
Wanita selalu dihadapkan oleh pilihan sebagai wanita karir atau ibu rumah tangga.
Kenapa sih wanita disuruh memilih?
Bukannya kita bisa mendapatkan keduanya?
Pertanyaan itu sejak awal menempatkan posisi wanita seolah-olah tidak berdaya.
Padahal setiap wanita bisa multi peran.
Yang dapat menjadi seorang ibu, istri, saudara bahkan menjadi tenaga profesional.
_Najwa Shihab_
____________________________
Sore harinya Ella terbangun karena suara-suara ramai di luar kamar. Butuh beberapa saat bagi Ella untuk menyadari dirinya sedang ada dimana. Yah ini adalah kamar tamu di kediaman Suherman, rumah Roni di Malang. Suara senda gurau dan tawa renyah anak-anak semakin keras terdengar. Pasti si Anisa dan Aisyah itu yang lagi tertawa riang, sedang bermain di taman sepertinya. Sama siapa? Kayaknya lagi asik banget mereka mainnya.
Ella mengintip dari jendela kamar tamu yang mengarah ke taman. Dapat dilihatnya kedua gadis kecil itu sedang berlarian di taman sambil ditemani seorang wanita berjilbab. Mungkin wanita itu adalah Zahreni, kakak perempuan Roni, mama dari kedua gadis kecil Anisa dan Aisyah.
Ella melihat jam di dinding kamar, pukul 16.00 sudah sore ternyata. Akhirnya Ella memutuskan untuk mandi sore dan berdandan rapi dahulu sebelum keluar kamarnya. Tak ingin dirinya memberikan kesan buruk pada keluarga Roni. Kan gak lucu kalau dirinya tampil dengan penampilan bangun tidurnya yang bermuka bantal. Bisa-bisa langsung dicoret dari daftar calon mantu ini.
Setelah memastikan kerapian dirinya di kaca dan sedikit berdandan tipis-tipis, Ella langsung saja keluar kamar. Berjalan santai ke halaman belakang menghampiri kedua gadis kecil yang masih ada disana. Aisyah dan Anisah masih saja asik bermain dan berlarian di taman dengan riangnya.
Keduanya meniup dan menggoyang-goyangkan alat di tangannya untuk membuat bola-bola gelembung sabun. Gelembung-gelembung yang beterbangan tertiup angin kesana kemari dengan indahnya.
Sementara wanita berjilbab tadi juga masih setia menemani dan mengawasi kedua anaknya. Mengawasi dari jauh di kursi taman yang ada di bawah pohon rindang, di samping kolam ikan, sambil membaca buku yang dibawanya.
"Tante Ella sini-sini," Nisa kegirangan melihat Ella keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah mereka.
"Tante Ella! Lihat deh banyak gelembung-gelembung yang terbang. Bagus kan?" Aish ikutan menyapa dan memamerkan gelembung-gelembung ciptaannya.
"Wah iya bagus banget. Gelembungnya banyak lagi. Ajarin tante donk, gimana bikinnya." Ella menanggapi sambutan hangat mereka. Tentu saja Ella sudah tahu bagaimana cara dan mekanisme pembuatan gelembung sabun. Tapi tetap saja dirinya ingin sedikit berakrab ria dengan kedua gadis lucu itu saat ini. Ingin mendengar penjelasan comel keduanya.
"Gini lho caranya, Te..." Aisyah menunjukkan pada Ella cara membuat gelembung sabun-nya.
__ADS_1
"Nisa juga bisa lho, liat ni..." Nisa tak mau kalah ikutan memamerkan kemampuannya membuat gelembung pada Ella.
"Waah banyak sekali gelembungnya...keren banget..." Ella bertepuk tangan memuji kehebatan mereka berdua.
Kedua gadis yang dipuji pun langsung tertawa kegirangan dan berlarian untuk menghasilkan gelembung-gelembung yang lebih banyak lagi.
Ella meninggalkan kedua gadis kecil itu dan berjalan menghampiri wanita berjilbab yang duduk di kursi taman. Setelah cukup dekat Ella dapat melihat wanita itu memiliki wajah yang cantik dengan kulit putih bersih. Ella memperkirakan wanita itu berusia pertengahan tiga puluh tahunan. Terlihat sangat anggun dan kalem dengan outfit hijab stylenya yang cukup trendi dan kekinian.
"Selamat sore," Ella mengembangkan senyuman lebar untuk menyapa wanita itu.
"Sore," wanita itu menghentikan kegiatannya membaca buku. "Kenalkan saya Zahreni, panggil saja Reni. Kakaknya Roni." Reni bangkit dari duduknya, balas tersenyum ramah dan menyodorkan sebelah tangannya kepada Ella untuk berkenalan.
"Amellia, Ella. Salam kenal mbak," Ella menyambut uluran tangan Reni, menyalamaninya.
"Ternyata kamu lebih cantik dari yang diceritakan Nisa dan Aish. Mereka bilang ada tante Ella yang cantik pacarnya Om oni hehe." Reni memuji penampilan Ella, pujian yang mampu membuat Ella tersipu malu-malu mendengarnya.
"Yuk sini duduk-duduk sambil liatin ikan peliharaan papa." Reni mempersilahkan Ella untuk duduk di bangku taman. Bangku panjang yang terbuat dari beton yang dibentuk seperti kayu, di sebelah kolam.
Ella menurut saja berjalan mendekati ke arah kolam. Merasa senang dengan sambutan hangat dan akrab dari Reni. Ella mampir mengambil segenggam pakan ikan yang tersedia di sebelah kolam dan melemparkannya ke dalam kolam. Belasan ikan koi besar-besar dengan berbagai warna langsung menyerbu pakan ikan itu. Membuat Ella mau tak mau tersenyum gembira dengan suguhan pemandangan alam yang indah itu.
"Dulu beli dan peliharanya dari kecil. Cukup lama sampai bisa segede itu. Udah kayak melihara anak sendiri mungkin bagi papa hehe." Reni menjelaskan hobi papanya.
"Hawanya enak, adem dan asri banget disini. Kebun dan bunga-bunganya juga cantik sekali." Ella terang-terangan memuji kebun belakang rumah ini. Suasana adem ayem kota Malang memang benar-benar berbeda dengan hawa gerah dan panas di rumah Ella, Surabaya.
"Kalau tanaman dan anggrek mama yang hobi pelihara. Maklum lah mencari kesibukan di masa tua, kalau pas anak cucunya tidak ada yang datang."
Ella hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai respon jawaban. Bingung harus mencari topik pembicaraan apa lagi dengan Reni.
"Ella, makasih ya sudah mau main dan ke rumah kami. Roni, mama, papa bahkan Nisa dan Aish kelihatan senang sekali sama kamu." Reni dapat melihat Ella kebingungan mencari topik, mengalahi untuk membuka pembicaraan.
"Eh? Masa si mbak? Ella yang terima kasih harusnya, sambutan kalian sangat baik dan hangat." Ella sedikit kaget mendengar ucapan Reni kali ini.
"Roni itu selisih umurnya sama aku agak jauh. Delapan tahunan, jadi dia sudah terbiasa menjadi little boy kesayangan kami. Mungkin karena itu dia kadang bandel dan keras kepala bahkan terkesan tidak serius dan suka bercanda. Tapi aslinya aku bisa menjamin kalau adikku adalah pria yang baik dan bisa bertanggung jawab." Reni menjelaskan tentang Roni dari sudut pandangnya sebagai kakak.
"Iya, aku juga sudah sedikit banyak hafal sifat Roni." Ella membenarkan ucapan Reni. Memang Roni ini sering tidak mau mengalah kalau berhadapan dengan Ella. Jauh berbeda dengan Ardi yang terkesan mengalah untuk menuruti kemauan Ella.
__ADS_1
Mungkin perbedaan pembawaan sebagai anak sulung dan bungsu yang membedakan mereka. Sementara Ella sendiri sebagai anak tunggal juga memiliki sifat dan karakteristiknya yang manja dan keras kepala.
"Aku sebenarnya sudah tahu kamu sejak beberapa tahun yang lalu. Roni pernah cerita dia menyukai seorang gadis bernama Ella waktu interenship. Setelah itu Roni tak pernah cerita apa-apa lagi, jadi kupikir mungkin kisah cintanya tidak berjalan lancar." Reni melanjutkan pembicaraannya.
"Sampai beberapa tahun kemudian, aku bahkan mama dan papa kebingungan dengan sifat Roni yang semakin tertutup apalagi soal kisah asmaranya. Gak pernah cerita deket sama cewek atau punya pacar. Dikenal-kenalin sama cewek juga gak pernah mau...Makanya kami heppy banget waktu tahu dia bawa cewek ke rumah."
"Aku pribadi agak kaget juga ternyata gadis yang dibawa Roni adalah kamu, Ella. Gadis yang sudah diincer sama dia sejak empat tahun yang lalu. Yah mungkin selama ini dia masih berusaha buat dapetin kamu," Reni mengakhiri cerita tentang adiknya.
Ella terdiam mendengar cerita kakak Roni. Dari ceritanya, sepertinya Reni tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara dirinya dan Roni. Bagaimana reaksi Reni kalau tahu Ella lah yang membuat waktu empat tahun Roni seakan sia-sia dengan menunggu dan mengharapkan cinta darinya? Ella lah yang membuat Roni seakan terikat dan tidak bisa berpaling ke wanita lainnya.
Ella mengalihkan pandangannya dari kolam ikan kearah halaman. Tempat Aisyah dan Anisa masih saja bermain. Kali ini keduanya bermain boneka dengan akrab di sebuah gazebo.
"Mereka aktiv banget ya mbak? Apa gak ribet mengurusi anak dan keluarga sambil tetap bekerja sebagai dokter, mbak?" Ella kali ini bertanya.
Ingin mendengar pendapat Reni tentang carier women. Reni yang notabene juga seorang dokter sepertinya, Reni yang terlihat matang dan dewasa pasti dapat memberikan jawaban yang bagus untuk Ella.
Reni sedikit kaget mendengar pertanyaan Ella. Lalu dia memberikan senyuman manisnya pada gadis itu. Rupanya Ella ini masih sedikit bimbang untuk melangkah lebih jauh. Mungkin gadis ini takut tidak bisa membagi waktunya. Bahkan takut tidak bisa meneruskan profesinya jika kelak harus menikah dan mengurus sebuah keluarga.
"Sebenarnya semua tergantung kesepakatan kita sebagai suami istri. Masalah pembatasan jam kerja, atau hanya bekerja di rumah saja. Dokter kan bisa buka praktekan di rumah sambil jagain anak dan ngurusin rumah? Dan alhamdulillah suamiku sangat mendukung aku untuk terus bekerja. Kamu tahu apa yang suamiku bilang padaku waktu itu?..."
"Apa, mbak?" Ella semakin tertarik dan penasaran.
"Aku bisa saja melarang kamu bekerja. Insyaallah gajiku cukup untuk memenuhi kebutuhanmu dan keluarga kita...Tapi apa yang akan dirasakan orang tuamu? Anak yang mereka sekolahkan tinggi-tinggi sampai menjadi dokter, ternyata hanya tinggal di rumah?" Reni berhenti sebentar.
"Aku ridho kamu bekerja, yang penting kamu masih tahu batasanmu. Buatlah aku, orang tuamu dan juga orang tuaku bangga padamu. Jadilah dokter yang baik sesuai dengan janji baktimu."
Ella langsung speachless mendengar jawaban Reni. Seolah perkataan yang selama ini sangat ingin didengarnya dari seorang pria telah disampaikan oleh wanita itu. Suami Reni lebih tepatnya telah mengatakan dengan gamblangnya tentang pengertian yang selalu diinginkan dan didambakan seorang wanita karir dari pasangannya.
Mau tidak mau Ella jadi semakin mengagumi Reni bahkan suaminya juga. Mereka berdua pastinya adalah pasangan suami istri yang harmonis dan saling mendukung satu sama lain. Mengagumi kedewasaan mereka, kepekaan mereka terhadap pasanganya. Dan satu lagi Ella juga mengagumi pemahaman dan ilmu spiritual mereka yang sepertinya sudah jauh diatas Ella.
"Kamu tahu kenapa suamiku sampai berkata begitu padaku?" Reni melanjutkan berteka-teki. Ella cepat-cepat menggelengkan kepala menjawabnya. "Karena waktu itu aku sempat mau menyerah dan mau membuang profesiku."
"Kenapa? Kenapa begitu, mbak?" Ella bertanya kaget mendengar Reni pernah berpikiran untuk membuang profesinya sebagai dokter. Reni yang jelas-jelas berasal dari keluarga dokter turun temurun sampai mau melepas profesi dan gelarnya? Kenapa?
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼