Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
58. Hang Over (2)


__ADS_3

"Ella? Mabuk?" Ardi bertanya dengan sedikit keheranan dan khawatir. Kok bisa mabuk? Perasaan tadi dirinya sudah berhati-hati waktu memesankan minuman alcohol free untuk Ella. Buru-buru Ardi meletakkan stick bilyardnya dan beranjak menghampiri Ella. "Aku udahan dulu ya," pamitnya pada ketiga teman lainnya yang masih asik bermain di meja bilyard dengan bersemangat.


Begitu Ardi sampai di meja dan sofa tempat Ella dan Jillia berada, dapat dilihatnya sepiring puding yang hampir habis dimakan, pasti dimakan oleh Ella. Duh Ella yang hobi makan makanan manis pasti tergoda untuk makan puding. Ardi mengutuk kebodohan dan kecerobohan dirinya sendiri. Puding itu tadi kan mengandung vodka, pantas saja Ella bisa mabuk setelah memakannya.


Pandangan Ardi kembali menyapu segala isi meja. Dapat dilihatnya tiga gelas kosong dihadapan Jillia dan masih ada dua lagi gelas cocktail yang masih terisi penuh. Di depan Ella juga terdapat segelas kosong bekas mocktailnya. Dan satu gelas minuman cocktail juga telah kosong. Punya siapa?


Aduh sekali lagi Ardi merasa bodoh dan sangat bersalah menyadari dirinya lah yang meninggalkan segelas cocktail di hadapan Ella. Cocktail yang belum sempat diminumnya tadi, keburu diajakin main bilyard sama Johanh dan Masrur. Pasti diteguk habis oleh Ella deh. Harusnya tadi ikut kubawa pergi saja gelas itu kemeja bilyard, sesal Ardi dalam hatinya.


"El? Ella sayang?" Ardi menepuk-nepuk pipi Ella. Berusaha menyadarkannya. Ella hanya membuka matanya perlahan. Mengerjap-ngerjap, merem melek. Kelopak mata gadis itu terlihat sangat berat dan susah untuk membuka. Seperti ada beban berkilo-kilo yang menempel disana.


"Hemmm mas Ardi?...Ayo pulang, aku mau pulang mas..." mungkin karena mabuknya Ella jadi berani mengatakan keinginannya. Dirinya bergelayut manja pada lengan Ardi. Menggoyang-goyangkan lengan Ardi seperti pose anak kecil minta dibelikan permen.


"Ok, ok. Ayo pulang, sayang," ujar Ardi kebingungan. Duh diapain ini enaknya? Masa dibiarin disini? bisa bikin malu ntar kalo Ella bertingkah aneh-aneh. Mungkin benar kata Ella bawa pulang saja, tidurkan di rumahnya biar aman. Tapi aku harus bilang apa coba sama kedua orang tuanya? Duh masa bawa anak gadis orang mabuk-mabukan gini? Ilang donk image cowok baik-baikku?


Ardi berjongkok di hadapan Ella, kemudian dia membalikkan badan membelakangi gadis itu. Ardi menyodorkan punggungnya untuk menggendong gadis itu. "Ayo naik ke punggungku, sini sini." Ardi menepuk punggungnya memberi Ella isyarat. Tapi Ella diam saja tetap anteng di sofanya sambil sesekali ngomel-ngomel gak jelas.


Jillia tersenyum-senyum geli melihat kedua pasangan itu. Melihat Ella yang mabuk dengan semena-mena, melihat Ardi yang kebingungan bagimana harus menangani gadisnya itu.


Akhirnya Jillia pun turun tangan membantu untuk mengarahkan Ella naik ke punggung Ardi karena Ella sama sekali tidak bereaksi. Terlalu hang mungkin otaknya abis kena cocktail dan vodka tadi. Jillia membantu melingkarkan kaki gadis itu di pinggang Ardi, melingkarkan lengan gadis itu juga di leher Ardi dan menyandarkan kepala Ella ke pundak pria itu. Memastikan posisi Ella aman sebelum akhirnya Ardi berdiri dari posisi jongkoknya.


"Ini tas Ella," Jillia membantu mengemasi ponsel Ella dan memasukkannya ke sling bag gadis itu. Dia menyerahkan tas Ella pada Ardi. Membantu mencantolkan talinya ke leher Ardi pula. "Dia manis sekali," Jillia menepuk ringan kepala Ella. "Jagain dia baik-baik ya, Di."


"Thanx ya, Jill," Ardi mengucapkan terima kasih atas bantuan dan perkataan Jillia.


"Aku duluan ya gaes. Nyonya besar udah mabuk berat ni kayaknya, bahaya kalau diterusin." Pamit Ardi pada ketiga temannya, berjalan perlahan meninggalkan lounge and bar J.W. Melati hotel itu.


"Ok bro. Take care ya." Johanh melambaikan tangannya untuk Ardi.


(*Ok bro. Ati-ati ya)

__ADS_1


"Bye Ardi. See you next time." Luna juga ikut melambaikan tangannya sementara Masrur cuma senyum-seyum saja melihat Ardi menggendong Ella dipunggungnya.


(*Dah Ardi. Sampai jumpa lain waktu)


"Hhhmmmm...Mas Ardi...kamu kok ganteng dan wangi banget..." Ella mulai ngomong gak jelas di gendongan Ardi. Ella berbicara sangat dekat dengan telinga dan leher Ardi, membuat pria itu sedikit tergelitik kegelian karena hembusan napas Ella yang hangat.


"Hmmm...Wangi...aku suka banget wangi Greens ini, seger rasanya." Ella kembali mengendus-endus leher Ardi membuat pria itu salah tingkah, kegelian.


"El, geli banget tahu. Udah stop atau kulempar dan kujatohin kamu." Ardi sedikit mengancam agar Ella menghentikan tindakannya menciumi lehernya. Gila kan ditengah jalan kayak gitu? Geli banget lagi. Bisa-bisa lepas ni pegangan tangaanku yang nahan berat badannya, batin Ardi kelabakan.


"Mas Ardi...Aku sayang kamu...kamu milikku."


"Iya...Iya aku tahu..." Ardi membalas sekenanya sambil terus berjalan cepat-cepat ke parkiran mobil.


"Hmmmm...mama mas Ardi kok jahat banget sama aku sih...Aku sedih lho..."


Ardi hanya bisa diam sambil mengerutkan kening kali ini. Dia mendengarkan segala ucapan-ucapan Ella yang makin lama makin ngelantur kemana-mana. Tapi sepertinya benar kalau orang mabuk biasanya berkata jujur, sepertinya Ella masih sedih dan takut dengan mamanya.


"Mas Ardi...Aku cinta sama kamu...cinta banget...jangan tinggalkan aku...kumohon." Ella tiba-tiba saja melingkarkan lengannya ke leher Ardi tepat saat pria itu hendak bangkit berdiri. Ella kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Ardi dan menempelkan bibirnya ke bibir Ardi. Ella mencium bibir ardi dengan matanya yang masih setengah terpejam.


Ardi kaget sekali melihat tindakan Ella, namun sebagi pria normal mana mungkin dia dapat menolak rayuan gadis yang dicintainya itu. Ella bahkan memberikan ciuman yang lebih ganas dan agresif daripada saat dirinya sadar sepenuhnya. Membuat Ardi mau tak mau juga ikut meladeni dan menyambut ciuman itu dengan bersemangat dan tidak mau kalah.


Duh gawat ini, bisa keterusan kalau begini. Batin Ardi panik saat beberapa menit berlalu dan mereka tetap beradu ciuman dengan semakin panas di dalam mobil. Posisi mereka benar-benar berbahaya saat ini. Dengan Ardi diatas dan Ella dibawah. Ardi menindih tubuh Ella, lutut dan kedua lengannya dipakainya untuk menyangga berat tubuhnya.


Saat otak Ardi sudah kembali bisa berpikir sehat, dirinya langsung memutuskan untuk mengakhiri tindakan gila ini. Sebelum setan jahat semakin menggoda dan membisikkan hasutan-hasutan mengerikan padanya. Membuatnya lupa kendali. Buru-buru Ardi melepaskan ciumannya, melepaskan bibir mereka yang bertautan, beranjak bangkit dan menutup tubuh Ella dengan selimut.


Ardi segera cepat-cepat beralih ke kursi kemudi di depan. Diam sejenak disana, berusaha meredakan gejolak dan gairah membara yang merasuki dan menyerangnya. "Jangan kayak gitu, El. Aku bisa khilaf nanti." ujar Ardi lemah sambil melirik Ella yang sudah tertidur pulas di jok belakang. "Dasar kamu ini. Benar-benar gak punya dosa gitu setelah bikin aku kelabakan kayak gini."


Ardi menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Sekali, dua kali dan berkali-kali dia melakukannya berulang-ulang. Berusaha memasukkan oksigen sebanyak- banyaknya ke dalam otakknya untuk mengembalikan akal sehatnya. Berusaha keras untuk meredakan sesuatu yang rasanya sudah sangat tegak tapi bukan kebenaran, menonjol tapi bukan bakat di dalam dirinya.

__ADS_1


Cukup lama Ardi berdiam diri hanya duduk termenung di kursinya. Melamun dan sedikit berpikir tentang apa yang baru saja terjadi. Bunyi deringan telpon yang berkali-kali menyadarkan Ardi dari lamunannya. Cepat-cepat di ambilnya ponselnya di sakunya. Tapi tidak ada apa-apa disana?


Kemudian Ardi teringat tas Ella yang masih menggantung di lehernya. Segera diambilnya ponsel Ella di dalam tas itu. Dan didapatinya papa Ella yang sedang menelpon.


'Aduuh mampooos!' Ardi mengumpat dalam hati. Diangkat gak ya? Kalau diangkat aku harus ngomong apa coba? Tapi kalau gak diangkat juga kasian. Beliau pasti khawatir dengan keadaan anak gadisnya. Bisa-bisa aku dikira menculik dan melarikan anak gadisnya itu lagi? Dengan ragu-ragu Ardi menerima sambungan panggilan itu.


"Hallo Ella! Jam berapa ini kok gak pulang-pulang? Mau jadi apa kamu anak perawan jam segini belum pulang?!" Suara papa Ella terdengar meninggi diujung sana. Membuat nyali Ardi sedikit menciut.


"Hallo om, ini Ardi..."


"Lho nak Ardi? Ellanya mana? Kok kamu yang angkat?" Papa Ella terdengar menyelidik.


"Ellanya lagi tidur, Om."


"Jam berapa ini? Kalian ngapain aja? Bukannya konser berakhir jam dua belas? Ini sudah hampir subuh lo!" Suara papa Ella terdengar sangat marah.


"Maaf, Om. Kami ketemu temen dulu tadi setelah konser." Ardi mengutuk sekali lagi segala kebodohannya. Bagaimana dia bisa melupakan bahwa Ella adalah anak rumahan. Gadis baik-baik yang sangat lugu. Pastinya Ella tak pernah keluar sampai larut malam begini.


Benar-benar berbeda dengan dirinya yang hidup sendirian. Yang bebas pulang dan pergi jam berapapun. Dirinya dan para sultan lainnya juga sudah terbiasa hang out sampai malam bahkan sampai pagi. Tak akan ada yang berani bertanya atau memprotes tindakan mereka itu. Bahkan kedua orang tuanya pun tak akan memprotes.


"Yaudah cepetan pulang. Gak usah mampir-mampir lagi." Papa Ella menutup panggilannya dengan marah.


Nahlo...Camer marah besar ini kayaknya. Apalagi ntar kalau tahu anak gadisnya mabuk kayak gini ya? Dasar bodoh! Benar-benar bodoh tak punya otak! Ardi kembali mengumpat dan memaki dirinya sendiri. Ardi menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya ke arah rumah Ella di jalan Ketintung. Sepanjang perjalan dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi, otakya sibuk berpikir harus berkata dan beralasan apa pada kedua orang tua Ella nantinya.


~∆∆∆~


Be wise ya gaes karena ada adegan yang sedikit nyerempet. Bagi yang belum cukup umur harap menjauh dari episode ini. Atau baca sambil merem dan tutup mata dikit-dikit deh hehehe


Buat yang penasaran sama karakter-karakter Johanh, Kika, Masrur, dan Luna, bisa langsung mampir dan kepoin di novel berjudul YOUNG MISS karya author teman saya ASTARI. Dijamin gak kalah serunya.

__ADS_1


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author. Makasih 😘🌼


__ADS_2