
Setelah segala keruwetan dan kerempongan akhirnya segala persiapan acara kelar juga. Seluruh anggota keluarga Pradana beserta Ella dan beberapa staff yang berkepentingan telah berangkat ke J.W. Melati hotel. Sebut saja Bambang, Inem, dan Nany-nya Rangga dan beberapa lainnya yang ikut serta mengamankan jalannya acara hari ini.
Linggar sudah siap dengan tuxedo putihnya, sudah ganteng maximal tentu saja. Bagaimana pun dirinya adalah tokoh utama sore ini. Jadi harus terlihat yang paling bersinar, gak boleh kalah ganteng dari siapapun kalau bisa hehehe.
Dan disinilah sekarang Linggar berada. Di restoran hotel J.W Melati yang telah di booking seluruhnya oleh mereka. Dekorasi restoran telah diatur sesuai tema yang diminta oleh Kartika, Elegance in white. Jadi nuansa ruangan, dekorasi dan semua peralatan semuanya bernuansa warna putih dan emas. Yang menurut Kartika bisa berarti kesederhanaan dan kejayaan sekaligus.
Meja berbentuk oval tempat pertemuan mereka akan dilangsungkan berada di tengah ruangan. Meja yang telah ditata sedemikian rupa lengkap dengan peralatan dinning set super mewah diatasnya. Dengan kursi-kursi yang jumlahnya telah disesuaikan dengan jumlah anggota inti dari masing-masing keluarga. Tujuh kursi untuk keluarga Pradana dan tujuh kursi juga untuk keluarga Sampoerna.
Sementara di sisi lain restoran terdapat stand makanan prasmanan dan mimbar dengan kursi-kursi yang di hadapannya. Mimbar konferensi pers. Beberapa awak media sudah terlihat hadir disana lengkap dengan segala persenjataannya. Membuat Linggar merasa tidak nyaman saja akan kehadiran mereka.
Seluruh keluarga inti Pradana berdiri dan bersiap menyambut kedatangan tamunya. Berdiri berurutan Papa Erwin dan mama Kartika, Mahes dan Laras, Ardi dan Ella serta tentu saja Linggar.
Tepat sesuai jadwal yang ditentukan, anggota keluarga Sampoerna akhirnya datang juga ke J.W Melati restoran ini. Mereka berjumlah tujuh orang juga, Pramono dan Rahayu sang tuan dan nyonya besar Sampoerna. Tyo yang menggandeng seorang wanita yang secantik artis, Renata. Dua orang pria muda yang sepertinya adalah tuan muda Sampoerna lainnya selain Tyo. Dan yang terakhir dengan dress putih yang membuatnya terlihat cantik dan manis, Praditha Sampoerna.
Para tamu bersalaman bergantian dengan para tuan rumah sebelum akhirnya mengambil duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja besar berbentuk oval yang sudah dipersiapkan. Para awak media tak ketinggalan mengabadikan saat-saat pertemuan ini dari jarak yang sudah ditentukan dan dijaga ketat oleh beberapa orang staff Pradana.
Setelah acara penyambutan satu, persatu anggota keluarga Pradana pun ikutan mengambil duduk di kursi meja oval. Menempati sisa tempat duduk yang tersedia bagi mereka.
Linggar dengan cueknya mengambil tempat duduk tepat di sebelah Ditha. Dan anggota keluarga Pradana yang lainnya segera menempati kursinya masing-masing secara berpasang-pasangan.
"Duh ngapain kamu duduk disini? Minggir sana, biar mas Ardi yang duduk disitu." Ditha berbisik pelan pada Linggar dengan nada kesal.
"Gak mau. Aku maunya duduk disini aja." Linggar menjawab dengan suara pelan sambil menahan ketawanya. Tuh bener sesuai dugaannya kan? Ditha masih belum tahu kalau pria yang akan dijodohkan dengannya bukanlah Ardi, tapi Linggar.
"Ngeselin banget si kamu!" Ditha mengumpat pelan, tetapi tidak berani terlalu keras dan mencolok. Berusaha keras menjaga image-nya menjadi putri keluarga Sampoerna yang manis dan terhormat di hadapan calon mama dan papa mertuanya.
"Baru tahu ya?" Linggar ikutan berbisik pada Ditha.
"Gimana perjalanan kesini tadi? Lancar atau macet?" Erwin mengawali percakapan ringan mereka.
"Lancar saja. Sekarang sudah ada jalan tol, jauh lebih cepet jadinya perjalananan Kedori-Surabaya." Pramono yang kali ini menjawab.
"Mari sambil disambi lho, sambil kita ngobrol santai saja malam ini." Kartika mempersilahkan pada para tamunya untuk mencicipi sajian makanan pembuka dan berbagai minuman yang tersedia di meja.
"Maaf lho cuma bisa memberikan sambutan seadanya begini." Tambah Kartika dengan nada sangat merendah.
Ella yang bukan berasal dari keluarga Sultan hanya bisa menelan ludah mendengarnya. Seadanya dari mananya coba? Hanya acara makan malam aja seribet ini? Di restoran mewah hotel berbintang lima. Dengan dekorasi yang heboh layaknya pesta besar. Dan sajiannya? Baru makanan pembuka saja sudah jauh dari kata seadanya yang dikatakan Kartika.
__ADS_1
"Ah bisa aja Jeng Kartika ini. Penyambutan keluarga Pradana memang sangat pantas. Saya cobain ya ini kaviar ossetra-nya. Kayaknya enak," Rahayu mengawali mengambil salah satu menu appertizer. Para hadirin lainnya pun ikutan memilih dan mengambil serta menyantap berbagai sajian makanan pembuka yang ada di meja.
Ella menatap saja dengan kebingungan berbagai makanan yang tidak pernah dilihatnya itu. Gak bisa bayangin juga bagaimana kira-kira rasanya nanti. Bentuknya unik-unik dengan ukuran kecil-kecil. Tapi bisa dipastikan harganya pasti selangit.
Ardi yang menyadari kebingungan Ella dalam memilih makanan, segera bertindak cepat. Tanpa bicara Ardi mengambilkan beberapa makanan yang sekiranya aman untuk Ella, meletakkan di piringnya. Jenis makanan yang tidak beralkohol, tidak terlalu amis atau tidak mengandung daging mentah. Pepperoni pizza stackers, cheesy grapes, dan smoked sausage appertizer. Sekaligus memilihkan segelas mocktail untuk gadis itu.
Ella melemparkan senyuman manis dengan perlakuan Ardi padanya. Senang sekali dengan perhatian kecil Ardi yang sangat bernilai bagi Ella. Kan gak lucu kalau dia salah milih makanan yang beralkohol terus mabuk. Atau lebih parah lagi kalau salah memilih makanan dari ikan atau daging mentah. Bisa gawat kalau Ella sampai muntah di depan umum nantinya.
"Siapa cewek baju biru itu?" Bisik Ditha pada Linggar. Ditha yang daritadi ngelihatin Ardi tentu menyadari perbuatan Ardi untuk Ella. Merasa tidak suka dengan sikap Ardi yang dinilainya terlalu mesra.
"Lho kamu lupa? Itu mbak Ella kan?" jawab Linggar.
"Dokter Ella?" Ditha sedikit kaget. Panggling juga si melihat penampilan Ella hari ini. Sangat cantik dengan make up lengkap dan outfit mewah, berbeda dengan penampilan kesehariannya sebagai dokter yang minimalis dan sederhana. "Ngapain dia disini?"
"Ngapain lagi? Dia kan calonnya mas Ardi." Linggar menjawab sambil tersenyum nakal. Menyantap smoked salmon bite dalam sekali gigit.
"Haaaa? Tunggu, tunggu..." Ditha benar-benar kebingungan sekarang, tapi belum sempat dirinya meneruskan berbicara sudah terdengar celetukan lain yang lebih mendominasi.
"Wah kayaknya Ditha sudah kenal dan akrab dengan Linggar ya? Kayaknya bisa sukses ini perjodohan kita." Celetuk Kartika dengan tidak punya dosa.
"Iya daritadi mereka udah bisik-bisik saja hehehe." Rahayu ikut menimpali kegirangan. Para tamu yang hadir lainnya pun ikut menyetujui dan berkomentar tentang betapa cocok dan serasinya Ditha dan Linggar sebagai pasangan nantinya.
Sementara Linggar sudah nyengir-nyengir berusaha keras menahan tawanya untuk tidak meledak. Apalagi melihat tampang kaget Ditha yang jelas-jelas melongo. Asli lucuuu dan gemesin banget... Kalau udah kayak gini kamu mau apa Dith? Linggar semakin penasaran akan bagaimana reaksi Ditha selanjutnya.
"Sebelum membahas tentang hal itu bukankah lebih baik kalau kita perkenalan dahulu satu persatu. Karena sepertinya tidak semuanya saling kenal disini." Mahes memberikan saran untuk sedikit mencairkan suasana. Dan semuanya langsung menyetujui usulannya. Mahes ini memang paling pintar menilai dan bisa mengendalikan suasana.
"Saya mulai perkenalan dari keluarga kami ya, Salam kenal nama saya Maheswara Hartanto. Saya sendiri adalah menantu dari keluarga Pradana. Dan istri saya adalah putri kedua keluarga Pradana, wanita paling cantik yang duduk di sebelah saya...Larasati Pradana." Mahes memulai acara perkenalan.
"Kemudian papa Erwin dan mama Kartika Pradana, orang tua tercinta kami." Mahes menyebutkan mertuanya dengan panggilan yang menyenangkan. "Selanjutnya Lazuardi Pradana, putra pertama keluarga kami yang kebetulan membawa calonnya malam ini, mbak Ella." Mahes melanjutkan memperkenalkan Ardi dan Ella juga.
"Terakhir adik bungsu kami yang sedikit nakal seperti kebanyakan pemuda seusianya, Linggarjati Pradana." Mahes juga terang-terangan mengatakan sifat Linggar yang 'sedikit nakal'.
Anggota keluarga Sampoerna tersenyum dan mengangguk menerima salam perkenalan dari keluarga Pradana. Kemudian salah seorang pria muda yang duduk disebelah Ditha mewakili keluarganya untuk berbicara.
"Perkenalkan nama saya Pambudi. Saya putra kedua dari keluarga Sampoerna. Pertama-tama tentu saja papa Pramono dan mama Rahayu Sampoerna, orang tua kami. Selanjutnya kakak pertama saya, Prasetyo dan kekasihnya Renata. Kemudian Prawira putra ketiga." Budi memperkenalkan anggota keluarganya, orang tua dan ketiga putra Sampoerna.
"Terakhir adalah adik bungsu kami, Praditha. Yah karena dia sudah terbiasa bermain sejak kecil dengan tiga kakak laki-laki, jadinya adik kami ini sedikit tomboy dan tidak manis." Budi memperkenalkan Ditha serta menyebutkan pula kekurangan Ditha sebagai seorang putri.
__ADS_1
Gantian anggota keluarga Pradana yang sekarang tersenyum dan mengangguk menerima salam perkenalan dari keluarga Sampoerna. Dan benar saja setelah perkenalan singkat itu suasana jadi sedikit mencair dan lebih hangat.
"Sebenarnya saya dan Ardi malah sudah kenal sejak jaman kuliah di ITS. Saya sudah kenal om dan tante, Ardi juga sudah kenal sama mama dan papa saya. Rena juga teman lama Ardi. Rasanya dunia sempit sekali ya hehe." Tyo menjelaskan hubungan pertemanan mereka.
"Aku gak diitung temen ni?" Mahes pura-pura ngambek menanggapi ucapan Tyo. Yah jaman dulu meskipun berbeda kampus dirinya juga sering ikutan main dan kumpul-kumpul bersama sesama sultan muda yang kebetulan kuliah di Surabaya. Karena mereka semua sepantaran.
"Hahaha sorry bro, kamu beda kampus si. Mahes ini yang paling pinter dan alim dulu, pak dokter kita." Tyo menjawab protes dari Mahes.
"Kalau Ardi memang paling cool dari dulu. Dan Tyo..." Mahes menghentikan ucapannya, takut menyinggung keluarga Sampoerna.
"Playboy kelas kakap hahaha." Wira yang melanjutkan ucapan Mahes yang terhenti. Semua yang hadir ikutan tertawa menyetujui ucapan Wira. Rupanya sudah menjadi rahasia umum kalau Tyo adalah seorang playboy.
"Eh tapi sekarang udah ada mbak Rena lho." Budi mengingatkan, takut menyinggung wanita yang dibawa kakaknya sebagai kekasih itu.
"No problems, I know him so well." Rena menjawab ringan dan tersenyum secantik iklan pasta gigi.
"Don't worry baby, Kalau udah punya beautifull lady kayak kamu mah aku rela untuk bertobat." Tyo menanggapi, ingin meyakinkan juga kalau dirinya bisa berubah.
"Wah beneran perlu dirayain ini kayaknya." Kali ini Ardi yang menyeletuk dan langsung disetujui oleh semua yang hadir sambil tertawa.
Selanjutnya sebagai perayaan pertaubatan Tyo juga, main dish akhirnya disuguhkan di tengah meja. Langsung saja mereka menikmati bersama sajian itu bahkan sampai pada menu penutupnya. Tidak banyak berbicara selama prosesi makan malam sesuai tabble manner yang seharusnya.
Ella juga menikmati makanan-makanan yang disajikan, aman memilih untuk main dish-nya. Tetapi untuk dessert, Ella perlu minta bantuan Ardi lagi untuk memilih. Karena banyak puding dan kue yang tersaji disana. Takutnya ada yang mengandung alkohol...
Entah mengapa Ella merasa sedikit tidak nyaman seolah ada yang memperhatikan dirinya dari tadi. Tapi siapa? Dan si Renata yang merupakan kekasih Tyo ini...Jangan-jangan Renata yang sama dengan yang kemarin memeluk dan mencium Ardi? Mantan pacar Ardi?
Ella mencuri-curi pandang mengamati Rena yang memang sangat cantik layaknya artis, ditambah lagi dia terlihat anggun seperti nona dari keluarga kaya. Rasanya Ella benar-benar kalah telak kalau harus bersaing dengan wanita sekelas itu.
"Jadi gimana ini selanjutnya?" Rahayu memulai kembali pembicaraan mereka.
"Bagaimana masalah perjodohan ini? Kita kembalikan saja pada yang bersangkutan. Pada yang menjalaninya. Gimana Linggar dan Ditha?" Erwin ikut memberikan suaranya.
"Benar sekali. Gak boleh ada paksa-paksaan." Kartika membenarkan ucapan suaminya.
"Kalau saya si setuju saja. Tinggal bagaimana Ditha saja..." Linggar menjawab mantab.
Pengen ketawa rasanya melihat Ditha yang semakin melongo menatap tak percaya padanya. Sekarang masa depan kita ada pada keputusanmu Dith. Aku pasrah saja sama keputusanmu. Mau terus ya ayo mau batal ya gak masalah hehe...Tapi Linggar juga berharap Ditha mau menerimanya.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss donk kasih KOMEN buat penyemangat author. 🌼