Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
122. S2 - Pradana Mansion (2)


__ADS_3

"Sar, si Jun gimana kabarnya? Kok lama banget gak keliatan batang hidunganya sejak pertunangan kalian?" Kartika kembali mengalihkan pembicaraan ke Sari. Tak ingin tamunya merasa diabaikan.


"Jun masih sekolah ambil spesialis budhe. Agak jauh si kampusnya di Jogja UGM jadi jarang pulang memang. Apalagi sekarang sudah mulai dapat putaran jaga di RSUD, makin susah liburan buat pulang kampung." Sari menceritakan tentang Jun, tunangannya sejak beberapa bulan yang lalu. Sekaligus menceritakan alasan kenapa Jun tidak pernah kelihatan batang hidungnya.


"Jauh bener ya di Jogja ambil apa dia? kenapa dulu gak ambil di Uner aja si biar deket?" Erwin ikutan bertanya heran.


"Ambil Onkologi pak dhe, ya gimana lagi keterimanya disana. Dulu pernah nyoba tes di UNER gagal, bukan rejekinya disana berarti. Eh pas nyoba di UGM malah tembus. Yasudah dijalanin aja deh nanti juga bakal lulus juga," Sari kembali menjelaskan.


(Onkologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada penyakit kangker).


"Kalian itu ya ngambil jurusan sekolah kok kayaknya susah susah amat semua? Mas Mahes yang ambil per-jantungan, ini malah mas Jun juga ambil per-kangkeran." Linggar mengutarakan pendapatnya sebagai orang awam yang tidak mengerti dunia medis. "Penyakit yang serem-serem semua yang diambil."


"Disitulah serunya, Nggar. Semakin parah dan susah ditangani maka semakin menantang untuk disembuhkan bagaimanapun caranya." Mahes menjelaskan cara pandangnya tentang penyakit.


"Duh itu hubungannya sama nyawa orang mas. Ngeri ah kalau diibaratkan seru atau nggaknya."


"Justru itu. Hidup dan mati semua sudah ada yang mengatur. Kita sebagi dokter anggap saja sebagai perantara Tuhan untuk membantu memberi kesembuhan. Tugas kita hanya berusaha, nah yang namanya usaha butuh penyemangat juga kan..."


"Iya iya, tapi asli aku gak mudeng hahaha." Linggar menyerah saja menghadapi Mahes dengan segala keanehannya. Gak bakal menang juga berdebat melawannya, kalah otak, kalah pengalaman juga.


"Masih lama ya kuliahnya si Jun?" Kartika masih Kepo menanyai tetang tunangan Sari.


"Masa studynya sih tujuh semester kalau lancar. Berarti sekitar setahun dua tahunan lagi." Sari menjelaskan dengan sabar.


"Eh Sar, Rangga berat ya? sini gantian gendongnya. Pasti capek kan gendong si gembul ini." Laras mengambil Rangga, putranya dari gendongan Sari.


Sekaligus sebagai pengalih pembicaraan, Laras tahu Sari pasti merasa tidak nyaman untuk membicarakan tentang pertunangannya. Pasti nanti ujung-ujungnya bakal ditanya kapan nikah juga kan? Sangat menyebalkan pastinya bagi adik iparnya itu.


"Hahaha iya, gak ketemu sebentar aja udah seberat ini. Rangga makan apa aja si kamu, sayang?" Sari mencubit gemas kedua pipi Rangga.


"Dia mah doyan makan, kayak om Linggarnya. Makanan apa aja masuk, gak bakal ditolak." Laras menjelaskan pada Sari tentang anaknya yang memang doyan makan. Sejak mulai memakan MPASI setelah usia Rangga menginjak enam bulan.


"Masa si mirip om Linggar? Mana coba liat? Rangga sini om cium." Linggar tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat Laras. Dengan cekatan Linggar mencuri ciuman dari pipi Rangga kanan dan kiri sebelum Laras sempat mencegah dan memprotesnya.

__ADS_1


"Kebiasaan deh kamu, belum cuci muka cium-cium anakku," Laras ngomel-ngomel sambil mengelap kedua pipi anaknya dengan tisue basah. Seolah ciuman Linggar penuh dengan virus mematikan.


"Hahaha parah kamu mbak." Linggar malah tertawa makin senang melihat tingkah Laras.


"Aku lapar, belum siap juga ya makan siangnya?" Ardi ingin segera mengakhiri sesi pembicaraan ini. Ingin segera beralih dari ruang tengah ke ruang makan untuk mengisi perut juga. Ardi tahu benar bagaimana tidak menyenangkannya bagi Sari untuk membicarakan masalah yang terlalu pribadi di muka umum seperti ini.


Permasalahan sama seperti yang sering dihadapinya sendiri. Kemanapun itu dan bertemu dengan siapapun juga terutama dari kalangan keluarga, selalu saja yang ditanyain tentang pasangan. Dan endingnya selalu ditanya kapan nikah. Pertanyaan klasik yang sangat menyebalkan.


"Harusnya si sudah siap, Sebentar ya mama lihat dulu." Kartika berhasil teralihkan perhatiannya. Langsung beranjak dari sofa mendahului ke ruang makan.


Laras menitipkan Rangga ke Nany-nya, menyuruh untuk menidurkan Rangga ke baby boxnya di kamar atas. Kemudian Laras mengajak Sari ke ruang makan juga. Melihat dan membantu mamanya kalau-kalau masih ada yang perlu disiapkan disana.


Sementara Erwin, Ardi, Mahes dan Linggar, para pria masih asik di ruang tengah. Menonton televisi bersama yang kebetulan sedang menayangkan pertandingan balapan motor GP500cc. Membahas soal para pembalapnya, motor, sampai perusahaan yang menaungi mereka. Pembicaraan favorit para pria tentunya.


Tak lama kemudian Sari memanggil rombongan pria itu saat hidangan sudah siap tersaji di meja makan. Mereka pun mengambil duduk melingkari meja makan berbentuk oval itu. Mengisi piring masing-masing dengan berbagai macam sajian yang tersedia di meja makan. Sajian mewah yang terlalu banyak macam dan jumlahnya untuk dimakan tujuh orang saja.


Prosesi makan siang pun berlangsung lancar dan tenang. Tak ada pembicaraan atau obrolan sampai semuanya menyelesaikan santapan di piringnya masing-masing. Setelah sendok dan garpu diletakkan barulah mereka ngobrol ringan dan beramah tamah membahas beberapa topik ringan yang menyenangkan untuk dibahas. Sambil sesekali menyantap buah buahan atau makanan pencuci mulut yang juga tersedia di meja.


Setelah semua prosesi acara makan siang selesai mereka melanjutkan dengan ramah tamah lagi di sofa ruang tangah. Sampai tak beberapa lama kemudian Sari pamit undur diri. Mahes dan Laras juga ikutan undur diri, karena baby Rangga butuh istirahat. Udah kelamaan mainnya.


Bermaksud pula untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda tadi. Pas banget kan perut kenyang memang bawaannya ngantuk saja. Biarin saja nanti gantian TV-nya yang nonton dia tidur.


"Ma, katanya mau ngomong sama mas Ardi? Tu mumpung orangnya lagi santai nonton TV, ajakin ngobrol." Linggar menghampiri mamanya yang sedang membantu bibi beres-beres di dapur.


"Papa mana? Perlu diajakin juga gak?" Kartika sedikit ragu-ragu. Bingung juga bagaimana harus memulai pembicaraan dengan Ardi nantinya.


"Gak usah, nanti Linggar aja yang jadi penengah kalau-kalau dibutuhkan. Biarin papa tetap istirahat di kamar," saran Linggar. "Kalian bicarain bedua dulu saja pelan-pelan antara ibu dan anak."


Kartika menyetujui ucapan Linggar. Kadang heran juga si Linggar ini paling muda tapi kok malah sering memberi masukan yang berguna. Mungkin memang jiwa muda, pemberani, dan tak kenal takut seperti itu yang dapat menggerakkan hati siapapun juga.


Kartika berjalan perlahan menghampiri Ardi yang tiduran di sofa ruang tengah. Linggar juga mengikuti langkahnya dari belakang. Tidak terlalu dekat, Linggar memilih untuk mengamati dari jauh saja.


Begitu sampai di dekat sofa, Kartika mendapati Ardi yang sudah ketiduran. Kartika mengambil duduk di sofa yang sama dengan Ardi, tepat di sebelahnya. Dipandanginya lekat-lekat wajah tidur putranya itu. Entah sudah berapa lama dirinya tidak pernah lagi melihat wajah tidur Ardi. Wajah tidur yang damai seakan tanpa beban, wajah putanya yang tampan tentu saja.

__ADS_1


Kartika memperhatikan dengan lebih seksama wajah putranya. Dapat dilihatnya wajah Ardi terlihat kelelahan dan sedikit pucat. Kantong mata tebal menggantung di kedua matanya, serta warna kehitaman juga terlihat di sekitar matanya. Sudah berapa lama kamu kurang tidur nak? Sudah berapa lama kamu menyiksa dirimu sendiri seperti ini?


Kartika merasa sangat sedih, tidak tega melihat keadaan putranya itu. Apa kamu begitu menderita nak? Apa kamu tidak bahagia? Apa mama yang membuatmu sampai seperti ini? Rasa sesak dan sakit tiba-tiba saja memenuhi dada Kartika, rasa bersalah dan sedih bercampur menjadi satu.


Tanpa disadarinya tangannya sudah terulur untuk menyentuh wajah putranya itu. Mengusap dan membelai lembut dahi, pipi serta wajah putranya itu dengan sebelah telapak tangannya. Sekali, dua kali dan berkali-kali.


Ardi sedikit terusik dan terbangun dari tidurnya yang memang belum nyenyak. Dirinya dapat merasakan ada sesuatu yang membelai wajahnya, dengan begitu lembut dan hangat. Sensasi yang nyaman sebenarnya untuk melanjutkan terus tidur.


Tetapi rasa penasaran Ardi mengalahkan rasa kantuknya. Siapa yang dapat memberikan sentuhan kehangatan seperti itu padanya? Perlahan Ardi membuka matanya yang masih terasa sangat berat.


Ardi begitu kaget saat dilihatnya wajah yang sangat tidak terduga olehnya berada begitu dekat dengan tubuhnya.


"Mama?..." Ardi bertanya heran saat membuka matanya, menyadari siapa yang ada di hadapannya, membelai wajahnya dengan telapak tangannya yang terasa lembut, penuh kehangatan dan kasih sayang.


Lebih kaget lagi saat dirinya mendapati wajah mamanya yang terlihat menatapnya dengan pandangan sedih dan khawatir. Bahkan Ardi juga dapat melihat kedua mata mamanya yang sudah berkaca-kaca. Seperti tertutup awan mendung yang siap untuk menitikkan air hujan dengan derasnya.


Ardi buru-buru bangkit dari posisi tidurnya, ingin menegakkan badannya untuk bangkit dan duduk di sofa tempatnya tiduran tadi. Sesaat Ardi lupa kalau dirinya tidak boleh untuk bangkit dari posisi tidur secara tiba-tiba begitu.


Nyuuut. Sesaat namun pasti sensasi rasa pusing dan berputar-putar kembali menyerang kepalanya. Membuatnya secara tiba-tiba kehilangan orientasi tubuh dan keadaan sekitarnya. Membuat tubuhnya terasa melayang diudara untuk sesaat.


Cepat-cepat Ardi mencari pegangan ke sandaran sofa untuk menahan berat tubuhnya agar tidak terjungkal. Ini adalah gejala normal yang sering dia alaminya saat tensi darahnya yang sedang nge-drop atau terlalu rendah. Hal yang sering terjadi kalau tubuhnya sedang dalam keadaan sangat kelelahan seperti sekarang ini. Seperti alarm alami yang menandakan bahwa tubuhnya sudah diambang batas dan harus segera diistirahatkan.


"Ardi? Kamu kenapa nak?" Kartika bertanya khawatir melihat keadaan putranya yang terlihat sedikit aneh.


"Gak pa-pa kok ma. Cuma agak pusing aja." Ardi menjawab, tak ingin membuat mamanya lebih khawatir lagi akan keadaannya. Ardi memejamkan matanya sejenak untuk sedikit meredakan rasa pusing di kepalanya.


"Kamu pasti kurang tidur ya? Kamu pasti lembur habis-habisan lagi? Gimana pola makanmu? Kamu makan makanan bergizi? Jangan-jangan cuma junk food aja yang dimakan? Kenapa kamu gak bisa jaga kondisi tubuhmu sendiri si? Kalau kamu sakit gimana? Coba liat badanmu itu, kurus, pucat, mata panda. Gak sehat banget kelihatanya." Kartika mengomeli putranya itu panjang kali lebar saking cemasnya melihat keadaan Ardi yang memang terlihat kurang sehat.


"Nggak, aku gak pa-pa kok, ma," jawab Ardi.


"Kamu udah periksa ke dokter? Sakit apa katanya? Atau udah minta resep sama dokter? Sama Mahes? Sama Laras? Adik-adikmu itu kan dokter, kenapa gak periksa ke mereka aja?" Kartika melanjutkan omelan saking khawatirnya akan keadaan Ardi.


"Ma...Ardi gak pa-pa. Ardi sehat kok, cuma capek dan butuh banyak tidur. Abis tidur ntar juga pasti sehat lagi." Ardi tersenyum melihat reaksi mamanya. Entah mengapa rasanya ada kerinduan mendalam akan omelan mamanya itu.

__ADS_1


~∆∆∆~


Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. Komen apa aja, bisa kritik dan saran atau hujatan juga boleh 😉


__ADS_2