Ardi singkat seperti biasanya.
"Jadi kita harus gimana pak?" Bambang sebagai sekretaris baru Ardi masih belum begitu mengerti arti dari instruksi-instruksi singkat Ardi. Yah memang Bambang belum secakap Cindy dalam tugasnya, membuat Ardi harus sedikit bersabar untuk menjelaskan maksud ucapannya.
"Sekarang aku yang pegang perusahaan Pradana ini, mereka gak bisa nakal lagi main di belakangku. Aku beda dari papa, mereka harus tahu dan camkan itu." Ardi menjelaskan pada Bambang dengan sabar. Gemes juga sih sebenarnya kalau harus banyak ngomong dan menjelaskan terus. Tapi ya namanya juga Bambang masih tahap belajar, dan pekerjaan Bambang sejauh ini cukup memuaskan bagi Ardi.
Dia memang sengaja mengganti sekretaris pribadinya dari Cindy ke Bambang. Karena Ardi ingin menugaskan Cindy untuk mengurusi perusahaan pribadinya di Genting. Selain itu juga dia tak ingin membuat wanita manapun yang kelak akan menjadi pasangannya cemburu dengan hubungannya bersama Cindy. Tak ingin mengulangi lagi kesalahannya pada Ella dulu, Ardi ingat benar Ella sangat cemburu pada Cindy.
Dalam setahun ini Ardi memang sudah melakukan banyak sekali kegilaan dengan merombak total sistem dan managemen perusahaan inti Pradana Group. Apalagi setelah dirinya menemukan banyak kejanggalan dan ketidak sesuaian neraca keuangan perusahaan itu. Ardi tak segan untuk menindak tegas para pegawai yang melakukan kecurangan. Tak perduli siapa orangnya dan apa jabatannya.
Tindakan ekstrim ini tentu saja mendapatkan banyak sekali protes dan perlawanan dari berbagai pihak. Bahkan mama dan papanya sendiri pun awalnya menentangnya keras-keras. Tak ingin perusahan mereka goyah dalam sekejap mata.
Tetapi Ardi sama sekali tak gentar dan terus melancarkan aksinya. Ingin memangkas habis semua tikus-tikus curang yang menggerogoti perusahaan mereka. Dan setelah satu tahun ini Ardi dan tim-nya bekerja dengan sangat keras akhirnya keadaan perusahaan mereka kembali stabil bahkan jauh lebih baik daripada sebelumnya.
"Tapi pak, kalau kita merombak lagi struktur jabatan perusahaan utama. Kepercayaan publik akan turun, bisa jadi para investor akan menarik beberapa investasinya pada kita." Bambang mengingatkan Ardi akan bahayanya tindakan yang terlalu ekstrim. Mungkin krisis yang terjadi karena gebrakan Ardi diawal-awal menjabatnya satu tahun yang lalu dapat terulang lagi.
Bambang ingat benar kejadian itu. Setelah mereka pulang dari bisnis tour mereka dari Singapore, Ardi tiba-tiba saja menghilang. Selama seminggu penuh Ardi tak dapat dihubungi. Membuat dirinya, Cindy dan banyak staff kantor kelimpungan dan gila dibuatnya.
__ADS_1
Seminggu kemudian Ardi tiba-tiba kembali dan langsung meminta semua data dan neraca keuangan semua perusahan di bawah nama Pradana Group. Dan sejak saat itu, Ardi langsung membentuk sebuah tim kepercayaannya. Dan tim itu seakan kerasukaan setan melakukan kegilaan dengan mengaudit besar-besar semua data dan neraca semua perusahaan di bawah naungan Pradana Group.
Hanya dalam waktu beberapa minggu saja, Ardi dan timnya dapat membongkar berbagai tindak kecurangan dan kebocoran dana di seluruh perusahaan baik dalam skala kecil maupun besar. Dan kegilaan Ardi tidak berhenti sampai disana, Dia pun langsung menindak tegas dan memecat seluruh pelaku kecurangan tersebut tanpa pandang bulu. Membuat suasana Pradana Group menjadi kacau balau dan gonjang-ganjing dalam sekejap mata.
Selanjutnya Ardi dan timnya juga merombak habis-habisan sistem di setiap perusahaan dan mengisi kekosongan pegawai dengan tenaga-tenaga ahli fresh graduate yang masih fresh dan inovatif.
Hasilnya hanya dalam satu tahun ini kegilaan Ardi terbukti nyata memberikan perubahan dan perkembangan yang signifikan dalam segala aspek di Pradana Group. Sekali lagi Ardi membuktikan bahwa dirinya lebih dari mampu untuk menjadi CEO Pradana Group, tak akan ada yang bisa membantah kenyataan ini.
"Kan tinggal cari investor baru. Setelah semua stabil juga para investor yang kabur bakal berbondong-bondong datang lagi." Ardi menjawab dengan entengnya.
"Apa ada investor yang mau menanamkan modalnya pada perusahaan yang sedang goyah, Pak?" Bambang masih sedikit ragu. Kadang dia merasa bosnya ini sedikit nekat dan serampangan. Tapi tetap saja Bambang juga harus mengakui insting dan kecakapan Ardi dalam berbisnis sangatlah hebat.
"Gampag aku yang urus itu. Ada lagi masalah yang serius?" Ardi malas menjelaskan lebih detail kali ini.
Ardi menerima tab itu dan melihat foto yang terpampang di layarnya. Hatinya sedikit bergetar demi melihat foto gadis cantik itu, dengan senyuman khasnya yang sangat manis, Ella. Bunga-bunga berwarna merah muda tiba-tiba saja seakan bermekaran di hati Ardi. Mungkin dia sudah gila, bagaimana bisa melihat wajah Ella saja bisa membuatnya sebahagia itu.
Ella sedang duduk di sebuah restoran sepertinya, rambut panjangnya melambai-lambai ditiup angin. Apa Ella di tepi laut? atau mungkin diatas kapal pesiar? Ardi menggeser ke foto selanjutnya, keningnya berkerut dan wajahnya tiba-tiba mengeras demi melihat Ella tidak sendirian. Getaran didadanya berubah menjadi gemuruh dan emosi saat melihat sosok yang bersama Ella. Pria brengsek itu yang ada disana bersama Ella, Roni.
Entah mengapa Ardi merasa sangat geram dan marah melihat Roni memegang dan menggenggam jemari tangan Ella dengan lembutnya. Melihat salah satu foto dimana Ella dn Roni berjalan bergandengan tangan bersama, di foto lain mereka duduk berduaan dengan tangan saling menggenggam di atas meja. Dan beberapa foto lainnya yang menunjukkan keakraban dan kemesraan mereka berdua lainnya.
Ardi kesal, tak sanggup melihat lebih banyak lagi foto mereka. Dilemparkannya tab Bambang ke atas meja dengan kasar begitu saja. "Fvck them!" umpatnya penuh amarah.
__ADS_1
"Pak, sudah cukup atau masih perlu membuntuti nona Ella terus?" Bambang bertanya dengan nada sedikit takut. Duh harusnya gak usah kukasih tahu tadi foto-foto kiriman orang suruhan yang perintahkan Ardi untuk mengawasai gerak-gerik Ella.
Bosnya itu kayaknya marah dan emosi banget melihatnya. Bahkan saat mendengar soal korupsi dan kerugian besar perusahaan utama saja Ardi tidak semarah ini. Bagaimana bisa emosi seorang Ardi Pradana bisa meledak hanya karena seorang wanita?
Dilain pihak Bambang sebagai tangan kanan sekaligus sekretaris pribadi Ardi, ingin agar Ardi segera menghentikan tindakan gilanya untuk stalking segala kegiatan Ella. Sebelum ketahuan orang dan dilaporkan ke pihak berwajib, bisa runyam urusannya nanti. Bisa dapat tuduhan melanggar hak dan privasi.
Yah sudah setahun ini Ardi memang bertindak seperti orang gila saja. Kerja gila-gilaan, rombak perusahaan besar-besaran, reformasi dan regenerasi tenaga kerja. Membuang semua borok dan penyakit-penyakit internal di perusahaan. Hanya dalam waktu satu tahun Ardi hampir berhasil memperbaiki keseluruhan masalah perusahaannya.
Tapi ada satu hal lagi kegilaan Ardi. Bos-nya itu sejak berpisah dengan Ella seakan kehilangan separuh semangat hidupnya. Ardi bahkan menyewa orang untuk membuntuti dan mengawasi Ella secara diam-diam. Melaporkan setiap kegiatan Ella yang dirasa janggal. Seakan dia tak rela melepaskan gadis itu untuk pergi dari sisinya.
Menurut Bambang, Mungkin dengan mengetahui Ella sudah menemukan pria pengganti dirinya, Ardi akan berhenti berharap pada gadis itu, akan dapat move on dan mencari gadis lain penggantinya. Tapi dengan melihat reaksi Ardi sekarang, kayaknya bosnya itu masih belum bisa berpaling dari gadis bernama Ella itu.
"Lanjutkan. Laporkan setiap hari." Ardi menjawab dengan mata berkilat marah.
Pembicaraan mereka terhenti saat pintu kantor Ardi diketuk dan masuklah Cindy yang sudah berdadan sangat cantik dengan gaun pestanya. "Duh kamu bahkan belum bersiap-siap." Cindy mengeluh saat melihat penampilan Ardi masih dengan setelan kerjanya yang biasa.
"Gimme twenty minutes." Ujar Ardi sambil beranjak dari kursi kerjanya. "Mbang, siapin tuxedoku." Perintahnya pada Bambang sebelum beranjak ke kamar pribadinya di dalam kantor ini. Mandi dan bersiap-siap untuk menghadiri sebuah pesta dengan Cindy.
Tepat dua puluh menit kemudian, Ardi sudah siap dengan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupunya. Dia kembali ke ruang kerjanya, menghampiri Cindy yang menunggunya disana sambil memainkan ponselnya.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼