Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
220. S2 - Uang bulanan


__ADS_3

Fix, Gery gagal mendapat tanda tangan Ella bahkan lebih jauh lagi diusir dari ruangannya. Baru kali ini dirinya gagal dalam urusan bernegosiasi. Siap-siap bakalan disemprot abis-abisan sama Pak Ardi si 'Bos laknat' deh.


Gery mengambil ponselnya begitu sudah di depan ruangan Ella. Gak berani pulang ke kantor, lapor dulu lah paling nggak sama si bos. Dipencetnya nomer ponsel si bos untuk membuat sambungan dengannya.


"Ya, Ger? Gimana hasilnya? Udah beres?" tanya Ardi di seberang sana.


"Maaf, gagal pak..." jawab Gery ragu-ragu.


"Haaaaa? Kok bisa gagal? Fvcking Idiot!"


'Mampvs dah dipisuhin pak bos.'


"Bu Ella gak mau Nerima pak, katanya suruh mengembalikan ke pak Ardi saja." Gery berusaha menjelaskan apa yang terjadi.


"Udah pasti lah, bego! Makanya aku minta kamu buat nanganin dia. Masa beresin satu cewek aja gak mampu? Rugi donk aku gaji kamu gede? Mau dipotong hah?" Ardi sudah ngomel-ngomel bahkan mengancam Gery.


'Dasar bos Laknat, pakek ngungkit-ngungkit gaji lagi? Gak perlu diingetin lagi gue juga tahu kalau elu yang gaji gue! Brengsek lu bos, enak aja mau main potong gaji orang!'


"Kamu dimana sekarang? Ni aku lagi dijalan mau nyamperin kalian."


"Di RS.Hartanto Medika, pak. Di ruangannya Bu Ella." Gery membuang napas sedikit lega, mengetahui bosnya segera datang kesini. Gak dari awal aja turun tangan sendiri bos!


"Haaah? Kamu gak ngajak dia keluar buat ngomong? Jelas aja moodnya jelek, goblok!" Sekali lagi Ardi mengumpat.


"Dia gak ngasih kesempatan pak. Langsung dipersilahkan aja duduk dan bicara..." Gery sudah pasrah deh di goblok-goblokin.


"Masuk lagi! Aku gak mau tahu gimana caranya, rayu dia sampai dapat tanda tangannya." Ardi memberikan perintahnya yang semena-mena sebelum akhirnya menutup panggilannya.


'Dasar Bos Laknat! Bukannya tugas gue cuma ngurus sampai pengadilan ya? Tugas merayu Bu Ella kan tugas elu sebagai cowoknya!' Gery ikut memaki-maki dalam hati, kesal.


Dengan membuang segala gengsi dan harga dirinya Gery kembali mengetuk pintu ruangan Ella. Yah paling parah bakal diusir lagi kan? Bakal digebrak meja lah ekstrimnya. Masih mending daripada dipotong gaji sama bos.


"Masuk," tak beberapa lama kemudian Ella menjawab dari dalam ruangannya.


"Selamat siang, dokter Ella." Gery mengubah cara panggilan kepada Ella. Siapa tahu bisa bikin dia lebih baik moodnya.


"Kamu lagi?" Ella mendengus kesal.


"Dok dengerin sebentar ya saya mau ngomong lagi," Gery memberikan senyuman mautnya yang biasanya dapat menaklukkan berbagai macam wanita. Tapi kayaknya gak bakal mempan buat dokter Ella ini, lhawong cowoknya aja seganteng dan seperfek pak Ardi. Gery mah lewat, kalah telak.


"Apa lagi? Sudah dibilang gak mau ya gak mau." Ella masih bersikeras menolak untuk memberikan tanda tangannya.


"Dok, tolongin saya kali ini aja deh. Pak Ardi masih perjalanan kesini. Paling nggak biarin saya disini sampai beliau datang. Kalau gak nanti gaji saya bakalan dipotongnya." Gery berusaha merayu dengan muka memelas.


"Yaudah duduk aja," Ella mau tak mau kasihan juga mendengar ucapan melas Gery. Ella tahu benar bagaimana sifat Ardi yang tak akan segan-segan untuk menghukum para anak buahnya yang tidak dapat menyelesaikan tugas sesuai keinginannya.


"Makasih banyak ya dok," Gery bisa bernapas lega, kembali mengambil duduk di kursi yang tepat berhadapan dengan Ella.


"Mau donat?" Ella menawari donat yang tadi dibawakan oleh Gery sebagai sogokan untuknya. Ella juga sekaligus memberinya air minum gelasan yang memang disediakan untuk tamunya. Sadar diri kalau Gery ini hanyalah orang suruhan, yang sebenarnya tidak bersalah dan tidak layak dimarahin. Yang seharusnya dimarahin itu bosnya, Ardi.


"Makasih, dokter. Anda baik banget." Gery terharu menerima kebaikan calon nyonya bosnya ini. Langsung mengambil sebuah donat tanpa sungkan lagi, menggigitnya.


'Kalau dilihat-lihat memang cantik banget ini cewek. Cantiknya unik dan gak bosenin untuk dilihat. Terkesan alami tanpa banyak make up dan skin care, selain itu juga jelas terdapat aura kecerdasan di wajahnya. Pantes si bos bisa jadi Mega bucin gara-gara dokter Ella.'


Ella menemani Gery untuk menyantap donat dan milk shakenya juga. Kemudian gadis itu diam saja, berkutat dengan tumpukan rekam medis yang di-entry ke komputer. Cukup lama keduanya terdiam dengan suasana canggung disertai kegiatan mengunyah donat.


"Sebenarnya apa keuntungan buat mas Ardi dari memberikan saham sebesar itu padaku?" Ella bertanya setelah menyelesaikan entry-an data rekam medisnya, sedikit kepo juga. Kok tiba-tiba banget mas Ardi ngasih begituan.


"Kalau pertimbangan pribadi pak Ardi saya juga tidak tahu." Gery sumringah akhirnya Ella mau memulai untuk membahas masalah saham juga. "Tapi saya akan coba jelaskan dari sudut pandang sebagai pengacara."


"Hampir seperti mobil, perusahaan dan badan usaha itu juga ada pajaknya. Pajak yang harus dibayar setiap tahunnya. Dan tentunya dapat dibayangkan jumlahnya tidak sedikit." Gery memulai penjelasan profesionalnya.


"Misalnya seseorang yang memiliki lebih dari satu mobil, maka akan dikenakan pajak progresif. Jadi bayarnya bukan hanya untuk keseluruhan mobilnya itu. Tapi ada pajak progresif yang besar bahkan untuk mobil mewah BMW dan Porsche seperti punya pak Ardi, progresifnya bisa sebesar pajaknya sendiri. Dan perlu diingat masih ada Pajero dan Honda jazz yang atas nama beliau."

__ADS_1


Ella menelan air ludah membayangkan berapa pajak yang harus dibayarkan Ardi tiap tahun hanya untuk mobil-mobilnya.


"Itu kalau cuma mobil saja lho ya. Bayangkan kalau perusahaan. Bayangkan juga berapa banyak perusahaan dan anak perusahaan yang atas nama pak Ardi. Numpuk-numpuk pajak progresif-nya." Gery berhenti sebentar untuk memberi kesempatan Ella mencerna ucapan dan penjelasannya.


"Jadi untuk menghindari pajak?" Ella sedikit tertarik dengan alasan ini. Jiwa misqueen dan hidup hematnya seakan tergelitik.


"Iya bisa dikatakan begitu. Bukannya kami tidak mampu untuk membayar pajak. Tapi pengeluaran untuk pajak akhir-akhir ini sudah sangat membengkak, karena hampir semua perusahaan atas nama pak Ardi. Maka dari itu perlu dilakukan beberapa pemecahan, selain juga karena peralihan kekuasaan."


"Dua anak perusahaan dialihkan atas nama pak Linggar, satu anak perusahaan lainnya atas nama Bu Laras. Dan untuk perusahaan yang di Genting rencananya atas nama Bu Ella." Gery mengakhiri penjelasan formalnya.


Dalam hati Gery sudah cekikikan sebenarnya, bayar pajak dan progresifnya cuma segitu mah kecil. Yah meskipun totalnya bisa sampai ratusan juta. Tapi gak ada apa-apanya buat Ardi untuk dibayarkan setahun sekali. Gak ngefek sama sekali dengan keadaan keuangan perusahaan yang stabil dan sehat. Maafkan saya ya Bu Ella, bohong dikit hehe.


Gery inget bosnya pernah mengeluh betapa calon istrinya ini cermat dan perhitungan banget kalau masalah duit. Jadinya Gery ingin memanfaatkan sifat Ella yang satu ini untuk membuat gadis itu tertarik dengan saham yang ditawarkan untuknya. Tertarik untuk meringankan 'sedikit' tanggungan beban calon suaminya masalah bayar pajak.


"Jadi intinya cuma mau pinjam namaku aja? Buat bantuin mas Ardi?" Ella memastikan.


"Kurang lebihnya begitu. Jadi Bu Ella mau kan tanda tangan?" Gery semakin senang seolah mendapatkan angin segar berhembus. Siap-siap mengeluarkan dokumennya lagi.


"Hmmmm..." Ella masih sedikit ragu. Tapi sepertinya sebentar lagi akan luluh juga.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka bahkan tanpa ketukan atau permisi. Ella dan Gery yang di dalam ruangan sampai terlonjak kaget. Siapa lagi coba yang berani bertingkah tidak sopan begini? Jelaslah si Sultan bucin Ardi Pradana.


"Eh brengsek, ngapain kamu makan donat bareng Ella? Ella ini calon nyonya kamu!" Ardi menegur Gery dengan geramnya melihat Ella dan Gery duduk berhadapan. Apalagi muka Gery yang senyam-senyum gak jelas. Bikin Ardi panas saja kalau mengingat reputasinya.


'Mampvs! Apa lagi coba? Bukannya situ yang nyuruh gue ngerayu nyonya?' Batin Gery meronta-rota. Duh bos, dikit lagi udah kena ini Bu Ella, malah digangguin. Gagal lagi deh!


"Udah minggir sana! Tungguin di depan, jangan kemana-mana!" Ardi mengusir Gery untuk pergi dari ruangan Ella.


Gery menurut saja, beranjak keluar dari ruangan tanpa membantah perintah si bos. Kayaknya marah dia, masa iya si cemburu? Bisa makin runyam urusannya kalau dibantah dalam keadaan kayak gini. Dan apesnya lagi disuruh nungguin di depan ruangan? Gue laper bos, at least ijinkan gue ke kantin dan kalian silahkan berantem deh di dalem.


"Met siang, Ella...Honey..." Ardi menyapa Ella. Meletakkan Thai tea beraneka macam rasa yang dibawanya ke atas meja Ella sebagai sogokan. Biar adem dan gak ngambek lagi.


Ella diam saja, tetap memasang muka masamnya yang sengaja ditekuk-tekuk. Tak memperdulikan sogokan dari Ardi. Apaan coba lima cup besar Thai tea? Siapa yang mau minum sebanyak itu? Ella bahkan sudah kenyang sehabis menikmati milk shake dan donat dari Gery tadi.


Ella memasang aksi ngambeknya. Mengaktifkan mode manyun di wajahnya.


'Bibir kamu itu sexy banget El, kalau dimanyun manyunin kayak gitu siapa yang tahan coba?'


Karena Ella tetap memasang aksi diamnya, Ardi mengambil duduk di kursi yang tadi diduduki Gery. Berhadapan dengan Ella seperti layaknya dokter dan pasiennya.


"Yaudah kalau mau diem terus boleh aja." Ardi mengalah menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Memandangi wajah cantik Ella di hadapannya dengan mesam-mesem. Bahkan sesekali menggoda gadis itu dengan main mata dan lidahnya. Kedip-kedip nakal bahkan melet-melet jahil.


'Kalaupun harus mandangin kamu kayak gini berjam-jam, aku juga betah kok El.'


"Ella..."


"Ella sayaang..."


"Honey..."


Berkali-kali Ardi mencoba memanggil dan merayu gadisnya itu tapi tetap tak digubris. Ardi sampai kebingungan, menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal.


Dilihatin Ardi dengan tatapan tajam dan sebegitu seriusnya mau tak mau membuat Ella keki dan salah tingkah juga. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya pertahanan Ella jebol juga. Mana tahan melihat Ardi dengan segala tingkah konyolnya. Asli kocak dan gemesin banget, membuatnya gagal untuk meneruskan aksi ngambek.


"Ella..."


"Apa?..." Ella akhirnya tak kuat untuk tidak menjawab. Tapi kali ini berusaha menjawab seketus dan sejudes mungkin.


"I love you..." Ardi menjawab cengengesan.


"Basi..." Ella berusaha tak tergoyahkan.


"I love you so much..."

__ADS_1


"Apaan si? Gak jelas banget!"


"Biar jelas harus gimana?" Ardi tetap bertingkah masa bodoh.


"Coba jelasin itu apa maksudnya ngasih saham 60%?" Ella langsung to the point.


"Kurang banyak ya?" tanya Ardi. "Nanti aku tambahin lagi kalau kurang."


"Heh Sultan! Sebenernya kamu mau apa sih?" Ella sudah tak tahan lagi, geregetan.


"Mau ngasih kamu uang lah."


"Uang apa?"


"Uang bulanan."


"Haaaa?" Ella benar-benar speachless tak habis pikir dengan jalan pikiran Ardi. Uang bulanan apaan coba?


"Jadi bukannya untuk mengurangi pajak progesif?" Ella bertanya menyelidik. Ingin menyingkronkan dengan ucapan Gery tadi.


"Eh?"


Ardi sedikit kaget mendengar ucapan Ella. Namun sedetik kemudian otak Ardi langsung nyambung dengan apa yang kira-kira ada di pikiran Ella. Pasti Gery yang sudah mencari-cari alasan agar Ella mau menerima sahamnya. Good job Gery.


"Iya itu juga si alasannya. Pajak progresif-nya makin gila aja lama-lama." Ardi cepat-cepat memberikan alasan tambahan.


"Jadi kalau pakai namaku bisa ngurangin beban pajak kalian? Berapa banyak berkurangnya?" Ella bertanya lagi dengan antusias. Cukup puas dengan jawaban Ardi yang singkron dengan ucapan Gery. Berarti mereka berdua gak bohong kan?


'Yaampun El! Malah pajak yang kamu pikirin! Pikirin donk aku yang mau ngasih kamu duit ini sudah banget si. Masa mau menafkahi calon istri aja sesusah ini?' Ardi ikutan gregetan dengan sifat gadisnya itu.


"Hemmm berapa ya? Urusannya si Gery si yang ngitung. Kasarannya biasanya kami harus bayar diatas dua ratus jutaan bisa menjadi seratus jutaan kali ya." Ardi mengira-ngira dengan hitungan kasar.


"Hah? Sampai bisa hemat seratus juta?" Ella terbelalak mendengarnya.


"Iya memang beban pajak badan usaha gede." Ardi berusaha keras menahan tawanya. Beneran kemakan kata hemat deh si Ella.


"Selain untuk itu aku mau kasih itu ke kamu buat uang bulanan kamu. Hak kamu sebagai istriku nanti, uang nafkah. Kamu bebas memakainya untuk keperluan kamu." Ardi ikut menjelaskan tujuan lainnya, tujuan sebenarnya malahan.


"Tapi, tapi kan kita belum nikah." Ella menolak.


"Iya, nanti ngasihnya pas udah sah. Ini masih proses, pengurusanya memang agak ribet."


"Tapi kok buat aku? Perusahaannya emang gak butuh duit operasional?"


"5% untuk Cindy sebagai CEO, 60% untuk kamu sebagai uang bulanan dan sisanya 35% untuk operasional." Ardi menjelaskan.


"Kebanyakan aku 60%. Operasional nya gak kurang?" Ella masih ragu-ragu, berapa duit itu 60% saham?


"Laras aja dapat 75% saham dari Hartanto farmacy, El. Udah wajar kok segituan." Ardi tak ingin penolakan.


"Tapi...tapi..."


"Itu uang mau kamu pakek atau kamu simpen terserah kamu. Itu uangmu, hakmu."


"Kalau nanti perusahaan butuh uang ambil aja lagi ya..." Ella masih tidak nyaman untuk mendapatkan uang bulanan yang bahkan hampir dua kali lipatnya uang operasional sebuah perusahaan jumlahnya.


"Iya...makanya kamu jangan boros. Nanti sewaktu-waktu aku butuh akan minta bantuan kamu." Ardi semakin sumringah, karena Ella sepertinya tak menolah lagi pemberiannya.


'Kamu kira sumber pendapatanku dari sana aja, El? Kalau yang disana kekurangan duit kan tinggal diambilkan dari yang lain. Lagian itu perusahaan yang aku kasihkan kan cuma perusahaan kecil.' Ardi cekikikan dalam hatinya. Semakin gemas saja dengan Ella.


"Pasti...pasti akan kujaga baik-baik duitnya." Ella menjawab dengan penuh tekad.


Akhirnya Ardi berhasil meyakinkan Ella untuk mau menandatangani akta saham diatas materai dengan Gery sebagai saksinya. Menjadikan dirinya pemilik Pradana Construction.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan KOMEN yaaaa 🌼


__ADS_2