
"Ayo, ayo, ayo, ayo ayo...." Permintaan dan dukungan seluruh crew puskesmas semakin membahana di seluruh ruangan.
"Baiklah karena semua memaksa, maka saya terpaksa melakukannya. Terpaksa lho ya..." Roni akhirnya membuka suara. Sedikit bercanda untuk sedikit mencairkan suasana yang terasa canggung.
"Terpaksa tapi seneng kan dok?" Ada saja salah seorang crew yang menyeletuk jahil dari salah satu sisi ruangan.
"Hajar dok," makin bar-bar aja dukungannya.
"Lanjutkan dok. Semangat."
"Ayo-ayo jangan malu-malu."
"Santai aja, El. Ini cuma becanda kok. Formalitas, Ok?" ujar Roni pada Ella. Merasa sedikit canggung juga karena Ella yang terlihat sangat kikuk dan tertekan. Roni mengambil sesendok nasi dari piring, dan menyodorkan sesendok nasi itu ke arah Ella.
"Iya aku tahu..." jawab Ella canggung. Ella pun mau tidak mau juga melakukan hal yang sama dengan Roni. Mengambil sesendok nasi dan memberikannya ke arah Roni. Kemudian dia mengangguk pada Roni sebagai isyarat untuk menyuapi pria itu dan Roni pun menyuapi Ella sebagai gantinya.
Sorakan dan komentar-komentar dukungan akan hubungan Ella dan Roni semakin ramai saja. Jepretan-jepretan kamera jahil langsung beraksi mengabadikan prosesi suap-suapan antara Ella dan Roni. Tepuk tangan heboh dari segala penjuru ruangan serta siulan-siulan menggoda dari para crew laki-laki juga ikut memeriahkan suasana. Meramaikan ruang aula yang sudah ramai sesak ini.
"Sebelumnya saya dan Ella hanya ingin untuk mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Kepada para dokter dan seluruh crew puskesmas yang telah menerima kami berdua dengan sangat baik di sini. Terima kasih atas kerja samanya, terima kasih juga atas bimbingan dan ilmu yang bermanfaat bagi kami selanjutnya." Roni memberikan sambutan singkatnya. Setelah suasana ruangan sedikit mereda ramainya.
"Terima kasih ya semuanya. Kami senang sekali selama empat bulan ini disini. Rasanya seperti menemukan teman dan keluarga baru. Makasih untuk segala bantuan dan dukungannya pada kami ya teman-teman." Ella menambahkan kata-kata sambutan Roni.
"Iya dok, sama-sama."
"Jangan lupakan kami ya dok."
"Nanti kalau konsul pasien gratis ya dok."
"Main-main kesini ya dok kalau sempat."
"Kalau nikah jangan lupa kasih kabar ya, dok."
Kehebohan kembali terjadi dengan berbagai celoteh dan omongan segenap crew. Maklum saja mulut lima puluh orang dijadikan satu kayak gini sudah pasti dapat membuat heboh ruangan menjadi seperti kapal pecah. "Baiklah semua prosesi telah selesai kita lalui. Saatnya makan-makan dan mengisi perut kita sampai kenyang." Tatang berusaha mengatasi keributan yang terjadi, mengakhiri tugasnya sebagai pembawa acara.
"Monggo kepada teman-teman dipersilahkan menyantap hidangan. Jangan lupa berdoa dalam hati sendiri-sendiri ya karena saya tidak dikontrak jadi tukang doa hehe. Akhir kata Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatu." Tatang mengakhiri ucapannya dan langsung disambut dengan suara kompak seluruh crew yang menjawab ucapan salamnya.
__ADS_1
Tatang mengambil piring dan mengisinya dengan nasi kuning dari tumpeng. Menyerahkannya pada pak Kapus terlebih dahulu. Kemudian Tatang mengambil untuk dirinya sendiri. Ella dan Roni beserta para dokter mengikuti mengambil hidangan dari tumpeng ke piring mereka. Seluruh crew yang hadir pun mengikutinya mengambil dan menikmati hidangan makan siang mereka. Sebagian yang tidak kebagian tumpeng masih bisa memakan nasi kuning kotakan yang telah disiapkan juga.
"Berarti setelah interenship langsung balik ke Surabaya ya dok? Persiapan kuliah PPDS?" dokter Wahyudi menanyai Ella dan Roni. Basa-basi sambil menyantap nasi kuning dari tumpeng tadi.
"Iya dok. Setelah penutupan nanti saya pulang ke Surabaya. Kan rumah saya juga di Surabaya." Ella menjawab.
"Sama saja dok. Saya juga nunggu acara penutupan interenship dulu. Sebelum ke Surabaya saya ke malang dulu dok. Pulang kampung dulu naroh barang-barang." Roni ikut menjelaskan rencananya.
"Lho bukannya dok Roni dan dok Ella ini satu daerah? Dulu sekolah bareng ya? Kok kayaknya akbrab dan cocok banget?" Dokter Eva salah satu dokter di puskesmas ikut bertanya kepo.
"Nggak dok. Saya dari Surabaya, lulusan Uner. Si Roni dari Malang lulusan Unibrew. Kami juga baru kenal di interenship." Ella menjelaskan.
"Kebetulan kami dapat putarannya bareng terus dok. Mulai awal sampai akhir entah kenapa kami dapat tempat yang sama terus." Roni menambahkan penjelasan.
"Wah jodoh iki koyoke, dek." Eva kembali menyeletuk sambil tertawa cekikikan.
"Hahaha tenan to? Aku ya ngerasa kayaknya mereka cocok." Rizki, dokter gigi puskesmas juga menambahkan pendapatnya.
"Benar banget dok. Ini dokter Roni dan dokter Ella wes cocok banget. Moga-moga jodoh aja ya." Tatang seakan menambahkan bensin diatas api. Dasar hobi banget dia ngomporin hubungan Ella dan Roni.
Semua yang hadir disana terkikik mengamini, termasuk Roni. Apaan coba? Cuma Ella yang sedikit manyun mendapati dirinya dijodoh-jodohkan seperti itu. Apalagi statusnya sekarang masih resmi pacar Ardi. Dan sebagian besar orang puskesmas ini juga sudah tahu atau sekedar mendengar hubungannya dengan Ardi. Kok malah getol nyomblangin dengan Roni? Mak comblangnya banyak banget lagi, Ella cuma bisa membatin dengan hati kesal.
"Lho jadi beneran gosipnya? Dok Ella pacaran sama bos dari Pradana Construction itu?" Eva bertanya penasaran.
"Pradana? Perusahaan konstruksi yang di jalan utama Mastrip itu ya? Bukannya itu bagian dari Pradana Group?" Wahyudi ikutan kepo mendengar nama Pradana.
"Wah anak sultan itu. Konglomerat! Keren banget dok Ella. Bisa-bisa jadi Nia Ramadhani kedua ini." Rizki ikut menteletuk takjub.
"Ah biasa aja kok dok." Ella bingung harus bereaksi bagaimana. Memang wajar si siapapun akan silau kalau mendengar dan melihat nama Pradana Group. Yah mereka gak tahu aja gimana rasanya jadi Ella yang dilema gara-gara keluarga sultan itu.
"Tapi kalau aku tetap seneng dok Ella sama dok Roni aja deh." Tatang masih bersih keras menjodohkan kedua dokternya itu.
"Heh, gak boleh nikung cewek orang, Tang. Ntar kuwalat, Pamali." Roni mencoba menyadarkan Tatang akan kenyataan.
"Selama janur kuning belum melengkung, pantang bagi pria sejati untuk menyerah, dok." Tatang bukannya sadar malah makin semangat mengompori dan mendukung.
__ADS_1
"Pria sejati gundulmu. Pria gak tahu malu itu mah" Protes Roni lama-lama kesal juga. Dan semua yang mendengernya langsung tertawa ngakak bersama-sama.
"Hahahaha inilah jalan ninjaku, dok." Tatang masih sempet melanjutkan candaannya.
"Tapi kalau aku pribadi sih lebih suka sama yang seprofesi, dik." Eva kembali meberi nasehat sebagai dokter yang lebih senior. "Karena gimana ya, kita sebagai dokter ini banyak kegiatan dan hal-hal yang agak susah dipahami dari orang yang bukan dari dunia medis. Apalagi kalau dek Ella nanti jadi dokter spesialis, pasti lebih kompleks lagi. Rasanya kalau sesama profesi pasti bisa saling mengerti tanpa terlalu banyak menjelaskan."
"Bener juga si. Saya juga setuju soal ini. Makanya istri saya juga dokter." Wahyudi ikut menambahkan pendapatnya.
"Tapi kalau sama-sama dokternya. Apalagi sama-sama spesialisnya kapan ketemunya?" Rizki ikut menyeletukan suaranya.
"Hahahaha iya juga sih. Agak susah juga, resiko pekerjaan." Wahyudi seperti mengingat masalah yang dihadapinya dalam rumah tangganya sendiri. Mungkin susah untuk sekedar berkumpul dan bertemu saking sibuknya dan seringnya jadwal jaga yang bentrok dengan jadwal isterinya.
"Gampang itu mah. Bisa diatur dan dikondisikan jadwalnya." Tatang menyeletuk dengan sotoynya. Dasar dia gak tahu tapi beneran sok tahu sekaligus gak tahu malu.
"Tapi kami masih mau fokus study dulu kok, dok. Santai saja." Roni ingin segera mengakhiri pembicaraan yang makin lama makin menjurus ini. Kasian pada Ella yang semakin terpojok.
"Iya kalian masih muda. Nikmati saja segala prosesnya. Nanti juga ketahuan dan datang sendiri siapa jodohnya siapa. Masalah kayak gitu gak usah dipikirin, udah ada yang ngatur sendiri." Wahyudi mengakhiri percakapan dengan sedikit wejangan kepada para generasi muda itu.
Ella, Roni, Tatang dan beberapa perawat lajang lainnya yang mendengarkan ikut mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti. Pantas saja Wahyudi dapat menjadi kepala puskesmas di usianya yang masih muda. Ternyata beliau memiliki jiwa kepemimpinan, kearifan dan kebijaksanaan yang tinggi.
Acara makan-makan selanjutnya berjalan lancar dan tertib. Setelah menikmati hidangannya para crew puskesmas pamit dan menyalami Ella dan Roni satu persatu sebagai ucapan selamat. Meninggalkan Ella, Roni, Tatang, Mirza dan cleaning service puskesmas yang akan membereskan sisa-sisa kekacauan akibat jamuan makan siang yang baru saja berakhir.
"El, sorry banget ya tadi suasananya gak enak banget." Roni tiba-tiba minta maaf saat mereka berdua berdekatan sambil membereskan kardus-kardus bekas makanan yang berserakan di segala penjuru ruangan.
"Iya, Ron. Semuanya diluar kendali kita." Ella menjawab dengan lembut. Dirinya jadi kepikiran juga si, apa memang hubungannya dengan Roni terlihat terlalu dekat? Apa keakrabaan mereka dalam bergaul dapat menyebabkan orang yang melihatnya menjadi salah persepsi?...Kalau memang benar begitu, berarti sikap Ardi yang selalu cemburu pada Roni dapat dikatakan wajar donk?
"Maaf ya, El. Mungkin ketahuan dan kentara banget kalau aku suka sama kamu." Roni melanjutkan ucapannya. "Harus kuakui aku masih suka sama kamu, El. Tapi melihatmu bahagia dengan Ardi kayak gini saja sudah cukup bagiku. Yang penting kamu harus bahagia ya, El." Roni mengakhiri ucapannya sebelum Ella sempat bereaksi. Meninggalkan Ella ke sisi lain ruangan untuk membantu Tatang melipat karpet.
Ella hanya bisa diam tertegun mencoba memikirkan ucapan Roni. Jadi sebesar itukah cinta Roni padanya? Jadi begitukah yang dinamakan cinta tak harus memiliki? Hanya melihat orang yang dicintainya bahagia saja sudah cukup? Apakah aku pantas kau cintai seperti itu, Ron? Kamu harus bisa move on dan menemukan cinta yang lain. Kamu juga berhak untuk bahagia dengan wanita lain, wanita yang lebih baik dariku dan bisa mencintaimu seutuhnya, batin Ella pedih.
Dilain sisi Ella juga menjadi dilema. Bagaimana kira-kira reaksi Roni kalau tahu hubungannya dengan Ardi tidak sebahagia itu? Bagaimana jika Roni tahu hubungannya dengan Ardi tak hanya bisa membuatnya bahagia tetapi juga bisa membuatnya menangis frustasi?
Bagaimana jika Roni tahu bahwa hubungan mereka terhalang restu dari orang tua Ardi? Bagaimana jika bom yang terus mereka tahan dan tunda waktu untuk membukanya akhirnya meledak juga? Apa yang kira-kira akan dilakukan Roni jika tahu hubungan Ella dan Ardi benar-benar tak dapat diselamatkan lagi?
Apakah Roni akan tetap merelakannya untuk bersama dengan Ardi? Atau kah pria itu akan nekat untuk lebih agresif mendekati Ella dan ingin memisahkan Ella dari Ardi? Dan setelah itu Roni sendiri yang akan berusaha untuk mengisi hari-hari Ella dengan hal-hal yang menyenangkan agar melupakan kesedihan dan kegagalan hubungannya dengan Ardi.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼