Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
38. Calon mertua


__ADS_3

Pukul satu siang seseorang mengetuk pintu kamar Ardi. Setelah dipersilahkan masuk, Agus sang butler memberitahukan bahwa makan siang telah siap. Dia meminta Ardi dan Ella untuk segera berkumpul di ruang makan untuk acara makan bersama.


Ardi segera bangkit dari sofanya, mem-paused film yang sedang mereka tonton di mini home teatre yang ada di kamar Ardi. Tadi setelah menyelesaikan mandinya Ardi langsung menjemput Ella dari kamar Linggar, membawanya ke kamarnya sendiri.


Kamar Ardi tentu saja hampir sama dengan kamar di rumahnya di Genting. Bertema minimalis dengan barang serba hitam dan putih. Kamar yang telalu bersih dan plain seakan tanpa ada privasi dan emosi dan sang pemiliknya. Tak ada terlalu banyak barang dan perabotan disana, karena memang Ardi jarang tinggal di kamarnya di rumah ini.


Mereka berdua menghabiskan waktu bersama di kamar itu. Untuk sekedar berduaan dan menonton film dari dvd. Parasite kali ini pilihan mereka jatuh pada film koreya yang berhasil memenangkan banyak award itu di ajang internasional.


"Yuk kita temui mereka" Ajak Ardi menyodorkan sebelah tangannya untuk Ella.


Ella meraih tangan Ardi dan menggenggamnya erat. Menautkan jemari tangannya kepada jemari tangan Ardi. Yah Ella memang sedang membutuhkan dukungan itu untuk mengatasi segala kegugupan dan ketakutanya. Tangannya yang terasa dingin sedikit terasa nyaman oleh genggaman tangan Ardi yang hangat.


Sesampai di ruang makan, semua anggota keluarga Pradana sudah hadir disana. Mereka duduk bersama di kursi meja makan super besar yang berbentuk persegi panjang. Segala macam hidangan telah tersaji di atas meja. Hidangan yang sekiranya bisa untuk disantap sepuluh orang saking banyaknya meskipun nyatanya keluarga Pradana hanya berjumlah lima orang.


Di salah satu sudut ruangan berdirilah Agus dan seorang maid yang stand by disana. Berjaga-jaga kalau majikan mereka memanggil atau memerlukan sesuatu. Mereka berdiri dalam diam menempel ke dinding ruangan. Seakan tak ingin mengganggu majikannya dengan kehadiran mereka disana.


Ardi mengajak Ella untuk duduk di salah satu kursi, di kursi-kursi kosong disebelah Laras. Kursi yang berhadapan dengan mama Ardi dan Linggar yang duduk di sebelahnya di sayap kanan. Papa Ardi tentu saja di duduk di posisi kepala rumah tangga, sedangkan Laras duduk sendirian di sayap kiri.


Ella menundukkan wajahnya dalam-dalam setelah duduk di kursinya. Tak berani mengangkat wajah dan bertapapan dengan pandangan-pandangan dingin yang sudah terasa sangat menusuk sejak tadi. Pandangan dari lima pasang mata yang langsung terpusat padanya.


"Every body here already? Let's start our lunch time together." Papa Ardi memecahkan kesunyian yang terjadi selama beberapa menit. "Mari nak Ella, don't be shy. Silahkan makan, hidangan seadanya ini" Ujarnya ramah dan merendah. Dari Wajahnya memang ketahuan kalau pak Erwin Pradana ini berdarah kebule-bulean kayaknya. Pantas saja ngomongnya campur inggris-indonesia kayak gitu. Pantesan aja kan putra dan putri mereka ganteng dan cantik gitu wajahnya, blasteran semua. Bibit unggul emang.


(*Semuanya sudah hadir? Ayo kita mulai makan siang bersama kita).


"Iya om," jawab Ella canggung.


Untuk beberapa menit setelahnya hanya ada kegiatan yang berhubungan dengan piring, sendok, garpu dan makanan. Semua yang hadir di meja makan hanya fokus pada makanan mereka masing-masing tanpa ada yang berbicara. Sibuk dengan pikiran masing-masing, takut untuk memulai pembicaraan sehingga dapat merusak suasana dan selera makan.


"Where you're from Ella? Surabaya right? Surabaya mana?" Papa Ardi kembali bertanya setelah menyelesaikan suapan terakhirnya. Dan meminum segelas air putih di gelasnya.


"Daerah Ketintung Om. Deketnya Royel Plaza." Jawab Ella setelah meneguk habis segelas jus jeruk di hadapannya. Mengakhiri prosesi makan siangnya.


"Oh itu daerah Unesu ya?" Tanya Erwin lagi.


"Bener. Rumah Ella deket kawasan kampus Unesu itu" Ella membenarkan.

__ADS_1


"Berarti it's near my friend's house. Inget gak ma? Argo temen SMA papa yang jadi kapolsek itu lho." Papa Ardi berusaha melibatkan isterinya dalam pembicaraan. Mungkin pria paruh baya itu merasa tidak enak pada Ella karena sifat istrinya yang kurang ramah dan terang-terangan manyun daritadi pada Ella.


"Oh iya," jawab mama Ardi singkat.


"Aku udahan dulu makannya." Laras tiba-tiba memohon diri, pamit dan pergi meninggalkan meja makan.


"Aku juga mau lanjut ngegame." Linggar ikut meminta diri. Sepertinya kedua adik Ardi sengaja memberikan kesempatan kepada Ardi dan Ella untuk dapat berbicara dengan kedua orang tuanya dengan leluasa.


Agus dan maid yang sejak tadi berdiri di dekat dinding segera menghampiri meja makan. Membereskan bekas piring-piring dan gelas bekas yang sudah tidak terpakai. Mereka juga mengangkat dan membersihkan sisa makanan dari meja dengan sangat cekatan. Lalu menghilang juga dari ruangan.


Tinggalah kini mereka berempat di dalam ruang makan ini. Papa Ardi berpindah posisi duduknya dari kursi kepala keluarga. Beliau mengambil duduk tepat disebelah isterinya. Berhadapan dua lawan dua dengan meja makan seper besar sebagai pemisah antara Ardi dan Ella dengan kedua orang tua Ardi.


Suasana semakin dingin, menegangkan dan mencekam, membuat Ella semakin grogi, ketakutan dan jantungnya yang tak henti-hentinya berdebar kencang tak karuan. Gadis itu semakin dalam menunduk sambil menautkan kedua jemarinya yang dingin di bawah meja dengan gelisah.


"Aku mau ngomong ma, pa..." Ardi membuka percakapan mereka. "Aku sangat mencintai Ella. Tolong mama dan papa bisa mengerti dan jangan halangi hubungan kami."


"Kapan mama pernah menghalangi kamu untuk pacaran? Kamu bebas pacaran sama siapa saja." Jawab mamanya ketus.


"Tapi aku serius sama Ella. Jika aku harus melepas masa lajangku nanti. Aku akan menikahi Ella." Ardi menekankan kalimat terakhirnya. Memang benar dirinya tak pernah dilarang berhubungan dengan gadis manapun untuk sekedar dijadikan pacar.


"Menikah itu lain perkaranya! Tidak semudah itu. Dan tidak sembarang wanita bisa bersanding denganmu dalam ikatan pernikahan." Mama Ardi memprotes.


"Mama, please...Jangan libatkan pernikahan Ardi dalam urusan politik keluarga." Ujar Ardi memohon. "Mama bisa menyuruhku melakukan apa saja tapi tidak untuk menikahi wanita selain Ella."


"Apa saja? Kau bahkan sudah memecat Choirul tanpa mengindahkan perintah mama sama sekali. Dan sekarang lagi-lagi kamu mau membangkang?" Nada bicara Kartika Pradana semakin meninggi.


"Kalau masalah Choirul, papa setuju dengan Ardi. Tak usah dibahas lagi. I think Ardi has make a right decision." Erwin, papa Ardi ikut ambil bicara, membela keputusan putranya.


(*Kurasa Ardi sudah memuat keputusan yang tepat).


"Kenapa harus memilih Sari? Apa kalian begitu inginnya mendapat keuntungan dari keluarga Hartanto?" Tanya Ardi menyelidik.


"Ya, dengan kerjasama group Pradana dan group Hartanto dapat dipastikan posisi kita akan aman dan tak tergoyahkan." Jawab Kartika ringan. "Sementara gadismu ini bisa apa? Apa yang bisa diberikannya untuk kita?" Lanjutnya mencibir pada Ella.


"Saya, saya memang tak punya harta dan kekayaan melimpah tante. Tapi saya juga mencintai mas Ardi" Ella memberanikan diri menjawab pertanyaan mama Ardi. Membuat semuanya terdiam, mungkin mereka tak mengira Ella yang daritadi diam menunduk ketakutan juga berani untuk mengutarakan pendapatnya.

__ADS_1


"Tanpa bantuan keluarga Hartanto, Pradana group sendiri sudah cukup besar. Dan aku percaya bisa mengurusnya sama baiknya dengan papa. Aku bisa memimpin Pradana Group dengan baik." Ardi berusaha mencari solusi. Dia rela untuk akhirnya kembali ke perusahaan inti jika memang diperlukan.


"Ya Ardi sudah dapat memimpin perusahaan inti. Sudah tak diragukan lagi kemampuanmu dalam memimpin perusahaan." Papa Ardi menyetujui ucapan putranya.


"Papa si gak masalah kamu menikah dengan siapapun. Bukan masalah harta atau uang kalau papa. Tapi ya harus dengan wanita yang bisa mensuportmu sepenuhnya. It's not as simple as playing a virtual familly game." Erwin memberikan pendapatnya sebagai sesama lelaki.


(*Tak sesederhana memainkan game keluarga secara virtual).


"Yah betul sekali. Dan sekarang aku tanya sama kamu nak Ella. Kira-kira kamu mau menjadi ibu rumah tangga murni yang sepenuhnya mensuport Ardi?" Kartika kembali menekankan pertanyaannya khusus kepada Ella.


"Saya bisa mensuport mas Ardi. Saya akan melayaninya dan sepenuhnya menjadi istri. Tetapi saya juga akan terus melanjutkan profesi saya sebagai dokter secara bersaman" Ella menjawab pelan.


"Tu denger, Ardi! Gadis ini bahkan tidak bisa memprioritaskan kamu. Dia ambisius, dia tipe wanita yang suka mengejar cariernya sendiri. Dia bukan tipe wanita yang sepenuhnya mendukung suaminya dibalik layar." Ujar Kartika marah mendengar jawaban Ella.


"Bagaimana mungkin dia bisa menjadi istri Ardi Pradana yang harus mensuport suaminya sepenuhnya? Gak bisa kalau dia masih ingin berkarier juga. Gak bisa setengah-setengah seperti itu." Lanjut Kartika semakin geram.


Ardi terdiam, merasa serba salah karena dia memang belum pernah membicarakan masalah ini sebelumnya dengan Ella. Seharusnya dirinya sudah membahas hal ini dengan Ella saat dirinya memutuskan untuk berhubungan serius dengan gadis itu. Tapi Ardi terlalu mencintai Ella. Ardi terlalu ketakutan Ella akan meninggalkannya pergi, menjauh darinya.


Nyatanya Ardi tak tega untuk meminta Ella memilih antara dirinya atau profesinya. Ardi sebisanya ingin memberi Ella kebebasan. Karena dia tahu Ella juga sangat bangga dan mencintai profesinya sebagai seorang dokter. Dan Ardi menyukai Ella yang seperti itu. Pria itu ingat betul, dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Ella adalah ketika melihat kepiawaian gadis itu bekerja menangani pasien di UGD.


Ella tertunduk semakin dalam, bingung. Tak tahu harus berkata apa. Memang Laras sempat mengatakan padanya sebelumnya tentang kemungkinan ini. Kemungkinan harus memilih antara cinta atau profesinya. Ella pun sudah mencoba untuk memikirkan jawabannya, tetapi sampai sekarang pun dirinya sama sekali tak dapat menemukan jawaban dari pertanyaan itu.


Di satu sisi Ella sangat mencintai Ardi, cinta pertamanya dan tentu saja dia juga berharap sebagai cinta terakhirnya kepada seorang pria. Ardi dengan segala kesempurnaan fisiknya, Ardi yang sangat baik dalam memperlakukannya. Bagaimana mungkin Ella dapat melepaskan pria itu?


Di lain sisi dirinya juga sangat mencintai profesinya ini. Sudah terlalu banyak yang dilakukannya untuk menjadi dokter. Menjadi dokter adalah cita-citanya sejak kecil. Ella belajar dengan sangat giat sejak kecil untuk dapat masuk ke fakultas kedokteran negeri.


Setelah berhasil masuk kuliah di fakultas kedokteran dirinya masih harus berjuang lagi kuliah dan koas selama enam tahunan untuk mendapatkan gelarnya itu. Sungguh bukan perjuangan yang mudah. Perjuangan yang kadang harus diwarnai dengan drama, tangis dan air mata juga. Bahkan setelah lulus pun dirinya masih harus menjalani interenship, mengabdi kepada negara selama satu tahun ini dengan gaji seadanya dari pemerintah.


Bagaimana mungkin Ella dapat merelakan profesinya? Setelah semua yang usahanya untuk mendapatkannya? Bagaimana dia dapat mengatakan juga kepada kedua orang tuanya? Papa dan mamanya sangat bangga memiliki anak seorang dokter.


Dan terakhir bagaimana dirinya dapat Mengkhianati panggilan hati nuraninya sendiri untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dengan ilmu yang dimilikinya. Ella semakin bingung tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan kedua orang tua Ardi. Tanpa disadari Ella air matanya menetes perlahan di pipinya tanpa sanggup terbendung lagi mewakili segala kegundahan hatinya. Cepat-cepat disekanya dan ditahannya sekuat mungkin lelehan air mata itu. Aku harus kuat, aku tak boleh menangis...Tidak dihadapan mereka.


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼

__ADS_1


__ADS_2