
Khusus untuk acara tahun baru ini kita ganti cerita ya, sekali-kali kita akan bahas tokoh-tokoh yang lain dan jarang disorot. Time line tidak mengikuti waktu main story. So lets check it dot...
________________________________
Hari minggu adalah hari yang paling dinantikan oleh Cindy. Setelah seminggu penuh dari senin sampai sabtu sibuk dengan pekerjaannya sebagai akuntan dan auditor di Pradana Bisnis Park. Di hari minggu Cindy dapat bangun tidur siang, bangun tanpa beban pekerjaan atau tanggungan yang harus diselesaikan olehnya.
Siang harinya Cindy membersihkan diri dan segera bersiap, berdandan seadanya dengan t-shirt oblong dan celana jeans sobek-sobek dan sneakersnya. Sling bag berbahan demin yang berisi dompet dan ponsel. Rambut sepundaknya dibiarkan saja terurai tak terurus, dan terakhir kaca mata hitam dipakai sebagai pelengkap penampilannya. Penampilan santai yang tak pernah sekalipun Cindy perlihatkan di kantornya. Penampilan favorit Cindy saat sedang off duty.
Cindy dalam kesehariannya sebagai sekretaris yang profesional selalu dituntut untuk berpenampilan cantik. Dengan dandanan full make up serta work suit yang formal dan cantik. Tak akan ditolerir crew elit Ardi Pradana untuk berpenampilan tidak rapi. Cindy dengan segala dedikasinya pun sadar akan hal itu sehingga selalu berusaha tampil sesempurna mungkin di setiap kesempatan.
Cindy mengambil kunci mobilnya, mobil honda jazz merah kesayangan pemberian Ardi. Keluar apartemen mewahnya dan melaju dengan mobilnya ke arah salah satu mall terbesar di Surabaya.
Tujuan pertama adalah salon kecantikan di lantai tiga mall. Ingin sedikit memanjakan diri, relaksasi dengan facial wajah dan creambath rambut. Kegiatan rutin favorit Cindy yang dilakukannya sebulan sekali. Untuk memaintain kesempurnaan penampilannya dan kewarasan otaknya dengan segala tekanan pekerjaannya.
Sekitar dua jam dihabiskan Cindy untuk self service nya. Merasa sangat segar, rilex dan bagaikan orang paling cantik di dunia setelah keluar dari salon. Meningkatkan kepercayaan dirinya beberapa level.
Cindy melanjutkan agenda keduanya dengan ke food cort, makan junk food sepuasnya. Mengisi perut sampai kenyang dan melupakan diet ketatnya untuk sehari ini saja. Seminggu sekali cheating day of diet.
Entah mengapa langkah Cindy terhenti sebelum sampai ke food cort di lantai yang sama. Sebuah game center, sudah lama kayaknya gak ngegame. Akhirnya Cindy memutuskan untuk mampir saja. Sekedar main wack a mole, atau DDR (Dance Dance Revolution) favoritnya. Biarin dibilang gak ingat umur, bodoh amat toh gak ada yang kenal juga.
Cindy mendatangi counter game center untuk menukarkan koin dan langsung mendatangi wahana favoritnya. Wack a mole yang pertama.
"Rasain! Rasain lu atasan yang suka nyuruh-nyuruh!" Cindy ngomel-ngomel sambil memukuli tikus yang muncul bergantian dari lubangnya.
"Mentang-mentang elu yang gaji gua ya jadi bisa seenaknya ngasih mission impisible!" Cindy melampiaskan kekesalannya, membayangkan kepala tikus yang dipukulnya adalah kepala Ardi.
"Elu juga si bocah tengil gak berpengalaman! Sok pinter padahal baru lulus dan gak tahu apa-apa. Kalau bukan adeknya si bos udah gua jitak lu!" Kekesalan pada Linggar yang dimentorinya juga ikut dilampiaskan pada para tikus malang.
"Elu juga right hand man tolol. Udah kerja tiga tahun gak pinter-pinter aja. Malah sering ngerepoti gua, nambahin kerjaan gua." Kali ini wajah Bambang yang dibayangkan di obyek pelampiasan untuk dipukul.
"Apalagi elu tu Ger, Playboy selebor kelas teri. Kerjanya keluyuran gak jelas, pas dibutuin aja sering ngilang dengan dalih lagi di pengadilan." Cindy lanjut ngomel dan memukuli tikus dengan membayangkan wajah Gery sekarang.
"Nah yang paling ngeselin elu Kresna! Seenaknya nuduh gua korupsi duit perusahaan? Lu kira gua semiskin itu hah? Enak aja! Rasain ni! Rasain!" berbagai jurus maut dikeluarkan Cindy untuk membantai tikus dengan membayangkan wajah Kresna. Wajah sok coolnya yang menyebalkan.
Cindy menyelesaikan satu ronde permainan Wack a Mole itu dengan terus memaki dan membayangkan wajah Kresna. Kemudian tersenyum lega dan puas saat meletakkan palunya diakhir permainan.
"Aduh, sakit." ujar sebuah suara kalem yang mampu membuat Cindy terlonjak sangat kaget.
Lebih kaget lagi saat mendapati sesosok pria dengan pakaian serba hitam berdiri di sebelahnya. Mengamati dirinya dengan seksama dengan pandangan dinginnya yang tanpa ekspresi.
"Kre, Kresna?" Cindy bertanya keki.
Mampus deh! Kresna! Kok bisa si brengsek ini ada disini? Sejak kapan dia berdiri disana? Sebanyak apa yang sudah didengar tentang omelannya tadi?
"Kamu? Kamu denger semua?" Cindy bertanya dengan cengiran khas maling jemuran yang tertangkap basah menjalankan aksinya.
"Iya..."
"Mulai mana? Kamu denger mulai mana?" Cindy makin salah tingkah.
Gimana kalau Kresna laporin ke pak Ardi atau temen-temen lainnya? Tapi kayaknya gak mungkin, Kresna bukan tipe yang suka mengadu. Bahkan bukan tipe yang suka buka mulut.
Kesadaran lain tiba-tiba menyerang pikiran Cindy. 'Duh gawat! Dia ngeliat gaya berpakaianku yang bagaikan gembel begini,' batin Cindy menjerit.
Kenapa harus Kresna yang memergoki penampilannya? Kenapa harus musuh bebuyutannya yang mengetahui sisi lain dirinya yang sudah mati-matian ditutupinya sehari-hari di kantor.
'Aaaarrrhhhgg bisa-bisanya cowok ini malah melihat aku saat sedang memalukan begini! Bisa gila!'
"Semuanya," lagi-lagi jawaban singkat, menyebalkan.
"Jadi sekarang sudah tahu kan kalau aku benci banget sama kamu?" Cindy memasang muka masamnya. Entah mengapa bawaannya kesel melulu kalau lagi berduaan dengan Kresna ini.
__ADS_1
"Gak nyangka aja..."
"Gak nyangka aku sebenci itu sama kamu? Kamu gak sadar apa yang kamu lakukan itu jahat banget!"
"Bukan."
"Oh jadi kamu sudah sadar diri? Terus apa lagi?" Cindy masih saja mengomeli Kresna dengan sadis.
"Gak nyangka kamu bisa semanis ini." Kresna menjawab tetap dengan tanpa ekspresi.
"Haaaaaah?" Cindy benar-benar kaget mendengar jawaban Kresna. Rasanya seakan disambar petir di siang bolong. Si hacker sedingin es batu ini bisa ngomongin kata-kata rayuan gombal? Manis katanya? Apaan coba?
"Kamu, kamu gak salah minum obat kan tadi pagi?" Cindy bertanya menyelidik.
Sedikit tersanjung dan seneng juga si dibilang manis oleh Kresna. Karena dia ini cowok paling jujur. Ngomong aja jarang dan irit banget, tapi sekalinya ngomong pasti jujur dan nancep banget biasanya.
Kresna diam saja tak menjawab. Bener-bener cowok yang gak bisa diajak bercanda. Gak asik.
"Kamu ngapain disini?" Cindy mengalihkan pertanyaan.
"Main."
"Hah? Kamu juga suka main ke game center?" Cindy mau tak mau jadi kepo juga. Gak ngira cowok dingin miterius begini doyang ngegame di mall juga. Bukannya ngegame di kamarnya.
"Main apa?"
"Itu," Kresna menunjuk sebuah mesin permainan tembak. Dengan dua buah senapan laras pendek mencuat di tengah mesin.
"Ha ha...Emang cocok buat kamu. Ayo main sama aku, yang kalah nraktir makan siang. Gimana?" Cindy tiba-tiba mendapatkan ide. Aslinya penasaran juga apa bener cowok super serius ini bisa main game?
"Jangan." Kresna menolak.
"Kenapa? Kamu takut lawan aku?" Cindy semakin menantang. Gini-gini dirinya yang memang hobi main di game center juga bisa memainkan segala macam permainan. Gak bakal malu-maluin deh permainannya walaupun gak ahli-ahli banget.
"Ih pe-de banget! Cobain dulu lah!" Cindy tak terima.
"Ayo kita buktikan, jangan nyesel lho ya kalau nanti aku minta beliin makan yang banyak." Cindy berjalan mendahului Kresna ke mesin snipper.
"Ok deh." Kresna akhirnya mengalah saja menuruti keinginan Cindy itu. Malas berdebat.
Keduanya berdiri bersebelahan menghadap ke snipper mechine yang terhubung dengan layar nitendo box. Permainan menembak zombie seperti dalam game resident evil. Dan untuk permainan ganda, siapapun yang mencetak skor lebih banyak, siapapun yang berhasil menembak zombie paling banyak adalah pemenangnya.
"Yuk ready?" Cindy memasukkan empat koinnya untuk memulai permainan ganda.
Tak beberapa lama permainan dimulai dengan hitungan mundur di layar nitendo box... Cindy dengan cekatan langsung memulai aksinya menembaki zombie-zombie yang bermunculan di layarnya. Sementara Kresna hanya diam saja mengamati tanpa menjalankan karakternya.
"Lho ayo, kok diem aja? Kamu gak bisa mainnya?" Cindy bertanya mengejek.
"2 menit. Kamu jalan duluan." Kresna menjawab.
"Asyem belagu lu!" Cindy gak terima diberi keringanan dua menit jalan duluan.
'Sialan dia, meremehkan banget! Tapi gak papa deh kan kamu sendiri yang minta, jangan nyesel lo ya!'
Tepat dua menit berikutnya, Kresna mulai memegang senapannya. Mulai menjalankan karakternya untuk menembaki zombie yang menghadang satu persatu. Tembakannya begitu tepat dan akurat, tepat mengarah ke kepala setiap zombie. Membuatnya mendapatkan skor tinggi untuk setiap tembakanya. Begitu efektif. Tak ada satupun tembakan meleset, tak ada peluru yang terbuang sia-sia. Dan diakhir pertandingan tentu saja skor perolehan Kresna jauh lebih tinggi daripada yang didapatkan Cindy.
"Haaaah? Kok bisa si?" Cindy gak terima.
"Incer kepalanya." Kresna memberi saran.
"Owh, aku gak tahu kalau bisa dapat skor tambahan dari ngincer kepala." Cindy kesal karena kekalahan dan ketidak tahuannya.
__ADS_1
"Boleh diulang?" Cindy sedikit menawar.
"Ayo!" Kresna tak keberatatan. "Undercap 2.5 min." Kresna menambahkan waktu keringanan Cindy.
Keduanya melanjutkan permainan dan tetap saja Kresna dapat memenangkan permainan dengan sangat telak. Membuat Cindy semakin kesal dan penasaran saja, harga dirinya sebagai gamer sejati seakan ternodai.
"Lagi!" Pinta Cindy kesal.
"Undercap 3 min," Kresna menambahkan keringanan untuk permainan mereka.
"Aaaahhhrrg!" Cindy semakin frustasi karena masih tak dapat mengalahkan Kresna meskipun telah mendapatkan waktu tambahan 3 min.
"Kok bisa si? Kamu main curang ya? Kamu hack ya ini mesinnya?" Cindy sangat kesal setelah lima kali bertanding dan dirinya tetap kalah.
"Ini permainan laki-laki." Kresna menjawab santai.
"Terus cewek gak bisa main gitu?" Cindy memprotes. Tak terima dengan deskriminasi gender.
"Let me show you," Kresna memasukkan dua koin ke mesin untuk memulai permainan tunggal.
Cindy mundur beberapa langkah kebelakang untuk memberi space pada Kresna beraksi. Membiarkan pria itu bergerak bebas seakan terhanyut oleh permainan menembaki kawanan zombie yang mendekat. Tepat di kepala, atau paling jelek di dada, tepat di jantung. Lama, lama banget permainan satu ronde yang dilakukan Kresna. Seakan gak ada matinya pria itu bermain.
Dan begitu Cindy sadar sudah banyak sekali orang yang ikut menonton permainan Kresna bersamanya. Berdecak kagum dengan kepiawaian Kresna memainkan pistolnya. Sampai kemudian permainan berakhir dan di layar menampilkan tulisan new top scores.
Semua penonton yang hadir langsung memberikan tepuk tangan sementara Cindy hanya bisa ternganga tak percaya melihatnya. Dan entah bagaimana ada desiran aneh yang berkecamuk di dadanya demi melihat Kresna bermain game tadi.
'Gila! Kresna keren banget!' Cindy menjerit dalam hati. Gak ngira cowok sedingin es batu ini bisa sepanas ini saat main game. Sexy!
"Ayo ambil hadiah." Kresna menghampiri Cindy.
"Hadiah?" Cindy kaget karena tiba-tiba Kresna sudah dekat sekali dengannya. Membuat jantungnya sedikit berdebar juga. Apaan coba? Masa aku suka sama yang beginian? Ah paling cuma kagum saja karena permainan gemenya yang keren. Cindy panik menyadari keanehan pada detak jantungnya.
"Iya, top score bisa dapat hadiah." Kresna mendahului Cindy ke arah counter dan menunjukkan token top scorenya pada petugas.
"Mau pilih hadiah yang mana ni?" tanya sang petugas pada Kresna dan cindy.
Cindy mengamati deretan hadiah yang ditawarkan. Ada Boneka teddy bear, topi, kaca mata hitam, payung, jam dinding, tshirt, mug cantik, mouse komputer, sampai tas selempang.
"Kamu suka yang mana?" tanya Kresna.
"Lho kan kamu yang menang. Ambil mouse atau kaca mata hitam aja cocok sama kamu." Cindy menyarankan.
"Kalau kamu cocok yang mana?" Kresna bersikeras menanyai Cindy.
"Teddy bear buat temen tidur." jawab Cindy asal.
"Yaudah Teddy bear aja." Kresna memutuskan untuk mengambil boneka dan memberikannya buat Cindy.
"Kok dikasiin aku?" Cindy kaget menerima hadiah itu. Seneng juga sebenernya.
"Buat nemenin tidur."
"Hahahaha dasar, kasih alasan yang lebih kreatif dikit kek." Cindy cekikikan. Sedikit kecewa juga karena tidak mendapatkan kata-kata romantis dari Kresna saat memberinya boneka itu. Jangan harap!
"Aku lapar. Kamu yang traktir." Kresna menagih janji.
"Iya aku tahu. Ayo deh ke food cort." Cindy mengalah saja, menyadari kekalahannya.
Dan akhirnya keduanya menghabiskan waktu untuk makan siang bersama. Sedikit berbicara dan berbagi cerita juga, saling mengenal satu sama lainnya. Lebih jauh saling mengenal kepribadian masing-masing lebih tepatnya.
Sampai akhirnya Cindy memutuskan bahwa Kresna ini tak seburuk yang ada dipikirkannya sebelumnya. Malahan Kresna termasuk cowok cool dan misterius yang keren banget.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼